HANTU YANG PULANG MENAGIH JANJI
Cerpen oleh Endik Koeswoyo
Di atas kertas berstempel Garuda, Baskoro Aji telah mati lima tahun yang lalu. Surat kematiannya tercatat rapi di laci Kantor Kelurahan Tambakrejo, lengkap dengan keterangan bahwa jenazahnya hilang ditelan amukan ombak Selat Malaka saat kapal tongkang yang membawanya karam.
Namun sore itu, di bawah langit pesisir Blitar Selatan yang kelabu, "jenazah" itu sedang berjalan tertatih menyusuri jalan makadam.
Baskoro bukan lagi pemuda tegap berambut ikal yang dulu memancarkan pesona. Tubuhnya kini kurus kering menyisakan tulang berbalut kulit legam. Punggungnya bungkuk, memikul beban trauma penyiksaan di perkebunan kelapa sawit terpencil di Sabah, Malaysia. Paspornya dibakar oleh mandor pada hari pertama ia tiba. Sidik jarinya rusak karena dipaksa memanen tandan sawit berduri tanpa sarung tangan, disiram getah beracun setiap kali ia mencoba melawan. Ia ditipu habis-habisan oleh agen PJTKI bodong, dijual sebagai budak, dan akhirnya dibuang ke laut oleh sindikat setelah ia jatuh sakit karena malaria.
Baskoro bertahan hidup dengan meminum air hujan dan memakan sisa ikan mentah di atas rakit kayu, hingga terdampar di perbatasan, dan menghabiskan waktu bertahun-tahun merangkak pulang ke tanah kelahirannya sebagai gembel tanpa identitas. Tidak ada KTP. Tidak ada paspor. Tidak ada nama.
Langkah kaki Baskoro yang bergetar akhirnya berhenti di depan Tempat Pemakaman Umum desa. Matanya yang cekung menatap nanar sebuah nisan kayu jati yang sudah mulai lapuk dimakan rayap. Di nisan itu terukir namanya sendiri: Baskoro Aji bin Kertodimedjo. Wafat: 14 Oktober 2021.
Baskoro tertawa sumbang. Tawanya terdengar seperti pecahan kaca yang digesekkan. Ia telah menyeberangi lautan maut, bertahan dari siksaan neraka, hanya untuk menemukan bahwa negaranya sendiri telah menguburnya hidup-hidup.
Namun, bukan nisan itu yang membuat Baskoro berkeras menolak mati. Ada satu janji yang terus membuat jantungnya berdetak meski tubuhnya sudah hancur. Sebuah nama yang menjadi kompas kewarasannya di tengah hutan kelapa sawit yang gila.
Gendis Arum.
Malam pun turun menyelimuti Desa Tambakrejo. Baskoro mengendap-endap seperti bayangan, menyusuri jalan-jalan setapak yang sudah sangat ia hafal di luar kepala, menuju sebuah rumah joglo sederhana di pinggir muara.
Di serambi belakang rumah itu, aroma malam batik yang dipanaskan di atas wajan kecil menguar ke udara. Gendis Arum duduk bersimpuh di atas tikar pandan. Tangan lentiknya memegang canting, menorehkan cairan lilin panas ke atas kain mori putih dengan gerakan yang sangat pelan. Wajahnya ayu, sangat khas perempuan Jawa pesisir dengan rahang tegas namun sorot mata yang teduh. Namun, keteduhan itu diselimuti oleh kabut duka yang tak pernah pudar selama lima tahun.
Baskoro berdiri di balik bayangan pohon mangga, napasnya tercekat. Jantungnya bergemuruh hebat hingga rasanya ingin meledak. Ia melihat perempuan itu masih memakai tusuk konde kayu berukir melati—tusuk konde yang ia buat sendiri dengan pisau lipatnya pada malam sebelum ia berangkat ke Malaysia.
Dengan kaki gemetar, Baskoro melangkah keluar dari kegelapan. Ranting kering berderak terinjak kakinya yang tak beralaskan sandal.
Gendis tersentak. Tangannya gemetar hingga malam panas dari cantingnya menetes keluar jalur, merusak motif parang yang sedang ia buat. Ia menoleh ke arah kegelapan.
"Sapa kuwi? (Siapa itu?)" tanya Gendis, suaranya bergetar antara takut dan waspada.
Baskoro melangkah masuk ke dalam batas cahaya lampu teplok. Ia menundukkan wajahnya, malu pada penampilannya yang kotor, bau, dan menyerupai mayat hidup. Ia tak sanggup bersuara. Tenggorokannya terkunci oleh jutaan kata rindu yang saling berebut keluar.
Gendis menyipitkan matanya. Ia melihat sosok gembel berbaju compang-camping itu perlahan mengangkat wajahnya. Cahaya keemasan dari lampu pelita menerangi tulang pipi yang menonjol, bekas luka sayatan di pelipis, dan sepasang mata legam yang sangat, sangat ia kenal.
Canting di tangan Gendis terlepas, jatuh membentur wajan kuningan. Klotak!
"Gendis..." bisik Baskoro. Suaranya serak, parau, nyaris seperti suara angin.
Gadis itu membeku. Waktu seolah berhenti berputar. Seluruh desa mengatakan pria itu sudah mati ditelan laut. Pejabat desa telah menyerahkan surat kematian dan sekotak abu yang diklaim sebagai sisa kremasi. Namun, insting seorang perempuan yang mencintai dengan segenap jiwanya tak pernah bisa ditipu oleh selembar kertas berstempel.
Tanpa mempedulikan bau keringat busuk, tanah, dan amis laut yang menempel di tubuh pria itu, Gendis berlari menerjang. Ia menabrakkan dirinya ke dada Baskoro, memeluk pria kurus itu dengan kekuatan yang luar biasa.
"Kang Baskoro! Gusti Pangeran! Kang Baskoro!!" Gendis menjerit histeris, tangisannya meledak mengalahkan suara ombak di kejauhan. Ia menciumi dada yang menonjol tulangnya itu, mengusap wajah kotor Baskoro dengan kedua tangannya yang gemetar.
Baskoro akhirnya runtuh. Kakinya lemas. Ia jatuh berlutut di lantai serambi, membawa serta Gendis ke dalam pelukannya. Tangis Baskoro pecah, tangisan seorang pria yang telah direnggut harga dirinya, disiksa raganya, namun akhirnya menemukan kembali rumahnya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Gendis, menghirup aroma melati dan malam batik yang mengembalikan serpihan-serpihan jiwanya yang sempat hilang.
"Aku pulang, Nduk... Aku pulang..." isak Baskoro tersedu-sedu. Tangannya yang kasar merangkul pinggang Gendis seolah takut gadis itu akan menguap menjadi fatamorgana.
Gendis membelai punggung Baskoro, dan tangannya merasakan tekstur yang mengerikan dari balik kemeja lusuh pria itu. Gendis menyibakkan kain kemeja yang robek itu, dan matanya membelalak ngeri melihat puluhan garis bekas cambukan yang menonjol dan menghitam di punggung kekasihnya.
"Ya Allah, Kang... apa yang mereka lakukan sama kamu?" tangis Gendis semakin deras, ujung jemarinya menyentuh luka-luka itu dengan sangat hati-hati, seakan membagi rasa sakit yang diderita pria itu.
Malam itu, di temaram serambi belakang, Baskoro menceritakan semuanya. Tentang Sengkuni Randu, makelar PJTKI dari kota yang menipunya. Randu mengambil seluruh uang pangkal Baskoro, memalsukan dokumennya, dan menjualnya ke perkebunan ilegal di mana para pekerja dibunuh jika berani menuntut gaji. Randu jugalah yang mengirimkan surat kematian palsu dan kotak abu itu ke desa, demi mencairkan asuransi jiwa Baskoro secara diam-diam.
Mendengar nama Sengkuni Randu, tubuh Gendis mendadak kaku. Wajahnya memucat seketika.
"Ada apa, Gendis?" Baskoro menyadari perubahan itu.
Gendis menunduk, air mata menetes membasahi punggung tangan Baskoro yang ia genggam. "Bapak sakit stroke dua tahun lalu, Kang. Butuh biaya besar. Karena aku cuma buruh batik, aku terpaksa pinjam uang ke Juragan Randu. Utang lima juta itu sekarang dibungakan jadi lima puluh juta. Randu... Randu mengancam akan menyita rumah ini dan mengusir Bapak, kecuali..."
"Kecuali apa?!" Dada Baskoro mendidih. Firasat buruk mencekiknya.
"Kecuali aku mau dijadikan istri mudanya besok pagi."
Baskoro mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya yang hitam menusuk telapak tangannya sendiri. Randu tidak hanya merampas nyawanya secara hukum, mencuri uang hasil keringatnya, tapi kini lintah darat keparat itu berniat merampas satu-satunya alasan Baskoro untuk tetap hidup.
"Kita lapor polisi malam ini juga, Kang. Kang Baskoro masih hidup! Randu bisa ditangkap karena pemalsuan dan penipuan!" desak Gendis.
Namun Baskoro tersenyum pahit, senyum orang yang telah kalah oleh sistem.
"Lapor pakai apa, Nduk? Di mata hukum negara, aku ini hantu," suara Baskoro bergetar menahan amarah dan keputusasaan yang tak terbayangkan. "Aku nggak punya KTP, nggak punya NIK, bahkan sidik jariku sudah hancur kena asam getah sawit. Polisi nggak akan percaya sama gembel gila yang mengaku sebagai orang mati. Randu orang kaya, dia bisa bayar saksi untuk bilang aku cuma orang sinting yang mirip Baskoro. Secara hukum, Randu menang mutlak."
Gendis terdiam. Realita birokrasi menampar mereka dengan sangat kejam. Bagaimana membuktikan bahwa dirimu ada, jika negara telah mencabut hakmu untuk bernapas di atas kertas?
Baskoro menatap mata Gendis dalam-dalam. "Tapi aku nggak akan biarkan bedebah itu menyentuh sehelai pun rambutmu, Gendis. Meskipun aku harus jadi hantu sungguhan."
Pagi hari yang cerah di Desa Tambakrejo terasa seperti persiapan upacara pemakaman bagi keluarga Gendis.
Dua mobil SUV hitam mengilap terparkir arogan di halaman rumah joglo milik ayah Gendis. Sengkuni Randu, pria paruh baya dengan perut buncit, kemeja batik sutra, dan jari jemari yang penuh dengan batu akik mahal, turun dari mobil. Mulutnya mengulum rokok kretek, tersenyum pongah merasa di atas angin. Di belakangnya, empat preman bertubuh kekar bersedekap dada, mengawal sang juragan untuk menjemput "barang sitaannya".
Di dalam rumah, Gendis sudah didandani dengan kebaya pengantin, namun matanya sembap. Ayahnya yang terduduk di kursi roda hanya bisa menangis melihat anak gadisnya dikorbankan demi utang pengobatan dirinya.
"Ayo, Nduk Gendis! Penghulu sudah nunggu di KUA kecamatan!" seru Randu lantang dari pendopo depan. "Utang bapakmu lunas detik ini juga kalau kamu naik ke mobilku sekarang!"
Gendis melangkah keluar menuju pendopo. Wajahnya datar. Matanya menatap Randu dengan rasa jijik yang tak ditutup-tutupi.
"Saya lebih baik mati daripada jadi istrimu, Randu," desis Gendis.
Randu tertawa terbahak-bahak, membuang puntung rokoknya dan menginjaknya. "Halah, perempuan kalau belum diranjang memang galak. Ayo seret dia masuk ke mobil!" perintah Randu pada dua premannya.
Namun, sebelum tangan kotor preman itu menyentuh Gendis, sebuah balok kayu jati melayang dengan kecepatan penuh dari arah samping rumah, menghantam wajah salah satu preman hingga pria itu terjengkang dengan hidung patah dan darah muncrat ke udara.
Semua orang terkesiap. Sengkuni Randu mundur selangkah, matanya melotot.
Dari balik pohon mangga, Baskoro melangkah maju. Ia tak lagi terlihat seperti gembel. Gendis telah memandikannya semalam, mencukur jenggotnya yang berantakan, dan memakaikannya kemeja hitam bersih milik almarhum kakak Gendis. Meski wajahnya masih tirus dan penuh bekas luka, tatapan matanya tajam dan menyala, memancarkan aura membunuh yang terbentuk dari kerasnya hukum rimba di perkebunan sawit.
Randu membeku. Wajahnya seketika pucat pasi seperti melihat malaikat maut. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar.
"B-b-baskoro...?" gumam Randu terbata-bata. Lututnya gemetar hebat. Ia tahu betul laporan dari rekan sindikatnya di Malaysia bahwa Baskoro telah dilempar ke laut dalam kondisi kritis.
"Kenapa, Randu? Kaget melihat mayat yang asuransinya sudah kau telan hidup-hidup berdiri di depanmu?" suara Baskoro sedingin es, perlahan namun mematikan.
"I-itu bukan Baskoro! Dia gembel gila yang mirip! Baskoro sudah mati! Bunuh dia!" teriak Randu panik pada tiga premannya yang tersisa.
Ketiga preman itu maju mengeroyok. Tapi mereka salah memilih lawan. Mereka biasa memukuli petani miskin, sementara Baskoro bertahan hidup dari sabetan mandor bersenjata parang di hutan Sabah.
Hanya dalam waktu dua menit, pertarungan itu selesai. Baskoro menghindari pukulan pertama, mematahkan lengan preman kedua dengan kuncian mematikan, lalu menendang lutut preman ketiga hingga tulang tempurungnya bergeser. Para preman itu mengerang kesakitan di atas tanah. Insting bertahan hidup Baskoro bekerja dengan efisiensi yang mengerikan.
Kini hanya tersisa Randu yang beringsut mundur hingga punggungnya menabrak pilar pendopo.
Baskoro melangkah mendekat, mencengkeram kerah batik sutra Randu, dan mengangkat pria tambun itu hingga ujung kakinya menjinjit.
"K-kau mau apa?! Kau nggak punya bukti! Kau sudah mati di mata negara! Kalau kau membunuhku, kau bakal membusuk di penjara!" ancam Randu dengan suara bergetar dan napas terengah-engah karena ketakutan.
Baskoro menyeringai sinis, tatapannya menyihir Randu dalam teror murni.
"Kau salah, Randu. Justru karena aku sudah mati di mata negara, aku tidak bisa dihukum. Hantu tidak punya NIK untuk dicatat di BAP kepolisian. Hantu tidak bisa disidang," bisik Baskoro pelan di telinga Randu, kalimat yang membuat darah sang lintah darat membeku total. "Kalau aku mematahkan lehermu detik ini juga dan membuang mayatmu ke muara, polisi hanya akan mencatat ini sebagai kasus pembunuhan tak terpecahkan yang dilakukan oleh orang tak dikenal. Kau sendiri yang menciptakan statusku ini, Randu."
Baskoro meremas leher Randu. Pria buncit itu mulai tercekik, matanya melotot kehabisan napas, wajahnya membiru. Ia meronta-ronta, tapi tenaga Baskoro seperti cengkeraman besi.
"Kang Baskoro! Sudah, Kang!"
Jeritan Gendis menghentikan tangan Baskoro. Gadis itu berlari, memeluk lengan Baskoro erat-erat. Air mata membasahi pipi Gendis. "Jangan kotori tanganmu dengan darah anjing ini, Kang. Kalau kamu bunuh dia, kamu akan selamanya jadi buronan. Kamu akan jauh dariku lagi. Tolong, lepaskan dia demi aku."
Mendengar suara Gendis, amarah di dada Baskoro yang menggelegak perlahan surut. Cinta gadis itulah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak berubah menjadi monster seperti orang-orang yang telah menyiksanya.
Baskoro melepaskan cengkeramannya. Randu jatuh terjerembap ke tanah, terbatuk-batuk dengan rakus menghirup udara.
Baskoro berjongkok di depan Randu, menepuk-nepuk pipi pria itu dengan kasar.
"Dengar baik-baik, babi. Kau akan pulang ke kantormu sekarang. Kau akan mengambil sertifikat rumah Gendis dan mengembalikannya ke sini dalam waktu satu jam, lengkap dengan surat lunas. Setelah itu, kau akan datang ke kelurahan dan mengaku bahwa kau memalsukan surat kematianku. Kau akan kembalikan identitasku."
"K-kalau aku nggak mau?" bantah Randu masih mencoba menyelamatkan egonya.
Baskoro mendekatkan wajahnya. "Maka hantu tanpa nama ini akan datang setiap malam ke kamarmu. Aku akan memotong jari-jarimu satu per satu setiap kali kau tertidur, tanpa meninggalkan jejak sidik jari atau identitas yang bisa dilacak polisi. Ingat, Randu, aku ini tidak ada di dunia ini. Aku bisa melakukan apa saja padamu."
Ancaman itu diucapkan dengan sangat tenang, namun efeknya meremukkan sisa-sisa keberanian Randu. Pria itu mengangguk cepat sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, lalu merangkak menuju mobilnya, meninggalkan para premannya yang masih mengerang kesakitan.
Baskoro berdiri, mengatur napasnya yang memburu. Tiba-tiba, ia merasakan sepasang tangan melingkar hangat di pinggangnya dari belakang. Gendis memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya di punggung Baskoro yang keras namun penuh kehangatan perlindungan.
"Terima kasih, Kang... Kamu benar-benar nepatin janjimu," isak Gendis lega.
Baskoro berbalik, membalas pelukan Gendis dengan air mata yang kembali menetes. Birokrasi mungkin butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun melalui pengadilan untuk mengembalikan selembar KTP dan identitas Baskoro sebagai warga negara Indonesia. Ia masih harus berurusan dengan introgasi panjang dan tatapan curiga orang-orang.
Namun di detik itu, saat aroma melati dari rambut Gendis memenuhi paru-parunya, Baskoro menyadari satu kebenaran mutlak. Ia tidak butuh selembar kertas berstempel Garuda untuk membuktikan eksistensinya. Ia ada, ia nyata, dan ia hidup, karena ada seorang perempuan yang terus merawat namanya di dalam doa dan pelukan.
Di mata negara ia mungkin masih seorang manusia tanpa nama, tapi di dalam pelukan Gendis Arum, ia adalah segalanya.
Pertuah Jawa Hari Ini:
“Jeneng lan drajat iku mung cathetan ing dluwang sing bisa diobong dening wektu lan srakahing manungsa. Nanging katresnan sejati iku kaya prasasti ing jero ati, ora bakal bisa dibusak sanajan jagad nolak ngakoni wujudmu. Manungsa mung bener-bener mati nalika wis ora ana maneh wong sing ngucapake jenenge ing jero pandonga.”
(Nama dan derajat itu hanya catatan di atas kertas yang bisa dibakar oleh waktu dan keserakahan manusia. Namun cinta sejati itu seperti prasasti di dalam hati, tidak akan bisa dihapus meskipun semesta menolak mengakui wujudmu. Manusia hanya benar-benar mati ketika sudah tidak ada lagi orang yang mengucapkan namanya di dalam doa.)



.gif)

Posting Komentar untuk "HANTU YANG PULANG MENAGIH JANJI Cerpen oleh Endik Koeswoyo"