CERITA KANTIN SEKOLAH


sumber gambar : klikpenajam.com

“Na,” seru cowok dingin yang berbibir sumbing itu.
Aku tetap tak memperdulikannya. Langkahku semakin kupercepat agar terhindar dari sosok cowok dingin yang berbibir sumbing itu.
“Dam!” seru Arif, sahabatku yang lagi-lagi menyelamatkanku dari kejaran si cowok berbibir sumbing itu.
Adam Stevaditya, nama lengkap di cowok dingin berbibir sumbing yang tiap hari kerjaannya memburu atau mencariku. Entah, aku tak tahu alasan dia memburuku terus-menerus. Oops! Aku lupa memperkenalkan diriku. Hai, namaku Nana Merana. Wajarlah aku selalu merasa merana dalam duniaku yang bernama cinta. Dilihat dari nama lengkapku sudah terlihat tetapi nama juga sebuah anugerah yang diberikan dari kedua orang tua bukan? Hmm....
“Na, kau mau ke mana?” tanya Aprilia, teman sebangkuku.
“Mau masuk ke kelas,” jawabku santai.
Aprilia segera menahanku di depan kelas, malah mengajakku mengobrol bukannya masuk kelas untuk mempersiapkan materi. Hampir setengah jam aku dan Aprilia duduk di depan kelas sambil menunggu Pak Susian, guru Kimia favorit di kelasku.
Tiba-tiba Adam muncul dari sudut koridor kelas dan menghampiriku bersama Aprilia. Seperti biasa aku selalu memasang wajah yang super jutek sekali. Aprilia pun memahami maksudku. Adam tetap saja berusaha mencari cara untuk mencuri perhatianku.
“Na, tolong jangan jutek padaku!” pintanya kepadaku sambil memasang wajah memelas.
“Gimana gak jutek? Kau selalu menjailiku di kantin sekolah,” jawabku sedikit ketus.
“Na, aku tuh ingin dekat sama kamu seperti awal kita kenalan. Maaf kalau aku pernah buat kamu di hukum sama guru,” ujar Adam.
“Aku sudah memaafkanmu tapi tetap aja aku bete padamu, Dam. Karena jailmu itu loh!” sahutku pada Adam.
“Kalian belum masuk kelas?” tanya Bu Temy, guru Matematika tercantik di sekolahku.
“Kan gurunya belum masuk kelas, Bu.” Serentak jawabku bersamaan dengan Aprilia dan Adam.
“Kalian itu lho! Kalau ada waktu sambil menunggu guru ya gunakan waktu sebaik mungkin. Bukan malah untuk mengobrol atau duduk santai di depan kelas. Ya sudah, Bu Temy mau mengajar dulu di kelas sebelah!” Begitulah ujar Bu Temy.
Aku, Aprilia, dan Adam tetap bersantai di depan kelas sambil menunggu Pak Susian datang. Betapa senangnya menikmati udara di sekitar lingkungan sekolah. Kini kami bertiga memutuskan untuk pergi ke kantin dan memesan makanan di warungnya Bu Sirun, ibu kantin paling ramah dan selalu berbaur dengan para pelanggannya.
“Bu, kupat siram 3 dan mie ayam 3. Jadi masing-masing 3 porsi. Oh ya, minumnya bikin sendiri aja ya Bu!” ujar Adam sambil mengambil gelas dan mulai membuat minuman es teh.
“Kau mau bantuin Bu Sirun jualan, Dam?” tanya Aprilia.
“Tolong-menolong itu penting. Selagi kita masih bisa memberikan bantuan dan hati kita ikhlas mengerjakannya,” jawab Adam dengan bijaksana.
Aku hanya tersenyum melihat sikap dan penuturan Adam. Wajar saja jika Adam yang dikenal banyak orang ialah Adam si anak pembuat onar. Tak heranlah banyak guru yang sering mengeluarkan Adam dari mata pelajaran lantaran Adam selalu bikin onar, antara lain seperti mainan kertas dilemparkan ke papan tulis saat guru sedang menjelaskan atau Adam mengajak cerita teman sebangkunya.
Rupanya satu jam telah berlalu, kami bertiga pun kembali ke kelas. Sekitar lima menit kemudian, Pak Susian baru saja tiba di dalam kelas. Tak di sangka, Pak Susian segera menyuruh mengeluarkan selembar kertas dan buku materi di simpan. Rasa terkejut dan belum ada persiapan dari kami bertiga. Akhirnya meluncurkan sebuah protes.
“Ah, aku tidak akan mengulanginya lagi deh!” celetuk Aprilia sambil merenungkan nasib nilai ulangan Kimia.
Mendengar celetukan itu pun, Adam dan aku pun merasa menyesal. Seandainya tadi mendengarkan nasihat Bu Temy pasti kejadian buruk ini tak akan menimpa. Kini aku pun menyadari betapa berharganya waktu. Akhirnya kuputuskan mulai sekarang jika ada waktu luang akan kugunakan sebaik-baiknya.
Dua jam kemudian....
Aku, Aprilia, dan Adam kembali duduk santai di depan teras kelas sambil membaca-baca buku mata pelajaran selanjutnya sambil menunggu Bu Yanisa, guru Biologi tercantik di sekolahku. Dari kejauhan, Bu Temy tersenyum sambil mengamati perubahan sikap dari kami bertiga. Tak sengaja aku membalas senyuman manis Bu Temy yang seakan memberikanku rasa semangat dan menjadi murid yang bertanggung jawab menjalankan kewajibannya.
“Na, kantin yuk!” ajak Adam sambil menggodaku dan Aprilia.
“Ingat! Waktu adalah harga paling mahal. Mau nilai jelek lagi?” sahutku mengingatkan Adam.
Kini kami bertiga pun tertawa renyah.

Yogyakarta, 10 Agustus 2018

Nathania Jingga, penulis antologi puisi dan cerpen yang karyanya dibukukan bersama penulis hebat lainnya dalam beberapa event menulis yang pernah diikuti. Salam karya! 
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.