Dewasa Rasa ABG - Cerpen - Eveline


Namaku Rianti, hari ini 17 juli 2012 aku baru saja menyelesaikan diploma jurusan memasak dan magangku di Negri Singa. 

“Non, ada yang cari!”

Bibi menggedor pintu kamarku. 

“Iya bi, sebentar!” timpalku pada art rumah kos itu.

Papa dan adikku datang mengunjungiku.

Malamnya Papa mengajak kami makan malam di Restoran Jepang favoritku “Tsukaya”. Dan aku mengundang Rangga ikut bersama kami.

“Pa, dek, kenalin ini Rangga, dia pacarku”.

Papa menghabiskan waktu banyak ngobrol dengan Rangga.

Papa terlihat antusias karena sekarang aku memiliki pacar.

Tak terasa kami sudah 2 jam di tempat itu. Rangga dan kami berpisah di MRT Station karena papa harus istirahat lebih awal, dan besok sudah terjadwal kunjungan ke dokter internist pagi hari.

“Rangga, Om senang ngobrol denganmu. Kapan kapan kita ketemu lagi ya”.

“Baik Om, terima kasih atas jamuannya”. Ucap Rangga

Aku mengantar papa dan adikku ke hotel yang tak jauh dari kosku.

Dan aku berjalan kaki kembali ke tempat aku menginap.

“Beb kamu udah sampai?”Pesanku pada pacarku.

“Sudah” balasnya. “Kalo kamu?”

“Aku baru sampai, ni mau tidur”. Sahutku

“Ok good night ya. Sweet dream Love ya!” Ucap Rangga sebelum mematikan ponselnya.


Tit tit tit… tit tit tit… tit tit tit… bekerku berbunyi. Aku menyembunyikan wajahku di balik selimut. Hpku pun ikut berdering, adikku telfon. “Kau dimana, sudah siap? Mau ke dokter!” Aku beranjak dari kasurku dan segera mandi. Secepatnya aku menuju ke lobby hotel dan kami segera menaiki jembatan penyebrangan menuju halte bus di seberang hotel.


“Maaf! aku kesiangan. Tapi ga telat kok kayaknya”. Papa geleng geleng sambil senyum. 

Rangga mengirim pesan seperti biasanya

“Good morning beb. Udah dimana?”

“Hi morning beb. Udah di bus nih.

Kamu da ngantor da sarapan?” Tanyaku balik.

“Udah!” Timpalnya

“Ok tc yah yg semangat kerjanya”. Sahutku

“Siap nyonya!” Balasnya.


Tertera tulisan Next stop - lower kent ridge road. Kami pun bersiap turun dari bus.


Setelah mengurus pendaftaran pasien.

Papa mendapat antrian nomor 5 karena kami agak telat datangnya.


“Mr. Riady”, suster memanggil papa masuk.

Dokter menjelaskan bahwa papa harus banyak istirahat dan menjaga pola makan. Dokter memberi buku panduan takaran gizi untuk konsumsi sehari hari papa.

“Hope u get better!” Dokter mengakhiri sesi itu .

“Thank you.”


“Where is the pharmacy?” Aku bertanya pada salah satu petugas.

“Go to second floor, it is on the right side of the lift”. 

“Thanks!”

Kami pergi ke farmasi menebus resep.


“Pa gimana apa aku boleh cari kerja disini?

Aku lebih suka tinggal disini dibanding di indonesia”.

Ya terserah kamu aja kata papa.

Adikku bertanya, “Sampai kapan kamu mau tinggal disini? Aku mau lanjut sekolah, di rumah ga ada yang jaga papa. Maksudnya ga ada anak yang jagain. Cuma ada mama”.

“Iya iya” jawabku singkat.


Seminggu berlalu, papa dan adikku harus kembali ke indonesia. Aku mengantar mereka ke airport. Seperti biasa aku mencium pipi papaku dulu. Mereka melewati portal imigrasi dan aku melambaikan tangan.


“Hi! besok mau ngedate di boatquay?” Rangga mengirim sms padaku.

“Boleh!

Jangan lupa kasih aku bunga yang indah ya!” Pintaku menggodanya karena besok hari valentine.

“Boleh!” jawab Rangga

“Okay see you tomorrow beb!

❤️”


Keesokan malam harinya, Rangga datang menjemputku dan membawakanku sebingkai besar bunga mawar biru bercampur baby breath yang sangat indah. Kita berdua menghabiskan makan malam di tepi sungai. Menikmati pemandangan lampu dan perahu turis yang indah. Masakan thailandnya pun enak. “Rangga benar benar bisa mengambil hatiku” , gumamku.


Tiba tiba Rangga mengeluarkan kotak berisi cincin. “Would u marry me?”

“Emm. Im not ready yet sorry!”

Memang rangga udah sangat ingin menimang anak. Dia sangat menyukai gadis kecil. 

Aku melihat wajah Rangga kecewa dan ga mood. Suasana jadi canggung tapi aku mencoba mencairkannya.

Rangga mengantarku kembali pulang ke kos.

Semalaman aku ga bisa tidur memikirkan kejadian itu.

Entah apa yang merasukiku atau mungkin pikiranku lagi ga jernih. Pagi harinya aku mengirim pesan pada Rangga.

“Rangga sorry rasanya kita sampai disini aja ya. Aku tau kamu sangat ingin segera menikah, tapi aku belom siap. Aku masih ingin bersenang senang dan ingin mengejar cita citaku. Sorry disappoint you. Thanks for everything.”


Rangga ga membalas pesanku hingga esok hari. Aku mulai kawatir padanya. Memang dia sabar namun juga melankolis hatinya mudah rapuh. Beda denganku yang sanguin dan cuek.

Hari ke2 akupun menelpon Rangga berulang kali namun dia tak pernah mau menjawab telponku. Smsku pun diabaikannya.

Aku mengirim pesan lagi,

“Hi there, Are you ok? Sorry! Can we talk? Can we back again?? I miss u.”

Hatiku terasa hampa dan pikiranku mulai kalut. Aku mulai bertanya tanya apa Sebenarnya aku menginginkannya atau tidak?

Namun rangga tak kunjung membalas pesanku dan dia memblok nomorku.


15 hari berlalu, Tiba tiba telepon berdering, tertera nama mama di hp

“Halo ma, ada apa?” Tumben telpon?

“Rianty, kamu jangan melamar kerja di sana ya nak, papa sudah tua sakit sakitan. Kamu pulang.”


Aku yg kebetulan belom mendapat panggilan kerja yang cocok pun memutuskan untuk pulang.

Aku pamit pada Rangga melalui sms yang kukirim di nomor ponselnya. Namun aku tak tau apakah pesan dibacanya atau tidak.

Beberapa hari kemudian sebelum aku naik taksi menuju Changi International Airport,  Aku menitipkan surat untuk Rangga melalui Dewi. Dewi adalah teman 1 kosku. Dewi, Aku dan Rangga beberapa kali pernah jogging malam bersama. Aku harap Dewi bisa bantu aku menyampaikannya pada Rangga.

“Dew aku pamit ya. Tolong kasih surat ini ke Rangga.”

“Ga janji ya! I’ll try” ucap Dewi.

Aku memahami kenapa dewi bilang seperti itu.


Satu bulan berlalu aku masih mengharap ada pesan dari Rangga. Dan tiap hari aku mengirim pesan untuknya namun pending. Rangga masih marah padaku. Suatu hari pesan yang kukirim terlihat centang 2. Dan di malam itu Rangga mengirimiku pesan.

“Sorry kita udah gbs balikan. Aku masih shock dan mau menata hatiku. Lebih baik kamu jaga papa kamu aja kan dia juga udah tua. Jaga diri baik baik disana. Dan ga usah menunggu aku. Semoga kamu berhasil mengejar cita citamu”. Salam, Rangga.


“Beb, kalo kita balikan lagi aku balik singapur”. Balasku lagi. Tapi Rangga sudah benar benar bulat akan keputusannya dan memutus jalur komunikasi kami. 


Aku mengingat betapa manisnya sikap Rangga padaku dan disitu aku sangat menyesal. Tapi segala yang sudah terjadi dan waktu tak dapat diputar kembali. Mungkin Tuhan memang tidak menakdirkan aku untuk Pria sebaik Rangga. (Surabaya - @lintas_cuan)

Posting Komentar untuk "Dewasa Rasa ABG - Cerpen - Eveline"

www.jaringanpenulis.com