Jumat, 22 Juli 2016

Baru sepuluh menit yang lalu telephone itu menusuk telingaku dengan kabar kematian. Suara dari seberang, di kota kelahiran. Semua keluargaku habis di penggal. Suara itu seperti kilat yang membabi buta, mengoyak apapun yang ada dalam diriku saat ini.

Dunia tiba-tiba saja tersaji gulita. Dengkuran binatang malam mendadak bisu, hening, meninggalkan kerontang rintihan di dadaku. Remang pelita di sudut-sudut tembok sekelilingku seperti di telan Batara Kala. Perlahan, aku pun  hilang. Entah di dunia mana sekarang.

Tidak ada siapa-siapa disini. Pun tidak ada daya untuk berbuat apapun disini. Aku berusaha sekuat tenaga menggerakkan tubuhku, meronta sekuat napasku, merobek kelopak mata yang rekat mencari cahaya. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Terus berontak. Melawan ketidaksadaran. Aku ingin pulang. Berkumpul bersama bapak, ibu, adik, dan simbah putri seperti dulu. Aku tak mau kehilangan impian membalas kebaikan mereka.

Demi senyum mereka aku berada di perantauan. Meskipun awalnya aku menolak kemauan bapak yang menyuruhku pergi setahun yang lalu. Saat para Jendral satu persatu dikabarkan hilang dan kemudian ditemukan tinggal nama. Orang-orang desa seperti terdakwa. Mereka yang bungkam maupun yang bersuara sama-sama kehilangan nyawa.

Bapak hanya orang desa biasa. Bertani ala kadarnya, dan mengaji kala dia suka. Hanya saja simbah kakung pernah bungkam ketika gerombolan berseragam mencecarnya. Simbah kakung tak bisa menunjukkan dimana markas  pemilik bendera palu arit.

#SenoNs


Selasa, 23 Desember 2014

Mati....
 
By: EincaSarii
 
 
 
 
“Berhentilah memikirkannya, dia sudah dipinang orang lain.”

Kata-kata itu terus menggema di kepalaku. Menerjang jaringan otakku. Hingga nyaris mematikan syaraf-syarafku. Aku tahu! Bahkan kertas undangannya masih kupegang erat di tanganku. Sangat erat. Hingga kertas undangan itu remuk.

Demi Tuhan, aku benci setiap kali Ranu—teman baikku—mengulang-ulang kalimat tersebut. Kadang malah terselip tawa mengejek yang membuat kesalku semakin memuncak. Seperti sekarang misalnya. Ranu asyik tertwa dan merebut undangan yang kupegang.

“Lihat ini. Lia dan Doni. Yang akad nikah akan diselenggarakan pada tanggal 26 Desember, 2014.” Ranu menatapku dengan tawa mengejek. “Tiga hari lagi, Rio. Kamu sudah tak memiliki kesempatan lagi. Dia akan menjadi istri orang. Sepupumu sendiri.” Ranu menekankan kata istri dan sepupu, tajam.

Bah! Aku tahu itu. Tapi kesempatanku masih terbuka sebelum ijab qobul itu berlangsung kan? Tiga hari. Aku rasa aku masih bisa mengubah dunia. Aku tahu, bukan kemauan Lia untuk menerima pinangan Doni. Gadis itu menyukaiku. Aku yakin itu. Dan Doni, dia hanyalah sepupu tak tahu diri yang tega merebut kekasih hati sepupu kandungnya sendiri.

“Aku pergi dulu,” kuucapkan kalimat itu sambil beranjak meninggalkan Ranu dan kamarku. Tak kuhiraukan teriakan Ranu yang berusaha menahan langkahku. Ada yang harus kuurus. Dan aku, harus bergegas.


***


“Maaf.”

Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir mungil Lia, saat aku menuntut penjelasan tentang kabar pernikahannya.

Maaf? Bukan maaf yang sekarang kubutuhkan! Aku butuh penjelasan. Dan gadis ini, sama sekali tak memberi apa yang aku inginkan. Selain kata maaf, yang itu tak menjawab apapun.

“Kenapa Doni?” tanyaku kemudian.

“Dia pilihan orang tuaku,” jawabnya lirih.

“Lalu bagaimana dengan aku?” tuntutku lagi. “Tidakkah kamu memikirkan aku, saat kamu menerima pinangan itu?”

“Bukan aku yang menerimanya, Kak. Bukan aku. Tapi kedua orang tuaku.” Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu berlangsung, Lia menatap mataku. Hingga aku bisa melihat jelas matanya yang kini mulai memerah. “Orang tuaku lebih menyukai Kak Doni, daripada kamu,” lanjutnya.

Aku terdiam. Kuatur napasku yang mulai memburu lantaran sesak yang kini merajam. “Batalkan pernikahan itu!” pintaku tanpa tedeng aling-aling.

Lia terperanjat. Matanya membulat. Bening yang sejak tadi ditahannya, kini perlahan turun dan membanjiri kedua belah pipinya. Pelan, Lia menggelengkan kepala, lalu berjalan mundur hingga jarak semakin tercipta antara aku dan gadis berkerudung cokelat itu.

“Aku tidak bisa. Maaf.” Dan dengan dua kalimat singkat itu, Lia berlalu dan benar-benar berlari meninggalkanku dalam kemarahan yang membuncah.

Demi Tuhan! Aku tak akan pernah mengizinkan dirimu bahagia dengan lelaki lain, Lia. Aku tak akan pernah membiarkanmu menikah dengan lelaki lain. Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku. Dan jika aku tak bisa memilikimu, maka semua yang ada di bawah langit itu, juga tak boleh memilikimu.

Aku tak tahu setan apa yang kini menguasai otakku, yang aku tahu, aku menginginkan sebuah kebinasaan. Kebinasaan atas raga yang tak mungkin kurengkuh.


***


Mati.

Aku benci kata itu. Satu kata itu bergaung di kepalaku. Nyaring. Lantang. Sungguh, aku menyesal telah mengucapkan kata itu. Aku menyesal karena satu kata itu, aku benar-benar kehilangan Lia untuk selamanya.

Tak kusangka, pertemuan dengan Lia siang itu, adalah pertemuan terakhirku dengannya. Berita yang kudengar saat sore harinya, benar-benar bagai rangkaian mimpi buruk yang semakin mencekikku.

Bukan ini yang kuinginkan. Bukan. Aku bahkan tak sanggup untuk datang dan melihat jasad terakhir Lia, sebelum gadis itu dikebumikan di dalam rumah abadinya. Pun hingga seminggu kematiannya, aku tetap tak berani mengunjungi pusaranya. Aku terlalu takut dan aku merasa bersalah.

“Yo, kamu dengar tidak desas desus yang beredar di desa ini sekarang?” tanya Ranu, saat sore itu dia datang bertandang ke rumahku.

Aku menggeleng. Bukan hobiku mendengarkan desas desus yang beredar di masyarakat.

“Kamu mau dengar nggak?” tanyanya lagi, kali ini dengan wajah yang sangat serius.

Aku menggeleng lagi. Tapi Ranu tetap melanjutkan ceritanya, tanpa peduli aku mau mendengar atau tidak.

“Warga bilang, Lia jadi arwah penasaran. Sering terdengar tangisan Lia di kamarnya,” ucap Ranu. “Bahkan, Pak Nardi pernah mendengar tangis Lia, saat dia lewat di depan makam Lia,” lanjutnya.

Aku tertawa sinis. Lia menjadi arwah penasaran? Gadis alim dan rajin beribadah seperti itu, mana mungkin jadi hantu. Sungguh bodoh warga desa ini.

“Adiknya Lia, Eka, pernah dengar tangisan Lia yang menyebut namamu, waktu dia mau merapikan kamar almarhumah Lia.” Ranu kembali bercerita. Dan kali ini, dia berhasil membuatku terperanjat.

“Jangan menyebar gosip murahan!” sentakku kesal. Aku tak suka gadis yang kucintai menjadi gunjingan.

Ranu mengangkat bahu, “Kamu boleh tak percaya. Tapi begitulah kabar yang kudengar,” ucapnya. “Lagian, kenapa kamu tidak juga mengunjungi makam Lia? Mungkin dia....”

Kata-kata Ranu tak lagi kudengar. Aku sudah mengayunkan langkah cepat bahkan sebelum kalimat mengunjungi makam Lia, keluar dari mulutnya. Aku tak tahan mendengar desas desus murahan itu. Dan aku harus mencari tahu sendiri


***


Hantu? Arwah penasaran?

Aku ingin menendang orang berani mati yang menyebarkan desas desus murahan itu. Sudah satu jam lebih aku duduk di depan makam Lia, tapi tak sekalipun kudengar tangis seperti yang Ranu ceritakan. Yang ada hanyalah desau angin yang bertiup cukup kencang, dan bunyi kodok-kodok yang bermain di rawa-rawa yang letaknya tak jauh dari pusara Lia.

“Lia,” lirih nama itu kusebutkan. Tanganku terulur menyentuh gundukan tanah kuning yang masih menyisakan taburan bunga kering di atasnya. Pilu. Harusnya aku mengunjungi makam ini lebih cepat. “Maaf,” hanya kata itu yang sanggup kuucap.

Bening hangat air mataku, perlahan turun. Aku tahu aku bersalah. Aku menginginkan kematian gadis yang kucintai. Aku terlalu egois. Dan aku terlalu penakut untuk datang dan menghaturkan doa untuknya. Aku benar-benar bersalah. Sangat bersalah.

“Maafkan aku,” ucapku lagi. “Maafkan aku yang baru datang sekarang. Aku menyesal.” Tergugu, aku mulai terisak dengan tangan yang menggenggam erat tanah pusara Lia. “Maafkan aku Lia.” Dan aku tak bisa mengucapkan apa-apa lagi. Lidahku kelu. Hanya isakku yang kini terdengar memenuhi area makam yang sunyi dan mulai menggelap.

Syuutt....

Angin kencang tiba-tiba bertiup sendu tepat di depan wajahku. Isakku terhenti. Sebuah bunga kamboja jatuh tepat di pangkuanku. Apa ini? Pikirku bingung. Kupungut bunga itu. lama aku terdiam dan hanya memandanginya, namun sesaat kemudian aku tersadar. Lia telah memafkanku. Aku yakin itu.

Perlahan, isakku benar-benar menghilang. Senyum lebar kini tersungging sebagai gantinya. “Terima kasih,” ucapku lembut sambil meletakan bunga kamboja itu, di dekat papan nisan yang bertuliskan namanya. Kemudian, kuputuskan untuk memanjatkan doa yang kutahu. Aku ingin kekasihku bahagia di taman nirwana. Bersama cahaya Tuhan yang kuyakin menyertainya. Seperti bidadari.


Setelah tinggal beberapa saat di bawah langit lembut sambil memandang ngengat mengepak-ngepakkan sayap di antara rawa-rawa dan bunga harebells berwarna biru, kupasang telingaku untuk mendengarkan angin sepoi yang berembus di antara rerumputan. Sementara benakku berpikir, bagaimana mungkin orang-orang dapat membayangkan bahwa mereka yang terbaring di kedalaman tanah yang tenang ini berkeliaran sebagai roh-roh yang gelisah.

***
 
Profil Penulis:
Einca Sarii, gadis mungil yang biasa dipanggil Eca oleh teman-temannya ini, sudah hobi menulis sejak kecil. sudah banyak tulisan yang ia buat, akan tetapi hanya menjadi konsumsi pribadi teman-teman dekatnya saja. Sempat vakum menulis beberapa tahun, namun sekarang mulai aktif kembali. Baru saja aktif kembali di dunia blogger berkat dorongan teman-temannya. Untuk lebih mengenal gadis Bengkulu ini, bisa intip twitternya @eincasarii dan jika ingin mengintip beberapa tulisannya, bisa dikepoin di eincasarii.blogspot.com.
 


***
Setiap karya yang kami publikasikan hak cipta dan isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis Untuk Anggota Jaringan Penulis Indonesia yang mau mengirimkan karya harap mencatumkan subyek KARYA ANGGOTA + Tema Tulisan + Judul Tulisan pada email yang di kirim ke jaringanpenulis@gmail.com Bagi yang ingin bergabung menjadi Anggota Jaringan Penulis Indonesia silahkan ISI FORMULIRNYA DISINI 


Keboman #1 (Kisah satu malam bukan yang sebenarnya)
Oleh: Adit Mahatva

Memang benar kalau bepergian maupun mudik jangan dekat- dekat waktu lebaran, selain macet di jalanan, yang mau beli tiket Kereta Api, Kapal Laut, Pesawat itu susah, belum lagi oknum calo nakal dimana-mana. Hampir begitu untuk setiap tahunnya.
            Kapal Binaiya yang mau mengantarku ke Batulicin ini, adalah milik Perusahaan BUMN di bawah naungan PT.Pelni, namun sayang kapal pelni tak banyak yang bagus, kalah dengan kapal dari swasta. Ini kapal terburuk untuk perjalanan jauh yang pernah aku ketahui. Tangganya seperti arena outbond, emangnya yang naik ini para tarzan gitu, atau pemain sirkus?
Beda dengan kapal untuk penyeberangan dekat kan seperti Kapal fery mobil bisa masuk. Tapi gak apa, yang penting aku bisa segera ke Tanah Borneo tempat sanak keluargaku tinggal di sana.
            Alamak... memang kalau lagi panik, pasti bawaannya pengen pipis, dari antrean menuju pemeriksaan tiket hingga masuk kapal. Sangat melelahkan sekali, keringat bercucuran, darah kemana-mana, itu jika wanita lagi dapet dan lupa pakai pembalut. Dimana mengenai pembalut ini, aku sampai sekarang masih bertanya-tanya, apa bedanya bersayap atau tidak di iklan tivi yang silih berganti . Ahhhh Biarlah.
            Saat sudah masuk, ini bingung ini diskotik apa ruangan kapal, semuanya berdiri senggal-senggol dan jogetnya pun aneh, mereka bawa kardus, bawa tas dan tak sedikit barisan napi tadi, eh tukang kuli angkut tadi maksudku. Banyak berlalu-lalang dengan membawa tugas atau misi yang berat. Terbukti dengan kata-katanya yang selalu bilang,Awas benda keras”.
            Ternyata kapal pecah itu ada, tapi yang aku lihat bukan kapal yang hancur gitu, tapi ini lebih parah puing-puing manusia bergeletakan mencari posisi enak, ada yang gemuk persis seperti bongkahan dinding tebal 5  meter yang ambruk.
 Ada yang sudah PAS (Posisi Asyik Sekali) gak bisa di ganggu gugat. Gak peduli itu di Jalan, di pagar, di awang-awang. Yang penting mereka tempati selagi bisa.
Saat ku mau ke WC untuk pipis, ini lebih parah. Aku seperti pendekar yang berjalan di antara ribuan jiwa, yang bergeletakan setelah usai perang di medan laga. Mungkin mereka sudah kehabisan oksigen. Atau kah memang mereka kira ini sudah malam karena gak ada penerangan dari luar, yang ada hanya lampu di dalam ruangan ini. Jadi mereka tidur. Aku jadi teringat lagunya Melinda “Cinta satu malam” mungkin dulu terjadi di dalam sini kisahnya. Aku ngebayangin malam, di dalam sini akan berlalu panjang. Ahhhh biarlah.
Kamar mandi dan wc nya juga jorok, tempatnya semua dari tembaga besi, aroma yang menyengat udah biasa untuk kamar mandi dan wc umum, yang kebangeten ini kan tempatnya berdiri kalau cowok. Itu goyang-goyang terasa kenceng  banget guncangan kapalnya men.
“Kapten kapal oleng kapten” teriak laki-laki tua berkaca mata di sudut kanan sebelah.
“Ciahhh......aku bukan kapten pak”
“Lah terus siapa mas sebenaranya? ”
“Aku adalah KeboMan, Kesatria tampan dari Pulau Borneo ”
“Lho mas ini, pasti anggota kelompok perkumpulan terkenal bernama kumpul kebo yah?, saya sering lihat beritanya di koran dan tivi, hebat mas” kata  pria berkacamata tersebut.
“Bukannn!!!”  jawabku pada lelaki tersebut.
Apapun yang ada dipikiran lelaki tua tersebut, aku tak peduli. Yang jelas orang tersebut berwajah-wajah mupeng. Dan kacamatanya yang  buram menambah nilai plus dugaanku terhadapnya.
Seperti masuknya, keluarnya pun juga susah. Orang –orangnya pun  di depan toilet bertambah banyak. Ehmmm kisah satu malam yang fantastis di ruangan ini, takkan pernah berlangsung pagi.

~Bersambung~
Biodata Penulis:
KeboMan atau Kebo jantan yang satu ini bukan seperti kebo pada umumnya, dia tidak makan rumput, tidak memiliki kuncir ekor dibelakang, tidak mandi di lumpur, tidak pula membajak, karena kebo ini adalah anak manusia bernama Adit Mahatva biasa dipanggil Adit, yang terlahir di Pulau Borneo sebutan Pulau Kalimantan, pada jaman dahulu. Sehingga dikenal Anak Kebo (Anak kelahiran borneo), dengan  apa adanya. Tanpa dilengkapi dengan tanduk seperti kebo pada lazimnya.
Sejak kecil, Adit hijrah ke pulau Jawa bersama kedua orangtuanya. Papa yang sangat mencintainya, dan mama yang selalu setia memberikannya asi ekslusif. Jadi tak berlaku istilah kebo nusu gudel (terjemah: Induk kerbau yang minum susu pada anaknya)  karena, kebo satu ini minum asi pada mamanya.
Penasaran? Follow twitter @aditmahatva dan bisa kirim email ke adit14.mahatva@gmail.com



 



***
Setiap karya yang kami publikasikan hak cipta dan isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis Untuk Anggota Jaringan Penulis Indonesia yang mau mengirimkan karya harap mencatumkan subyek KARYA ANGGOTA + Tema Tulisan + Judul Tulisan pada email yang di kirim ke jaringanpenulis@gmail.com Bagi yang ingin bergabung menjadi Anggota Jaringan Penulis Indonesia silahkan ISI FORMULIRNYA DISINI