Ditolak Universitas, Tak Membuat Lucky Rusyita Mengubur Mimpinya


Lucky Rusyita, gadis asal Blora kelahiran 23 April 1996 tak langsung putus asa ketika ditolak oleh tiga kampus ternama. Cita-citanya ingin melanjutkan kuliah sejak sebelum lulus SMA. Tidak diterima oleh universitas, Lucky frustrasi hingga berpikir untuk berhenti bermimpi. Tapi, niat itu diurungkan setelah mengingat perjuangan bapaknya yang hanya menjual kayu untuk melihat ia menggapai cita-citanya. Ia pun melanjutkan mendaftar kuliah dan diterima di Universitas Kristen Satya Wacana, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar).
       "Kalau kamu mau sukses ya ditekuni, gak ada sukses yang mendadak, kalau ada halangan ya dihadapi bukan ditinggalkan," pesan singkat bapaknya memberikan motivasi dan dorongan untuk terus melangkah ke depan.

Berjuang di Universitas Kristen Satya Wacana
Perjuangannya tidak mulus sampai di sini. Awal semester, ia masih minder melihat mayoritas teman sekelasnya dari keluarga menengah ke atas. Akan tetapi mengenal lebih lama karakter teman-temannya yang ternyata tidak memandang status sosial. Rasa tidak percaya dirinya luntur secara perlahan. Hingga akhirnya di awal semeter IP-Nya (Indeks Prestasi) tergolong baik.  Ia lantas berinisiatif mencari beasiswa untuk meringankan beban orangtuanya serta mencari pemasukan dengan berdagang.
Ia mulai membagi waktu antara kuliah dan berdagang. Ia menjual pakaian wanita mulai dari baju, celana, sampa jilbab. Awal dagangannya tidak langsung berjalan lancar, pembeli masih sedikit, ia juga hampir menyerah. Tetapi, temannya yang juga menjadi supplier sering memberikan motivasi untuk terus semangat. Hasilnya pembeli mulai ramai, pemasukannya juga bertambah.
“Ini pertama kalinya aku punya uang hasil keringat sendiri. Akhir semester dua, daganganku mulai tidak jelas, karena fokus sama ujian akhir semester. Bahkan sampai di semester tiga udah nggak jualan lagi,” ujar gadis yang tingginya 155 sentimeter ini.
Di semester tiga ia mendapatkan beasiswa SKS. Beasiswa yang didapat berdasarkan jumlah SKS yang diambil, sementara untuk SPP masih biaya sendiri. Pada semester selanjutnya, IP-Nya meningkat. Lucky, makin giat belajar. Ketika memiliki waktu luang, ia manfaatkannya untuk berkunjung ke perpustakaan.
       “Pernah penjaga perpustakaan bilang kalau aku penunggu perpus,” ujarnya sambil tertawa. “Karena memang hampir tiap hari aku ke perpustakaan buat baca novel. Bahkan hari libur kuliah tetap ke perpustakaan. Pernah diberi teguran oleh orangtua karena hampir tiga bulan betah di kos-kosan alasannya berat ninggalin perpus,” lanjutnya lagi. Jarak antara rumahnya di Desa Ketileng, Blora dengan kampus yang jauh membuat Lucky terpaksa harus tinggal di kos.

Dari Gemar Membaca Novel Sampai Menulis
Berkat membaca novel di perpustakaan, Lucky tertarik terjun ke dunia literasi. Sebelumnya ia, memang pernah mengikuti ekstrakurikuler menulis di SMP. Beberapa tulisannya dipajang di mading sekolah.
      “Dulu setiap tulisan yang masuk dihargai seribu rupiah untuk ditukar dengan jajan ataupun alat tulis di koperasi sekolah,” kata dara manis yang gemar makan bakso ini.
       Media sosial memberikan jalan buat impian Lucky. Ia menemukan wadah menulis event cerpen di facebook. Dari jarang masuk kontributor sampai menerbitkan novel. Lucky menerbitkan novel di penerbit indie, Penulis Muda Publisher. Setelah naskah diterima ia sempat bingung, karena harus membayar biaya cetak. Ia mencoba mengatakan pada orangtua atas niatnya. Namun, Lucky harus kecewa karena pada saat itu sedang kesulitan ekonomi.
  “Karena udah nekat, aku bongkar tabungan buat biaya cetak buku,” ucapnya.
Setelah novel yang diberi judul Takdir Cinta itu terbit, Lucky tidak patah semangat melakukan promosi. Ia juga melakukan negosiasi dengan petugas perpustakaan. Sempat ditolak dan dianggap remeh, tapi bukan Lucky namanya kalau menyerah. Pada akhirnya negosiasinya diterima, ia sangat senang dapat meninggalkan kenang-kenangan untuk kampus.

Belajar Sinopsis FTV di JPI
      Tidak hanya menerbitkan novel, Lucky juga mempelajari sinopsis FTV. Anak dari Bapak Slamet dan Ibu Djatmi ini bertemu dengan Jaringan Penulis Indonesia tepat semester delapan masa kuliahnya. Di JPI ia merasa beruntung karena, ada wadah belajar menulis FTV serta mengenal banyak teman literasi. Ia juga berharap agar suatu hari nanti karyanya di tonton oleh banyak orang dari layar televisi.
       “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” pesan Lucky meniru kutipan dari Pramoedya Ananta Noer yang menjadikannya acuan untuk terus menulis dan berkarya.
      Nah, sahabat JPI mari kita sama-sama belajar agar mimpi kita terwujud. Jika tidak sekarang, kapan lagi? Kuncinya hanya satu, jangan malas! (Puput)

Pendidikan Formal
2001-2002 TK Pertiwi
2002-2008 SDN 3 Ketileng
2008-2011 SMP Negeri 1 Todanan
2011-2014 SMA Muhammadiyah 05 Todanan
Sekarang Universitas Kristen Satya Wacana

Media sosial
E-mail : rusyitalucky@gmail.com
IG         : lucky.rusyita9996




















Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.