Yang Selalu Tahu - Cerpen - Herumawan P A



Tak disangka “Yang Selalu Tahu” bisa aku jumpai di layar komputer rumah atau di ponsel pintarku. Ia ada di jaringan internet kamarku. Aku biasa menyebutnya Mbah Google.

     Saat aku berhasil menemukan apa yang aku cari, aku memujanya dengan beribu kata terima kasih. Tapi ia tak pernah membalas sepatah katapun. Hanya diam membisu.

     Saat aku tak dapat menemukan apa yang kucari, aku mencaci makinya. Kata-kata kotor dan sumpah serapah keluar dari mulutku. Tapi ia tak marah.

     Aku pun merasa bersalah.

“Maafkan aku, Mbah Google.” Kuusap-usap layar monitor komputer. Air mata menitik di kedua pipi. Ia tetap saja tak bereaksi. Diam membisu.

     Entah kenapa di saat rasa bersalah ini belum tertuntaskan, perutku tiba-tiba berbunyi, minta diisi. Kumatikan internet lalu komputer. Mbah Google hilang dari pandanganku. Aku langsung melupakan perasaan bersalah itu. Sibuk berkutat dengan aktivitas melahap nasi, telur dan sayuran di atas meja makan.

     “Ayah mau bicara sebentar.” kata ayah selesai melihatku selesai makan. Aku lalu mengikuti ayah ke ruang keluarga. Aku dan ayah duduk berdampingan di sofa panjang.

     “Wan, kamu kan tahu ayahmu seorang takmir masjid.”  Aku mengangguk pelan.

“Ayah mau kamu gantikan ayah jadi takmir masjid.” Aku langsung menggeleng.

“Kenapa gak mau? Itu kan sementara, hanya dua hari karena ayah ada urusan di luar kota.” Aku kembali menggeleng.

   “Pokoknya aku gak mau, Yah.”

“Jangan begitu, siapa yang nanti kumandang adzan pengingat shalat lima waktu.”

“Mau dua hari atau seminggu, aku tetap tak mau.” Aku beranjak dari sofa panjang. Berjalan Icepat ke kamar. Pintu kamar, kututup keras-keras supaya ayah tahu aku sedang kesal.

***

     Aku sudah berjanji dalam hati tak akan lagi menginjakkan kaki di masjid kampung. Semenjak peristiwa yang memalukan di usia sepuluh tahun itu terjadi. Seorang teman memelorotkan sarungku ketika sedang tarawih. Teman-temanku yang lain tertawa terbahak-bahak. Suasana berubah menjadi gaduh.

     Para jama’ah marah karena tak bisa khusyuk tarawih. Aku dan teman-temanku disuruh keluar masjid. Aku tak mau karena aku merasa dijahili. Tapi takmir masjid yang juga ayahku tak menggubrisnya. Aku tetap disuruh keluar.

     Di luar, aku melihat sandalku tinggal yang kanan saja. Aku lalu mencari yang kiri di seputaran masjid. Tapi tak bisa aku temukan. Aku putuskan pulang ke rumah sambil menangis sesenggukkan.

     Di rumah, aku langsung mengambil foto ibu dan memeluknya.

“Kalau saja ibu masih ada, aku tak kesepian lagi.” Tangisanku bertambah kencang. Dalam hati, aku tak ingin kembali lagi ke masjid itu. Dimarahi jama’ah masjid, disuruh keluar ayah dan sandal kiriku hilang, semua itu sudah cukup membuatku trauma pergi ke masjid kampung hingga sekarang aku dewasa.

***

     Dalam kamar, aku membuka komputer. Lalu meng-klik Mbah Google. Hanya kepadanya, aku berkeluh kesah. Aku sudah tak terlampau percaya lagi pada ayah semenjak ia tak mau mendengarkan pembelaanku ketika peristiwa melorotnya sarungku di masjid kampung dulu. Walaupun ayah sudah meminta maaf tapi tetap saja peristiwa itu menjadi kenangan buruk yang tak bisa kulupakan.

     “Obat kesal apa ya?” tulisku di pencarian Mbah Google. Lama sekali tak muncul jawabannya. Aku mengklik lagi. Yang muncul malah pemberitahuan kouta pulsa sudah habis.

     “Uangku tinggal sedikit.” Aku hanya melihat beberapa recehan uang dalam dompetku.

Kuambil telepon pintarku, hendak menelepon teman untuk meminjam uang. Tapi niat itu aku urungkan setelah melihat pulsa teleponku masih banyak.

     “Rugi kalau buat telepon. Mendingan buat internetan.” pikirku. Lalu kubuka Mbah Google dengan fasilitas suara.

“Obat kesal apa ya?” Aku berbicara dengan Mbah Google.

“Tidak tahu.” Mbah Google menjawab.

“Bodoh.” Aku menyahut.

“Tanda kecerdasan rendah atau lemah kemampuan belajar.”

“Tahu!!!”

“Pasangannya Tempe, terbuat dari endapan perasan biji kedelai yang alami koagulasi.” Kesal, ponsel pintarku aku lemparkan ke dinding kamar. Ponsel pintar hadiah ulang tahun ayah, dua tahu lalu itu tampak hancur berkeping-keping. Aku terkejut melihatnya. Hanya tinggal penyesalan di hati.

     “Kok berisik, ada apa, Wan?” Ayah tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Ia terkejut melihat ponsel pintar pemberiannya tak berbentuk lagi.

“Kamu apakan ponselnya?”

“Aku gak sengaja lempar ke dinding, Yah.”

“Kenapa? Kamu masih kesal sama ayah.” Aku tak menjawab, hanya menunduk.

     “Kalau kamu memangbgak mau, Ayah gak akan paksa buat jadi takmir masjid gantikan Ayah.”

“Aku mau kok, Yah.” Ayah terkejut mendengar aku tiba-tiba berubah pikiran.

“Kenapa kamu berubah pikiran?”

“Karena Mbah Google bukanlah Yang Selalu Tahu seperti yang selama ini aku tahu. Ia hanya sebuah mesin pencarian yang juga punya kekurangan dan kelebihan.” Ayah mengernyitkan dahi, tampak tak paham dengan jawabanku.

     “Intinya, aku ingin dekat lagi kepada Yang Selalu Tahu yang sebenarnya itu Tuhan. Dan caranya menjadi takmir masjid seperti yang Ayah lakukan sejak lama.” Ayah mengangguk. Ia paham sekarang.

“Baik, kalau begitu malam ini, kamu mulai gantikan Ayah. Karena besok Ayah harus pergi keluar kota,” Aku mengangguk.

     “Oh ya, ini ada uang limapuluh ribu. Belilah pulsa modemmu.” Ayah memberikan uang lima puluh ribu kepadaku. Aku tertegun menerimanya.

“Darimana Ayah tahu aku butuh uang buat beli pulsa? Iya, itu pasti dari Tuhan. Ia memang benar-benar tahu apa yang kubutuhkan bukan apa yang kuinginkan.” Aku membatin. Lalu kulihat ayah tersenyum memperhatikanku, seolah tahu apa yang sedang aku katakan dalam hati. (Yogyakarta - @herumawanpa)


Yogyakarta, 31 Mei 2022

*Herumawan P A, beberapa cerpen saya pernah dimuat di Bangka Pos, Harian Analisa Medan, Harian Jogja, Harian Joglosemar, Harian Rakyat Sultra, Harian Sinar Indonesia Baru, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Majalah Kuntum, Majalah Story, Minggu Pagi, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Jombang, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Republika, Solopos, Sastra Harian Cakrawala Makassar, Serambi Ummah, Tabloid Nova dan Utusan Borneo (salah satu surat kabar dari Malaysia).


Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "Yang Selalu Tahu - Cerpen - Herumawan P A"

www.jaringanpenulis.com