Ukulele Pemetik Berkah - Cerpen - Sathya Vahini

Secangkir teh hangat berkolaborasi dengan terpaan sinar mentari yang mulai terbenam menjadi pemandangan eksotis yang Raya saksikan seorang diri sore itu dari teras rumahnya. Mata sendu Raya menatap mentari yang seolah tenggelam di lautan. 

Raya menyalakan radio sembari mencari lagu favoritnya. Jari-jemarinya kembali aktif beradu dengan keyboard laptop milik temannya yang ia pinjam. Raya sendiri tidak memiliki laptop. Tentu saja ia harus meminjam laptop jika ingin tugas kuliahnya selesai.

Berkutat dengan tugas kuliah seketika membuat Raya teringat akan UKT. Entahlah, ia tidak tahu apakah semester ini ia masih sanggup membayar UKT,  atau ia harus berhenti kuliah?

Raya benci keadaannya yang miskin ini. Tapi tidak tahu harus menyalahkan siapa.

Terlalu memikirkan UKT menyebabkan otak Raya buntu. Raya menyerah. Ia lantas berlari menuju pantai tepat di depan rumahnya. Tanpa ragu, Raya terus berlari menuju air dan membasahi tubuhnya.

Air mata Raya menetes seketika. Ia ingin membantu perekonomian keluarga. Tapi tidak tahu harus berbuat apa. Kata orang, dan kebanyakan benar demikian, bahwa bakat seseorang bisa menjadi pintu rejeki. Tapi Raya belum tahu dan belum mengulik lebih dalam bakat apa yang sebenarnya ia miliki. Walau orang-orang berkata, ia berbakat dalam memainkan ukulele, tentu saja Raya belum memiliki kepercayaan diri untuk itu.

Raya terdiam dengan gaya apung. Rasanya sedikit menenangkan.

Selang lima menit kemudian, sebuah suara dari kejauhan terdengar memanggil Raya dan menyuruhnya untuk pulang.

Raya menoleh ke sumber suara. Terlihat Pak Rama, ayah Raya tengah melambai dari kejauhan sembari tak henti menyerukan nama Raya. Meminta agar putrinya itu lekas keluar dari air laut. Tangan kiri Pak Rama tampak masih membawa jala ikan. Rupanya beliau baru selesai bekerja.

Raya bergegas pulang menuruti permintaan ayahnya.

***

Raya tengah asyik mengulek sambal ketika Bisma, adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMA itu keluar dari kamar dan melapor kepada Raya kalau ia sudah lapar.

"Sabar," ucap Raya cuek. Hari itu Raya sedikit kesal karena Bisma tidak mau membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah. Mulai dari menyapu, mengepel lantai, menjemur pakaian, semua Raya kerjakan seorang diri. Sebenarnya Raya tidak pernah diminta untuk melakukan itu semua. Ia melakukannya atas kesadaran diri sendiri. Tentu saja Raya tidak tega membiarkan ayahnya yang sudah lelah mencari nafkah, harus membereskan pekerjaan rumah lagi.

Dulu pekerjaan rumah Raya kerjakan bersama ibunya. Sedihnya, beberapa tahun yang lalu ibunya pergi meninggalkan mereka karena Pak Rama jatuh miskin.

Dada Raya selalu terasa sesak ketika mengingat hal itu. Ia bahkan tidak sudi menyebut wanita yang sudah melahirkannya itu sebagai ibunya. Wanita yang sudah menyakiti ayahnya, yang hanya menemani di saat senang, dan pergi di saat ayah tercintanya itu sedang terpuruk. Dan yang paling memilukan, wanita itu sampai hati meninggalkan Raya dan Bisma. Dua remaja yang masih haus akan kasih sayang seorang ibu.

"Masak apa Raya?" Tanya Pak Rama.

"Ada sayur, ikan bakar, sama sambal pak," jawab Raya.

"Anak bapak makin jago masak," puji Pak Rama.

Bisma langsung mengambil piring ketika melihat Raya tengah menyiapkan ikan bakar untuk makan malam mereka bertiga.

***

"Cantik, jangan buru-buru dong."

Raya semakin mempercepat langkahnya.

Dasar berondong menyebalkan, gerutu Raya dalam hati. Ia menyesal datang ke sekolah Bisma hanya untuk membawakan surat penting yang adik pemalasnya itu lupa bawa. Harusnya Raya tidak membantu Bisma. Tapi rasa tidak teganya lebih kuat.

Sialnya, seorang di antara mereka mulai mendekati Raya.

"Hai kak, boleh berteman di media sosial?" 

Raya tidak menjawab dan semakin mempercepat langkahnya. Namun Raya tidak perlu merasa risih berlama-lama karena seseorang menarik kerah baju siswa yang mengganggunya itu dan melemparnya hingga menabrak mading sekolah.

Raya menoleh. Ternyata Bisma adiknya. Ia datang di saat yang tepat untuk menolong kakak perempuannya itu. Bisma menatap Raya sembari memasang wajah arogan serta memperlihatkan ibu jari tangan kanan yang ia arahkan ke bawah, pertanda 'payah'.

Raya melempar senyum sarkasnya ke arah Bisma. Walau pemalas dan hanya bermain game sepanjang waktu, terkadang adiknya itu cukup berguna. Tak dapat dipungkiri bahwa mereka berdua sebenarnya saling sayang walau gengsi. 

***

Sore itu Pak Rama menjemput Raya untuk pulang dari kampus karena putrinya itu sedang tidak ingin pulang sendiri. Rencananya mereka akan langsung pergi melaut.

Seharusnya mereka sudah hampir tiba di pantai. Malangnya kelalaian Raya menunda waktu mereka. Raya meminta Pak Rama untuk kembali ke kampus karena ia lupa membawa pulang ukulelenya.

Pak Rama keheranan. Tidak biasanya Raya lalai seperti ini. Setahunya putrinya itu sangat sigap. Tidak pernah melupakan ataupun menghilangkan barang. Pak Rama juga sedikit mengoceh karena harus bolak-balik. Padahal hanya berjarak beberapa ratus meter saja, mereka akan tiba di pantai. Raya hanya cuek, membiarkan ocehan Pak Rama terbang bersama angin.

Begitu tiba di kampus, Raya langsung berlari menuju kelasnya. Untung saja ukulele itu masih ada di sana. Tadinya, ukulele itu sudah Raya jual dan hendak diberikan ke si pembeli. Tapi karena suatu alasan si pembeli harus membatalkannya. Tidak ada yang bisa Raya lakukan selain ikhlas. Dengan lesu, Raya mengambil ukulelenya itu. Angan-angan mendapatkan bekal tambahan telah sirna.

Raya berjalan lesu menghampiri ayahnya yang tampak termenung melihat ke depan. Entah apa yang ayahnya pikirkan. Di depan ayahnya, Raya bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Berpura-pura menjadi gadis periang adalah rutinitasnya di depan sang ayah.

"Pak," panggil Raya memecah keheningan. Pak Rama menoleh sebentar, lalu mulai berkutat menyalakan motornya. Raya menaiki motor dengan wajah lelah.

Suasana sore hari itu cukup sepi. Sepanjang perjalanan hanya terlihat beberapa motor yang berpapasan dengan motor Pak Rama.

Tiba di tepi danau, Pak Rama menghentikan laju motornya.

"Kenapa pak?" Tanya Raya.

"Bensinnya habis," jawab Pak Rama datar.

Raya terpaku. Ia jadi merasa bersalah. Andai mereka tidak kembali ke kampus Raya untuk mengambil ukulele,  pasti detik ini ia dan ayahnya sudah berburu ikan di laut. Raya menoleh ke arah danau. Terlihat cukup ramai para pelancong yang sedang asyik menyewa perahu. Danau yang Raya namakan Danau Berkah ini memang terkenal akan keindahannya yang cukup menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Bahkan sunset terlihat begitu indah di danau ini.

Pak Rama akhirnya memutuskan untuk memancing ikan di danau ini saja. Tampak pula beberapa orang yang tengah memancing. Salah satunya ada teman Pak Rama yang langsung ayah Raya itu temui agar ada kawan mengobrol selama memancing.

Raya memutuskan untuk duduk di tepi danau. Melihat sunset maha indah, jari-jemarinya refleks memetik senar ukulele. Raya menarik napas, sembari mulai melantunkan lagu klasik yang serasi dengan suasana sore itu.

Pandangan orang-orang mulai tertuju kepada Raya. Pak Rama tersenyum bangga memperhatikan putrinya yang berhasil mencuri perhatian orang-orang.

Sejujurnya Raya gugup. Tapi ia sendiri tengah merasa keasyikan bernyanyi dan bermain ukulele. Entah kenapa tangannya seperti tersihir untuk terus memetik senar ukulele dan bibirnya tidak bisa berhenti bersenandung.

Ditengah keasyikan berkutat dengan dunianya, seorang perempuan menghampiri Raya.

"Halo," sapa perempuan itu hangat.

Raya berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah perempuan itu. Raya terpaku sejenak sambil mencoba mengingat-ingat. Wajah perempuan di hadapannya itu tidak asing.

"Ka.. Kak Risa ya?" Tanya Raya gugup.

Perempuan itu mengangguk sembari tersenyum kecil.

Ternyata benar. Perempuan itu adalah Risa Yunanda. Youtuber cantik yang terkenal dengan konten memasak dan mengcover lagu.

"Ha.. Hai kak. Saya Raya."

Risa Yunanda ikut duduk di sebelah Raya. Youtuber itu mengaku kalau sedari tadi ia sudah kagum dengan suara dan cara Raya memainkan ukulele. Risa juga menawarkan Raya untuk berkolaborasi dan menjadi bagian dari tim musiknya untuk konten YouTube.

Raya sampai tidak tahu harus berekspresi seperti apa di kala jantungnya berdebar serasa akan pecah saking senangnya. Benar-benar berkah di Danau Berkah.

Raya mengangguk senang. Risa tersenyum. Ia mengajak Raya untuk membuat konten saat itu juga. Rencananya mereka akan membuat konten di atas perahu. Raya menoleh ke arah Pak Rama sambil menahan tangis.

Sabar ya pak. Sebentar lagi Raya pasti bisa mandiri, ucap Raya dalam hati.

Raya mendadak termenung memikirkan bagaimana jadinya jika bensin tidak habis tepat di danau ini, dan ukulelenya itu berhasil terjual. Ternyata benar kata orang, terkadang kita harus melewati sesuatu yang buruk terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu yang baik. Layaknya pelangi setelah hujan.

 

"Ayo," ajak Risa. Dipandu videografer, Risa mulai bersenandung dan Raya mulai memainkan ukulele. Berlatar belakang danau dengan sunset maha indah di atas perahu, Raya rasa konten ini dapat menjadi konten relaksasi.

***

Raya sangat bersyukur telah dipertemukan dengan Risa Yunanda yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Ia bahkan diajarkan membuat channel YouTube pribadi. Subscribers Raya sudah menyentuh angka fantastis. Ia kini sudah bisa membayar UKT sendiri dan membantu perekonomian keluarga. Seperti mimpi, namun nyata. Seulas senyum terukir di bibir Raya ketika menyadari ia telah berhasil meraih titik ini.

Tok.. Tok..

Terdengar ketukan pintu dari ruang tamu. Raya cukup malas membuka pintu. Tapi hanya ia sendiri di rumah. Mau tidak mau, dialah yang harus membukakan pintu.

Raya melewati ruang keluarga bertema unfinished dengan malas.

Tok.. Tok..

"Sebentar." Raya membuka pintu. Tampak seorang wanita, yang sebenarnya ia kenal, tengah berdiri di depannya. Senyum Raya memudar seketika. Untuk apa wanita yang telah melahirkan sekaligus meninggalkannya itu datang kembali?

Raya berusaha tersenyum. Ia sudah ikhlas dan memaafkan. Tapi tidak untuk hal yang 'lebih jauh'. Baginya, jika sudah pergi, maka tidak bisa kembali. (Bali - @sathyavahini )


Posting Komentar untuk "Ukulele Pemetik Berkah - Cerpen - Sathya Vahini"

www.jaringanpenulis.com