Dendam Kesumat - Cerpen – Ade Mulyono

 


Matahari yang kelewat panas membakar tubuhku. Mungkin saja punggungku sudah gosong saat aku berbincang di tengah sawah dengan seorang lelaki berusia 40 tahun kurang dua bulan lagi. Kang Datam begitu aku memanggil lelaki yang masih sibuk mencangkul dan membiarkan mulutku berbusa.

Sebaiknya istirahat dulu, Kang di gubuk. Aku bawa tape dan es cendol, bujukku untuk ke sekian kalinya dengan logat Tegal yang ngapak sekaligus menggelikan di telinga.

Kali ini Kang Datam mengangguk tanda setuju.

Berapa bayaran sehari mencangkul di sawah milik juragan Kasro? tanyaku sesudah duduk di gubuk sawah sambil menyembur langit dengan rokok kretek yang baru aku beli di warung.

Lima belas ribu, jawabnya singkat.

Apa cukup untuk makan sehari, Kang? Belum lagi beli bedak untuk istrimu dan anak gadismu yang sudah remaja.

Kang Datam menggeleng sambil memenuhi mulutnya dengan bako dan asap rokok keluar dari lubang hidungnya.

Ya, beginilah nasib kuli, mau bagaimana lagi rezekinya sudah diatur Gusti Allah. Paling nanti sore cari kayu bakar buat dijual, lumayan bayarannya.

Kang Datam tidak merasa diperas tenaganya? tanyaku sebelum melanjutkan, Kalau ada bisnis, Kang. Bayarannya lima juta kira-kira Kang Datang mau. Tapi ada syaratnya.

Kini Kang Datam menatapku penasaran.

Kalau kerja ikut sampean ke Jakarta aku tidak bisa. Kali ini ia memenuhi mulutnya dengan tape.

Justru aku pulang kampung karena mau mengajak bisnis dengan Kang Datam di desa.

Ya, sudah apa syaratnya? Kalau ijazah aku tidak punya.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar jawabannya yang lugu.

Tapi ini rahasia ya, Kang, ucapku sambil celingukan. Kemudian aku berbisik, Menghabisi nyawa juragan Kasro.

Sinting. Langkahnya begitu kerap meninggalkanku dan kembali ke tengah sawah melanjutkan pekerjaannya.

Kang Datam tidak usah khawatir. Pokoknya aman. Lima juta itu duit, bukan lempung. Apalagi daun jati, teriakku.

Sampean serius?

Ya, serius. Untuk apa aku datang dari Jakarta kalau bukan untuk mewujudkan rencana itu.

Terus kenapa harus bunuh juragan Kasro?

Semua orang di kampung ini juga tahu bagaimana sejarah hidupnya dulu. Bagaimana kelakuan dia pada istri pertamanya.

Kang Datam diam memandangku kemudian ia mendekatiku dan menjabat tanganku sambil berujar yang membuatku girang, Kapan mau dibunuh? Aku juga enek dengan kelakuannya.

Hari Senin. Sebelum Magrib. Nanti aku atur rencananya. Aku, Kang Datam dan Kang Ratmo yang menghabisi juragan sombong itu.

Kang Ratmo kuli bangunan?

Ya, dia juga punya dendam dengan juragan Kasro. Juminten istri ketiga juragan, itu kan kekasihnya Kang Ratmo.

Tapi...

Apalagi?

Kang Datam diam. Segera saja aku meninggalkannya sebelum ia berubah pikiran. Aku menengoknya ke belakang dan kulihat Kang Datam masih mematung di tengah sawah persis seperti orang-orangan sawah: tidak berkutik kecuali rambutnya yang gondrong berkibar bagai bendera menantang angin.

Jujur sudah lama aku merencanakan ini. Sudah tiga puluh tahun sebagaimana usiaku hari ini. Lima belas tahun lagi menyemai usia ibuku saat diceraikan dan diusir dari rumah juragan Kasro. Sebab itulah aku sudah tidak kuat merawat dendam untuk membalas perbuatan juragan Kasro yang menyakiti anak dan istrinya demi biduan. Demi wedok. Demi kawin lagi.

Sebagai perempuan yang menolak di madu, ibuku terpaksa menanggung akibatnya. Masih terngiang cerita ibu yang kelewat pahit aku simpan dalam hidupku, yakni saat ibu diceraikan dan di usir hanya karena kecantikannya sudah layu diserap usia. Barangkali itu hanya satu alasan juragan Kasro dari sekian banyak alasan.

Ibu tak punya kuasa kecuali bersumpah di hadapan anaknya yang sudah dua hari kelaparan: Nak, jika sudah dewasa bunuhlah bapakmu juragan Kasro.

Sejak saat itu ibu menyuapiku dengan dendam dan rasa sakit hatinya. Atas alasan itu beberapa kali aku pulang kampung untuk mengamati juragan Kasro. Kini waktu pembalasan sudah semakin dekat. Aku sudah tidak bersabar menghabisinya. Terlebih bila kuingat ucapan juragan Kasro beberapa waktu yang lalu: kesombonganku masih di bawah uangku.

Esok harinya Kang Datam dan Kang Ratmo sudah menemuiku. Keduanya datang lebih cepat dari waktu yang sudah disepakati. Jelas ini bukan watak orang Indonesia. Ini watak kapitalis. Uang segalanya dan persoalan harus cepat diselesaikannya. Kira-kira begitu saat keduanya sudah tidak sabar ingin mendapatkan uang yang telah kujanjikan.

Senin besok juragan Kasro akan mengambil uang di bank. Aku sudah mengamatinya sejak tinggal di kampung. Dan, juragan Kasro akan lewat jalan merebah yang diapit hutan jati sebelum azan magrib berkumandang. Itu satu-satunya jalan yang dapat ditempuh untuk sampai ke Desa Manggar. Jadi, kita akan menyergap juragan Kasro tepat di tengah hutan. Kita bunuh dan ambil uangnya, kataku memberi instruksi dan kedua orang miskin yang hidupnya hanya bermodalkan tenaga mengangguk tanpa berpikir. Paling tidak konsekuensi setelahnya. Baginya dapur harus tetap ngebul mengingat jeritan anak kecil yang minta jajan lebih mengerikan dari seruan khotbah di masjid-masjid yang mengingatkan balas di akhirat.

Terus mayatnya mau di sembunyikan di mana? tanya Kang Datam sedikit gugup terlihat dari cahaya matanya yang tampak pudar.

Kalau ketahuan warga bagaimana? sambung Kang Ratmo.

Aku juga tidak tamat SMP, tapi tidak sebodoh kalian. Gumamku dalam hati.

Kuburkan mayatnya di tengah hutan. Tidak akan ada yang tahu. Apalagi hutan Lampir di desa ini terkenal angker.  Aku yakin tidak akan ada yang berani mencarinya di tengah hutan di malam hari.

Betul. Lagian istri juragan Kasro banyak, paling-paling warga akan berpikir juragan sedang di rumah istrinya di desa seberang, timpal Kang Ratmo.

Aku tidak salah memilih dua orang ini. Begitulah kemiskinan telah membuat orang hilang akal sehatnya. Di hadapan uang iman seseorang akan roboh. Begitulah sejarah uang dari dulu: mencetak para pengkhianat. Dengan iming-iming uang lima juta rupiah menghabisi nyawa seseorang bagai menghabisi seekor ayam. Bisa jadi saat ini keduanya sedang berpikir bahwa dosanya sama saja. Tapi baguslah aku tidak perlu repot-repot mencari pembunuh profesional yang bayarannya kelewat mahal. Dua tenaga orang ini cukup untuk meringkus juragan Kasro.

Jadi besok kita sudah harus berkumpul di hutan menunggu juragan Kasro lewat, perintahku menutup perbincangan.

***

Matahari hampir tergelincir ke peraduan malam. Cahaya senja mulai redup saat kami bertiga bersembunyi di balik pohon jati menunggu juragan Kasro melewati jalan merebah ini. Akhirnya setelah setengah jam menunggu, juragan Kasro menampakkan batang hidungnya yang besar seperti jambu mede. Seperti biasa juragan Kasro menggunakan becak dan menyembunyikan uangnya di dalam karung yang ditutupi rumput.

Dengan satu gerakan cepat seperti kijang kami bertiga langsung menyergap juragan Kasro. Mula-mula Kang Datam menjunjung tukang becak yang kerempeng dan melemparkannya ke semak-semak. Juragan Kasro terlihat panik sambil memeluk karung dengan erat seperti pemuda memeluk tubuh kekasihnya yang bohay. Segera saja aku memerintahkan Kang Ratmo meringkus tubuh juragan Kasro. Hanya butuh sekian menit juragan Kasro sudah dalam kendali lengan tangan Kang Ratmo yang kekar. Tanpa ampun aku melayangkan puluhan bogem ke perut dan wajahnya hingga babak belur.

Juragan Kasro tersungkur. Darah mengalir dari bibirnya yang jontor: Ampun... Ampun.. Ampun.. Begitulah rintihannya. Sebelum ia berteriak minta tolong aku sudah menarik bajunya dan mengacungkan golok di hadapan keningnya. Tiba-tiba ia meronta seperti kerbau yang menolak disembelih dan berhasil melepaskan topeng ninja dari wajahku.

Sanuri... anak setan, ucapnya sebelum golok menembus perutnya. Seketika ia meregang nyawa dan tewas setelah sekian menit kelojotan seperti ayam habis disembelih.

Kang Datam, kuburkan, perintahku sedikit panik.

Setelah menenangkan diri segara aku memanggil Kang Ratmo untuk menghitung uang di dalam karung.

Banyak sekali uangnya juragan Kasro pantas saja istrinya banyak. Rumahnya besar dan sawahnya luas, seru Kang Ratmo girang alang kepalang yang seumur hidupnya baru pernah melihat uang sebegitu banyaknya. Kalau aku pernah melihatnya di film India.

Berapa upahmu? tanyaku.

Lima juta, balasnya cepat lebih cepat dari cahaya, barangkali.

Aku kasih dua kali lipat, bisikku.

Serius, Kang.

Tapi..

Tapi apa, Kang?

Aku melirik ke Kang Datam yang sedang bersusah payah menguburkan mayat juragan Kasro.

Kalau mau jatahnya Kang Datam untukmu, habisi dia.

Kang Ratmo diam memandangi temannya yang dipertemukan atas dasar persamaan nasib: sama-sama miskin.

Ini sepuluh juta, kataku sambil menyodorkan uang kertas merah. Masih kurang? Kamu takut? Kepalan tanganmu lebih besar dari Kang Datam. Sekali pukul pasti tewas Kang Datam.

Kang Ratmo mengangguk.

Dengan langkah pelan ia menghampiri temannya kemudian langsung memukul Kang Datam dari belakang. Seketika Kang Datam tersungkur tak sadarkan diri.

Maafkan aku, Kang, kata Kang Ratmo tampak menyesali perbuatannya. Namun, nasi telah menjadi loyang.

Segera saja aku menghampiri Kang Ratmo dan melemparkan uang ke bawah kakiku. Bagianmu, Kang, kataku.

Kang Ratmo mengambilnya seperti pengemis memunguti recehan koin yang dilemparkan orang dari dalam mobil. Hal itu mengingatkan pekerjaanku ketika masih kecil demi bertahan hidup untuk membalas dendam rasa sakit ibu. Sayang ibu sudah meninggal sebelum melihat anaknya berhasil membunuh suaminya.

Aku jadi orang kaya, kata Kang Ratmo setengah berteriak sambil memunguti uang di bawah kakiku.

Dengan satu gerakan aku menyabetkan golok yang kusembunyikan di balik baju ke arah kepala Kang Ratmo. Seketika Kang Ratmo menemui ajalnya.

Di hadapan uang semuanya menjadi iblis. Uang tidak mengenal saudara apalagi teman, pikirku dalam hati.

Langsung saja aku melemparkan golok ke semak-semak untuk menghilangkan jejak. Dengan terburu-buru aku membereskan uang dan memasukkannya kembali ke dalam karung supaya mudah kubawa.

Aku harus meninggalkan desa. Secepatnya aku harus ke kota dan langsung ke pergi ke makam ibu. Mak sudah kutuntaskan dendamu. Sudah kutepati sumpahmu. Sudah kutunaikan janjiku.

Dengan langkah cepat aku bergegas pergi sambil menggendong uang sekarung. Belum lima meter aku melangkah, tiba-tiba kepalaku seperti hendak pecah. Darah membanjiri kepalaku. Aku merasakan sakit yang luar biasa. Kemudian aku jatuh tersungkur mengerang menahan sakit. Dan, saat aku membalikkan badan sambil memegangi kepalaku yang sepertinya retak mau pecah, kulihat seorang lelaki tua berdiri di depanku dengan golok penuh darah di tangannya.

Aaaaaa... teriakku menahan sakit yang luar biasa. Lelaki tua bangka itu membiarkanku meraung-raung kesakitan.

Mampus... Sepotong kata itu yang aku dengar dari mulutnya yang mancung.

Tanpa pikir panjang langsung saja dia menyambar karung yang di dalamnya berisi uang ratusan juta dan menaruhnya di becak. Setelah itu ia meninggalkanku sambil menggenjot becaknya dengan cepatnya seperti orang kesetanan. Dalam pandanganku yang sudah mulai kabur aku melihat juragan Kasro, Kang Datam, dan Kang Ratmo secara membabi buta membacok-bacok tubuhku dengan golok tanpa ampun. Itulah yang kulihat sebelum semuanya menjadi gelap gulita. (Jakarta Selatan - @ademulyono_ )

Posting Komentar untuk "Dendam Kesumat - Cerpen – Ade Mulyono"

www.jaringanpenulis.com