Shina El Bucorie, Serius Berkomedi Hari Ini dan Esok

 Penulis: Prilie


Berawal dari kesukaannya membaca apa saja termasuk kemasan permen dan bungkus gorengan, Shina El Bucorie yang akrab dipanggil Shina ini mulai tertarik dengan dunia menulis. Menurutnya, semua informasi dari hasil membaca selama ini harus dituangkan ke dalam sebuah tulisan supaya menjadikan ladang pahala sebagai ilmu yang bermanfaat dan agar tidak mengendap menjadi penyakit.

“Awal karier menulis yang agak frontal,” aku pemuda yang kini sedang menekuni dunia menulis skenario untuk sinetron ini. Hanya berbekal pengetahuan dari mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolahnya saat itu, entah nekat atau terlalu percaya diri, dia beranikan mengirimkan karyanya pada sebuah lomba menulis cerpen yang diadakan sebuah surat kabar lokal di Jawa Tengah tempatnya tinggal. Hasilnya? Tentu saja dia menyesal sudah pernah mengirimkan karya semacam itu dulu. Hancur.

“Ternyata kemasan permen dan bungkus gorengan takkan cukup,” kenangnya sambil tertawa.

Menyadari kekurangannya dengan hasil yang mengecewakan dari lomba cerpen itu. penyuka jangung rebus ini mejadi terpacu hingga dirinya menemukan CENDOL. Bukan minuman kenyal berkuah campuran santan dan gula aren itu. CENDOL adalah singkatan dari (Cerita Nulis Diskusi Online), sebuah komunitas literasi di Facebook yang digagas Mayoko Aiko dkk. Di sini pula nama pena Shina El Bucorie yang sebenarnya nama akun Facebook-nya berasal. Nama yang juga terbawa sampai ke pekerjaan profesionalnya sebagai penulis skrip untuk skenario sinetron.

Dalam pembelajarannya di CENDOL dan beberapa grup literasi di Facebook saat itu seperti Rumah Pena besutan Achi TM dan Coklat Kopi gagasan Reni Erina dan Handoko F Zainzam, Shina mencoba lagi peruntungannya. Cerpen nya dengan judul “Pelangi Untuk Amanda” dan “Uniform” akhirnya terbit di majalah teenlit STORY. Mendapat hadiah sebesar serratus ribu rupiah membuat dirinya senang sekali pada waktu itu. Walaupun akhirnya agak merengut, ketika mendapati uang yang diterimanya tidak utuh karena dipotong pajak. Tetapi, itu tak menjadikannya patah arang dan justru membuat dirinya semangat. 

Manisnya uang jajan dari hasil mengirimkan cerpen membuatnya ingin menghasilkan uang sebanyak – banyaknya dari menulis. Namun sayang, usahanya tak membuahkan hasil. Apalagi semenjak Majalah Story tutup usia di usianya yang ke empat. Shina seperti kehilangan motivasi untuk menulis dan sempat mengubur mimpinya sebagai penulis dan sempat bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup selepas lulus dari sekolah menengah kejuruan. Ia mulai menyadari motivasi menulisnya yang karena uang itulah yang salah yang justru menghancurkan mimpinya. 


Panggilan dari Teman Komunitas Yang Membangunkan Shina untuk Kembali Menulis.

Bertahun-tahun vacuum di dunia menulis, seorang teman di komunitas literasi menelepon uintuk mengajaknya bergabung ke dalam sebuah tim menulis skenario untuk sebuh sinetron di RCTI yang waktu itu memintanya datang ke Jakarta. Entah apa yang merasukinya saat itu, Pemuda yang pernah membangun negeri sebagai kuli bangunan sebuah proyek perumahan itu spontan mengiyakan ajakan temannya. Tanpa berbekal pengetahuan apapun soal teknis penulisan skenario ditambah jarak rumahnya di Rembang dengan Jakarta yang ratusan kilometer itu, Shina memutuskan berangkat dengan mengendarai sepeda motor.

“Ya, punyanya motor. Lagian lebih irit. Kebetulan pas bokek-bokeknya saat itu,” kenangnya.

Sesampainya di Jakarta, Shina langsung mengikuti briefing dan hari itu juga diajak menulis skrip Pura-PurabHaji di RCTI walaupun hanya beberapa scene. Alhasil, tentu saja makian dari Head writer yang diterimanya, sebab saat itu sedang deadline. Hal itu membuatnya harus menginap di basecamp penulis selama seminggu sampai dirinya tidak sempat ganti baju karena harus mengalami proses karantina sampai bisa menulis. “Beruntung banget saat itu dapet Head yang, menurutku gila sih. Mau ngajarin dari nol,” tambahnya.

Sempat Down dan Agak Trauma Karena Menulis.

Kenangan manis soal uang seratus ribu rupiah dari honor menulis cerpen ternyata hanya Sebagian yang teramat kecil dari lika-liku menulis. Shina menyadari pahitnya juga banyak. Itu dialaminya ketika menulis skenario untuk sinetron Dunia Terbalik, tidak hanya omelan bahkan ada adegan gebrak meja. Kalimat yang paling dia ingat waktu itu adalah Head-nya saat itu, pak Syarif Usman bilang, “Kalian itu tukang ketik tapi minta honor penulis!”

Kalimat keras dari pak Syarif itu sempat membuatnya down sebagai orang yang mengaku dirinya sebagai penulis ternyata kenyatannya hanya tukang ketik. Sampai-sampai dia berpikir untuk berhenti menulis dan merasa tidak memiliki kemampuan di bidang tersebut. Namun desakan ekonomi membuatnya bertahan. Apalagi setelah mendapat honor dan melihat nominalnya yang puluhan kalilipat dari gaji seorang kuli bangunan yang pernah dijalaninya, menjadikannya kembali bersemangat menulis.

“Sejak tahu rasanya dapet honor seratus ribu dari majalah STORY tadi, terlebih saat menekuni dunia skenario, sekali honor cair di situlah Warteg kutinggalkan,” candanya mengingat kenangan manis itu sambil tertawa.

“Walau begitu,” Shina melanjutkan kalimatnya, “jangan jadikan uang sebagai alasan utama menulis, karena itu tak sebanding. Uang cuma bonus dan bukti bahwa tulisan yang dihasilkan dari gagasan di kepala kita layak dan diterima oleh orang lain.”

Pengalaman shina kini sudah cukup dibilang banyak, Untuk kepenulisan Scenario, dirinya sudah pernah tergabung dalam beberapa tim, mulai dari Dunia Terbalik (RCTI), Dendang Cinta Wulan (MNCTV), Pura-Pura Haji (RCTI), Anak Punk Anti Cewek (RCTI), dan GOBER (RCTI). Pernah menulis juga satu episode Tukang Ojek Pengkolan (RCTI) saat menggantikan temannya yang sakit.

“Tapi yang terakhir itu rahasia tidak usah disebutkan,” candanya.

Meski sekarang kesibukannya memang hanya menulis dan tidur, Shina yang saat ini memilih genre komedi dalam kepenulisannya. masih mempunya mimpi lainnya. Penyuka kopi pahit ini, ingin sekali salah satu karya nya diangkat ke layar lebar. Meski jalan ke arah sana terbuka, namun diakuinya usahanya belum maksimal karena beberapa banyak hal. Meski begitu dirinya tetap akan berusaha untuk mencapai mimpinya itu. Selain mimpinya untuk menikah juga yang diakuinya tidak boleh terlewat daro daftar cita-cita.
Untuk waktu dekat ini, Shina tidak ingin muluk – muluk menargetkan sesuatu, apalagi di masa pandemi saat ini. Dirinya hanya berharap kerjaannya lancar, semua sehat, lingkungan juga kembali normal, kembali piknik ke mana-mana. 
Bagi Shina yang hanya tamatan STM jurusan pemesinan itu, yangterpenting tetap tekun dan terus mencoba. “Menulis merupakan sesuatu yang unik, tidak bisa dikatakan mudah dan tidak juga bisa dikatakan sulit. Banyak dari kita yang mudah menyerah karena alasan remeh tidak ada mood atau stuck. Belum-belum sudah pengen menghasilkan uang dari menulis. Sementara urusan “di” antara disambung apa dipisah aja masih belepotan.”
Tidak dipungkiri bagi yang masih belajar stuck itu akan selalu ada. Hal yang membuat Pemuda yang kini tinggal di Depok itu selalu ingat adalah bagaimana dirinya ketika dalam posisi stuck menulis adalah kalimat sakti yang diucapkan Head writer-nya, dan paling ditunggu, “Saat stuck dan mulai malas menulis, cek buku rekening kalian. Saya sudah transfer.” Saat itulah kembang api dinyalakan!” ujar shina dengan senyum lebarnya. 
Tentu saja, itu hanya guyonannya semata. Setiap penulis pasti mengalami writer block dan itu hal yang wajar. “Kalau kata mentorku di Cendol dulu tuh bilang, ‘Jadikan menulis itu agamamu!’ Jadi kalau nggak menulis kamu ateis. Neraka. Disetrika. Dipanggang bolak-balik. Hahaha... Peluklah menulis sebagai agama. Tapi bukan beban lho. Tulis apa aja yang melintas di kepala. Nanti seperti gatal saja gitu kalau sehari saja nggak nulis. Kita stagnan dan nggak lanjut menulis biasanya kan dipengaruhi faktor eksternal. Gak menghasilkan lah, pembaca dikit lah. Akhirnya berhenti. Ya, itu masalahanya kita belum selesai dengan diri sendiri. Belum berdamai dengan yang namanya menulis.”
Kalimat sakti dari Aris Nugraha yang sekarang menjadi bosnya di ANP juga membuat Shina selalu ingat,“Nulis yang kamu tau.” Menurut Shina, kalimat sederhana itu, selain menjadikanmu tidak terlalu dibebani riset berlebih, menulis apa yang kita tahu akan lebih terasa feel di tulisan kita. Itu hanya untuk beberapa kasus. Untuk yang perlu riset ya harus riset jangan malas.
Saran Shina untuk teman–teman yang sedang menulis dan berlatih kepenulisan, “Mengutip kalimat Aris Nugraha, “Karyamu sejarahmu.” Jadi, saat menulis sebenarnya kita sedang menulis sejarah untuk kita sendiri. Kalau busuk, kita akan dikenang busuk dan sebaliknya. Dengan begitu kita akan selalu serius dan membuat yang terbaik saat membuat sebuah karya tulis,” pungkasnya.
Profil
Nama : Shina El Bucorie
T.T.L. : Rembang, 08 Mei
Domisili : Depok, Bogor, Jakarta, Bekasi.

Karya Tulis
Sebagai co writer :
Pura-Pura Haji (RCTI, 2017)
Dendang Cinta Wulan (MNCTV, 2018)
Dunia Terbalik (RCTI, 2018)
Anak Punk Anti Cewek (2018)
GOBER (RCTI, 2019)

Kontak
Email : shinafillia@gmail.com
Instagram : shinaelbucorie
Kwikku : @tidakadashinahariini


Posting Komentar untuk "Shina El Bucorie, Serius Berkomedi Hari Ini dan Esok"

www.jaringanpenulis.com