"Perasaan yang Terpisah Oleh Takdir" Sebut saja judul sebuah karya cerpen mengharukan dari KHOLILA


sumber : Bobo-Grid.ID


Perasaan yang Terpisah Oleh Takdir
Karya Kholila

Namanya Aletea Putri. Panggil saja Tea. Ia lahir di keluarga yang mampu. Orang tuanya memiliki restoran di beberapa kota. Meskipun begitu, Tea tidak pernah menghambur-hamburkan uang yang diberi oleh orang tuanya. Uang itu ia gunakan sesuai dengan kebutuhannya. Ia tidak ingin merepotkan orang tuanya. Tea menjadi anak tunggal setelah kakak laki-lakinya yang baru berumur 2 tahun mengalami kecelakaan dan tidak diketahui keberadaannya sampai  sekarang. Sejak saat itu kakaknya dianggap meninggal.
Seperti biasanya, setelah sarapan Tea pamit untuk berangkat ke sekolah. Tea bersekolah di salah satu SMA favorit di Jakarta. Sesampainya di sekolah, Tea buru - buru masuk ke kelas karena sebentar lagi lonceng akan berdering. Sialnya, Tea malah menabrak seseorang. Benar - benar tidak sengaja. Ternyata ia adalah Martin, cowok yang terkenal di seantero sekolah. Martin tetap marah - marah meskipun Tea sudah meminta maaf. Sebenarnya Tea pun ingin marah tetapi saat itu ia tidak memiliki banyak waktu sehingga langsung saja ia tinggalkan Martin dan teman – temannya.
Bisa ditebak, Tea terlambat masuk ke kelas. Guru killer yang ada di kelasnya memberi hukuman untuk membersihkan kantin. Meskipun Tea sudah menjelaskan alasannya. Ia mendengus kesal. Bagaimana tidak, ia terlambat gara – gara menabrak Martin. Ketika hukumannya hampir selesai, Martin sengaja menumpahkan minuman kopinya.  Tea sangat kesal. Keributanpun tak terelakkan. Pak Tarno selaku kepala sekolah yang melihat kejadian itu menghentikan perdebatan mereka. Beliau akhirnya menghukum Martin untuk melanjutkan membersihkan kantin. Tea menertawai Martin. Diam – diam ia memiliki rencana untuk menjahili Martin. Tea pura – pura terpeleset dan kakinya terkilir. Dengan sigap, Martin langsung menolongnya dengan merangkul pundak Tea. Entah, kenapa hati Tea berdebar – debar!
*****
Sembari menatap bulan, Tea memikirkan Martin. Entahlah, bagaimana perasaannya kepada Martin tetapi seiring berjalannya waktu ia merasa tertarik pada Martin! Perutnya yang keroncongan membuyarkan lamunannya. Ia pun menuju dapur tapi tidak ada makanan. Tea memutuskan untuk pergi  ke restoran orang tuanya. Jarak dari rumah ke restoran tidak begitu jauh sehingga ia hanya berjalan kaki.
Sesampainnya di sana, ia langsung makan dan tak sengaja melihat Martin dengan Katrin, teman dekat Martin. Hal itu menjadikannya tidak nafsu makan. Gadis itu merasa kesal melihat kedekatan mereka. Setelah makan, Tea keluar dari restoran. Namun, baru saja ia menginjakkan kakinya, hujan telah turun membasahinya. Ia merasa pusing yang lama – kelamaan semakin menjadi – jadi. Tea pun pingsan. 
Dari kejauhan Martin melihat seseorang terkapar di jalan. Setelah didekati, ternyata orang tersebut adalah Tea. Ia bergegas membawanya ke rumah sakit. Setelah sadar, Tea berterima kasih kepada Martin.
****
Pagi – pagi Tea sudah berada di dapur. Ia membuat salad buah untuk Martin sebagai tanda terima kasih. Martin merasa senang. Ia justru menyesal selama ini salah menilai Tea. Semenjak saat itu, mereka berdua menjadi dekat. Sementara, Katrin tidak suka melihat mereka yang semakin dekat. Ia bertekad untuk memisahkan Tea dan Martin. 
Seperti biasanya pada hari libur, Tea selalu menyempatkan waktu untuk membantu urusan dapur di restoran. Berhubung hari ini bahan makanan habis, Tea memutuskan pergi ke pasar. Di sana gadis berambut panjang itu tak sengaja bertemu dengan Nino, teman masa kecilnnya. Pertemuan hari ini berujung dengan acara makan bersama untuk saling melepas rindu. Ketika mereka akan beranjak pulang, tiba – tiba Tea jatuh pingsan. Nino yang panik segera membawanya ke rumah sakit. 
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa Tea mengalami  anemia. Oleh karena itu, Tea menjadi mudah lelah dan sering pusing. Dokter menganjurkan agar Tea memperbanyak makan sayur. Pada saat itu, Tea meminta agar Nino merahasiakan penyakitnya kepada siapapun.
****
Sepulang sekolah, Martin meminta Tea untuk menemaninya berlatih basket. Tea yang melihat Martin berkeringat dengan cekatan mengelap muka Martin dengan handuk kecilnya dan memberikan minum. Entah, mengapa Martin merasa ini waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Tea?!?
“Emm….Tea, aku mau ngomong sesuatu,“ ucap Martin gugup.
“Ya sudah sih, ngomong aja,” jawab Tea yang merasa aneh melihat tingkah Martin.
“Nggak tahu... Kenapa setelah kenal sama Tea rasanya nyaman aja, apalagi setelah kenal banyak. Jarang banget sih, aku kayak gini sama cewek secara tiba-tiba gitu!”
“Ya, terus?” Tea semakin penasaran.
 “Aku suka sama kamu... Tea,” ujar Martin sambil mengenggam tangan Tea.
“Hah? Kamu serius suka sama aku? Bohong ya?” Tea terkejut.
“Tea sekarang tatap mataku! Mana mungkin aku enggak serius. Kamu mau kan jadi pacarku?”
Tea mengangguk dan tersenyum, tanda menerima cinta Martin. Sementara itu, Yusuf dan Bagas yang berada di dekat Martin hanya menjadi obat nyamuk. Keromantisan Martin dan Tea membuat iri orang yang melihatnya, termasuk Katrin, si gadis pemenang turnamen basket itu berusaha mendekati Martin tetapi Martin selalu menjaga jarak dengannya. Mereka sudah saling mengenalkan ke orang tua mereka masing – masing dan mendapatkan respon yang baik. Berhubung beberapa hari lagi Martin melaksanakan Ujian Nasional, mama Martin meminta kepada anak semata wayangnya itu untuk sementara waktu membatalkan agenda – agenda tidak pentingnya termasuk bertemu dengan Tea. Martin menyetujui permintaan mamanya setelah dipaksa oleh Tea. Meskipun tidak bertemu, mereka tetap berkomunikasi melalui media sosialnya seperti WA (WhatsApps).
****
Ujian Nasional selesai, sekolah mengadakan perpisahan sekaligus wisuda untuk kelas 12. Tea merasa sedih, membayangkan sebentar lagi dirinya dengan Martin akan jarang bertemu. Dalam benaknya muncul ketakutan apabila Martin berpaling darinya. Kendati demikian, Martin menenangkan Tea dengan berjanji tidak akan berpaling darinya dan tetap akan menemui Tea setiap akhir pekan. Tea berharap Martin bersungguh - sungguh dengan ucapannya.
Pada awalnya, Martin sering menghubungi Tea untuk saling menanyakan kabar tetapi semenjak terpilih menjadi leader basket di kampus, cowok bertubuh jangkung itu menjadi sangat sibuk, apalagi dalam bulan ini akan banyak sekali pertandingan. Maka dari itu, jadwal latihan Martin dan teman – temannya akan semakin padat. Hal itu membuatnya lupa meluangkan waktu untuk Tea. Tentu, Tea jadi penasaran seberapa sibuknya Martin.
Hari ini, Tea menginjak umur 18 tahun. Dari pagi, gadis itu sibuk mempersiapkan diri demi bertemu pacarnya. Ia yakin Martin akan datang memberi kejutan spesial untuknya. Malam berganti namun Martin tak kunjung datang. Bahkan memberi ucapan selamat ulang tahun pun tidak. Tea masih berusaha optimis, ia mengira Martin sengaja melakukkannya untuk memberi kejutan. Sayangnya, hingga malam berganti kembali kejutan itu tidak kunjung datang. Kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan menjadi lenyap.
****
Sudah hampir seminggu, Martin dan Tea tidak berkomunikasi. Ketika Tea mencoba  menghubungi Martin, cowok itu malah membentaknya. Martin mengatakan jika dirinya sedang sibuk.  Tea menangis, baru pertama kalinya Martin berlaku kasar kepada Tea. 
Tea menjadi penasaran sesibuk apa sih, Martin. Setelah berganti pakaian, ia pun bergegas ke tempat latihan basket Martin. Setibanya disana tidak menjumpai Martin, gadis itu bertanya kepada Yusuf dan Bagas. Mereka mengantarkan Tea untuk menemui Martin.  Bukannya senang, Tea malah kesal melihat kekasihnya berduaan dengan Katrin. Cewek itu spontan marah di depan Martin. Berhubung tidak ingin terjadi kesalahpahaman, Martin menjelaskan jika dirinya hanya berdiskusi mengenai strategi pertandingan lusa. Coach-nya sedang sakit sehingga posisi itu digantikan oleh adiknya yang  tidak lain adalah Katrin. Namun Tea memutuskan untuk beranjak pergi ke restoran tanpa mendengarkan penjelasan dari Martin. 
Nino melihat Tea menangis saat dirinya datang ke restoran. Sembari mengusap air matanya, Tea menceritakan masalahnya kepada Nino, cowok berkumis tipis itu menenangkan sahabatnya. Dia beranjak mengambil kado yang sebelumnya telah ia persiapkan. Tea spontan memeluk Nino yang ternyata masih ingat hari ulang tahunnya. Katrin yang tak sengaja melihat mereka berpelukan. Tanpa menyia – nyiakan kesempatan, Katrin langsung mengabadikan momen tersebut dan mengirim fotonya kepada Martin. 
****
Malam harinya, Tea berencana akan datang ke rumah Martin untuk merayakan monthsarry mereka. Gadis itu rela melupakan amarahnya pada Martin. Saat ini, ia sibuk membuat kue yang akan dibawanya. Mengenakan dress selutut dipadukan dengan flatshoes, Tea mengendarai mobilnya  ke rumah Martin.
Sesampainya di sana, gadis cantik itu tak sabar melihat reaksi pacarnya. Setelah ia mengetuk pintu, tak lama kemudian Martin keluar.
“Happy monthsarry sayang!” ucap Tea semringah sambil memberikan kue yang dibuatnya.
“Ngapain kamu ke sini? Mendingan kamu pulang aja!” ucap Martin ketus.
“Loh, kok malah diusir sih?”
“Mulai sekarang kita putus!”
Tea meminta penjelasan. Kemudian Martin memperlihatkan ponselnya yang berisi foto Tea berpelukan dengan Nino. Tea mencoba menjelaskan tetapi Martin sudah tak ingin mendengarkan penjelasan darinya. Lalu, Martin masuk ke dalam rumah dan tidak memperdulikan Tea.
****
Setelah mandi, Tea berniat untuk jogging, sekedar melepas penat. Hari ini cuaca lumayan panas membuatnya merasa pusing dan menepi di pinggir jalan. Ia baru ingat belum sarapan dan meminum obat.
Dari kejauhan, Martin yang sedang jogging bersama Katrin melihat mantan pacarnya berdiri sempoyongan. Mereka berjalan melalui Tea begitu saja. Tea yang sudah lemas tak memperdulikan keberadaan mereka. Pandangan mata Tea mulai berkunang – kunang dan beberapa menit kemudian roboh. 
Beberapa jam kemudian, Tea mendapati dirinya berada di UGD rumah sakit. Ketika menoleh ke sekelilingnya, ia mendapati seseorang yang tak asing baginya. Setelah diamatinya lebih tajam ternyata orang tersebut ialah Martin yang berlumuran darah. Disana, terlihat dokter dan suster sangat sibuk menangani Martin yang kehabisan darah. Tea panik tetapi ia pasrah tak bisa berbuat apa – apa karena dirinya pun sedang terbaring lemah.
Beberapa saat kemudian, orang tua Tea datang ke rumah sakit. Tak sengaja Papanya mendengar perkataan dokter, ada pasien yang membutuhkan banyak darah. Kebetulan darah yang dicari sama dengan darah milik beliau. Lelaki berkacamata itu dengan segera mendonorkan darahnya. Kemudian dokter melakukan operasi dan tranfusi darah pada Martin. Entah, kenapa mamanya Tea teringat dengan kakaknya Tea yang juga memiliki golongan darah langka sama seperti pasien itu dan suaminya?!? Orang tua Tea sepakat meminta kepada pihak rumah sakit untuk melakukan tes DNA antara suaminya dengan pasien tersebut tanpa sepengetahuan Tea. 
 Tea menceritakan kepada Papanya jika Martin mengalami kecelakaan dan membutuhkan banyak tranfusi darah saat menolong Tea. Akan tetapi, sampai saat ini dirinya belum tahu, bagaimana keadaan mantan pacarnya itu. Ia begitu mengawatirkannya. Dalam hati, Papanya mengira, apa mungkin pasien yang beliau donorkan darahnya adalah Martin? Sementara itu, mamanya menunggu hasil tes keluar. 
Setelah berjam – jam, hasil tes DNA keluar dan hasilnya positif. Beliau sangat senang dan memberitahu suaminya dan Tea. Mereka pun senang mendengar kabar itu. Atas ijin dokter, mereka diperbolehkan menjenguk pasien tadi. Betapa terkejutnya saat mereka melihat orang tua Martin yang ada di dalam ruangan itu. Orang tua Tea menanyakan kepada orang tua Martin, “Apakah Martin adalah anak kandung mereka?”
Mereka lalu menceritakan jika Martin adalah anak angkat mereka yang ditemukan saat Martin berumur 2 tahun. Tea tak kuasa membendung air matanya saat mengetahui kakak kandungnya adalah Martin.
Setelah sembuh, Martin datang menemui Tea. Mereka sama - sama terpukul dengan kenyataan jika mereka adalah saudara kandung. Mereka juga tidak bisa merubah takdir itu. Tea sempat mengurung diri di kamar selama berhari – hari dan hanya berkomunikasi dengan Nino. Perlahan Martin membujuk Tea agar Tea dapat mencoba menerima jika rasa sayangnya pada Martin akan lebih berarti sebagai saudara bukan sebagai pasangan hidupnya.
SELESAI.


IDENTITAS PENULIS :
NAMA         : KHOLAILA
TTL         : KULON PROGO, 23 APRIL 2003
E-MAIL         : kholaila23@gmail.com

FIRDA SHIEWA
FIRDA SHIEWA Gadis sederhana yang menyukai dunia literasi dan dunia musik, yang gak doyan selfie.

Posting Komentar untuk ""Perasaan yang Terpisah Oleh Takdir" Sebut saja judul sebuah karya cerpen mengharukan dari KHOLILA"

www.jaringanpenulis.com




Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia
SimpleWordPress