IKLAN

Fanny Oktavia, "I WILL LOVE YOU" Bagaimana kisahnya? Simak dalam cerita pendek ini!

I WILL LOVE YOU

sumber gambar : blibli.com

Karya Fanny Oktavia E


Sepenggalan kisah telah dilalui bersama-sama. Namun, ada kalanya kita mengubah sedikit cerita itu. Ini bukanlah cerita yang memang ditujukan untuk semua kisah percintaan yang pernah ada dan hadir di dunia. Justru lebih banyak jumlah hati dan rasa yang terdapat, maka jumlah kenangan pun tersimpan begitu cepat dan banyak.
Shiera. Bukan! Itu bukan namaku, namaku ialah Velyn. Shiera adalah teman sekaligus sahabatku sejak kecil, bahkan sejak aku masih memakai popok. Aku pernah bercerita kepadanya bahwa sejak dulu ia merupakan malaikat pelindungku. Bagaimana tidak? Ia selalu menolak semua laki-laki yang berusaha membuat diriku menjadi pacarnya. Katanya, “Aku masih kecil, padahal saat itu umurku sudah 15 tahun dan aku berada di kelas 2 SMA.” Begitupun saat ini juga. Ya, bisa dikatakan aku ini adalah anak akselerasi.
Pagi ini, aku akan menceritakan kisahku dengan semua hal yang ada dalam aksara ternaung dalam buku dairy ku.
“Cepatlah Vel, kamu tidak sengaja membuat kita berdua terlambat berangkat kan?” panik Shiera menggerutu kesal kepada diriku yang sedang mengikat tali sepatuku.
“Cah! Sudah selesai. Ayo!” ajakku memegang tangannya untuk keluar rumah dan berjalan keluar untuk mencari pesanan mobil yang sudah dipesan 3 menit lalu.
Beberapa jam kemudian, setelah menaikinya dengan Shiera, aku pergi ke tempat menuntut ilmu dengan wajah yang cerah dan bersemangat. Di sinilah aku dan Shiera berpijak, di bawah naungan buana yang terlihat cerah saat pagi yang lumayan terik ini. Aku dan Shiera menekuni jurusan akselerasi bagian Akuntansi. Kami berdua memang sudah merencanakan itu sejak awal. Tepatnya, sejak dari awal sekolah aku mencari tahu apa yang diartikan dengan menjalani kehidupan yang layak dan bahagia. Salah satu jawabannya telah kutemukan saat ini, yaitu melanjutkan sesuatu yang sempat tertunda. Aku melanjutkan pekerjaan ayahku sebagai Manajer Bank ternama yang sempat tertunda karena beliau telah meninggalkanku. Sementara itu, ibuku, ah, tidak usah membahasnya! Yang kuingat, aku ditinggalkan begitu saja saat itu, dan sampai saat ini aku tetap bersama dengan Shiera. Keluarga Shiera begitu baik kepadaku dan beruntung saja mereka mau menerima anak sepertiku di rumah mereka.
Setelah pulang sekolah hari ini, aku dan Shiera ada jadwal yang harus dilakukan di daerah yang lumayan jauh dengan rumah tempat tinggal. Ini semua dilakukan karena memang demi mencapai keberuntungan kedepannya, apa lagi jika bukan masalah magang.
“Vel, kau yakin ingin magang di Bank ini? Aku rasa masuk untuk bekerja di sana sangatlah susah!?” khawatir Shiera kepadaku yang membenarkan tasku.
Aku memegang pundaknya pelan dan mengembangkan senyumku kepadanya, guna untuk menenangkan.
“Semua akan baik-baik saja, percayalah kepadaku! Kita pasti bisa bekerja di sini,” yakinku kepada Shiera dan mulai dibalas anggukan tanpa ragu oleh Shiera.
“Baiklah. Mari kita tunggu Tuan Arsen di sana saja!” usulku menunjuk ke tempat duduk yang berdekatan dengan pantai, langsung saja Shiera berlari tanpa menjawab usulku tadi.
Meninggalkanku yang masih berdiri menatapnya yang kini mulai duduk tenang di sana serta merentangkan tangannya.
“Kamu jangan kekanakan untuk saat ini, Ra!” ingatku kepada Shiera namun dibalas decakan dan gerutuan.
“Kamu selalu saja seperti itu. Kapan kamu akan kembali pada dirimu yang dulu?” ujar Shiera dengan ucapan lirih pada akhir katanya.
Aku mulai berdehem dan mencoba untuk tidak membahas masalalu itu.
“Jangan bahas yang lalu, itu akan cepat hilang! Ada kalanya kita berubah menjadi lebih baik,” nasihatku kepada Shiera dan dibalas decakan.
Lagi-lagi kata-kata itu yang selalu kuandalkan untuk membuatnya yakin kepadaku. Tak lama kemudian, datanglah seorang paruh baya dan seorang yang bisa dibilang masih muda sedang berjalan menuju arah tempat kami duduk. Sontak saja aku mengode Shiera untuk duduk tegap dan menyambut seseorang yang sepertinya ialah Tuan Arsen. 
“Selamat siang Tuan Arsen,” sapaku menyunggingkan senyum lumayan canggung kepada pria paruh baya yang baru saja datang. Namun, bukannya membalas sapaanku beliau malah tertawa, pria paruh baya itu menertawakanku.
Aku bertanya dalam hati, “Apakah aku salah?” Sementara itu, aku melirik ke arah belakang dimana Shiera yang malah terbengong diam melihat ke arah pria muda disebelahnya.
“Perkenalkan, aku adalah Tuan Harry. Tuan Arsen ialah beliau,” ucap pria paruh baya itu kepada kami.
“Dan apa ini? Apakah aku sedang melantur atau bagaimana? Tuan Arsen kukira sudah lumayan tua tapi ternyata, dia sungguhlah masih muda!” dialog dalam hatiku.
“Baiklah. Silakan duduk Tuan!” ujarku mempersilakan keduanya duduk namun Shiera masih saja berdiri dan matanya yang masih belum lepas menatap Tuan Arsen.
“Ra,” panggilku menyadarkan Shiera dan menyuruhnya untuk cepat duduk diam di tempatnya.
“Baiklah. Mana review-nya?” pintanya kepadaku dan sontak aku langsung mencari review itu di tasku, langsung menyerahkan kepadanya.
“Ini Tuan.” Aku menyerahkan sembari menyertakan file tentang isi semua bahan review yang kudapatkan.
“Baiklah! Kamu diterima. Segera kembali ke urusan asuransi besok pagi, aku yang akan bertugas untuk meminta izin ke sekolahmu dan satu lagi, jangan panggil aku Tuan karena kita seumuran,” jelasnya panjang lebar membuatku senang sekaligus terlonjak kaget karena ucapan terakhirnya.
“B-baiklah Arsen, aku besok akan kembali,” ujarku menjadi gagap karena canggung tapi ada yang mengganjal bagiku.
“Sebentar, bagaimana dengan teman? Tidak. Bagaimana dengan saudara ku ini?” tanyaku kepada Arsen yang sepertinya berpikir.
“Kalian berdua datang saja besok, aku akan menempatkan kalian di bagian magang.” Mendengar itu, aku dapat bernafas lega.
Aku memasang wajah senang dan tersenyum begitu lebar.
“Terima kasih, aku dan saudaraku akan berkerja semaksimal mungkin,” ujarku antusias dan dibalas deham oleh Arsen.
Kulihat Arsen yang mulai menerima jabatan tanganku dan mulai mendekatkan dirinya kepadaku.
“Selamat bertugas Nona Velyn Arendra,” bisiknya kepadaku.
Hal itu membuatku terkejut dan terlonjak kaget namun aku menutupinya dengan senyuman aneh dan canggung. Mengetahui bahwa aku tidak menulis nama keluargaku di kertas review ku, “Bagaimana dia bisa tahu nama keluargaku? Terutama itu adalah nama ayahku; Arya Arendra. Ini begitu membingungkan dan membuatku tegang di satu kejadian.”
Aku tersenyum dan mengambil tasku untuk menghubungi taxi yang akan segera kupesan. Namun, kegiatan itu terhenti karena Shiera yang merebut ponselku. Aku menatapnya kesal.
”Kembalikan Ra! Apa yang kamu lakukan? Kita akan kesorean nanti pulangnya jika tidak segera memesan,” ujarku namun Shiera mengodeku untuk melihat ke arah sampingnya.
Ternyata, benar! Ada mobil yang sedang berhenti di sana, terlebih yang membuatku kaget ialah seseorang yang duduk di dalamnya. Sepertinya aku mengenalnya, dan benar sekali itu ialah Arsen. Aku berpikir, “Apa yang ia lakukan dengan mobilnya di sini? Bukankah ia sudah pulang beberapa waktu yang lalu?”
“Selamat siang, bukankah kamu sudah pulang tadi?” tanyaku kepada Arsen yang hanya dibalas anggukan oleh Arsen.
“Masuklah! Aku akan mengantarmu,” suruhnya namun saat aku hendak membalas ucapannya dan berniat untuk menolak pun tertunda karena Shiera yang langsung saja menjawab, “Baiklah!”
Aku pun masuk ke dalam mobil dan mencoba untuk mengendalikan diri supaya bersikap sopan di sini. Saat sampai rumah kediaman Shiera, aku pun mengucapkan terima kasih dan kembali masuk ke dalam rumah dengan Shiera yang sudah berada di depanku. Begitu masuk, aku langsung pergi ke kamar untuk membersihkan badanku yang lengket karena seharian berada di luar.
Tak terasa, kini hari sudah berganti dan aku pun sudah menjalankan magangku di Bank ternama ini, aku sungguh-sungguh seperti sedang bermimpi. Berkutat di depan komputer yang bersilauan cahanya, kini sudah menjadi tradisi sehari-hariku sekaligus ini adalah pekerjaan sehari-hariku. Saat semua file keuangan sudah mulai selesai kususun, aku mencoba meregangkan semua otot-otot tanganku dan jemariku yang mulai keram. Tiba-tiba saja asisten Hans menyuruhku untuk ke ruangan Arsen. Asisten Hans adalah asisten Arsen. Sontak aku terkejut dan bertanya-tanya, “Ada apa ini? Mengapa aku harus masuk ke ruangan Arsen? Apakah aku melakukan kesalahan?”
Aku melangkahkan kakiku dan mengetuk pelan ruangan Arsen. Setelah disetujuinya, akupun mulai melangkah masuk dan duduk berhadapan dengan Arsen. Jantungku terasa berdetak kencang sekali seperti telah melakukan kesalahan yang begitu fatal. 
“Apakah benar kamu, Velyn Arendra putri dari bapak Arya Arendra?” tanya Arsen begitu membuatku mendongakkan wajah dan terlonjak kaget.
“Bagaimana kamu tahu? Sejak awal kamu menerimaku pun kamu mengetahui marga ku, dan sekarang kamu mengetahui nama ayahku. Siapa kamu sebenarnya?” kesalku dalam hati dan dibalas kekehan oleh Arsen. Kemudian Arsen menyerahkan surat yang sepertinya harus kubaca. Mataku melotot melihat surat pernyataan yang tertulis. Sangatlah jelas hingga membuatku diam tak berkutik.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku kepada Arsen.
“Terakhir kali saat aku menemani ayahmu ke luar negeri untuk mengatur masalah keuangan di Bank cabang, ayahmu memintaku untuk dijodohkan denganmu. Namun, saat perjalanan kembali aku dan ayahmu mengalami kecelakaan pesawat hingga aku saja yang selamat, dan permintaan terakhir ayahmu memintaku untuk mencarimu untuk segera menikahimu,” jelas Arsen panjang lebar dan aku yang menanggapi itu dengan tertegun.
Aku ingin tidak mempercayai itu tetapi semua cerita yang telah Arsen ceritakan semuanya tepat dan benar bahwa itu adalah kisah ayahku, di mana ayah meninggalkanku saat itu.
“Lalu?” tanyaku kepada Arsen dan dibalas senyuman tulus oleh Arsen.
Hatiku menghangat saat Arsen menatapku seperti itu.
“Maukah kamu menikah denganku?” ujarnya menatapku dengan sangat tulus serta tak luput senyumannya yang masih setia bertengger di wajah tampannya.
Tak lama aku pun menyunggingkan senyumanku dan menganggukkan kepala untuk menjawabnya. Tiba-tiba Arsen memasangkan kalung dan begitu tak terduga ia mencium keningku, aku pun hanya mematung karena mendapat serangan yang begitu dadakan. 
“Terima kasih telah menerimaku menjadi calon suamimu. I will love you!”

SEKIAN.

Biodata Penulis
Nama : Fany Oktavia E
Email : fannyoktavia08.sby@gmail.com
Instagram : @fiifanie
Wattpad : @fanyokta08

Posting Komentar

0 Komentar