IKLAN

SETARA ditulis oleh RATNA DWININGRUM [CERPEN ROMANCE MENGHARUKAN]

SETARA
ditulis oleh : 
Ratna Dwiningrum



Jadi teringat, hari ini adalah lima tahun berpacaran dengan Rifki. Orang yang ditemui Kayla di kantor pertama kalinya. Kemudian saling jatuh cinta. Tidak terasa sekarang umurnya sudah tidak lagi sama.
Mata Kayla melirik ke arah kanan dan kiri, mencari seseorang yang ingin dia temui sedari tadi. Namun, orang itu belum kunjung datang. Handphone yang ada di meja tersebut bergetar begitu saja. 
“Mau di jemput jam berapa, Cing?” tanya seorang dari sebrang sana dengan suara penyanyi yang sangat terdengar di telinganya.
“Gue jemput aja ya?”
Kayla menengok ke arah kiri dan kanan. Kemudian berbalik ke arah pintu sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
“Jam 10 aja. Di tempat biasa, gue lagi di tempat Cafe biasa kok. Dia belum dateng soalnya.”
“Belum dateng juga itu anak?” Suara tegas terdengar di telinga Kayla.
“Ya udah, gue telepon dia aja. Masa lo udah nunguin dia tapi dianya gak datang. Lo duduk sana aja, sebentar.”
“Eh, Jahe.... Jangan!” larang Kayla dengan sangat cepat.
“Gak usah kok. Gak apa-apa. Gue nungguin di sini aja. Biarin kalau seandainya dia gak bisa, kan masih bisa dijemput sama lo.”
Laki-laki itu terdiam. Sejenak berkata, “Ya sudah, kalau gak datang langsung telepon gue. Biar langsung gue jemput. Gue udah kelar juga kok kerjaannya. Gak usah tolak, lo cewek.”
Telepon tersebut dimatikan. Laki-laki barusan itu namanya Haikal. Bisa dibilang dia adalah playboy kelas kakap. Yang ada di tempat kuliahnya pada saat itu. Haikal sangat bisa memacari setiap orang yang cantik bahkan dengan satu kedipan dan satu tatapan saja langsung berhasil.
Katanya, “Kalau ada orang yang mau dengan dirinya itu adalah keberuntungan.”
“Cing, lo gak mau jadi pacar gue aja gitu biar beruntung?”
Padahal, berteman dengan Haikal saja tidak pernah bisa beruntung untuk Kayla. Biasanya, Haikal selalu dipanggil Jahe oleh semua orang. Itu karena ulah Kayla. Yaps, Kayla adalah orang yang disebut sering mengganti nama orang yang menurutnya sangat bagus. Alasannya simple agar dia bisa dengan cepat memanggil orang tersebut sedangkan Cing, nama itu pemberian dari Haikal karena Kayla tidak menyukai kucing. Mungkin dari semua orang, hanya Kayla yang tidak suka dengan kucing.
“Hai....” Rifki datang dan duduk di depan Kayla sambil menaruh bunga di atas meja.
“Maaf agak lama, aku baru saja beli ini buat kamu.” Tunjuknya dan memberikan bunga itu pada Kayla. 
Senyuman dari bibir Kayla mengembang. Kemudian menaruh di samping tangannya dan berkata, “Gak apa-apa kok, lagian aku nunggunya gak lama banget.”
Rifki mengangkat tangannya, memanggil waiters  untuk memesan kopi hitam tanpa gula kesukaannya.
“Tumben ngajak kesini? Ada apa?”
“Enggak,” jawab Kayla sambil menggelengkan kepalanya, mengaduk-ngaduk caramel latte miliknya dan melanjutkan ngobrol, “Tumben telat? Biasanya kamu yang selalu paling ontime.”
Rifki menggaruk lehernya yang tidak gatal. Kemudian melihat ke arah kiri dan kanan.
“Kamu kenapa? Kok sepertinya aneh gitu.”
Tangan kanan Kayla dibiarkan menopang wajahnya sendiri. Kemudian melihat ke arah Rifki.
“Ki, kita udah pacaran berapa tahun? Kamu tahu kan, aku itu anak sulung. Umur aku juga 25.”
Mata Rifki menatap Kayla dengan lekat.
“Terus kenapa? Aku juga udah 27 kan.”
Senyuman Kayla nyaris tidak terlihat sama sekali, dia menundukan kepalanya.
“Aku butuh kepastian dari kamu,” katanya dengan sangat cepat.
“Kepastian gimana?” tanya Rifki sambil tersenyum dan saat itu minumannya sudah tersedia di depannya.
“Lha, aku itu anak bungsu. Aku punya kakak, kamu tahu kan? Pernikahan pertama kakak ku enggak berjalan dengan mulus, dan aku enggak mau itu terjadi dengan kita.”
“Ki, mau sampai kapan? Lima tahun, dari kita sama-sama sudah kerja terus resign dan sekarang punya kerjaan tetap masing-masing. Lima tahun aku seperti sendirian. Lima tahun tanpa kepastian. Lima tahun enggak tahu kamu gimana sama aku.” Kayla mengatakan itu dengan sangat lugas dan menatap mata Rifki lekat. 
Rifki menundukan kepalanya. Kemudian membuang nafasnya dengan sangat keras.
“Ya sudah, kita udahan aja,” jawabnya sambil menatap mata Kayla, sesaat tersenyum.
“Kalau kamu mau yang lebih dari pacaran untuk sekarang, aku enggak pernah bisa dan enggak pernah tahu akan bisa atau enggak. Aku gak mau kita gagal terus aku kehilangan kamu dan kita jadi saling benci.”
Kepala Kayla tersenderkan di kursi. Matanya lurus ke arah depannya.
“Ok!” jawabnya sambil tersenyum.
“Aku kira.... Setelah beberapa tahun aku nungguin kamu bakalan punya keputusan yang paling masuk akal buat aku terima. Ternyata masih sama. Ki, makasih ya!”
“Kalau nanti, kamu menemukan satu cinta yang enggak bisa kamu lepasin.... Semoga, dia bisa ngerasain apa yang kamu rasakan,” lanjutnya sambil tersenyum dan merapihkan barang-barangnya.
Ketika sudah rapih dengan barang-barangnya, Rifki lebih dulu keluar dan membayar itu semua. Meninggalkan dirinya sendirian. Handphonenya bergetar begitu saja.
“Gue udah sampai,” ujar Haikal dengan cepat dan meneruskan ocehannya,“Di parkiran.”
Kayla tidak menjawab, dia mematikkan telepon dan berjalan dengan cepat untuk keluar. Sesaat kemudian, masuk ke dalam mobil dan terdiam melihat ke jendela, ternyata, di luar sudah turun hujan rintik-rintik, seolah kali ini semesta memilih untuk menjadi sama sepertinya, yaitu menyambut kehilangan yang terkesan terburu-buru.
Beberapa kali ini Kayla mengelap wajahnya dengan kemeja panjang yang dia kenakan. Pikirannya kacau balau, kelimpungan. Tiba-tiba sekarang dia sudah berhenti untuk drive true, matanya melirik ke arah Haikal.
“Ngapain?” tanyanya sambil melihat ke arah Haikal sambil mengelap air matanya.
“Balik aja yuk! Gue capek banget.”
Mata Haikal menyipit sambil berkata, “Gue laper, gue kan abis ngerjain project tadi, dan gak sempet makan. Makan di mobil kok, boleh kan?”
Bibir Kayla memanyun. Kemudian menganggukan kepalanya dan berkata, “Ya udah.”
Tidak lama, Haikal memberikan ice cream dan berkata,“Biasanya, obat sedih buat ponakan-ponakan gue itu adalah ice cream. Siapa tahu itu efeknya sampai ke lo.”
“Gue bukan ponakan lo,” jawab Kayla sambil mengambil ice cream itu dari genggaman tangan Haikal.
“Gue putus sama Rifki.”
Tidak terkejut dengan hal itu, Haikal malah membuka makanannya.
“Udah tahu kok gue. Lo kan pengen nikah di umur 24, sekarang 25. Target lo udah kelewatan setahun kan?” celetuk Haikal.
“Gue kayaknya udah gak punya target apapun lagi,” jawabnya sambil menyendokkan ice cream ke dalam bibirnya dan meneruskan berceloteh,”Gue udah gak mikirin mau nikah umur berapa. Kalau adik gue mau langkahin juga gak apa-apa.”
“Eh!” Haikal menengok.
“Ya sudah, sabar aja. Makanya lo tuh, lihatnya jangan ke depan terus! Kali-kali ke belakang. Siapa tahu ada yang ngejar lo tanpa lo sadar?”
Kayla hanya terdiam. Kemudian mendengarkan musik di radio dengan volume yang cukup kencang. Tidak memperdulikan Haikal dan kemarahan orang itu pada dirinya.
Kayla hanya terdiam. Kemudian mendengarkan musik di radio dengan volume yang cukup kencang, tidak memperdulikan Haikal, dan kemarahan orang itu terhadap dirinya.

---------

Setelah kejadian enam bulan lalu yang tidak pernah bisa Kayla lupakan. Dia hadir di pernikahan orang itu. Mereka duduk berdua dengan ucapan sakral yang terdengar di telinga Kayla. Cukup mengejutkan melihat segala hal yang terjadi. Kayla masih berpikir selama lima tahun dulu bersama-sama akan membuatnya yang duduk disana, tetapu kenyataannya dia kurang sabar. Sekarang, dia sudah berada di mobil setelah rangkaian acara itu terlewatkan, dan tidak ada wajah kecewa yang terlihat di wajah Kayla seperti baik-baik saja, seolah tidak pernah kehilangan. 
“Kenyang?” tanya Kayla sambil memakai sabuk pengamannya.
“Langsung balik kan nih? Mampir mall dulu yuk! Mumpung bajunya bagus,” imbuh Kayla.
“Gak sakit?” Haikal bertanya seperti itu sambil membawa mobilnya dengan perlahan. Kemudian bertanya lagi, “Gimana selanjutnya?”
Kepala Kayla ditenggokan begitu saja sambil sedikit tertawa dan berkata, “He, dia itu udah bahagia. Selama ini gue cuma jadi penghalang mereka aja. Enam bulan setelah enggak sama-sama, dia bebas kan? Kenapa gue gak bebas?”
Nafas Haikal dibuang dengan keras, matanya melihat ke arah Kayla.
“Gue pernah bilang kan, kalau lo, jangan fokus ke depan! Gue beneran bilang itu.”
Mobil Haikal seketika terhenti. Dia seperti hanya memindahkan parkiran mobilnya saja ke arah lebih depan.
“Apaan sih?” jawab Kayla sambil tertawa.
“Gue pernah bilang sama diri gue sendiri. Kalau gue udah ketemu satu perempuan yang bisa bikin gue nyaman. Gue gak akan sia-siakan dia, dan sekarang, gue gak mau sia-siakan lo,” ketus Haikal sembari tangan kanannya mencoba mencari cincin yang di simpan.
“Gue beneran mau serius, Cing sama lo.”
Kayla terdiam begitu saja, bibirnya masih terganga. Kemudian bingung harus menjawab apa.
“Kal? Lo gak lagi mau bikin gue kecewa lagi kan?”
Kepala Haikal tergelengkan, menegaskan, “Kalau sampai kapan pun, gue gak akan pernah bikin lo kecewa dan lo bisa pastiin itu.”
Kali ini.... Entah, apa yang terjadi, Kayla menganggukan kepala. Memeluk Haikal dan tertawa bersama-sama seolah bingung dengan apa yang terjadi. 
“Kenapa gak dari dulu?” tanya Kayla haru sambil melihat cincin tersebut di jari manis kirinya.
“Kenapa baru sekarang?”
Haikal menenggok dengan perlahan dan berkata, “Karena sekarang, lo gak punya pacar jadi gue bisa milikin lo sepenuhnya, apalagi kita sudah setara.”
Senyum Kayla mengembang. Sejenak terdiam dan melihat ke arah Haikal dengan sangat lekat. Kemudian tidak mengatakan apapun lagi sedangkan Haikal, dia melihat ke arah Kayla sambil tersenyum, seolah sekarang dia sudah mendapatkan apa yang dia mau di dunia ini, yaitu, Kayla. Ya, Kayla, seorang. SEKIAN.

----------


BIODATA PENULIS
Nama Lengkap : Ratna Dwiningrum 
Nama Panggilan : Ratna

Media Sosial
>instagram : @ratna.dwiningrum

Posting Komentar

0 Komentar