IKLAN

CERPEN BIKIN TERENYUH, "HENGKY FAIRUZ BUSTHOMY" dengan judul, KEBERKAHAN HIDUP

KEBERKAHAN HIDUP
Karya Hengky Fairuz Busthomy

sumber gambar dari motivasi kehidupan


Siang itu, Pak Didit tengah mempersiapkan bahan-bahan baksonya. Telah belasan tahun, Pak Didit menekuni profesinya karena Pak Didit sadar jika hanya ini kemampuan yang beliau bisa. Maka, Pak Didit melakukan itu demi memenuhi kebutuhan anak dan istrinya sehingga beliau rela berpanas-panasan berkeliling menjajakan baksonya. Pak Didit berjualan dengan mengendarai sepeda motor modifikasinya. Setelah memasukkan segala bahan ke dalam etalase baksonya, beliau segera berpamitan kepada istrinya.
“Sudah Bu. Aku jualan dulu,” kata Pak Didit sambil mengecup kening istrinya.
“Iya, Yah. Semoga nanti baksonya laris,” kata Bu Ani melepas kepergian suaminya.
Hari itu, seperti biasa, Pak Didit berjualan di kompleks para pelanggannya. Pukulan kentungan khasnya, sudah dikenal oleh orang kawasan itu. Seorang anak segera berlari ke teras rumahnya, memanggilnya dengan penuh semangat. 
“Pak Didit, aku beli satu bungkus,” katanya.
“Iya. Pakai saus apa tidak?” tanya Pak Didit.
“Lengkap semuanya Pak. Uangnya ini ya, Pak,” katanya seraya meletakkan uang.
Pak Didit bersyukur karena beliau telah mendapat pembeli pertama. Pak Didit melanjutkan perjalanannya hingga sampai di jalan raya. Berhubung cuaca yang amat terik, Pak Didit memutuskan untuk berhenti di masjid. Beliau beristirahat di serambi masjid sembari menunggu pembeli. Ketika beliau sedang memperhatikan lalu lalang kendaraan, beliau melihat di seberang jalan terdapat seorang nenek. Ternyata, nenek itu terlihat sedang berjualan pisang dengan duduk beralaskan tikar. Tak ada apapun yang menaunginya kecuali capil yang dipakainya. Merasa kasihan, Pak Didit berniat menghampirinya. 
“Nenek jualan pisang apa saja?” sapa Pak Didit.
“Jual pisang raja, Nak,” jawab nenek.
“Suami nenek ke mana? Kok, nenek kerja sendiri?” tanya Pak Didit penuh simpati.
“Suami saya sudah meninggal,” jawab Sang Nenek.
“Maaf ya, Nek,” kata Pak Didit merasa bersalah.
“Harga pertundunnya berapa, Nek?”
“Hanya Rp. 8.000, 00 saja, Nak.”
“Kalau begitu, saya beli satu tundun saja, Nek.” 
Pak Didit sungguh sangat prihatin pada kondisi Sang Nenek. Meskipun Pak Didit tak pernah mengenal Sang Nenek sebelumnya. Namun, beliau berpikir, bagaimana jika beliau yang berada di posisinya si nenek itu. 
Beberapa jam kemudian, Pak Didit telah sampai di rumah, beliau lantas memberikan setundun pisang tersebut ke istrinya. Pak Didit pun menceritakan apa yang beliau alami tadi. Beliau berencana untuk membantu kehidupan Sang Nenek dengan apa yang mereka miliki. Pada awalnya, Bu Ani tidak setuju dengan usul suaminya. Dia beralasan kalau kebutuhan makan saja masih susah, belum lagi keperluan sekolah anaknya. Namun, Pak Didit terus membujuknya hingga membuat hati Bu Ani luluh.
“Ya sudah, Yah. Aku izinkan. Maaf, aku tadi agak emosi,” kata Bu Ani tulus.
“Tidak mengapa Bu. Tetap yakinlah kalau rezeki kita itu sudah diatur,” tutur Pak Didit menasihati istrinya.
“Aku sangat beruntung punya suami yang sabar dan baik hati seperti kamu,” kata Bu Ani dengan seulas senyum.

***

Keesokan harinya, setelah berkeliling, Pak Didit kembali menelusuri jalan raya tempat Sang Nenek jualan. Beliau mencari tahu tentang Sang Nenek dari orang yang tinggal di gang-gang sekitar jalan raya. Pak Didit pun mendatangi rumah Sang Nenek sesuai dengan informasi yang beliau dapat. Kemudian diketuklah pintu rumah yang tampak sepi tersebut.
“Assalamualaikum....” 
“Waalaikumussalam.” Terdengar suara anak lelaki seraya membuka pintu.
“Nenek ada?”
“Ada di dapur. Aku panggil dulu.” 
Tak lama, Sang Nenek datang menemuinya.
“Silahkan masuk, Pak!” sambut nenek dengan ramah.
“Iya, Nek. Saya yang waktu itu membeli pisang nenek,” kata Pak Didit mengingatkan.
“Iya, saya ingat. Terima kasih sudah mau berkunjung.” 
“Ini, Nek. Saya ada sedikit tabungan untuk Nenek,” kata Pak Didit sambil menyerahkan sebuah amplop.
“Maaf, Pak tapi saya tidak mau merepotkan,” kata nenek menolak.
“Tidak apa-apa, Nek. Ini untuk biaya sekolah cucunya.” 
“Saya jadi tidak enak. Saya sangat berterima kasih,” kata nenek dengan sangat senang.
Dengan cara seperti ini, hati Pak Didit kini menjadi lega. Akhirnya, Pak Didit mampu merealisasikan niatnya. Pak Didit ternyata, merasa sangat berbahagia dapat meringankan beban yang selama ini ada di pundak Sang Nenek dan satu hal yang pasti, yaitu Pak Didit tak pernah sekalipun menginginkan balasan atas perbuatannya ini.
Beberapa jam kemudian, Pak Didit pulang dari rumah si nenek, Pak Didit langsung memberitahu istrinya kalau beliau sudah bertemu Sang Nenek dan memberitahu betapa gembiranya Sang Nenek itu.
“Bagaimana Yah, sudah bertemu orangnya?” tanya Bu Ani.
“Sudah Bu. Alhamdulillah beliau mau menerimanya,” ujar Pak Didit dengan wajah berseri.
Semenjak saat itu, sudah sebulan, Pak Didit tak pernah bertemu Sang Nenek. Beliau tak pernah melihat nenek jualan seperti biasanya. Beliau pun memutuskan untuk pergi ke rumahnya si nenek tetapi, alangkah kagetnya Pak Didit ketika melihat banyaknya kerumunan orang yang didominasi pakaian hitam tersebut. 
“Siapa yang meninggal Bu?” tanya Pak Didit kepada salah seorang pelayat.
“Itu, Mak Sarti. Kasihan, padahal cucunya masih kecil,” tutur si ibu tetangga penuh kesedihan.
Seakan tak percaya tapi inilah yang terjadi. Pak Didit hanya bisa menenangkan cucu Sang Nenek dan menasihatinya agar selalu tabah menghadapi ini semua. 
“Bagaimanapun, dia ini masih kecil. Masih butuh perhatian,” pikir Pak Didit.
Pak Didit ikut mengurus jenazah Sang Nenek hingga selesai. Seluruh pelayat telah pulang sedangkan cucunya si nenek itu masih termenung menatap nisan. Pak Didit tahu apa yang dirasakan karena Pak Didit sendiripun telah ditinggal mati ibunya, apalagi di usia yang masih belia. Tentu, bukanlah perkara ringan.
“Nak, ayo pulang! Kalau kamu sedih, nenek juga ikut sedih nanti di surga,” bujuk Pak Didit.
“Aku sedih, Om. Rasanya, baru sebentar tadi aku tertawa bersama nenek,” kata cucunya si nenek dengan mata berkaca-kaca.
“Sekarang, nenek sudah bahagia di alam sana. Kamu harus terus berdoa untuk nenek,” kata Pak Didit sambil menyeka air matanya.
“Iya, Om. Aku janji akan jadi anak yang soleh agar nenek tenang di sana.” 
“Om, bangga denganmu. Sudah yuk, kita pulang!” 
Selama perjalanan pulang, cucu si nenek itu bercerita banyak hal tentang kebersamaannya dengan neneknya. Dia berkata, bahwa jarang sekali nenek memarahinya dan dia pun yakin, kalau neneknya itu kalau memarahinya untuk kebaikannya sendiri.
Sesampainya di halaman rumahnya, Pak Didit ternyata, memberikan kejutan padanya. Kejutan yang tak akan dia lupakan seumur hidupnya.
“Oh ya, siapa namamu? Om kan belum tahu,” kata Pak Didit.
“Namaku, Ferdi, Om,” jawabnya.
“Kamu mau tidak tinggal bersama Om? Nanti kamu bisa bermain dengan anaknya Om.”
“Serius, Om? Aku kan jadi ada temannya,” katanya dengan wajah berseri.
Pak Didit memang sudah berniat untuk merawatnya karena dari penuturan tetangganya hanya Sang Nenek yang dimilikinya. Ternyata, Pak Didit juga masih mengingat cerita kalau ibunya telah meninggal setelah melahirkannya. Sementara, ayahnya meninggal karena kecelakaan saat Ferdi masih kelas dua di bangku Sekolah Dasar.
Beberapa hari berlalu, Ferdi tumbuh dalam asuhan keluarga Pak Didit menjadi remaja yang mandiri dan selalu membantu kebutuhan keluarga. Tak kalah dengan anak kandungnya sendiri, Pak Didit sungguh sangat bangga padanya dan berharap semoga dia menjadi orang besar satu hari nanti. SEKIAN.

BIODATA PENULIS CERPEN
Nama : Hengky Fairuz Busthomy

Media Sosial
Instagram @hengkyfairuzbusthomy2

Prestasi yang Dibanggakan :
Terpilih menjadi KONTRIBUTOR dalam cipta quotes tema “Menggapai Mimpi” yang diselenggarakan pada 26 – 29 Februari 2020 oleh SAUDARA HALUU.

Posting Komentar

0 Komentar