IKLAN

ANNISA CITRA KASIH AYU SAVITRI, Finalis NOK DERMAYU FAVOURITE 2011 (Duta Budaya dan Pariwisata Indramayu) mempersembahkan sebuah karya CERPEN berjudul, "PEREMPUAN DI UJUNG RINDU"

PEREMPUAN DI UJUNG RINDU
Karya Annisa Savitri

sumber gambar dari Annisa Savitri

Mentari pagi pancarkan sinar hangatnya saat seorang perempuan muda turun dari sebuah taksi. Ia berjalan memasuki halaman rumah  bernuansa  putih bersih dengan gaya klasik. Beberapa hari sebelumnya, sebuah mobil pickup membawa prabot rumah yang disusul kedatangan sedan berwarna putih, seorang perempuan muda nan cantik keluar dari dalam mobil mengenakan dress  berwarna cream yang dibagian bawahnya mengembang dengan tambahan corak bunga-bunga bertangkai panjang berwarna hitam, kulitnya yang putih semakin bersinar ketika cahaya mentari menyentuh kulitnya. Dari pintu terlihan sangat menawan,  sebelah kanan dibalik kemudi, ada seorang lelaki tampan turun mengenakan T-shirt berwarna cerah dan jeans berwarna navy. Keduanya terlihat sangat serasi dan seorang perempuan turun dari seat belakang berpakaian sederhana dengan membawa beberapa cairan pembersih yang terbungkus di plastik putih, apalagi dari dalam mobil pick up ada beberapa pekerja lelaki yang bertugas mengangkat prabot rumah yang  baru saja dibeli. Wanita berhidung bangir  itu terlihat sangat bahagia. Tak henti-hentinya ia tersenyum seolah tidak akan ada yang mampu merenggut senyum dari bibir tipisnya.
"Rumahnya mau ditempati ya, Mbak ?" tanya seorang wanita paruh baya yang melintas di jalan depan rumah itu. 
"Oh, ya Bu. Mungkin minggu depan baru kita tempati. Ini lagi diberesin dulu,” jawab wanita itu sambil tersenyum ramah pada calon tetangganya.
"Oh, begitu. Perkenalkan nama saya Minasih. Rumah saya di ujung jalan besar yang di depan itu,” ujar Bu Minasih sambil menunjuk ke arah rumahnya yang bercat orange.
Setelah beramah-tamah Bu Minasih pamit pulang sembari menjinjing shopping bag di tangan kanannya yang berisi sayuran segar baru dibeli di kios sayuran. 
Langit hampir gelap saat Wina dan suaminya meninggalkan rumah itu. Hati Wina sedang diliputi bahagia karena dua minggu yang  lalu ia menikah dengan Ari, lelaki yang sudah menjadi kekasihnya sejak di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas). Rencananya mereka akan segera pindah kerumah itu, rumah yang dibeli Ari sebelum menikah dengan Wina. Rumah itu tidak terletak di kawasan elit. Namun, rumah itu memiliki lingkungan yang baik dan kondusif bahkan strategis lebih dekat dengan pusat kota. 
"Mas," wajah Wina sumringah.
“Lihat deh!" cakap Wina sambil telunjuk Wina menunjuk pada papan reklame di sisi kiri lampu merah dalam banner itu tertulis Promo Akhir Bulan.
“Mas, besok kita ke sana beli alat-alat masak yuk! Kebetulan banget lagi promo tuh!" Suara Wina bersemangat mengajak suaminya untuk berbelanja perabotan dapur.
Ari hanya tersenyum sambil mengangguk, menyetujui ajakan istrinya.
"Walahhh... Mbak Wina ki, wong mall gak diskon pun tetep bisa ke beli semua barang yang Mbak mau,” komentar Minah mengetahui Wina yang ingin ikutan promo diskonan itu.
"Ah, Minah! Kamu nih, gimana? Tentu beda dong! Kalau ada diskon harganya bakal lebih murah.” Wina  sedikit memutar posisi duduknya agar lebih fokus berbicara dengan Minah yang duduk di seat belakang.
“Ya, kan Mas?" celetuk Wina sembari wajah Wina menoleh pada Ari yang sedang mengendarai mobil.
Sejenak telapak tangan kanan Wina menyentuh bahu kiri Ari.
"Ya, sayang.” Ari tersenyum sambil mengusap tangan Wina yang  dibahunya .

****

Suasana supermarket siang itu cukup ramai disebabkan oleh promosi besar-besaran di akhir bulan. Hampir semua barang-barang di supermarket tersebut di diskon sehingga banyak Ibu-Ibu yang memilih-milih peralatan dapur, tak terkecuali Wina yang tidak ingin melewatkan momen diskonan itu. Wina berjalan dengan semangat menyusuri setiap sudut di mall itu. Matanya sibuk melihat kiri-kanan memperhatikan barang-barang yang menjadi incarannya, bahkan ia tak menghiraukan Ari dan Minah yang berjalan di belakangnya sambil membawa satu trolley yang sudah terisi penuh  peralatan dapur. 
"Minah, tolong ambil trolly lagi dong!” Wina melihat trolly-nya yang ternyata sudah penuh dan sudah tidak muat untuk ditambahkan barang belanjaan lagi.
"Lagi?" tanya Minah kaget dengan tingkah anak majikannya yang masih saja belum puas berbelanja. Meskipun trolly yang Minah dorong daritadi sudah penuh.
"Iya, Minah. Aku mau sekalian belanja sembako, minuman, dan semuanya. Sudah cepetan! Nanti kamu boleh bebas ambil makan atau minuman apa aja yang kamu mau.” Wina menjelaskan pada Minah.
Mendengar tawaran dari Wina, Minah pun langsung balik badan  dan berjalan cepat untuk mengambil trolly di dekat kasir. Ternyata, antrian panjang tak terhindari. Meskipun pihak supermarket menyediakan 12 slot kasir tetapi semua terisi penuh. Sementara itu, Wina malas ikut mengantri lama, ia memilih menunggu di stand minuman yang ada di depan kasir membiarkan Minah mengantri sendiri sedangkan Ari sudah pergi setengah jam yang lalu, setelah menerima telepon dari kantornya.
Sesaat kemudian, Ari sudah ada di rumah. Saat Wina baru datang dari supermarket dan segera Ari memberi tahu Wina perihal tugas luar kotanya.
"Mendadak banget, Mas? Terus kita nanti kapan pindahnya?" tanya Wina sedikit merajuk  pada suaminya. 
"Ya, sebenarnya proyek ini sudah lama Mas buat tapi baru bisa sekarang direalisasikan. Mas gak lama cuma empat hari. Kalau kamu mau pindahan duluan gak apa-apa.” Ari menjelaskan pada istrinya tentang kepergiannya ke suatu tempat yang ada di Sumatra Utara untuk mengecek langsung proyek disana. Ari adalah seorang arsitek sekaligus owner dari Akusara Architekture, perusahaan yang bergerak dibidang jasa design rumah, villa, gedung dan sejenisnya. 
Pagi-pagi sekali Wina pergi ke bandara mengantarkan Ari yang akan pergi untuk mengurus proyeknya. Selama di perjalanan menuju bandara, Wina menyandarkan kepalanya di pundak Ari dan tangan Ari menggenggam tangan Wina erat. Wajah Wina sendu, ia resah  seperti ada yang mengganjal dihatinya tapi entah apa. Begitu pun dengan Ari, ia merasa berat meninggalkan Wina meski hanya beberapa hari. Setelah mengantarkan Ari ke bandara, Wina pergi dengan teman-temannya. Ternyata, Ari memberikan perintah ke Wina agar Wina gak terlalu sedih di tinggal Ari pergi untuk beberapa hari. Maka dari itu, Wina segera bergegas pergi bersama teman-temannya. Memang, menurut Wina jika Ari adalah suami yang sangat pengertian dan sayang dengan Wina.
"Minah...." Wina  memanggil Minah yang ada di dapur, ia menyandarkan tubuhnya yang lelah di sofa dan beberapa paper bag tergeletak di atas meja.
"Ya, Mbak sebentar,” jawab Minah sambil berjalan ke arah ruang tamu di mana Wina berada.
"Min, tolong bawakan belanjaan aku ke kamar dong! Oh ya, sekalian bikinkan es coklat ya?!?” perintah Wina sembari berdiri dan berjalan menuju kamarnya. 

TUTTT.... TUUTTT.... TETTTTTT.....
Sudah ke-4 kalinya Wina menghubungi Ari tapi belum ada jawaban. Terakhir Ari mengabari bahwa dia sudah landing di bandara udara Lasondre dengan selamat.  Ini bukan pertama kalinya Wina ditinggal Ari untuk mengurus pekerjaannya, bahkan saat mereka belum menikah Ari sering sekali keluar kota ataupun luar negeri. Tiba-tiba hati Wina tak pernah serisau ini.
Minah masuk ke kamar Wina dan meletakan es coklatnya di atas nakas. Lalu, Minah melihat wajah Wina begitu sedih dan ia menanyakan apa yang membuat Wina terlihat sesedih ini. Wina menceritakan apa yang ia rasakan sehingga tak terasa Wina meneteskan air mata. Minah tersenyum dan mengenggam tangan Wina.
"Mbak sabar aja. Mungkin karena ini kan pertama kalinya Mbak ditinggal Mas Ari setelah menikah. Dulu kan Mas sama Mbak masih pacaran jadi rasanya biasa aja kalau saling berjauhan,” celoteh Minah mencoba menenangkan keresahan hati Wina. 
Wina tersenyum mendengar jawaban Minah.
"Min, besok bantuin aku beresin baju aku sama Mas Ari ya? Supaya nanti kalau pas pindahan gampang.”
"Emang, kapan pindahnya Mbak? Gak nunggu Mas Ari?" tanya Minah.
"Sepertinya aku pindah duluan ajalah. Nunggu Mas Ari lama,” kata Wina sambil menggenggam gelas berisi es coklatnya sesekali diminumnya perlahan.
"Rumah kan udah diberesin kalau gak cepat-cepat dihuni nanti kotor lagi. Emang, kamu mau beresin lagi, Min?" Wina menggoda Minah yang masih duduk disampingnya.
"Ogah, ah!” jawab Minah singakat.
Minah bergegas keluar dari kamar Wina disusul tawa Wina yang memantul pada dinding kamarnya. 

****

Keesokan harinya, Wina yang dibantu Minah menyiapkan semua barang-barang yang akan dibawa ke rumah barunya.
"Mbak, ada Mas Miko. Tadi Mas Miko pesan kalau nanti dia yang antar Mbak pindahan,” kata Minah sambil membawa setumpuk baju yang baru selesai di setrika Minah.
Tangan Wina berhenti menge-packing barang-barangnya. Seketika itu, memandang Minah sembari bertanya, “Kenapa kak Miko ada di sini?"
"Tuh, Mas Miko baru datang!” cerocos Minah sambil menggerakkan kepalanya, meyakinkan kebenaran kabar yang akan didengar oleh Wina.
Sementara itu, Wina sedang berjalan menuruni tangga dengan membawa sebuah koper disusul Minah yang juga membawa koper yang ukurannya lebih besar.  
"Kak Mikoo." Wina meletakan kopernya, ia berjalan menghampiri Miko dan memeluknya.
"Kak Diana, apa kabarnya?" tanya Wina ke kakak iparnya sekaligus istrinya Miko.
Sejenak Wina melepas pelukan Miko dan berganti memeluk Diana.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi, Minah yang ada di ruang tamu segera berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Oh, Bu Wina ada di dalam Mas. Mangga masuk,” ujar Minah mempersilahkan kedua  orang tamu itu masuk.
"Siapa Min?" tanya Miko.
"Ini Mas, teman kerjanya Mas Ari,” jawab Minah sambil menunjukkan kalau ada dua orang tamu dibelakang Minah yang Wina kenali sebagai rekan kerjanya Mas Ari.
"Loh, Dini dan Andri?!? Kenapa kok, tiba-tiba datang ke rumah aku?" tanya Wina menghampiri mereka.
Pertanyaan Wina tak lekas dijawab oleh mereka. Dini dan Andri saling melempar pandangan seperti bingung karena bagaimana caranya harus memulai percakapan dengan Wina.
"Kok diam aja? Duduk dulu yuk!" Wina mempersilakan tamunya duduk.
"Minah bikinkan minum sana!" Miko menyuruh Minah.
“Ayo, silakan duduk!" Miko mempersilahkan Dina dan Andri.
“Win, kak Miko tunggu di dalam aja, supaya kalian ngobrolnya enak.”
"Emm... Mas, lebih baik semua tetap disini. Saya ingin menyampaikan sesuatu.”
"Begini," ucapan Andri terhenti sembari menarik nafas panjang.
"Kemarin ada peristiwa kecelakaan kalau kapal tenggelam...” Andri terhenti lagi, ia tak tega menyampaikan kabar ini pada Wina dan keluarganya.
"Terus, apa hubungannya dengan aku?" tanya Wina penasaran.
"Pak Ari menjadi salah satu penumpang di kapal itu,” kata Andri pelan sambil menundukan kepalanya.
"Pak Ari masuk ke dalam list korban yang hilang," sambung Dina dengan raut wajah sedih.
"Maksud kalian apa nih? Gak mungkin Mas Ari jadi salah satu korbannya. Kemarin Mas Ari ngabarin kalau dia udah sampai bandara. Gimana bisa dia jadi korban kapal tenggelam? Jangan bercanda kalian! Pasti Mas Ari yang suruh kalian buat ngerjain aku ya? Mana Mas Ari?!?!" Wina berlari keluar rumah memanggil-manggil nama suaminya itu.
"Mas Ari.. Mas, kamu di mana?" Wina tak menemukan Ari di halaman rumahnya.
Wina kembali masuk ke dalam rumah dan bertanya pada kedua rekan Ari, “Di mana Mas Ari?”
"Maaf Win, setelah turun dari pesawat, kami melanjutkan perjalanan darat dan untuk menyebrang ke pulau itu harus memakai kapal. Ketika ditengah perjalanan terjadi badai besar, kapal tak mampu menahan hempasan gelombang yang begitu besar sehingga kapal terbalik dan semua penumpang tenggelam termasuk Ari, Win.” Andri menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.
"Tapi.. Kalian?" Wina heran karena mereka seharusnya ada bersama Ari.
"Kami tidak ikut menyebrang hari itu, Bu karena ada hal yang harus kami urus. Jadi, Pak Ari duluan yang pergi.” Dina menjawab pertanyaan Wina. 
Bagai tersambar petir di siang bolong, hati Wina begitu hancur mendengar berita yang dibawa kedua rekan Ari. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ia tidak benar-benar yakin sebelum Andri menyerahkan sebuah dompet berwarna hitam yang sudah tak jelas bentuknya. Menurut keterangan Andri, tim SAR menemukan dompet Ari diantara bangkai kapal yang sudah rusak diterjang badai dan Dina menjelaskan kemungkinannya sangat kecil untuk selamat tapi Tim SAR akan berusaha mencari. Tak hanya di laut tapi juga ke pulau-pulau kecil di sekitar TKP karerna bisa jadi para korban ada yang terdampar di sana.
Sebelum pergi, Andri mengatakan bahwa ia akan berusaha mencari keberadaan Ari. Kemudian Andri meminta Wina untuk tenang dan mereka akan segera mengabari jika ada perkembangan dalam pencarian Ari. Namun, bagi Wina mana mungkin ia bisa tenang sedangkan ia tak tahu bagaimana nasib suaminya yang ada di luar sana.
Wina masuk ke kamarnya dengan mata sembab, ia masih tak menyangka hal ini akan terjadi pada kehidupannya. Saat itu juga, Wina menelepon Ari berkali-kali sampai akhirnya dia sadar bahwa hal itu tak ada gunanya.
PRAKKKK
Suara pintu kamar Wina di ketuk.
“Dik, buka dong! Dik, ini kak Miko." Miko khawatir dengan keadaan Wina, apalagi Miko mendengar sesuatu yang dibanting oleh Wina.
"Aku mau sendiri, kak!” Suara Wina yang parau menyayat hati Miko.
Bagaimana tidak? Adik kesayangannya baru saja menikah setengah bulan yang lalu dan kini suaminya entah bagaimana nasibnya. Hidup atau mati, Miko juga tak tahu. Ia hanya berharap untuk saat ini Wina bisa menerima kemungkinan terburuk. Wina memeluk lututnya karena  kedinginan. Semalaman ia menangis  hingga tak sadar tertidur di atas lantai. Wina membuka matanya yang sembab dan beranjak ke tempat tidur.
Pagi-pagi sekali Wina bangun dan bersiap-siap pergi. Suara sepatu Wina yang menuruni tangga mencuri perhatian keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tamu. Miko yang melihat hal itu segera beranjak dari tempat duduknya. Wajah Wina terlihat lebih tenang meskipun masih sembab, tangan Wina membawa sebuah koper dengan rasa ingin tahu. Miko bertanya pada Wina, “Ke mana ia akan pergi dengan koper itu?” Namun, Wina tak banyak bicara, ia pamit dengan keluarganya dan pergi sendiri menggunakan taksi. Miko memaksa Wina untuk mengantarkannya.
Sesampainya di depan rumah, Wina membuka gerbang, berjalan memasuki halaman rumah barunya. Tetes air matanya tak terasa mengalir di pipi Wina yang nampak polos tanpa make up. Angan Wina melayang mengingat, saat pertama kali ia datang bersama Ari. Wina membuka pintu rumah perlahan, di dalam rumah ia seolah melihat Ari sedang duduk di sofa dan tersenyum padanya. Wina membalas senyuman itu.
Segera Wina menutup pintu, berjalan perlahan menghampiri Ari yang duduk di sofa sambil Ari tersenyum dan menatap Wina penuh cinta. Ternyata, Wina rindu dengan Ari sehingga Ari hilang dari pandangannya sebelum ia sempat memeluk Ari. Wina termenung dan menangis tanpa suara. Wina jadi sadar jika apa yang ia lihat adalah sebuah ilusi belaka, hadir karena adanya rasa rindu yang mendalam pada Ari membuat kesedihan yang tak terbendung.
“Karena rindu tetaplah rindu. Ia tak akan hilang meski waktu menerjang,” celoteh Wina dengan pandangan kosong sembari menutup kisah sendunya. SEKIAN.


BIODATA PENULIS CERPEN
Nama : Annisa Citra Kasih Ayu Savitri
Lahir di : Indramayu, 23 Maret 1995

MEDIA SOSIAL
Instagram  : Annisa Savitri23

Prestasi yang Dapat Dibanggakan :
1. Terpilih menjadi NOK DERMAYU FAVOURITE 2011 (Duta Budaya dan Pariwisata Indramayu).
2. Masuk dalam short list Lomba Puisi "Migrant & Refugee Poetry Competition 2018"   yang digelar di HELP University, Malaysia.

Annisa bersama Penyair Refugee

3. Terpilih menjadi Partisipan Membaca Puisi untuk slot "Migrant & Refugee" dalam acara “George Town Litterly Festival 2018" di Pineng  Malaysia bersama beberapa Penyair Refugee asal Syiria, Afganistan, Filiphina, Arab, Tamil dan Pakistan.
4. Terpilih menjadi Pembaca Puisi di acara "Confulence Festival 2018" yang diselenggarakan di Think City, Malaysia.
5. Terpilih menjadi Penyair Baca Puisi dalam acara "Seksan Galeri" yang diselenggarakan oleh Sharon Bakar bertempat di Kuala Lumpur, Malaysia.
6. Terpilih menjadi Pembaca Puisi di acara "Young South East Asian Leader Initiative (YSEALI)" yang diadakan oleh Publika bertempat di Kuala Lumpur, Malaysia.
7. Terpilih menjadi KONTRIBUTOR Puisi dan salah satu puisinya diterbitkan oleh Majalah Online Asia American Writers Workshop (AAWW).

Posting Komentar

0 Komentar