Oepha Im, Menulis Berawal Dari Tuntutan Prestasi


Istilah kids zaman now menjadi perbincangan hangat beberapa tahun ini. Sayangnya, istilah tersebut lebih diartikan kepada tindakan berkonotasi negatif. Tuntutan untuk tampil beda dan dipandang di lingkungan sekitar, terkadang justru menimbulkan tindakan-tindakan yang kurang terpuji. Tapi tentu saja tidak semua tindakan yang dilakukan anak-anak muda zaman sekarang berkonotasi negatif, karena masih banyak anak-anak muda Indonesia yang tampil dengan segudang prestasi yang patut untuk dibanggakan.

Sebut saja Oepha Im atau yang akrab dipanggil Upa. Meski ia dihadapkan pada tuntutan yang sama, tapi ia memilih untuk berani tampil beda dengan menjadi penulis. Kemampuannya yang mudah sekali berimajinasi membuatnya memerlukan sarana untuk menyalurkan berbagai imajinasi tersebut. Meski awalnya Upa memilih menggambar sebagai media untuk menyalurkan imajinasinya, tapi akhirnya Upa memantapkan diri untuk menjadi seorang penulis.


Langkah awal menjadi penulis

Sejak kelas 7, Upa sudah suka menulis dan membaca. Cita-citanya saat itu adalah ingin menjadi penulis skenario. Alasan ingin mejadi penulis skenario muncul dari kecintaannya pada drama Korea. Upa ingin suatu saat nanti bisa mewujudkan impiannya untuk membuat film seperti drama-drama Korea. Berdasarkan informasi dari ibunya, Upa akhirnya mengetahui bahwa ada profesi penulis skenario. Sejak saat itu, Upa bertekad mewujudkan impiannya. Ia mulai mencari-cari grup menulis untuk mewujudkan keinginannya tersebut.

Setelah masuk ke beberapa grup penulis, Upa justru nyasar di grup menulis novel. Dari grup tersebut Upa mencoba menulis novel, meski hatinya masih ragu dan belum mantap, mengingat keinginannya adalah menjadi menulis skenario. “Awalnya enggak begitu fokus menulis novel. Enggak ada niat juga untuk menyelesaikan cerita, karena keinginannya bukan di sana. Jadi ketika menulis, sampai beberapa bab, seringnya merasa bosan. Jadi langsung ditinggal. Banyak naskah yang terbengkalai, tak jelas,” cerita perempuan asal Rajapolah, Tasikmalaya itu. Upa menambahkan, bahwa terkadang ketika menulis suatu naskah, ide-ide baru sering bermunculan, dan membuatnya ingin menuliskan semua ide tersebut. Hal ini juga yang membuat Upa sulit menyelesaikan satu naskah hingga tuntas.



Tekad Upa untuk sukses di dunia kepenulisan skenario membuatnya harus serius dan fokus pada dunia menulis. Patut diakui, fokus saja tidaklah cukup untuk bisa memuluskan impiannya. Upa sempat mengalami rasa tidak percaya diri untuk menunjukkan bahwa dirinya seorang penulis. Rasa itu membuat Upa enggan menunjukkan karya-karyanya di media sosial. Upa mengakui bahwa kendala terbesar untuk menulis justru datang dari dalam dirinya sendiri, padahal dukungan dari luar sangatlah banyak. Rasa malu yang menghantui itu coba Upa hilangkan sedikit demi sedikit dengan cara menghargai setiap karya yang ditulisnya. “Akhirnya tersadar, karya yang dibuat harus kita hargai. Tak perlu penghargaan orang lain. Cukup kita dulu yang menghargai. Setelah keyakinan itu hadir, baru berani menunjukkan tulisan-tulisan di berbagai media sosial.”

Di saat keberanian sudah muncul dan naskah juga sudah siap, Upa membulatkan tekadnya untuk menerbitkan karyanya secara indie. Tak disangka, pada saat yang  bersamaan pula, ada sebuah penerbit indie yang menawarkannya menjadi penata letak dan perancang sampul buku. Upa memang suka menggambar sejak dulu. Ia berawal dari seorang ilustrator. Tawaran dari penerbit membuat dirinya semakin percaya diri untuk menerbitkan karyanya. Awalnya keinginannya sempat terhalang oleh minimnya pengetahuan Upa soal cara pengiriman barang dan transaksi keuangan. Tapi halangan tersebut akhirnya bisa segera teratasi. "Tapi sekarang aku sudah paham, sudah pintar,” jelas perempuan berzodiak pisces ini dengan senyuman bangga.

Baru saja Upa hendak menerbitkan  novelnya, ia mendapat kabar bahwa penerbit indie yang menawarinya menerbitkan buku kabur entah kemana. Saat itu, bukan hanya Upa yang dibohongi. Ternyata ada banyak penulis yang bernasib sama seperti dirinya. Upa benar-benar sebal dan kesal, apalagi honor yang dijanjikan tak kunjung dibayar.  Kecewa sudah jelas tercipta di hatinya. 

Pengalaman pahit dibohongi  penerbit tak lantas membuat semangat Upa kendor. Ia terus menulis dan menulis, sambil kesempatan emas datang padanya. Kesibukannya sebagai pelajar SMA membuat Upa harus membagi waktu antara sekolah dan menulis. Perempuan yang masih tercatat sebagai siswi kelas 11 di SMA Negeri 2 Tasikmalaya ini biasanya menulis di akhir pekan, karena hanya Sabtu dan Minggulah waktu yang paling memungkinkan untuk menulis. Beruntunglah, dukungan orang tua membuatnya semakin serius menjalani kegiatan sebagai penulis. “Orang tua mendukung, hanya saja kadang-kadang sering ngomel kalau saya membaca buku atau menulis sampai larut malam,” jelas anak tunggal kelahiran 10 Maret 2001 ini.


Kesempatan yang Ditunggu Akhirnya Datang

Usaha keras akan membuahkan hasil yang setimpal. Kesempatan baik yang ditungu-tunggu akhirnya datang ketika Upa mengikuti sebuah perlombaan menulis cerpen yang diadakan oleh Vanila Sky dengan tema Taste Of Love. Dalam perlombaan itu, kaya pemenang akan dibukukan di bawah penerbit ZA Publisher. Upa kian bersemangat mengikuti lomba ini. Kesungguhan dan tekadnya yang kuat, membuat Upa menjadi juara pertama dalam lomba itu. Karyanya yang berjudul Spark Of Love akhirnya berhasil menjadi salah satu pengisi di dalam buku Taste Of Love.


Kemenangannya kala itu, kian membuka lebar kesempatan Upa untuk mengepakkan sayapnya menjadi seorang penulis. Ia berhasil menerbitkan dua buah novel yang diterbitkan secara mayor. Novelnya dengan judul Seven Days With You berhasil menembus Cabaca. Cabaca merupakan web novel dengan sistem mayor. Pada tahun yang sama juga, Upa juga berhasil menembus Mizan dengan novel yang berjudul PS. I Hate You. Karya berupa novelet itu telah diterbitkan pada tahun 2017, dan bisa dinikmati di Google play book.

Novel Seven Days With You menjadi novel favorit Upa. Alasannya karena novel ini adalah novel pertama yang masuk Cabaca dan mengokohkan Upa menjadi seorang penulis. Upa mengatakan ada kebanggaan tersendiri ketika karyanya dipajang dan dibaca oleh banyak orang.

Ketika ditanya tentang penolakan naskah, Upa menjawab bahwa ia hanya beberapa kali mengalami penolakan. “Karena dulu sering enggak fokus dan selingkuh dengan naskah baru, jadi hanya punya sedikit naskah yang selesai,” ucap perempuan yang memiliki hobi membuat kerajinan tangan ini.

Saat ini, selain fokus menulis naskah, Upa juga sedang mendalami penulisan skenario. Ia ingin segera memantapkan cita-citanya saat di SMP dulu. Keinginannya itu juga yang membawanya masuk dan bergabung di Jaringan Penulis Indonesia. Upa berharap suatu hari nanti akan ada karyanya yang bisa dinikmati oleh banyak orang, bukan hanya berupa buku ataupun novel, tapi juga berupa tayangan di layar kaca.

Usia muda tidak menjadi penghalang untuk mewujudkan mimpi, angan-angan, dan prestasi. Kita tunggu saja karya-karya Upa selanjutnya. #tia

Tentang Penulis: Tia Martiana Surjatman merupakan merupakan seorang novelis asal Ciamis, Jawa Barat. Tuhan (Jangan) Sembuhkan Aku adalah karyanya yang menceritakan tentang dirinya dan kehidupan yang dijalaninya. Ingin kenal dengan Tia? Silakan klik Tia Martiana "Menulis adalah Cara Terbaik untuk Melarikan Diri”
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.