Tia M. Surjatman, "Menulis adalah Cara Terbaik untuk Melarikan Diri”


Saat terpuruk dan berada dalam jurang dalam. Satu-satunya harapan yang kau punya adalah malaikat maut menjemputmu. Tapi harapan itu pun ternyata dianulir oleh Tuhan. Apa yang akan kau lakukan? Banyak yang akan dilakukan oleh manusia untuk melepaskan dari belenggu kehidupan. Tentu pilihan tersebut tergantung dengan kondisi masing-masing tentunya.

Perempuan bernama Tia Martiana Surjatman ini lebih memilih menjadi penulis. Pilihan yang aneh dan absurd di saat-saat genting hidupnya. Tapi itulah pilihan, ketika vonis cuci darah seumur hidup menghampirinya, Tia memutuskan menenggelamkan dirinya pada ribuan huruf dan ratusan lembar tulisannya. Baginya, menulis adalah terapi yang mampu mengubah energi negatif menjadi positif dalam tubuhnya. Ia juga merasa masih memiliki manfaat untuk orang-orang di sekelilingnya.

Perempuan yang lahir di Ciamis pada tanggal 1 Maret 1986 ini sejak dulu memang menyukai dunia literasi, tapi masih sebatas suka. Tak ada niat untuk terjun secara bersungguh-sungguh. Menulis sudah ia lakukan sejak duduk di bangku SMP, namun kala itu hanya sekadar keisengan belaka, tak terbesit sedikit pun dalam benaknya untuk menjadi seorang penulis. Apalagi memiliki karya tulis. Dan pilihannya di tahun 2013, menjadi langkah awal untuk menapakkan kaki di tangga literasi. Dunia baru yang jauh dari kesehariannya dulu.

Dua tahun, setelah hobinya berubah dari traveling menjadi duduk manis menatap layar komputer, akhirnya novel dengan judul Nomanden: Di mana Bumi Di Pijak, Di Sana Langit Di junjung berhasil terbit. Saat novelnya terbit, ia sendiri tidak mengetahuinya dan baru menyadari bahwa novelnya terbit setelah empat bulan dirilis. Bukan karena kurang mencari informasi, tapi dia tidak paham bagaimana aturan dalam menerbitkan naskah. Dunia literasi benar-benar baru untuknya.

Kekurangan informasi itu juga membuatnya berkali-kali terjebak dalam jerat penerbit abal-abal. Mulai dari royalti tak dibayar sampai uang pesanan buku dibawa kabur. Karena peristiwa ini, Tia pernah di cap penipu oleh pemesan bukunya. Sebagai pertanggung jawaban Tia mengganti semua uang yang dibawa lari tersebut. Tapi ada beberapa orang yang mengikhlaskan uang pesanan juga.
Novel Insomnia, salah satu karya Tia
"Kapok, sampai sekarang masih agak trauma kalau mendengar penerbit indie. Rasa-rasanya lebih baik naskah saya jamuran tersimpan daripada harus ke penerbit indie," jelas perempuan berzodiak pisces ini. Tapi itu anggapannya beberapa bulan lalu, sekarang ia tidak terlalu alergi dengan penerbit indie, meski kehati-hatian tetap pada tingkat akut.

Sejak 2013, Tia sudah menghasilkan 4 novel solo, 1 Kumpulan Cerpen Solo, dan 1 antologi kumpulan cerpen. Tuhan, (jangan) Sembuhkan Aku menjadi memoar kisah perjalanan Tia mencari alasan kenapa Tuhan menunda kematiannya. Semua novel karya Tia berlatar Indonesia, meski tak ada alasan khusus tapi Tia lebih nyaman untuk menulis dengan latar yang ia kenali. Cerpen-cerpen yang ia tulis juga masih berkisar tentang kehidupan sehari-hari khas kehidupan masyarakat Indonesia.
Tuhan, (Jangan) Sembuhkan Aku, memoar kisah perjalanan Tia 

"Menulis dan membaca adalah cara terbaik melarikan diri. Saat tubuh terkungkung dan tak mampu beranjak, maka membaca dan menulis adalah cara membebaskan diri dari kungkungan itu. Otak harus senantiasa berkarya, meski otot tak mampu bekerja," jawab Tia yang mengaku pernah menjadi ghost writer ini saat ditanya tentang kegiatannya.

Ketika ditanya tentang alasannya menjadi penulis, sedangkan kita sama-sama tahu bahwa minat baca di Indonesia masih terbilang cukup rendah. Jawabannya sedikit mengejutkan sekaligus menjadi lecutan agar terus berkarya. Menurut Tia, ia justru ingin menjadi penulis sebab motivasinya untuk membuat bahan bacaan yang lebih baik agar bisa meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat. Dan menurutnya juga, rendahnya minat baca di Indonesia justru bukan karena tingginya rasa malas atau kurangnya minta membaca, hal ini justru disebabkan oleh rendahnya daya beli terhadap buku-buku karena kurang bersahabatnya harga di kantong konsumen.

Saat ini, Tia masih terus berjuang agar karyanya bisa diterbitkan secara mayor. Target yang sangat wajar untuk penulis pemula yang menginginkan buku karyanya dipajang di rak toko buku. Perempuan asli Sunda yang disibukkan dengan menulis artikel di beberapa laman juga sedang mempelajari sinopsis untuk FTV dan jenis tulisan lainnya. Agar kemampuan menulisnya senantiasa berkembang.

Semoga karya-karya Tia segera dapat dinikmati, dan keterbatasan apapun tidak akan menjadi penghalang untuk tetap berkarya.

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.