Hidup di Perkotaan, Kenapa Gaya Hidup Berubah

Sebelum membaca ini, resapi sejenak apa yang sudah kita perbuat di lingkungan sekitar kita. Sudahkah kita menyapa tetangga sebelah rumah kiri dan kanan? dan seberapa besarkah keterlibatan kita dalam berbagai kegiatan di lingkungan sekitar?. Tulisan ini adalah ungkapan hati saya sebagai penulis yang merasakan betapa hidup di perkotaan membuat kita jarang bertegur sapa, meski saling tahu satu sama lain, meski pernah bertatap muka dan melempar senyum antar warga sekitar, namun terkadang jika ditanya soal nama dan pekerjaannya, seringkali kita tak tahu dia siapa. Sederet pertanyaan ini adalah pertanyaan yang saya tujukan pada diri saya sendiri, yang sudah lama merasa, bahwa hidup di perkotaan membuat gaya hidup berubah.

Minggu, 25 Februari 2018, hari terakhir saya cuti bekerja sebagai wanita karir yang juga berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Pagi, sebelum sarapan, pengumuman terdengar keras melalui alat pengeras yang sering dipakai di musholla. "Kepada Bapak-Bapak warga RT.10 mohon melaksanakan kerja bakti di lingkungan sekitar rumah," begitulah pengumanan yang berulang kali disampaikan entah oleh siapa karena suaranya saja yang terdengar. Pengumuman untuk kerja bakti itu seketika membuat hidangan di tikar kayu menjadi terabaikan sejenak oleh suamiku. Sambil  menatap wajahnya di pintu depan, aku pun menawarinya untuk makan, "maka dulu yuk, habis itu kerja bakti," tawarku padanya halus. "Aku kerja bakti dulu deh, soalnya bapak-bapak sudah pada ngumpul di depan. Makannya nanti aja, " jawabnya tegas sambil membalikkan badannya ke arah teras dan pagar rumah. Aku pun mengangkat peralatan makan yang tadi sudah tersaji rapi di tikar, membawanya ke dapur agar ikan bakar yang nikmat itu tak menjadi santapan kucingku, si empus meong. Sambil mondar-mondar ke dapur, aku pun mengiyakan keinginan suamiku, "oke deh kalau gitu, aku simpan di dalam lagi. Tar kalau sudah selelsai kita makan sama-sama," ucapku dengan semangat dan tanpa sedikitpun merasa kecewa. 

Itulah pengalamanku yang mulai langka kurasakan di perkotaan. Pengalaman ketika mendengar kerja bakti kembali dilantangkan melalui alat pengeras yang hanya berjarak sekitar 100-an meter dari rumah. 

Kerja Bakti tentu memberikan banyak manfaat bagi lingkungan sekitar. Kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama tanpa upah ini lazimnya diadakan di tingkat RT, yang merupakan organisasi masyarakat dengan susunan terkecil yang diakui pemerintah. 

Sebagai perwujudan dari budaya gotong-royong sejak zaman dahulu, kerja bakti tentu didasari atas rasa ketulusan dan keihklasan untuk mengerjakan pekerjaan bersama-sama. Jika dulu kerja bakti menjadi program mingguan di lingkungan sekitar, sekarang agak berbeda. Kerja bakti seminggu sekali dianggap memberatkan bagi warga yang sudah cukup sibuk dengan aktivitas hariannya di kantor selama lima hari dalam seminggu. Mereka beranggapan bahwa akhir pekan adalah saatnya berkumpul bersama keluarga, jalan-jalan ke pusat keramaian, melihat mall, pergi kepantai, nongrong di cafe, makan di restoran, atau kumpul-kumpul teman arisan. 
Warga Jatinegara Kaum, Jakarta Timur tengah melaksanakan kerja bakti (25/02/18)
Foto oleh Dita Faisal
Modernisasi kehidupan membuat kerja bakti ditinggalkan secara perlahan. Hal ini bisa dilihat dari keadaan di lingkungan sekitar, dimana makin mewah lingkungan perumahan, makin jarang dibersihkan, bukan karena malas tapi karena sudah ada petugas yang rutin membersihkan. Budaya gotong-royong mula begeser menjadi budaya upah-mengupah antara petugas dengan pemilik rumah. Inilah fenomena yang terjadi di kota-kota besar dengan jenis pekerjaan yang variatif, dengan strata sosial yang beragam.  

Kita ambil contoh Ibukota. Makin terpinggirnya kehidupan masyarakat asli Jakarta (Betawi) ke sudut-sudut kota, membuat budaya gotong-royong kian jarang diadakan. Kalaupun ada, hanya segelintir kelompok masyarakat saja yang mau bergerak atas dasar kesadaran dan kepeduliannya terhadap lingkungan. 

Pola hidup masyarakat perkotaan mulai berubah karena tuntutan zaman. Waktu masyarakat perkotaan banyak dihabiskan untuk mencari uang dari pagi hingga malam, sejak matahari belum terbit dan hingga matahari tenggelam bergantian dengan datangnya rembulan. Modernisasi menuntut warga perkotaan hidup dengan praktis. Segala sesuatu yang dulu dikerjakan secara bergotong-royong kini bisa dikerjakan hanya dengan segelintir orang. Sekarang membeli keperluan dapur bisa dilakukan tanpa keluar rumah, begitu pula dengan makanan yang bisa datang seketika hanya dalam hitungan menit, bahkan membersihkan rumah dan pelalatan rumah tangga lainnya pun bisa dilakukan hanya dengan memesannya melalui telepon genggam berbasis internet.  

Kerja bakti yang diadakan di lingkungan RT. 10 Jatinegara Kaum
Foto oleh Dita Faisal
Kerja bakti yang diadakan di lingkungan RT. 10 Jatinegara KaumFoto oleh Dita Faisal
Hidup adalah pilihan. Memilih tinggal dan hidup di perkotaan bisa membuat gaya hidup berubah. Bukan karena keinginan, tapi karena kebutuhan dan tuntutan. Kini, kita tengah dihadapkan dengan tantangan zaman, dimana teknologi sudah memegang peranan dalam pelestarian nilai-nilai budaya . (DF)


Posting Komentar untuk "Hidup di Perkotaan, Kenapa Gaya Hidup Berubah"

www.jaringanpenulis.com




Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia
SimpleWordPress