Risky Fitria Harini, "Masa Depan Itu Dimulai Hari Ini"



Editor: Servita Ramadhianti

Bukan jamannya lagi menunggu kesuksesan di usia lebih dari seperempat abad. Ditahun milenial ini, remaja kini berlomba-lomba mengembangkan diri untuk menggapai mimpi. Mereka yang hari ini masih santai-santai tentu akan jauh tertinggal zaman, dan pada waktu mendatang akan menjadi manusia yang berpikiran kuno.

Hal itulah yang terjadi pada Risky Fitria Harini, seorang ibu yang berusia hampir kepala tiga. Perempuan yang mengaku sudah tua ini adalah pendiri penerbit buku Raditeens Publisher. Penerbit buku indie yang ia dirikan telah menginjak umur lima tahun di jagad perbukuan Indonesia. Dikalangan pecinta sastra, Risky berhasil mempertahankan eksistensi Raditeens Publisher. 

“Seperti orang yang lagi enak-enak tidur nyenyak, mendadak diguyur air seember.” Begitulah perumpamaan yang diungkapkan Risky. Ia merasa terkejut ketika menyadari bahwa bertahun-tahun hidup dalam kesia-siaan. Sedangkan di luar sana, banyak anak muda seusianya yang sudah bermetarmorfosis menjadi manusia luar biasa. Penyesalan yang hebat Risky rasakan saat itu. Perasaan yang melekat saat awal melangkah masuk ke dunia kepenulisan dan penerbitan buku di usia yang tak lagi dikatakan muda.

Kegiatan Risky dan teman-teman saat car free day membuka lapak bac
Jangan Mimpi! Begitu Katanya
Perempuan kelahiran Bondowoso ini sejak kecil sangat gemar menulis, entah itu berupa cerpen atau puisi. Ketika menginjak di bangku SMP,  Risky berhasil menulis kumpulan puisi sebanyak tiga buah buku tulis. Hebatnya, puisi yang ia tuang di tiga buku tulis itu menjadi terkenal seantero sekolahnya. Apalagi ketika ada tugas menulis puisi, buku itu pasti berkeliaran ke seluruh kelas satu angkatan. Ternyata, puisi milik Risky dijadikan contekan untuk tugas itu. Namun, Risky merasa bangga karena karyanya dibaca banyak orang walau tidak ada yang membanggakannya.

Mengingat memori beberapa tahun silam, Risky dan teman-temannya pernah berkumpul membahas soal sekolah lanjutan dan kuliah. Tak pernah Risky lupakan ketika ia mencetuskan cita-cita sebagai penulis dengan penuh percaya diri. "Alah, jangan mimpi!" cetus salah satu temannya saat itu. Kebanggaan Risky yang merasa puisinya disukai oleh teman-temannya, langsung runtuh seketika. 

"Patah arang? Mungkin iya, tapi hanya untuk beberapa saat," tegasnya. Risky mengaku menjadikan rasa tidak nyaman dihatinya sebagai motivasi berkembang di masa depan. Risky juga meyakini bahwa Allah itu baik, dan akan selalu baik. Allah punya tujuan baik lewat adanya rasa tidak nyaman itu.

Sampailah pada tahun 2012,  Risky memulai terjun ke dunia kepenulisan. Memulai hasratnya menulis lewat media sosial Facebook, ia mengikuti berbagai jenis lomba menulis yang diadakan oleh beberapa penerbit. Meskipun tidak semua karyanya lolos, Risky meyakini dirinya semakin nyata menjadi seorang penulis. Perlahan pengetahuannya tentang kepenulisan semakin terasah. Setelah puas menjadi peserta lomba kepenulisan, Risky memberanikan diri untuk mencoba hal menantang, yakni menjadi penyelenggara lomba kepenulisan lewat online. Risky tahu ini hal yang tidak mudah, namun ia tetap bersemangat untuk melakukannya. Berbekal belajar dari orang yang lebih mengerti, ia menawarkan proposal kepada beberapa penerbit untuk menjadi vendor dalam acaranya. Akhirnya, salah satu penerbit di Semarang menyetujuinya. Kerjasama pun dimulai.

Lomba yang diselenggarakan oleh Risky berlangsung lancar. Ia sangat bersyukur telah berhasil menyukseskan lomba yang ia kelola untuk pertama kalinya. Namun,  kekecewaannya datang ketika diketahui bahwa hasil cetakan buku tersebut jauh dari standar buku pada umumnya.

Ya, Inilah Saatnya!
Sekitar tahun 2013 Risky memenangkan lomba menulis dongeng anak yang diadakan oleh penerbit asal Yogyakarta "Alif Gemilang Pressindo" yang berjudul, “Asal Mula Kupu-Kupu”. Karyanya masuk menjadi kontributor dan dibukukan bersama ratusan naskah yang bersaing kala itu. Kemenangan Risky ini membawanya untuk berkenalan dengan penerbit tersebut. Akhirnya, Risky bisa mengadakan lomba menulis lagi, dengan hasil cetakan yang cukup memuaskan.

Beberapa kali menerbitkan buku dengan hasil yang memuaskan, membuat Risky mencoba hal baru yang lebih tinggi. Kemudian ia melanjutkan perjuangannya membuka usaha penerbitan sendiri. Risky sangat berharap bisnisnya ini bisa memudahkan banyak orang untuk menerbitkan karya-karyanya. Bertepatan dengan buku terbitan AE Publishing berjudul, "Siapa Bilang Menerbitkan Buku Itu Susah,'' karya Khoirunnisaul Abidah, Risky semakin yakin membuat usaha penerbitan buku. Pasalnya, buku tersebut membahas tentang dunia usaha penerbitan indie.

Awal Mula Lahirnya Raditeens
Semua berawal dari sebuah perbincangan di kelas menulis online AE Publishing. Kelas online tersebut diketahuinya dari Adit Mahatva yang juga seorang penulis. Obrolan demi obrolan membuat kekompakan mereka untuk bersama-sama mendirikan penerbitan semakin terealisasikan.

Berbekal pengalaman kerjasama yang cukup sukses, Risky pun mengajukan proposal untuk mendirikan penerbitan sebagai lini dari penerbit di Yogyakarta. Tak butuh waktu lama, hari itu juga disetujui.

Setelah berkabar dengan Adit, tercetuslah nama ‘Raditeens’ untuk nama penerbitnya. “Adit yang mengusulkan nama itu, dan saya pun menyetujui. Entah nama itu diambil dari gabungan nama kami atau terinspirasi dari tokoh favorit kami saat itu, Raditya Dika, yang penting kami berharap agar Raditeens bisa segera launching dan jadi penerbit yang sukses,” katanya saat diwawancarai melalui whatsapp beberapa waktu lalu.

Dipertengahan berjalannya penerbit itu, hubungan kerjasama Adit dan Risky tidak dapat dilanjutkan. Adit lebih memilih untuk fokus menjadi penulis, dan Risky mengurus penerbitan. Walaupun keputusan mereka seperti itu, silaturrahmi di antara mereka terus terjaga.

Perjalanan Raditeens
Perjalanan pun mampu ia lewati dengan penuh semangat demi mewujudkan impian. Awal 2013 hingga 2018, buku yang sudah diterbitkan di Raditeens Publisher sudah lebih dari 100 judul berupa fiksi dan non-fiksi. Selain itu, Raditeens juga sukses menyelenggarakan  KMMB, (Kegiatan Belajar Online) yang para pesertanya akan diajarkan menulis dan menerbitkan buku.

Saat ini, usaha yang awalnya dijalankan sendirian, sekarang sudah dikerjakan bersama suaminya. Menurut Risky, ini pengalaman yang sangat berharga. Berawal dari ketidaktahuan, hingga menciptakan kesuksesan-kesuksesan selama prosesnya. Terakhir, pesan Risky untuk kita semua, anggota  JPI (Jaringan Penulis Indonesia)  khususnya,
“Sekarang bukan jamannya sukses menunggu tua, kitalah yang harus menarik masa depan lebih dekat, dan lebih cepat,” pungkasnya yang selalu yakin bahwa tak ada kata terlambat untuk memulai.

Profil
Nama: Risky Fitria Harini
TTL: Bondowoso, 2 Mei 1989
Status: Menikah dengan Asrul Sanie
Profesi: Ibu Rumah Tangga Wiraswasta
Domisili: Temanggung

Riwayat Pendidikan
- SD Kotakulon Bondowoso, Jawa Timur
- SMPN 1 Bondowoso, Jawa Timur
- SMAN 2 Bondowoso, Jawa Timur
- Sarjana STAI At Taqwa, Bondowoso, Jawa Timur

Pengalaman:
- Guru SLB Bina Asih Bondowoso
- Tentor di Lembaga Bimbingan Belajar Bahasa Inggris SD
- Jurnalis di Tabloid lokal di Bondowoso
- Founder dan Owner Raditeens Publisher

Karya:
Antologi puisi, cerpen, dan dongeng, diantaranya:
- I Just Wanna Say Happy Birthday (AGP, 2013)
- Permintaan Hati (AGP, 2013)
- Pacarku Sayang, Hamsterku Malang (AGP, 2013)
- Saatnya Benda Berperan (Pustaka Jingga, 2013)
- Permintaan Hati (AGP, 2013)
- Pacarku Sayang, Hamsterku Malang (AGP, 2013)
- Saatnya Benda Berperan (Pustaka Jingga, 2013)
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.