Pendapatan Tetap *Cerpen Sherman Alexie, penulis Indian peraih penghargaan PEN/Hemingway

Pendapatan Tetap
*Cerpen Sherman Alexie, penulis Indian peraih penghargaan PEN/Hemingway Award: Best First Book of Fiction Citation Winner for The Lone Ranger and Tonto Fist fight in Heaven

Diterjemahkan oleh Syakky dari judul Fixed Income

Ketika baru bekerja di McDonald, aku kaget saat benar-benar menyadari kalau aku adalah satu-satunya remaja di sini. Aku pikir restoran makanan cepat saji adalah satu-satunya tempat para remaja bisa dapat pekerjaan dengan mudah. Tapi para pekerja di sini sebagian besar merupakan mahasiswa atau lulusan-perguruan-tinggi sialan itu. Salah satu koki memiliki gelar Teknik Elektro dan dia pakai semua pendekatan sainsnya sekedar untuk memastikan bahwa ada dua acar, dan hanya ada dua acar, di hamburger. 

Aku nggak bermaksud ngolok-olok rekan kerjaku. Kebanyakan mereka orang-orang keren kok. Aku cuma marah pada negara yang muram ini karena sudah bikin orang tua bekerja di McDonald. Wanita yang melayani drive-thru adalah seorang janda berusia empat puluh lima tahun dan memiliki tiga orang anak. Gimana cara dia membayar apa pun dengan gaji McDonald-nya?

Mungkin nggak bisa disebut kecelakaan kalau 99% rekan kerjaku adalah orang-orang kulit hitam dan para Latino. Aku sendiri penduduk asli Amerika dan cukup gelap untuk ukuran orang Indian-blasteran. Satu-satunya yang putih di McDonald ini cuma milkshake vanilla. 
Kadang, aku merasa bersalah karena memutuskan kerja di sini. Mungkin ada ibu-ibu dan ayah-ayah lain yang lebih membutuhkan. Bukan berarti orangtuaku kaya. Bukan. Ibuku, seorang Indian, merupakan Penasihat Akademik di Universitas Washington dan punya pendapatan yang layak, tapi ayahku, orang kulit putih, dipecat dari Boeing dua tahun lalu dan tak kunjung dapat kerjaan di tempat mana pun. Cepat atau lambat, dia mungkin bakal membuat kentang goreng di sampingku.

Aku menabung untuk dapat kuliah. Aku sempat mengacaukan dua tahun pertama masa sekolah menengah, seperti kebanyakan orang Indian lainnya, jadi aku nggak punya nilai untuk sekolah empat tahun. Tapi Seattle punya beberapa perguruan tinggi yang mengagumkan. Aku terbiasa nendang pantat saat studi di sana dan itu membukakan jalan ke universitas lain di suatu tempat dekat dengan rumah.

Ini merupakan saat-saat putus asa, dan aku nggak putus asa seperti banyak orang, tapi aku cuma putus asa dengan pekerjaan ini.

Ada seorang pria kulit putih tua yang bekerja di sini. Refleksnya terlalu lambat untuk menggunakan peralatan apa pun, jadi dia menyapa orang di pintu dan membersihkan meja. Dia punya pikiran yang tajam. Aku suka omongan-omongannya. Kami mengambil waktu istirahat bersama. Kami mengenakan mantel untuk menutupi kemeja Polo kami, berjalan satu blok, masuk ke gang, lalu merokok. Istrinya meninggal sepuluh tahun lalu.

"Suami-suami tua nggak seharusnya hidup lebih lama daripada istrinya yang sudah meninggal," katanya. Istriku seharusnya janda yang duduk bersama janda tua lain sambil mengolok-olok suami mereka yang sudah mati.

Dia punya pacar. Beberapa pacar, sebenarnya.

"Saat kamu seorang pria lajang di rumah orangtua," katanya, "Kamu bisa habiskan banyak waktu menari dengan wanita-wanita yang berbeda."

Anda seperti playboy tertua di dunia, kataku.

Setelah beberapa bulan pertemanan-rokok itu, dia minta aku memanggilnya Kakek (grandfather) dengan G besar. 

"Bukankah begitu caramu, orang Indian, memanggil orangtuamu yang terhormat?" Katanya. Bukan kakek (grandpa) atau kakek (gramps) atau kakek (old man) atau kakek (geezer). Kakek seperti itu (Grandfather) adalah nama keluargaku."

Aku sebenarnya punya 4 kakek; dua orang Indian dan dua kulit putih, tapi mereka meninggal sebelum aku lahir, jadi aku seperti nggak punya kakek. Aku butuh seorang kakek. Aku pengen banget punya kakek. 

"Kakek," kataku. "Waktunya balik kerja lagi."

Dia tersenyum sebesar yang biasa aku lihat. Dia menjujung tinggi rasa hormat. Aku amat menghormatinya. Di negara yang menyedihkan ini, rasa hormat adalah satu-satunya hal yang kita semua mampu berikan.
***

Sherman Joseph Alexie, Jr atau yang lebih dikenal dengan Sherman Alexie adalah seorang penulis Indian ternama di Amerika Serikat. Dibesarkan di sebuah reservasi Indian Spokane. Dia menulis novel, cerpen, puisi dan skenario film. Banyak penghargaan bergengsi yang sudah diraihnya. Tulisan-tulisannya menggambarkan pengalaman sebagai seorang pribumi Amerika dengan leluhur dari beberapa suku meski terkadang agak rasis, tapi balutan humor, sarkasme dan satirenya cukup kuat dan memikat.  Novel pertamanya, Reservation Blues didapuk sebagai satu dari 15 pemenang penghargaan American Book Awards (1996). Novel adult pertamanya, The Absolutely True Diary of a Part Time-Indian, merupakan novel semi auto-biografi yang pada 2007 memenangkan penghargaan National Book Award for Young Peoples Literature dan Odyssey Award sebagai the best audiobook for young people (read by Alexie). 

Kumpulan cerpen dan puisinya dalam buku War Dance, memenangkan PEN/Faulkner Award for Fiction. Kerja kreatifnya meliputi banyak jenis tulisan. Kumpulan cerpen fenomenalnya, Lone Ranger and Tonto Fist Fight in Heaven, sudah difilmkan dengan judul Smoke Signal (1998), yang skenarionya ditulis oleh Alexie sendiri. Kumpulan cerpen fenomenal itu mendapatkan penghargaan PEN/Hemingway Award: Best First Book of Fiction Citation Winner, dan masih banyak lagi penghargaan-penghargaan bergengsi lainnya yang Alexie terima. Kumpulan cerpen fenomenal itu sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Yusi Avianto dengan judul, Adu Jotos Lone Ranger dan Tonto di Surga (Penerbit Banana, 2007)

Sherman Alexie

Foto: Source getty images

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.