Kehidupan Malam di Bawah Tenda Pengungsian Pasca Gempa Lombok 7SR


Terpal biru berukuran sedang, tanpa ada tabir di setiap sisi, dan lantai tanah yang dilapisi tikar, menjadi rumah sementara di kala gempa yang terus mengguncang pulau seribu masjid, Lombok. Ini malam kelima para korban tidur di bawah tenda sederhana, bercengkrama sesama tetangga dan sanak saudara, berusaha melindungi diri dari guncangan-guncangan susulan yang membuatnya harus selalu waspada dan terus terjaga di setiap malamnya. Dingin yang menusuk tak lagi  dihiraukan demi untuk menyelamatkan diri. Hampir seluruh warga tak berani masuk ke rumah, karena trauma yang masih menghantui hingga sekarang.

"Takut, nanti kalau kembali ke rumah terjadi gempa, takut gak bisa keluar rumah dengan cepat," ungkap salah satu pengungsi wanita dengan dua orang anak balitanya.


Tua, muda, hingga anak balita bercampur di bawah tenda yang dipasang membentuk atap. Tenda yang dibangun pak Mardan inilah yang menjadi pelindung para pengungsi dengan jumlah 15 orang dari 3 kepala keluarga. Setiap malam para pengungsi harus berbagi tempat dan mengatur posisi tidur yang tak tentu arah. Mereka juga mulai akrab dengan tangisan anak balita berusia 3 bulan yang mulai merasa tak nyaman berada di bawah tenda dengan banyaknya orang berkumpul menjadi satu. Tapi, inilah tempat terbaik bagi para pengungsi untuk bisa bertahan dalam kondisi seadanya. Lima hari sudah warga Dusun Nyanggi, Desa Montong Gamang, Kec. Kopang, Kab. Lombok Tengah tidur di atas tikar beralaskan terpal tanpa kasur, tapi mereka masih bersyukur karena bisa berkumpul bersama keluarga dan tetangga untuk merebahkan badan dengan membawa selimut yang dibawa masing-masing dari rumah.

Ketika malam tenda ini akan penuh, dan ketika siangnya tenda ini akan kosong karena digunakan untuk lalu lalang warga. Masyarakat Lombok Tengah jauh lebih beruntung dibanding masyarakat Lombok Utara, Lombok Timur, dan Mataram yang mengalami dampak lebih besar akibat gempa 7 SR. Meski begitu, rasa cemas tetap saja menyelimuti setiap waktu.

Memasak Mengandalkan Tungku

Rasa takut yang menggelayut membuat pengungsi enggan masuk rumah, meski sekedar untuk memasak. Tungku perapian sederhana pun menjadi andalan setiap malamnya, mengisi perut yang mulai keroncongan. Tungku ini biasa  digunakan di malam hari untuk memasak ubi atau jagung buat bekal makan di tenda. Selain digunakan memasak, tungku juga digunakan untuk menghangatkan badan yang menggigil karena udara malam yang menembus tulang.

Memasak di tungku adalah hal biasa bagi warga desa. Selama kondisi belum stabil, warga memilih untuk memasak bersama di luar rumah.


"Bagi warga yang berani masuk ke dalam rumah di siang hari, maka mereka akan memilih memasak (menggunakan kompor gas) di dalam rumah, akan tetapi bagi warga yang masih takut memasak di dalam rumah maka di atas tungku inilah kami memasak masakan," ujar salah seorang warga.

"Tiap malam kalau ada yang dimasak,  ya kita masak. Itung-itung jadi cemilan pas ronda," tambah pak Dan, yang kesehariannya bekerja sebagai buruh tani dan bangunan.

Meski tinggal di bawah tenda pengungsian sementara, tapi aktivitas pak Mardan dan warga desa tetap berjalan seperti biasa, yakni bertani tembakau dan memberi pakan sapi di kandang.


"Aktivitas seperti biasa ke sawah. Seperti biasa kadang jam 7, macem-macem, tapi tetap (pulang) jam 5 sore. Gak ada perubahan, masih seprti biasa," tutur pak Dan menjelaskan kegiatannya pasca gempa.

Itulah sepenggal kisah warga Dusun Nyanggi, Desa Montong Gamang, Kec. Kopang, Kab. Lombok Tengah  yang masih memilih tinggal di bawah tenda yang didirikan warga di halaman rumahnya. Gempa susulan yang sudah mencapai lebih dari 350 kali membuat warga Desa Montong merasa aman untuk tidur dan melepas malam di bawah tenda tak bersekat bersama orang-orang terkasihnya.

Warga berharap, bencana segera usai dan bantuan yang datang diberikan kepada orang yang tepat, sesuai dengan kebutuhan. (NK/DF)


Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.