Syakky, Mengawali Karir Menulis Skenario Buah dari Silaturahmi

     

Oleh: Lia Widya

Bulan Ramadhan tahun ini penonton setia sinetron SCTV dimanjakan oleh kisah drama keluarga dari serial Tiada Hari yang Tak Indah yang dibintangi sederet artis papan atas, di antaranya Nikita Willy, El manik, Widyawati, Rezky Aditya dan Cut Syifa.

Kisah apik nan relijius Tiada Hari yang Tak Indah lahir dari tangan dingin seorang penulis skenario senior, Musfar Yasin yang telah memecahkan rekor film best seller pada Kiamat Sudah Dekat. Sederet nama penulis baru muncul untuk mengisi layar kaca di SCTV. Syahid Azzakky adalah salah satu tim penulis yang kreatif dan hebat itu.

Sebelum ikut menulis skenario untuk Tiada Hari Yang Tak Indah di SCTV, lelaki kelahiran Jakarta 30 Mei ini telah memanjakan penonton setia sinetron tanah air melalui beberapa program yang pernah ditulisnya, di antaranya drama komedi Kabayan Sekolah Lagi (RCTI), Sitkom Epen Cupen The Series (Global TV), Serial Anak Buyung Upik (RCTI),  serta drama musikal Dendang Cinta Wulan (MNCTV). Di luar menulis harian
(stripping), Syakky juga menulis skenario untuk beberapa program dokumenter, di antaranya skenario dokumenter tentang Pesona Siak untuk Dinas Pariwisata Riau. Ia juga pernah menulis program dokumenter Indonesia Artistry  (Tempo Channel), dan menulis program dokumenter untuk Kementrian Desa (Kemendesa) dengan tema Advokasi Kewenangan Desa.

Meski begitu, Syakky mengakui bahwa dirinya agak mandul ketika menulis FTV. “Mungkin kurang piknik kali, ya?” kelakarnya santai. Sejauh ini, menurutnya sudah 3 judul FTV yang pernah ditulisnya, yaitu Bule Versus OB di SCTV, Hilangnya Mahasiswa KKN di Pantai Parangtritis di Kisah Nyata Trans 7, dan Tangga Darurat Apartemen Roboh dalam program Kisah Nyata Trans 7.

Jika ada pesanan menulis, Syakky yang tinggal di Bogor ini akan bersemedi di kediaman kakeknya di Pandeglang sambil menjaga sang kakek yang sudah lumpuh karena stroke. Sebelum menulis, setiap paginya Syakky harus mengangkat sang kakek dari kasur ke kursi roda, lalu mendorongnya ke teras rumah agar terkena sinar matahari.

“Nemenin kakek nonton tinju sambil nulis. Nulis di sini tuh (kediaman kakek) gue bisa sekaligus sambil berbakti sama Kakek-Nenek gue. Itung-itung ngurangin dosa ye gak?” ujar lelaki kribo yang baru saja mencukur rambutnya ini.

“Kalau udah full konsentrasinya, gue bisa nulis skenario sambil dengerin lagu-lagu metal. Sambil nulis sambil kepala ngangguk-ngangguk headbag sendiri ngikutin distorsi lagu-lagu metal,” katanya sambil tersenyum. Menurutnya, dramaturgi cerita bisa kencang seperti kencangnya distorsi musik metal.

Awal Belajar Menulis
Syakky pertama kali belajar menulis secara umum di Komunitas Rumah Dunia di tahun 2012 lalu. Novelis Gol A Gong, penulis skenario Langlang Randhawa, penyair Toto ST Radik di Majelis Puisi Rumah Dunia menjadi pengajar tak terlupakan baginya.

“Mereka adalah guru-guru menulis pertama gue. Mas Gong itu tegas, keras, kadang ucapannya bikin sakit hati, tapi bener-bener mendidik, bener-bener merangkul. Bahkan seorang tukang gorengan yang diasuh olehnya, sekarang bisa jadi wartawan di salah satu media lokal di Banten. Dari tangan dinginnya, banyak yang terangkat derajatnya. Tentunya melalui literasi. Berawal dari membaca dan menulis. Beliau (Gol A Gong) itu sosok yang bener-bener menginspirasi gue. Dari Rumah Dunia juga, link-link kepenulisan gue terbuka.” terang Syakky tentang kekagumannya pada sosok sang guru, Gol A Gong.

Menulis adalah membaca dua kali, itu salah satu quote dari Gol A Gong yang selalu diingatnya. Syakky meyakini sekali kalimat dari gurunya itu. Oleh karena itu, selain menulis, Syakky sangat senang membaca buku apa pun. Namun belakangan, ia tengah menggandrungi novel-novel besutan penulis Amerika Latin, seperti Gabriel Garcia Marquez, dengan novelnya 100 Tahun Kesunyian, Mario Vargas Ilosa dengan novelnya Siapa Pembunuh Palomino Molero, dan Labirin karya Jorge Luis Borges, sastrawan raksasa Argentina.

Selain membaca, hobi Syakky yang lainnya adalah makan, jalan-jalan ke tempat-tempat seru, terutama yang banyak gratisannya (Wifi gratis, kopi gratis, dan serba-serbi gratisan lainnya). Tempat tongkrongan favoritnya adalah basecamp di tempat tim produksinya. Di basecamp itu, Syakky bersama beberapa kawannya mengurus sebuah PH kecil-kecilan bernama MOTUS PRODUCTION. Bersama Motus Production, Syakky kerap membuat film pendek untuk diikutsertakan dalam perlombaan. Terakhir, bersama karib-karibnya di Motus Production, ia dikutserta dalam lomba film pendek Daihatsu. Walaupun ternyata harus gugur sebelum masuk 10 besar, dirinya tetap semangat. “Selagi masih ada rokok dan kopi, nikmat mana lagi yang mau kau dustakan?” selorohnya konyol.

Dari hobi membaca dan makan, kadang jalan-jalan, kadang hunting serba serbi gratisan, Syakky bisa menemukan ide kreatifnya yang bisa dituangkannya ke dalam berbagai bentuk tulisan esai, puisi, atau cerpen.

Puisi dan cerpennya tergabung dalam beberapa judul buku antologi, di antaranya antologi puisi Indonesia Dalam Titik 13 (2012), antologi puisi Menuju Jalan Cahaya (2013), antologi puisi Rindu, Benci dan Kematian (2013), antologi puisi Kesaksian (2013), dan antologi puisi Lentera Sastra II Penyair 5 Negara (2014). Cerpennya juga tergabung dalam antologi cerpen Blue Ransel My Horror Trip (2013) yang ditulis bersama teman-temannya di Rumah Dunia. Novelnya yang ditulis secara keroyokan adalah Sebanyak Rintik Hujan Kala Ini yang diterbitkan oleh Rumah Fiksi, Jogja.

Syakky, Pria dengan Tingkat Percaya Diri Selangit
Gaya Syakky ketika mendeklamasikan puisi
Syakky tidak malu untuk tampil di depan umum. Sangat hobi menulis puisi dan mendeklamasikannya. Ia sering mengikuti kegiatan atau lomba-lomba membaca dan menulis puisi. Syakky juga pernah menjadi content writer untuk Playword.com, dan menulis Transcript kajian-kajian ceramah agama yang dimuat untuk Darussalam-Online.com. Untuk Esai, Syakky pernah keluar sebagai juara 1 dalam lomba menulis Indonesia Dalam Kritik Sosial yang diadakan Rumah Dunia di tahun 2014.

Banyak membaca, sensitif dengan berbagai hal, dan banyak menonton film adalah beberapa cara yang bisa ditempuhnya untuk menjadi penulis kreatif. Bagi pria yang masih lajang ini, menjadi seorang penulis harus memiliki wawasan yang luas, kaya akan perbedaharaan kata, memiliki daya juang dan bertahan tingkat tinggi, cakap dan supel, serta memiliki attitude yang baik.

Untuk meningkatkan kelas menjadi penulis yang professional, Syakky belajar cara menulis skenario dengan otodidak (learning by doing). Ia juga selalu berpikiran terbuka dan siap menerima saran dan kritik dari teman-temannya sesama penulis. 

Suka Duka Menjadi Penulis 
Beberapa kali Syakky sempat dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengaku Produser, tapi Syakky terus berbesar hati dan menganggap itu sebagai bagian dari proses untuk menebalkan hati dan mental di industri perfilman.

Syakky sadar, bahwa banyak penulis skenario sukses yang harus menempuh jalan berliku dalam mengawali karir ketika terjun ke dunia industri perfilman. Syakky boleh dikatakan beruntung, karena ajakan seorang teman dirinya langsung ditawari menulis skenario di awal 2016 untuk sinetron drama komedi Kabayan Sekolah Lagi di RCTI. Itulah buah pertemenan yang menghasilkan kemudian.

Kepada tim JPI, Syakky menyampaikan pesan untuk selalu memperbanyak hubungan pertemanan dalam industri hiburan, santun dalam berteman, dan tidak pelit. Selain itu, ia juga memberikan tips agar ide menulis semakin moncer.

“Yang penting juga, ya jangan males mikir, jangan males baca-baca buku, banyakin jalan-jalan biar dapet inspirasi, harus punya pacar biar stok puisinya banyak dan harus haus terus, ngerasa kurang terus. Dengan begitu, bisa memacu untuk terus belajar, untuk menggali potensi lebih dalam lagi dan gak merasa jumawa. Penulis harus rendah hati. Harus banyak-banyak ngaji. Ngaji alam,” ujar Syakky yang juga memfavoritkan As Laksana, Ernest Hemmingway, Etgar Keret, dan Y.B Mangunwijaya sebagai penulis inspirasinya.

Kesibukan Syakky saat ini adalah sedang belajar untuk menjadi pengarah (director) dan membuat film pendek dari skenario yang ditulisnya bersama Motus Production. Ia juga sedang sibuk melakukan pengkajian bersama teman-teman kreatif lainnya, menggodok program series Ramadhan untuk tahun depan. Syakky juga tergabung dengan tim skenario dengan beberapa penulis sekanrio ternama, salah satunya adalah di bawah komando Endik Koeswoyo, yang juga merupakan pendiri Jaringan Penulis Indonesia. (LW)

Profil Syakky
Nama Lengkap: Muhammad Izzuddin Syahid
Nama Pena: Syahid Azzakky
Nama Populer: Syakky
Lahir: Jakarta, 30 mei 1992

Pendidikan:
- MI Nurul Huda, Jakarta 
- SMP Islamic Boarding School Ibad Arrahman, Pandeglang
- Paket C

Karir:
- Tabloid Ruang Rekonstruksi (tabloid budaya pendidikan di banten) Tahun 2014
- Kameramen Darussalam.tv  (2014-2015)
-  Stripping Kabayan Sekolah Lagi di RCTI (2016)
- Stripping Epen Cupen The Series di GLOBAL TV (2016)
- Stripping Serial Anak Buyung Upik di RCTI (2017)
- Stripping Drama Musikal Dendang Cinta Wulan di MNCTV (2018)
- Stripping Tiada Hari Yang Tak Indah di SCTV (2018)
- Indonesia Artistry, Tempo Channel (2018)

Karya: 
- Antologi puisi "Kumpulan Sajak Ramadhan" (2012)
- Antologi puisi "Indonesia Dalam Titik 13" (2012)
- Kumpulan Cerpen "Sakatelope" (2012)
- Antologi Puisi "Cinta, Rindu dan Kematian" (2013)
- Antologi Puisi "Kesaksian" (2013)
- Antologi Puisi "Jalan Cahaya" (2013)
- Kumpulan Cerpen Seri Blue Ransel, "My Horror Trip" (2013)
- Antologi puisi Lentera Sastra II Penyair 5 Negara (2014)
- Novel Keroyokan Sebanyak Rintik Hujan Kala Ini (2015)

Ingin kenal dekat dengan Syakky? silakan mampir ke Media Sosial yang Syakky punya.

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.