TOLERARE

TOLERARE
(pada kenangan yang megap-megap)

Arniyaty Amin

Di sana, pada sisi kiri jalan itu berdiri megah bangunan bersalib teguh
Indah, seumpama taman-taman syurga
Ada sekumpulan manusia melantunkan lagu pujian pada Tuhan Yesus Kristus
Ada pendeta menunduk mengaminkan penuh hikmat
Dan di antara jemaat para majelis setia melayani Tuhan

Di sini, tempatku berpijak di pelataran masjid yang teduh
Ada jamaah bergegas berwudhu mensucikan diri
ditingkahi lantunan Qalamullah yang mendayu-dayu sepenuh getaran
Lalu suara adzan yang lantang menjemput shalat
Syahdu ....

Waktu berputar
Hidup harus bergerak
Dari dua sisi jalan
Bergegas para jamaah dan  jemaat saling sapa saling melempar senyum
Bahkan sebagian berangkulan

Di kampungku
Memang penuh perbedaan
Tapi mewarna seakan lukisan dalam satu kanvas
Tak ada hijau lukisan pemandangan buram gersang
Tak ada biru lukisan langit kan kelabu selamanya

Lalu apa yang harus diresahkan?
Kita damai di langit kiblat masing-masing
Damai di pelataran sosial bersama
Aku sujud di atas sajadahku tanpa menarikmu
Kau hikmat menyebut Bapa Roh Kudus dalam tangkup tanganmu dengan mata terkatup teguh
Tanpa menggandeng tanganku


Makassar, 8 Juli 2018


Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.