Teknik Wawancara untuk Mengangkat Profil Seseorang


Mengangkat kisah seseorang dari sekedar ucapan menjadi tulisan tentu bukan perkara mudah. Ibaratnya, kisah hidupnya dari baru lahir sampai saat kamu temui, harus dirangkum dalam sebuah artikel pendek. Mending kalau buku, bisa ditulis bab demi bab, tapi kalau cuma tulisan singkat bagaimana?. 

Wawancara dikatakan sebagai seni mengolah kata dan bahasa dalam melakukan tanya jawab dengan seseorang. Wawancara minimal dilakukan dua orang, yakni satu orang sebagai pewawancara, dan satu lagi sebagai orang yang diwawancara (narasumber). Ada sejumlah tantangan yang pasti akan dihadapi oleh pewawancara di antaranya, rasa bingung mau membuka obrolan dengan cara apa, pertanyaan pertama yang pas untuk diajukan apa, bahkan sisi unik dan menarik apa yang paling cocok untuk diangkat dari narasumber. Kalau sudah bingung begini, virus "nanti aja deh" akan mulai menggerogoti. 

Menjawab pertanyaan #SahabatJPI tentang tata cara mewawancarai seseorang, maka berikut saya buat sebuah petunjuk teknik wawancara untuk mengangkat profil seseorang. Jadi, simak baik-baik yah.
  1. Pastikan dulu kamu mau wawancara dalam bentuk apa. Apakah wawancara untuk artikel atau wawancara untuk televisi/media sosial yang sifatnya audio visual? Jika kamu mau wawancara dalam bentuk tulisan (artikel) maka kamu cukup menggunakan alat perekam (tape recorder, aplikasi di ponsel), kertas, dan pulpen. 
  2. Jika narasumber kamu tidak bisa ditemui karena kesibukannya, maka buatlah kesepakatan dengan narasumbermu untuk wawancara tertulis. Karena zaman sudah canggih, maka jadilah pewawancara yang cerdas. Kirimkan daftar pertanyaan lewat email, atau aplikasi pesan media sosial lainnya (whatsapp, ig, facebook, dll). Kejar terus narasumbermu untuk segera menjawab pertanyaan yang kamu ajukan agar hasil wawancaramu segera dipublikasikan. Sementara, jika kamu ingin wawancara yang sifatnya audio (suara) dan visual (gambar), maka sebagai pewawancara kamu harus bertemu langsung dengan narasumbermu. Siapkan kamera sesuai kebutuhan, dan pastikan audio narasumber terekam dengan baik.  Buatlah janji dengan narasumbermu dan berikan estimasi waktu yang harus dihabiskan untuk sesi wawancara tersebut. Dengan begitu, narasumbermu bisa mengatur waktunya di tengah-tengah jadwalnya yang padat.
  3. Kenali siapa narasumber yang akan diwawancarai. Jika artikel tentangnya sudah banyak dimuat di media, maka sebaiknya kamu membacanya terlebih dahulu sebelum bertemu. Ini membuat pewawancara terkesan cerdas di mata narasumber. Tapi, jika narasumbermu belum pernah diangkat profil atau kisah hidupnya, maka kamulah yang menentukan apa kisah menarik dan unik yang harus diangkat dari narasumbermu itu.
  4. Jika kamu ditugaskan oleh orang lain untuk mewawancarai narasumber X, misalnya, maka sebagai pewawancara kamu berhak bertanya kepada orang yang memintamu untuk wawancara tersebut tentang siapakah sosok yang akan diwawancarai, apa kira-kira sisi menarik darinya yang bisa diangkat. Mintalah petunjuk kepada yang menugaskanmu tentang apa yang bisa diangkat secara gatis besar.
  5. Buat daftar pertanyaan mendasar sebelum menghadapi narasumber. Tak jarang, pertanyaan mendalam bisa berkembang sepanjang sesi wawancara atau bahkan setelah narasumber membalas pertanyaan yang diajukan.
  6. Buatlah tenggat waktu (dateline) kapan artikel atau video narasumbermu akan dipublikaskan. Secara tidak langsung, narasumber juga punya batasan waktu untuk menjawab pertanyaan darimu. Hal ini, bisa membuat narasumber mempercepat waktunya untuk membalas daftar pertanyaan yang kamu kirimkan lewat email, atau meluangkan waktunya untuk diwawancara secara tatap muka. Jika sampai batas waktu yang disepakati narasumber belum juga menjawab pertanyaan, maka pewawancara bisa mendesak sampai pertanyaan dijawab, apalagi pertanyaan yang kamu ajukan bukan pertanyaan sensitif dan memojokkan.
  7. Setelah selesai wawancara, mintalah foto-foto terkait dan menarik untuk disertakan dalam artikel atau video yang kamu buat. Semakin kaya gambar yang dimuat dalam artikel atau videomu, maka informasi yang kamu hadirkan akan semakin kuat dan lengkap. Mintalah foto yang mencerminkan narasumber dan karyanya, termasuk foto atau karya kenangan yang paling berharga sepanjang hidupnya.
  8. Setelah artikel atau videomu telah dimuat di media, beritahukan segera kepada narasumber. Hasil wawancara yang dimuat di media cetak bisa kamu kirimkan lewat pos atau kurir, bagi artikel yang dimuat secara online kamu bisa bagikan tautan (link)-nyaKhusus untuk tayangan berbentuk video kamu bisa pastikan bahwa narasumber dapat menontonnya lewat media sosial atau aplikasi ponsel yang tersedia. Namun jika tidak ada, maka beri kabar kapan hasil wawancaramu akan tayang, dan di media mana. 
Berikut adalah contoh daftar pertanyaan yang pernah saya buat tentang kisah seorang penulis novel dengan keterbatasan fisik tapi sudah mendapat penghargaan tingkat nasional atas karya tulisnya bebentuk novel online. Pertanyaan ini saya buat setelah mengetahui garis besar perjalanan hidupnya mencapai kesuksesan yang dimuat di media. Mengingat jarak yang jauh antara Jakarta dan Banjarmasin, Kalsel, maka wawancara pun dilakukan dengan mengirimkan daftar pertanyaan lewat whatsapp. 

Setelah megucapkan salam dan menyatakan keinginan saya kepada narasumber untuk mengangkat profilnya, maka berikut daftar pertanyaan yang saya kirimkan kepada #SahabatJPI, Ariny NH melalui pesan singkat WA.
- Biodata lengkap (semacam CV) balas lewat email
- Kapan menjadi penulis?
- Kenapa milih jadi penulis?
- Apa tulisan pertama kamu?
- Hingga 2018, berapa jumlah karya yang ditulis?
- Penghargaan yang diraih?
- Kerap jadi bintang tamu di mana saja? Dan sudah di wawancara siapa saja dan di program apa yang     populer? 
- Siapa tokoh yang menginspirasi kamu? 
- Waktu mempublikasikan karya novel, gimana cara meyakinkan penerbit sampai akhirnya penerbit 
   mau terbikan karya kamu?
- Kabarnya punya penerbt sendiri? Kenapa? 
- Banyak yang bilang, jadi penulis nunggu royalti, dan lama kan dapatnya, apa komentar kamu?
- Selama jadi penulis, dan dapat royalti, hasilnya kamu belikan apa? 
- Siapa yang paling mendukung kamu sampai mau jadi penulis?
- Gimana kesan orang tua kamu waktu lihat kamu mulai aktif menulis?
- Kondisi kamu yang tidak senormal orang lain pernah buat kamu minder? Mungkin sekarang tidak  
  ya. Tapi dulu pernah gk minder?
- Gimana cara kamu membangkitkan semangat dirimu yang secara fisik berbeda dari yang lain?
- Apa pesan kamu bagi para penyandang disabilitas untuk maju dan  berkarya?
- Pernah jatuh cinta?

Daftar pertanyaan di atas bisa berkembang setelah narasumber membalas rentetan pertanyaan yang diajukan. Dan berikut hasil tulisan saya tentang sosok Ariny NH Penulis Disabilitas dengan Karya Tak Terbatas.
Selain itu, adapula tips yang pernah saya bagikan kepada #SahabatJPI, Tia Martiana setelah mengangkat profil tentang sutradatra film Down Swan yang akan tayang dalam waktu dekat di pertengahan tahun 2018 ini. Sebagai pewawancara, Tia Martiana larut dan menelan mentah-mentah jawaban narasumber. Saat itu, narasumber menjawab bahwa ide awal film Down Swan didapatkan setelah melihat dua orang yang terdiri dari Ibu dan anak sedang berjalan di kawasan Senayan. Dari situ narasumber bertanya dalam dirinya, siapa duluan yang mati. 

Sebagai narasumber tentu sah-sah saja menjawab seperti itu. Tapi alangkah baiknya, pewawancara menanyakan lagi, tentang kemunculan ide dari sisi lain yang sekiranya lebih enak di dengar dan dibaca. 

Jika, yang memberikan penugasan sudah memberikan arahan untuk mengangkat sisi heroik seorang Fuad Akbar ketika jatuh bangun membuat film DOWN SWAN, mulai pembuatan sinopsis, hingga penulisan skenario draf 1 sampai draf final. Arahan tersebut bisa menjadi amunisi kita untuk membuat daftar pertanyaan sebelum wawancara. Dengan petunjuk itu, pewawancara mulai bisa berimajenasi soal ide-ide cemerlang yang akan dituliskannya nanti.

Baerikut petunjuk pertanyaan setelah Tia Martiana mewawancarai Fuad Akbar: 
- angkat kisah heroik
- siapa yang terlibat
- kenapa bisa muncul ide
- bagaimana ide bisa tertuang jadi sinopsis. 
- siapa orang yang mendukung penulisan ide?
- untuk menulis cerita tentu ada teman diskusi, siapa teman diskusi pertama kali?
- sampai berapa kali penulisan ini bisa matang menjadi final draft
- kenapa harus anak downsyndrome?
- apa tantangan saat mengangkat sinopsis menjadi skenario?
- menulis film butuh dana besar, bagaimana meyakinkan investor termask sponsor untuk menjadikan    film ini bisa diproduksi?
- dan seterunya.

Setelah mengalami perbaikan, maka inilah hasil dari wawancara Tia Martiana tersebut, tentang Fuad Pae Akbar, Tarik Ulur Dan Riset Bertahun-tahun Demi Down Swan.

Demikian tips dari saya tentang teknik wawancara untuk mengangkat profil seseorang. Selamat wawancara orang yang kamu anggap layak diwawancara, termasuk idolamu. Tulislah profilmu dan sahabatmu, karena suatu saat ia terkenal dan populer, kamu tentu akan bertambah bangga, karena setidaknya kamu ada dalam kesuksesannya, baik diakui maupun tidak. Yakinlah bahwa segala sesuatu yang kamu tulis akan dibaca miliaran penduduk di seluruh penjuru dunia. Jadi, tulislah yang bagus dan bermanfaat.
Kapan? Sekarang atau nanti??? Kamulah yang akan menjawabnya.

Salam dari saya yang pernah dan masih diberi kesempatan mewawancarai banyak tokoh di negeri ini, mulai dari pejabat sampai kelas rakyat. Mulai dari tokoh yang mondar-mandir di Istana sampai seseorang dengan rumah reyot tak berjendela. (DF)

Tentang penulis:
Dita Faisal mengawali karirnya sebagai seorang model, bintang iklan, dan pemain utama FTV. Usai menamatkan pendidikan sarjananya, Dita memilih untuk menjadi wartawan. Berawal dari TVRI Nasional tahun 2008, Dita kemudian memilih pindah ke stasiun tv nasional, tvOne setahun kemudian. Ia pun menjadi reporter dan presenter berita. Kini Dita Faisal memegang jabatan sebagai koordinator liputan (korlip) di tvOne. Ingin kenal dengannya? Selembar kisah hidupnya bisa dilihat disini Dita Faisal dan Dina Faisal, Merantau Ke Jakarta Demi Memperjuangkan Cita-Cita

Facebook: DinaDita Twin 

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.