Fuad Pae Akbar, Tarik Ulur Dan Riset Bertahun-tahun Demi Down Swan


Sang sutradara Down Swan, Fuad Pae Akbar, bersedia membagi kisah panjangnya mengenai perjalanan produksi film yang rencananya akan rilis di bulan Agustus tahun ini. Di tengah-tengah kesibukannya, Fuad menceritakan proses tarik ulur dan riset yang panjang untuk mengangkat cerita Down Swan ke layar lebar. Perjalanan panjang itulah yang justru membuat Fuad semakin ngotot untuk tetap mewujudkan film bertema keluarga ini.

Ide film Down Swan sendiri datang dari kebiasaan Fuad yang suka mengamati kegiatan manusia di sekelilingnya. Ia seringkali berpikir tentang apa yang terjadi pada subjek yang diamatinya, Banyak pertanyaan yang terlintas di kepalanya ketika ia bertemu atau melihat seseorang, termasuk saat ia tengah berlari pagi di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta. Pagi itu, Fuad melihat lelaki muda berusia sekitar 24 tahun tengah berjalan dengan ibunya yang sudah tua. Insting yang sering diasahnya tertuju hanya pada anak muda dan wanita berusia senja itu. Fuad mencermati kedua orang itu dengan saksama.

“Ibu dan anak itu mengingatkan saya pada sebuah film, Amour. Film yang memenangkan penghargaan Palme d'Or di Festival Film Cannes. Film itu benar-benar menyayat emosi dan hati. Menceritakan cinta sehidup semati yang terbilang miris dan ironi. Sepasang suami istri, dimana sang istri sakit, dan sang suami berinisiatif menyelesaikan penderitaan istrinya yang tak kunjung usai dengan caranya sendiri. Ibu dan anak itu sangat mirip dengan kondisi di film Amour," jelas Fuad melalui pesan singkat.

Dari situlah ide Down Swan berawal dan datang dalam benak Fuad. Sebuah proses yang sangat sederhana, namun tidak sesederhana menuangkan ide ke dalam sebuah skenario lengkap. Fuad bersama Endik Koeswoyo dan juga Ade Candra berdiskusi dan melakukan pengembangan naskah untuk Down Swan. Untuk proses penulisan awal skenario, Endik membantu pada draf 1 dan 2, tapi karena masih jauh dari preferensi Fuad sebagai dasar visi film ini, akhirnya Fuad melanjutkan sendiri skenarionya menjadi draf 3, dan 4, dan 5. Akan tetapi, meski ditulis sendiri, Fuad masih tetap merasa kurang puas dan ada yang tidak pas.
Berulang kali Fuad membaca hasil tulisannya, berulang kali pula ia merasa bahwa skenario film yang ditulisnya masih terlalu gagah dan kental terasa unsur kelelakiannya. Padahal, cerita film Down Swan menitik beratkan pada kedekatan hubungan antara ibu dan anak. Fuad butuh sentuhan tangan perempuan untuk mengisi naskah yang ditulisnya. Tawaran kerjasama menulis pun jatuh pada penulis yang tepat. Draf skenario Down Swan pada akhirnya dilanjutkan oleh penulis wanita bernama Lyli Naulifar, seorang ibu dengan tiga orang anak, yang diyakini Fuad akan membuat skenario Down Swan lebih dalam, tapi tetap ringan.

Berbicara tentang banyaknya penulis skenario yang terlibat di dalamnya, Fuad menegaskan bahwa tidak semua penulisnya akan muncul dalam daftar nama tim pendukung atau istilahnya credit title di film Down Swan. Sutradara muda itu berpendapat tidak semua naskah para penulis yang terlibat dipakai sampai akhir. Bahkan ada hasil draf yang akhirnya diubah seluruhnya agar sesuai dengan visi film. Untuk menyelesaikan skenario yang sesuai visi film, tentu membutuhkan waktu yang tak sebentar. Dalam perjalanannya, Fuad yang juga piawai sebagai editor ini menyatakan bahwa draf pertama dibuat pada tahun 2014, sedangkan draft 3 dilanjutkan pada tahun 2017. Bisa dibayangkan, Fuad harus menghabiskan waktu hingga tiga tahun untuk melanjutkan skenario dari draf pertama sampai ke draf keempat. Waktu Fuad terbagi-bagi antara menulis, riset dan mencari sponsor.

“Lama karena riset dan cari investor. Meski awalnya saya memang riset kecil-kecilan, tapi ternyata itu belum cukup untuk membuat Down Swan. Banyak hal yang bisa diambil manfaatnya dari riset ini,” Fuad Akbar menjelaskan sambil tersenyum mengenang perjuangannya mewujudkan film panjang yang diimpikan, meski produser sempat menolaknya dengan alasan filmnya terlalu festival. Penelitian untuk film Down Swan diakui sangat mendetail dan mendalam, termasuk riset yang dilakukan di sekolah balet dengan murid khusus penderita down syndrome. Hampir 50 persen hasil riset digunakan untuk memperkuat isi cerita dalam film  yang diproduksi Adxi Films ini.
Melalui riset mendalam, Fuad jadi tahu banyak hal tentang seluk-beluk down syndrome dan dunia seni tari balet. Usahanya tak sia-sia. Setelah mencari tahu tentang sekolah balet yang tepat untuk obyek penelitiannya, Fuad akhirnya menemukan sebuah sekolah balet bernama Natalenta. Alumni Akindo Yogyakarta ini pun menemui pengurus sekolah Balet Natalenta di Tebet, Jakarta Selatan. Keseriusan Fuad dan keterbukaan sang pengurus sekolah balet kian mempermudah Fuad untuk mendalami cerita dan karakter dari anak penderita down syndrome, karena Natalenta merupakan sekolah balet dengan murid khusus anak-anak down syndrome

Arina Hasiko Asahi Min Dhisya sebagai Nadia dalam Film Down Swan
tengah berbaur bersama balerina down syndrome. (Foto: IG @filmdownswan)
Kembali ke naskah Down Swan, menurut pengakuan Fuad juga naskah Down Swan ini termasuk naskah yang dipaksa lahir karena sebenarnya awalnya ia menawarkan naskah lain yang berjudul Lapangan Merah. Saat itu, naskah Lapangan Merah sudah siap untuk diangkat ke layar lebar, tapi produser berubah pikiran dan justru memilih Down Swan untuk diproduksi. Produser menilai cerita Down Swan ringan dan banyak memiliki aspek penghibur bagi calon penontonnya. Selain itu, Fuad juga merasa Down Swan merupakan momentum yang tepat untuk memberikan tontonan yang berimbang untuk keluarga dan anak-anak di tengah gempuran tontonan dewasa yang beragam. Tiga pamain utama terpilih untuk memainkan peran dalam film Down Swan, mereka adalah  Arina Hasiko Asahi Min Dhisya sebagai NADIA, Putri Ayudya sebagai MITHA, dan Ariyo Wahab sebagai BISMA. 
Mitha, Dhisya, Ariyo saat prouksi film digelar. (Foto: IG @filmdownswan)
Kesuksesan Fuad menyelesaikan Down Swan tak lantas membuatnya berpuas diri. Fuad terus menulis dan membuat cerita-cerita baru. Fuad sangat yakin, semua cerita yang ditulisnya harus melalui proses inkubasi dulu. Inkubasi atau mengendapkan naskah ini sangat penting bagi Fuad, karena hal ini yang akan membuat naskahnya menjadi kaya dengan elemen-elemen dari dimensi cerita yang dibutuhkan cerita itu sendiri. Membuat cerita yang unik dan baik, serta menentukan target pasar yang tepat akan membuat film lebih hidup dan mudah menarik investor melirik naskah yang dibuat. Film Down Swan sendiri mengambil target pasar semua kalangan, terutama anak-anak dan keluarga.
Selama produksi, calon penonton disuguhkan diary vlog di balik layar film Down Swan
yang bisa diakses lewat IG 
 @filmdownswan
Saat ditanya soal tantangan terberat dalam penulisan naskah Down Swan, Fuad menjelaskan bahwa pemilihan fokus cerita adalah salah satu yang hal dianggapnya cukup sulit. Apalagi saat menentukan rangkaian plot cerita yang diusung. "Tentang single plot atau multi plot juga harus dipikirkan matang-matang. Tapi saya selalu membuat urutannya itu premis, sinopsis, dan plot. Premis adalah langkah awal untuk menentukan arah naskah yang dibuatnya. Jadi, tiga hal itu harus jelas dulu sebelum melangkah ke pengembangan naskah."

Ketika ditanya tentang pengalaman menariknya selama menulis skenario Down Swan, Fuad mengaku semakin jatuh cinta dengan proses panjang yang dilaluinya. Proses itu membuatnya banyak belajar dan banyak menemukan hal-hal baru, termasuk belajar bagaimana ia harus mengikuti pasar komersial. Tapi ketika ditanya pengalaman pahit, Fuad memilih menggeleng. Pengalaman pahit seolah-olah tersapu angin harapan dan terbuang oleh semangat dan pengalaman manis yang dialaminya.

Sebelum menutup percakapan, Fuad memberikan pesan kepada teman-teman yang masih belajar menulis, terutama yang ingin terjun dalam dunia perfilman. “Coba dekati para film maker atau sutradara. DM langsung, enggak usah malu-malu. Kirimkan sample tulisan dan tawarkan diri untuk menulis cerita. Mungkin awalnya harus rela enggak dibayar, mirip Mas Endik hehe. Jangan terpatok dengan satu atau dua orang. Terus berusaha, terus menulis, dan latih kemampuan. Writing is always rewriting, right? Penulis adalah yang selalu terus menulis. Ya, kan?"

Setuju! Penulis akan menulis terus tanpa bosan atau menyerah meski berkali-kali ditolak. Mimpi harus tetap terwujud meski penuh perjuangan. Karena tak ada keberhasilan tanpa kerja keras. #tia

Tentang penulis:
Tia Martiana merupakan penulis asal Ciamis yang kini tengah mengembangkan kemampuannya untuk menulis skenario film lepas. Target dan impiannya adalah menulis novel untuk penerbit mayor. Ingin kenal dekat dengan Tia Martiana ? Silakan mampir ke media sosialnya.
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.