FRIENDZONE

Penulis: Umi Fadilah

Malam ini, Kara mengajak sahabat kecil yang sekaligus tetangganya untuk pergi ke Kafe Grande, menyaksikan penampilan group band kesukaannya. Namun, baru saja mengiyakan, Kara sudah berteriak di depan rumah Arga.

“ARGAAA! Ayok dong! Udah jam tujuh, nih! Nggak on time banget, sih!” Kara berteriak dengan menggedor-gedor rumah Arga.

Untungnya Arga hanya di rumah dengan asisten rumah tangganya. Jika ada Samudra dan Citra, orang tua Arga, mungkin Kara sudah mendapat semprotan dari keduanya. Arga memang anak yang mandiri, dari kecil dia sudah mengerjakan segala sesuatu tanpa membebani orang lain. Mengingat Samudra dan Citra yang hanya pulang satu kali dalam setahun dari Kanada.

Arga keluar dengan mengenakan celana jeans dan jaket kesukaannya.

“Ra, lo lupa ingatan atau gimana, sih?! Ponsel gue juga masih di tangan, telepon dari lo baru aja mati. Terus lo langsung teriak-teriak nggak jelas gini, hah?! Untung aja gue ganteng setiap saat. Jadinya nggak perlu repot siap-siap.” Arga keluar dengan wajah kesalnya.

“He he he. Jam tujuh di rumah gue lebih cepet daripada di rumah lo. Udah ayok buruan!”

“Iya sabar!” sungut Arga. “Untung sayang,” gumamnya dengan melangkah menuju mobil.

“Hah, gimana?” Sepertinya udara membawa suara hati Arga sampai ke telinga Kara.

“Eng-enggak. Udah buruan!”

“Dasar cowok aneh! Eh by the way, kok tumben lo pakek mobil? Biasanya juga pakek motor butut lo itu.” Kara menaikkan satu alisnya dan menatap Arga aneh.

“Ya sayang aja kalo nggak dipakek. Takutnya jamuran!”

Gue takut lo kedinginan, terus sakit gara-gara masuk angin, batin Arga.

Sesampainya di kafe, rupanya kafe sudah ramai dipadati oleh pengunjung. Arga dan Kara bergegas mencari meja yang masih kosong. Mereka beruntung, masih ada satu meja yang tersisa. Mereka tak ingin membuang kesempatan, lalu duduk di tempat yang masih kosong itu.

Group band yang mereka saksikan saat ini telah selesai menyanyikan sebuah lagu. Vokalis band itu sekarang mulai mencari seorang penonton untuk diajak duet bersamanya. Angga, namanya. Angga mengawasi seluruh sudut kafe, dan sepertinya dia sudah mendapatkan teman duetnya malam ini. Dia menunjuk seseorang, dan Seseorang itu adalah ... Kara.

“Mati, Ga!” Kara menepuk jidatnya. “Kita baru aja sampe dan sekarang gue diajak duet sama Angga?” Kara menggenggam tangan Arga dan mulai terlihat panik.

Degg!

Jantung Arga berdetak kencang saat Kara menggenggam tangannya. Susah payah Arga mengendalikan perasaannya itu. “Udah, maju aja. Suara lo juga mending kok nggak jelek-jelek amat.” Arga menepuk lengan Kara dengan terbahak.

Maju! Maju! Maju! Suara pengunjung ramai mendukung Kara agar naik ke atas panggung. Dengan menarik napas, Kara berdiri dan berjalan menuju panggung.

“Oke. Sekarang di sebelahku sudah ada__” Angga memberikan jeda, seakan dia berharap agar Kara menjawabnya sendiri.

“Kara,” sambung Kara dengan senyum tipis.

“Sebuah lagu buat kalian, dengan judul cinta sejati dari aku dan Kara. Selamat mendengarkan.” Angga dan Kara mulai bernyanyi.

Selesai sebuah lagu dinyanyikan, kali ini Kara kembali menghidupkan microfonnya setelah sebelumnya berdiskusi dengan group band tersebut, termasuk Angga.

“Oke, jadi gue sekarang mau nyanyiin satu lagu lagi. Tapi bukan sama Bang Angga. Gue mau duet bareng sahabat gue, Arga.” Kara menunjuk Arga dengan tatapan puas. Seakan membalas dendam atas sikap Arga tadi.

Ayok Arga majuuu! Arga! Arga! Arga! Suara riuh penonton membuat detak jantung Arga menggila.

“Sial! Awas lo Kara!” gumam Arga dengan memelototi Kara yang masih memberikan ekspresi puasnya kepada Arga. Arga kemudian memberanikan diri untuk naik ke atas panggung.

“Oke kalian mau nyanyi lagu apa nih, Sob?” tanya Angga.

Dengan cepat Kara menjawab “Pesan dari hati.”

Arga hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam. Dengan susah payah menelan ludah, dia duduk di samping Kara, membuat tangannya ingin menjambak rambut Kara saat itu juga. Musik mulai mengalun, Arga dan Kara mulai menyanyi.




Tatapan mata itu terasa begitu dalam

Seakan akan menyentuh jantung hatiku

Apakah ini suatu isyarat

Sebuah pesan dari hatimu

Ungkapan rasa cinta engkau pendam




Gemuruh tepuk tangan dari penonton terdengar. Namun, Arga mengabaikannya, dia membayangkan hanya ada Kara dan dirinya. Lagu yang isinya sangat tepat untuk hati Arga saat ini, membuatnya dapat menghayati lagu ini dengan baik.




Biarkan hati bicara

Katakan semua rasa kita

Hentikanlah kebisuan membohongi kita

Biar hati yang berjanji

Dia tak mungkin bisa berdusta

Tentang rasa cinta kita

Tulus dari hati




Senyuman di bibirmu

Selalu tersimpan di hati

Seakan akan menyentuh mesra jiwaku

Apakah ini suatu isyarat

Sebuah pesan dari hatimu

Ungkapan rasa cinta engkau pendam




Selesai menyanyi, Arga dan Kara turun dari panggung tersebut, menikmati suasana kafe dan memakan makanan yang telah dipesan Arga sebelum Arga naik ke atas panggung. Ada ekspresi bahagia di wajah Arga, bukannya marah tapi dia justru merasa senang karena bisa berduet bersama Kara setelah sekian lama dia menginginkan hal itu. Keduanya memang memiliki hobi yang sama, menyanyi. Namun, itu saat mereka kecil. Setelah masuk bangku SMA, Arga sudah disibukkan dengan berbagai pelajaran sekolahnya.

Sesekali Arga menatap Kara yang terlihat mulai mengantuk. Arga memutuskan untuk mengajak Kara pulang.

Sampai di depan rumah Kara, Kara turun dari mobil Arga.

“Makasih Argakuhh! Udah mau ngajakin Kara malem mingguaan,” ucap Kara dengan nada manja, membuat Arga sedikit geli mendengarnya.

Argaku, katanya? Batin Arga. Arga hanya tersenyum tipis dan memasukkan mobilnya ke garasi.

Arga masuk ke kamarnya, membaringkan tubuhnya di atas kasur.

“Apa gue bener-bener sayang sama Kara, ya? Kenapa bisa gini, sih!” Arga mendengkus kesal. Andai saja Kara adalah gadis yang peka, mungkin Arga tidak akan merasa sesak seperti ini.

Kara call.

“Perasaan baru ketemu, deh. Emang udah kangen lagi, ya?” Arga tertawa kecil di balik teleponnya.

“Sial! Diem lo, badak! Nyokap tadi bilang, katanya besok lo disuruh ke sini, mau diajakin sarapan bareng,” Kara menjawab ketus.

“Hm. Ok. Kirain lo udah kangen lagi sama gue. Ha ha ha...”

“Idih kepedean banget sih, lo! Udah pokoknya besok pagi lo ke sini. Gue mau tidur. Bye!”

Klik. Arga masih menatap ponselnya dengan tersenyum.

Keluarga Arga memang sangat dekat dengan keluarga Kara, ini pun bukan kali pertama Arga sarapan di rumah Kara.

Keesokan harinya, Arga sudah di depan rumah Kara. Arga mengetuk pintu, tak lama Tiara, ibu Kara membuka pintunya.

“Eh Arga! Masuk sini, Ga!

“Iya, Tante.” Arga tersenyum ramah.

“Ayok makan dulu, nanti kita baru ngobrol,” kata Tiara dengan melangkah yang diikuti Arga dibelakangnya.

Hah, ngobrol? Batin Arga dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Mereka pun makan bersama. Setelah sarapan selesai, Samuel mulai mengatakan maksud dari dirinya mengundang Arga sarapan bersama pagi ini.

“Begini, Ga.” Samuel memulai perbincangan.

“Besok pagi, Om sama Tante Tiara mau berangkat ke Semarang. Ada pekerjaan yang harus dikerjakan, itu membutuhkan waktu hingga beberapa minggu.”

Arga mulai bingung dengan maksud perkataan Samuel.

“Jadi, Om dan Tante berniat untuk menitipkan Kara sama kamu. Kamu tau sendiri kan, kalau Kara itu anak perempuan yang manja. Dia nggak mungkin bisa di rumah sendiri, jadi Om minta kamu buat jagain Kara, ya Ga.” Samuel menatap Arga serius.

“Mamah sama papah yakin, mau nitipin Kara ke badak ini?!” Kara menyela pembicaraan, mencoba melakukan penolakan.

“Eh bocah! Lo kan masih kecil, jadi lo butuh seseorang buat jagain lo, udah deh nggak usah pura-pura nolak.” Arga melirik dengan mata liciknya.

“Eh gue udah gede, ya. Lagian gue tuh__”

“Udah, kok jadi berantem, sih! Kara, kamu nggak boleh nolak! Lagian Arga itu kan temen kamu dari kecil, jadi mamah sama papah percaya ke Arga,”

Kali ini Kara hanya bisa diam tanpa berkata apapun.

“Tenang aja,Om. Arga pasti akan jagain Kara, kok,” Arga menatap Kara dengan menjulurkan lidahnya. Membuat kepala Kara semakin panas.

Keesokan harinya, Tiara dan Samuel sudah bersiap untuk berangkat ke Semarang. Begitupun dengan Arga dan Kara yang sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah.

“Mamah sama papah berangkat dulu, ya. Kalian baik-baik di rumah,” Tiara mengusap ujung kepala Kara.

“Hati-hati mah, pah.”

“Hati-hati om, tante. Tenang aja, Kara aman kok sama Arga,” Arga tersenyum dengan melambaikan tangan kepada Tiara dan Samuel.

“Udah, ayok Ra berangkat!”

“Ra ....” Arga merangkul Kara. Menatap Kara yang masih belum rela ditinggalkan Tiara dan Samuel.

“Udah, Ra. Mamah sama papah lo cuma pergi sebentar, kok.” Arga berusaha menghibur Kara. Arga paling tidak bisa melihat sahabat yang ia sayangi itu bersedih, apalagi sampai menangis.

“Buruan, ayok berangkat! Lo mau kita telat?” Arga menarik tangan Kara yang masih mematung.

Kara dan Arga berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor kesayangan Arga.

“Sampai nanti, Arga. Gue masuk kelas dulu. ” Kara melangkah meninggalkan Arga.

“Cieee yang di anter Bang Arga sampe depan kelas.” Helen, teman sebangku Kara memang acapkali membuat Kara merasa kesal.

“Diem, lo! Gue tuh sama Arga cuma sahabatan,ya. Nggak lebih!”

“Kenapa lo nggak jadian aja sih sama Arga? Lagian masa iya, sahabatan bertahun-tahun tapi nggak ada perasaan apapun?” ucap Helen sambil mendekatkan wajahnya ke Kara.

“Terus menurut lo, gue harus ngemis-ngemis ke Arga, gituh?! Ogahh kali,” jawab Kara dengan ketus.

“Ya seenggaknya lo bilang gitu, lo jujur sama Arga. Arga tuh ganteng, pinter juga. Nanti keburu diembat sama cewek-cewek ganjen itu loh. Lagian kalo gue liat-liat Arga tuh juga suka sama lo, Ra. Lo aja yang nggak peka.”

“Hm,” jawab Kara singkat.

Mungkin bener juga kali ya, kata Helen. Gue harus jujur ke Arga. Kalo gue sayang sama dia. Ah tapi masa cewek dulu, gengsi kali. Arga aja kelihatannya biasa aja sama gue. Batin Kara.

Jam pelajaran berakhir, bel istirahat pun berbunyi.

“Ehem! Tuan putri, tuh dijemput Bang Arga.” Helen melirik Kara.

“Eh gue duluan, ya. He he he,” Kara menepuk pundak Helen.

Kara mendekati Arga yang sudah menunggunya di depan pintu kelas. Seperti biasa, walaupun tidak satu kelas, Arga selalu menjemput Kara untuk pergi ke kantin sekolah bersamanya.

Selesai makan di kantin, Arga mengantarkan Kara hingga di depan kelasnya.

**

“Kenapa sih, gue harus nungguin bocah ini?! Les kok setiap hari. Emang tu kepala nggak pusing apa, ya?” Arga sudah menunggu Kara di parkiran dengan wajah kesalnya. Jika bukan karena sahabat dekatnya, mungkin dia memilih untuk meninggalkannya.

Beberapa saat menunggu, Kara muncul. Kara melambaikan tangannya ke arah Arga dengan senyum lebar di pipinya. Tidak ada lagi murung di wajahnya.

“Yok, jadi kan ke Gramedia?” sesuai janji Kara saat di kantin tadi, Kara akan menemani Arga ke Gramedia, toko buku langganan Arga.

“Jadi dong,” jawab Arga sambil menghidupkan motornya.

Sesampainya di Gramedia, Arga langsung mengambil beberapa buku.

“Lo beli buku sebanyak itu buat apa, Ga?”

“Ya buat belajar lah! Lo tuh les setiap hari nggak pinter-pinter juga, ya. Kita kan dua minggu lagi mau ujian nasional, jadi gue mau siap-siap dari sekarang. Lo juga harus belajar!” ucap Arga dengan ekspresi sinisnya.

“Iya, iya. Udah yok, pulang!” Kali ini Kara tengah tak bersemangat untuk beradu mulut dengan Arga.

Mereka berdua pulang ke rumah. Arga mengantar Kara hingga di depan pintu rumah Kara. Arga meminta Kara untuk segera masuk. Setelah memastikan Kara masuk ke dalam rumahnya, Arga pun pulang.

Dua minggu telah berlalu, kini ujian nasional tengah berlangsung. Arga dan Kara sudah sepakat untuk tidak saling berkomunikasi selama ujian nasional, agar keduanya dapat fokus ujian dan mendapat nilai yang terbaik. Walaupun begitu, Arga tetap mengantar dan menjemput Kara untuk pulang bersama seperti biasanya.

Ujian nasional telah berakhir, wisuda pun sudah dilaksanakan.

Sore hari, Arga sudah di rumah Kara. Arga membangunkan Kara yang tengah tertidur lelap.

“Woy! Bangun, Ra! Molor mulu kerjaan lo!

“Yaelah, apaan si nih bocah?! Nggak tahu apa kalo gue lagi tidur cantik?!” Kara sangat marah atas tingkah Arga yang menganggu tidur Kara.

“Buruan bangun! Gue mau ajak lo liat sunsite. Buruan, Kara! Bangun, nggak! Gue siram nih!” Arga terus berteriak di telinga Kara.

Kara bangun dari tempat tidurnya dengan rambut yang masih berantakan.

“Iya, ok. Lagian lo tuh tumben banget sih ngajakin gue liat sunsite,” kata Kara dengan kesal.

Gue mau bikin kenangan indah bareng lo, Kara. Batin Arga.

“Udah deh, buruan lo siap-siap. Gue tunggu di depan.” Arga keluar dari kamar Kara.

“Hm,” jawab Kara sambil melirik sinis ke arah Arga yang hanya terlihat punggungnya.

Kara keluar dengan kaos putih polos dan celana jeans panjang. Dengan rambut yang diikat tinggi membuatnya tampak manis.

Sekarang mereka berdua sudah di dalam mobil. Arga menjalankan mobilnya. Kara tidak tahu akan dibawa ke mana, tetapi sebelum Arga mengomel, ia hanya bisa menurutinya tanpa protes.

“Nah, kita udah sampe!” pekik Arga yang membuyarkan lamunan Kara.

Mereka berdua turun dari mobil. Pemandangan yang menakjubkan tampak jelas di depan mata. Kara hanya bisa ternganga. Mereka duduk dengan menanti sesaat sebelum sunsite muncul.

“Gila, indah banget, Ga!” ucap Kara sambil tak berhenti melongo.

Arga tersenyum melihatnya, Dia menatap Kara lekat-lekat. Kara yang tahu bahwa Arga sedang menatapnya, kembali menatap Arga dengan penuh penasaran.

“Lo kenapa, Ga?” selidik Kara.

“Ra. Gu-gue. Anu. Gue ....”

“Kenapa si, Ga? Ngomong aja!” ngomong aja kalo lo mau nembak gue, Ga. Gue mau kok, batin Kara yang sudah menunggu ucapan Arga.

“Gu-gue ....” Arga menarik napas perlahan. “Gue mau berangkat ke Kanada dua hari lagi sama mamah papah. Gue mau kuliah di sana. Kata papah, Kanada salah satu tempat terbaik untuk kuliah kedokteran.” Arga seakan tidak bisa mengucapkannya. Bibirnya kaku.

“Lo bercanda, kan? Lo nggak bener-bener mau ninggalin gue, ‘kan? Kenapa nggak di Jakarta aja sih, Ga? Please, bilang ke gue kalo lo bohong!” Mata Kara memerah, bibirnya pucat. Dia memukul lengan Arga. Merengek agar Arga tidak benar-benar meninggalkannya.

Kayaknya gue harus jujur ke Arga sekarang. Sebelum gue bener-bener nyesel nanti. Siapa tahu kalo gue jujur Arga nggak jadi pergi. Batin Kara.

Kara menatap Arga yang masih menundukkan kepalanya.

“Ga. Gue tuh, se ... Gue itu.” Kara mendadak gagap. Dia menarik napasnya.

“Arga Bumantara. Gue tuh sebenernya sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Please jangan ninggalin gue! Gue nggak mau jauh-jauh dari lo!” Kara mengatakan dengan satu kali tarikan nafas, meski malu, itu membuatnya jauh lebih lega. Arga seketika menoleh. Tidak percaya dengan apa yang sahabat kecilnya katakan. Arga tersenyum seraya mengacak rambut Kara.

“Kara Ayu Samuela. Gue-juga-cinta-dan-sayang-sama-lo,” Arga mengeja kata demi kata dengan menatap Kara lebih dekat. Terlalu dekat. Hingga Kara tak mampu mengendalikan detak jantungnya.

“Terus lo nggak jadi ninggalin gue, 'kan?” Kara bertanya dengan senyum di pipinya.

“Gue harus tetep berangkat, Ra. Gue mau meraih cita-cita gue,” jawab Arga dengan menatap lurus ke depan, menahan dadanya yang terasa sangat sesak.

“Terus lo mau ninggalin pacar lo yang cantik ini?” Kara kembali murung.

“Siapa yang bilang kita pacaran?” Arga menaikkan satu alisnya dan menatap Kara.

“Hah? Gue masih belum ngerti.”

“Gue nggak mau pacaran, Ra. Bagi gue, status yang paling gue percaya dalam hidup gue tuh cuma pernikahan. Jadi sekarang lo pake cincin ini aja.” Arga memasangkan cincin ke jari Kara yang dia ambil dari saku celananya.

“Lo lagi ngelamar gue, Ga?” tanya Kara sambil menatap Arga dengan melotot.

Arga mendorong jidat Kara dengan pelan.

“Lo tuh tolol banget, ya. Ya kali gue ngelamar lo tanpa persetujuan orang tua. Ini tuh buat simbol aja, kalo Kara Ayu Samuela itu cuma milik Arga Bumantara seorang. Jadi nanti nggak ada deh yang gangguin lo. Kalo ada, lo tunjukin aja cincin lo itu.”

Kara tidak mampu lagi menahan air matanya. Perlahan menetes. Arga mengusap air mata Kara yang membuat Kara justru semakin menangis. Kara akan sulit jika harus berjalan tanpa Arga di sampingnya. Tanpa perhatian-perhatian kecil yang selalu Arga berikan untuknya.

“Udah, nggak usah nangis! Gue jadi nyesek liatnya. Lagian lo nggak sendirian, kok. Kan bokap nyokap lo juga di rumah.” Arga masih mengusap air mata Kara.

Hari ini menjadi kenangan terakhir sebelum Arga berangkat ke Kanada. Sebelum berangkat, Arga berpamitan dengan Kara, Tiara, dan Samuel. Kara tidak kuasa menahan tangisnya. Saat Arga akan melangkah untuk berangkat, Kara menahan tangan Arga dan memeluknya dengan erat.

“Gue cuma pergi sebentar kok, Ra. Nanti kalo gue udah jadi dokter juga gue balik kok.” Arga mengusap air mata Kara dan mulai menjauh. Tidak ingin melihat Kara lebih menangis lagi.

Bertahun-tahun Arga tidak ada kabar. Chat Kara sama sekali tidak mendapat balasan. Ponselnya juga tidak aktif.

Satu tahun setelah lulus kuliah, Kara kini sudah menjadi wanita karir. Dia sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Yogyakarta. Dia akan pergi berlibur bersama kedua orang tuanya.

“Ra! Kara! Cepet turun!” suara Tiara memanggil dari bawah.

“Iya sebentar lagi, mah!”

“Turun dulu, bajunya nanti aja!”

Kara akhirnya turun untuk mencari tahu ada apa sebenarnya di bawah.

Kara mematung dengan mata yang terbuka lebar.

“Arga! Ini beneran lo?!” Kara terkejut melihat Arga yang tersenyum manis kepadanya.

Arga langsung mengajak Kara untuk keluar. Sebelum gadis ini memarahinya di depan Tiara dan Samuel.

“Lo ke mana aja, sih?! Kenapa lo nggak ada kabar? Chat gue nggak dibales, ponsel lo nggak aktif. Gue kan ....”

Arga menutup mulut Kara dengan telunjuknya.

“Gue sengaja nggak ngabarin lo, gue mau fokus kuliah, Ra. Kalo gue bales chat lo, gue pasti mikirin lo terus. Lo lihat sekarang, kan? Gue udah berhasil meraih cita-cita gue, Ra. Tapi ada cita-cita yang belum gue raih,” ucap Arga menimbulkan pertanyaan di kepala Kara.

“Ya tapi seenggaknya lo bales chat gue lah! Gue kan jadi panik. Jangan-jangan lo udah punya cewek lain di sana?” Kara terlihat sangat kesal.

“Eh tapi emang apa cita-cita yang belum lo raih? Bukannya cita-cita lo jadi dokter udah tercapai?” Kara menatap Arga dengan wajah penuh tanya.

“Gue belum jadi imam lo. Itu yang belum tercapai.” Arga menatap Kara yang sedari tadi masih menatapnya. Kali ini Kara hanya bisa ternganga.

“Besok gue ke rumah lo lagi. Lo harus dandan yang cuaaaantik, ya!” Arga merangkul Kara dengan wajah penuh girang.

“Ngapain juga gue harus dandan? Kaya mau ketemu sama siapa aja,” jawab Kara ketus.

“Gue mau ngelamar lo. Gue besok ke rumah lo sama papah dan mamah,” Arga tersenyum ke arah Kara.

“Hah?” Kara tak bisa berkata-kata.

“Gue besok mau ngelamar lo. Lo budek, ya?”

Kebahagiaan tampak jelas di wajah keduanya. Siapa yang mengira, cinta yang sama-sama terpendam akhirnya tersampaikan. Komitmen di antara dua hati ini akan segera berstatus resmi. Tidak ada yang salah dari hubungan kedua sahabat yang akhirnya naik ke satu level lebih tinggi, yaitu menjadi sepasang kekasih.

Posting Komentar untuk "FRIENDZONE "

www.jaringanpenulis.com




Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia
SimpleWordPress