Filantropi dan Antipati - Cerpen Oleh: Sevina Dwi Alyani

 


Tepat di mana jingga memamerkan warna indahnya, aku mengamati langit dari sebuah taman yang sunyi. Taman yang ditumbuhi bunga-bunga yang indah. Betapa menyejukkan kala aku duduk di bangku taman. Dipayungi pohon rindang dan ditunjukkan berbagai tumbuhan di taman ini.

Kala senja masih menjadi raja di angkasa, kutulis sebuah keinginan. Keinginan yang kucurahkan dalam di buku kecilku. Buku berwarna biru langit yang menggambarkan suasana hatiku. Sungguh, aku lebih suka menuangkan apapun dalam kertas putih.

Aku Filantropi. Gadis yang tidak pernah jatuh cinta sama sekali. Namun, entah mengapa orang tuaku menamakanku Filantropi yang artinya cinta. Ingin tergelak rasanya menerka kenapa nama itu melekat di akta kelahiranku.

Aku kembali menunduk melihat kertasku yang tertuang tulisan. Sebuah font rapi tertuang di kertas itu. Kusemogakan keinginan ini menjadi nyata. Bukan fiksi semata.

Aku ingin jatuh cinta.

Begitulah tulisannya. Senyumku merekah. Sampai menyadari arlojiku menunjukkan waktu hampir malam, terlintas di otakku melihat mentari pulang ke tempatnya. Akhirnya setelah bulan menyelinap, aku akan pulang.

"Astaga, bukuku!"

Buku itu masih di bangku lengkap dengan bolpoinnya. Namun, kala akan kututup, ada tulisan orang lain di sini. Aku menatapnya lekat. Lalu kuedarkan pandang. Tidak ada seorang pun di sini.

Aku akan jatuh cinta.

Tulisan ingin dicoret digantikan akan. Ya Tuhan mendadak jantungku berdetak kuat. Siapa yang melakukan ini? Seseorang yang iseng atau orang di suatu tempat yang dibuat untukku? Aku menggeleng kecil lalu melanjutkan berjalan kembali ke peraduanku, griya putih dengan pagar cokelat.

Keesokan hari tepat pukul 17.00 WIB, aku datang ke taman lagi. Kurapatkan jaket. Memang seusai hujan, suasana menjadi dingin di belahan bumi yang kutempati ini. Seperti biasa, aku perempuan setinggi seratus enam puluh lima senti meter hanya menjadi pengamat.

Taman yang sepi sangat cocok untukku yang tidak suka hingar-bingar laksana di kota besar. Detik ini tepat kuedarkan pandang ke sekitar. Kutangkap seorang lelaki. Tampan. Kutersenyum tanpa sadar.

Lelaki yang duduk di paving sambil menghitung daun melati putih dan menandai daun itu dengan penanya. Eksentrik. Apa yang ia lakukan? Kala aku larut dalam aktivitas lelaki itu, tanpa sadar lelaki datang menuliskan sebuah angka pada tanganku.

Angka dua ratus dua puluh empat. Aku menunduk takut. Apa maksudnya? Aku mengernyit kebingungan.

"Di senja itu, aku menemukan buku biru langit. Dan sepertinya punyamu. Jadi kugantilah kata ingin menjadi akan," gumamnya dengan suara berat khas lelaki. "Akan, itu sesuatu yang pasti terjadi padamu ...."

"Apa arti nomer ini?"

Dia tersenyum tipis, begitu tipis, "Aku mencintaimu hari ini, besok, dan selamanya."

Demi apa aliran darahku seperti sungai yang mengalir deras. Membuatku terdiam menghela napas dan tersenyum ramah. Dari sana aku tahu siapa dirinya. Seorang lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Antipati.

Ternyata Antipati mengamatiku diam-diam yang rutin datang ke mari. Namanya unik. Namanya mempunyai arti benci yang berbeda denganku. Yang berarti cinta.

Kita sampai tertawa kala membahas nama satu sama lain. Antonim, Antipati sempat berkata seperti itu. Antipati sendiri lelaki jangkung yang berkulit putih dan wajahnya begitu menawan. Seperti kataku tadi, tampan.

Hari berikutnya kita mengunjungi bangunan kecil dengan kayu sebagai temboknya. Kata lelaki unik itu, Antipati tidak bisa tinggal bersama ibu, ayah, dan adiknya. Karena adiknya menderita  SCID. Di mana rumah megah yang bersebelahan dengan rumah kayunya harus selalu disterilkan. Ya, penyakit langka itu membuat kekebalan penderitanya sangat buruk.

Semburat ideku pun muncul. Aku mengajak Antipati menggambar di jendela adiknya dari sisi luar. Dari luar juga aku melihat perempuan mungil murung di sana. Kuedarkan pandang ke sekitar, mendapati Antipati tersenyum penuh untuk pertama kalinya. Telak membuatku laksana terombang-ambing di luar angkasa.

Antipati mulai mengambil spidol di rumah kayunya. Dan di masa yang sama aku bisa berkenalan dengan adiknya, Kasih. Kita bercerita walaupun dibatasi jendela. Sungguh, Antipati sukses mengenalkan diriku pada dunianya. Dan sekarang dunianya telah mengenalku sebagai Filantropi yang sedang merasakan buih-buih cinta tumbuh perlahan padanya.

Kala menggambar bumi dengan planet di kaca bening. Aku diam-diam curi pandang ke Antipati.  Diamnya lelaki itu berbanding terbalik dengan dadaku yang berdebar kuat. Aku sampai harus mengusap dadaku akibat kharismanya yang menawan.

"Kak Filantropi terima kasih telah menunjukkan dunia luar melalui jendelaku."

"Sama-sama." Dan terima kasih telah menjadi adik Antipati yang lucu.

Percaya tidak kalau pertemuan pertama pasti ada pertemuan selanjutnya? Dan aku sangat percaya. Entahlah, langit dan matahari pagi mengatakan begitu padaku. Lewat embunnya di dedaunan tanaman hiasku.

Aku akan ke rumah Antipati lagi. Mengenakan dress bunga-bunga dan bandana senada dengan warna dressku, merah hati. Sialnya aku kembali merasakan meteor jatuh kala mataku terpejam. Pertanda apakah ini? Kuharap kebahagiaan ini bertahan lama.

Sesampainya di halaman rumah Antipati. Aku melihatnya dengan kemeja merah. Ya Tuhan tepat sasaran panahnya menuju afeksiku. Debaranku kembali kambuh seperti penyakit kronis. Kutersenyum-senyun sendiri mengamati Antipati yang berjalan ke arahku.

Sekarang jarak kami begitu dekat. Tatapannya begitu teduh. Tangannya yang lembut mengenggam menghangatkan buku-buku tanganku yang kedinginan. Sampai di dekat rumah orang tuanya yang seperti castle, Antipati berjongkok. Aku menertawainya dan malah menarik tanganku dan ikut berjongkok.

"Mau taruhan denganku?" Antipati menantangku, aku mengangguk dengan cepat.

"Apa?"

"Kita hitung daun jeruk ini hingga habis. Jika jumlahnya ganjil, aku akan akan mengatakan isi hatiku. Jika genap, kamu yang harus mengatakan terlebih dahulu."

"Menarik."

Aku dan Antipati mulai menghitung daun jeruk. Rasanya ada pertanyaan berbaris di kepalaku. Siapa yang akan mengatakan isi hatinya terlebih dahulu? Aku terpejam menetralkan debaran ini.

Yang mengatakan jika mata salah satu dari kita tertutup. Bisa melihat orang yang dicintai lebih indah dari aslinya. Dan yang mencurahkan melalui kedua matanya. Bahwa memandangnya seperti memandang malaikat tersenyum ceria. Jika menghirup aromanya, seperti bunga kasturi.

Hitungan terakhir begitu final. Antipati yang akan mengatakan isi hatinya. Tahu-tahu karena kemenanganku itu, aku reflek terlonjak girang. Lelaki itu sampai mengikuti pergerakanku melalui matanya yang lincah.

Tanpa sadar lelaki itu semakin mendekat. Jarak di antara kita pun sudah terkikis. Jantungku memompa darah begitu cepat. Mataku tidak berani lagi berkeliaran, hanya terfokus pada netranya yang menatap dalam. Laksana layangan, dia adalah angin yang membawaku terbang.

"Aku merasa terombang-ambing di luar angkasa kala melihatmu, kuharap hembusan angin bisa mengatakan betapa aku mencintaimu ...."

Bumi seolah berhenti berputar serupa dengan jam yang seolah berhenti pada detik itu. Kakiku lemas dan mataku menatapnya dalam. Inikah cinta? Inikah perasaan yang membuat bahagia dan indah di saat bersamaan?

 

***

 

Aku melenggak ke cakrawala. Mengamati pancaronanya yang menyilaukan mata. Pagi ini aku berjanji dengan Kasih akan mengenalkan warna-warni selain pelangi, krayon, dan pensil warna. Namun bukan hanya itu.

Aku juga akan menyatakan pada Antipati tentang perasaanku. Kemarin bukannya dia telah menyatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Dan tanggal hari ini genap. Giliranku.

Setelah membeli bunga, aku membawakannya beraneka macam bunga dengan warna berbeda. Ya Tuhan, bunga-bunga di tanganku begitu cantik. Jika nanti kuhias jendela Kasih dan menyatakan cinta di bawah pancawarna pelangi, pasti Antipati akan sangat mengenang kisah cinta kita. Kubawa bunga ini ke rumah Antipati.

Aku pun melewati jalan yang sepi. Mendadak sebuah mobil muncul di depanku. Sebuah mobil sedan yang siap menghantamku. Aku terkejut setengah mati.

Badanku terjatuh ke tanah. Sebelum mataku terpejam, kulihat pelangi yang mulai memudar. Demi apa nyeri sekali kepalaku. Seolah dituang timah panas.

"Antipati ...," desisku perlahan mataku terpejam.

Tatkala mataku terbuka kuedarkan ke sekeliling ruangan. Sunyi. Menandakan ruangan rawatku tidak ada seorang pun di sini. Hanya kutemukan daun dengan nomer dua ratus dua puluh empat.

Tanganku gemetar mengambilnya di nakas. Kupeluk begitu erat. Di mana Antipati? Apakah dia meninggalkanku tatkala aku koma di rumah sakit ini? Kala pintu ruang rawat terbuka, ada seorang perempuan paruh baya yang menghampiriku.

Beliau menangis seraya memelukku begitu erat. Namun, keheningan ini lenyap. Perempuan itu menceritakan semuanya. Beliau berkata hal yang membuatku ingin menangis sejadi-jadinya.

Antipati telah tiada. Katanya kala aku kecelakaan, Antipati menangis histeris. Itu salah satu penyebabnya. Ya, antipati menderita adams oliver sindrom.

Sebuah sindrom bagian kulit kepala dan tengkorak di mana setengah tengkorak kepala Antipati menghilang. Kepalanya hanya dilindungi cairan di sekitar otak dan lapisan kulit tipis. Jika menangis saja akan menyebabkan hal yang sangat fatal. Kematian.

Mendengar penuturan itu. Badanku lemas seketika. Netraku dibanjiri air mata. Rasanya sesak. Bagaikan ditancapkan belati putih berkali-kali, baru bangun disuguhi luka yang mendalam.

Detik itu juga kuputuskan bersama ibunya ke makam Antipati. Sesampainya di sana, aku bisa mencium aroma taburan bunga di atas makamnya begitu wangi. Dulu aku akan memberikan bunga sebagai pertanda cinta. Namun, sekarang orang-orang memberikan bunga pertanda Antipati telah tiada.

Sembari duduk di kursi roda, kupandang pusara Antipati. Lelaki yang mengalah dengan adiknya karena sama-sama memiliki sindrom langka. Senyumku begitu rapuh. Belum mengatakan isi hati, akan tetapi hatiku sudah tergores sendiri.

"Ketika cinta adalah sihir, aku butuh kamu sebagai mantra ...."

 

Butiran bening jatuh di pelupuk mataku. Bersamaan dengan itu aku menaruh daun bertuliskan angka dua ratus dua puluh empat ke tempat peristirahatan terakhir Antipati. Setidaknya akan yang Tuhan rencanakan telah pernah terjadi. Aku jatuh cinta.

Untuknya, terima kasih karena akan telah benar-benar terjadi, batinku. Bersama ibu Antipati, kita meninggalkan komplek pemakaman dengan perasaan sendu. Ada kalanya yang ingin menjadi akan. Yang akan menjadi pernah. Kemudian berakhir digenggaman Tuhan. (Pati - Jawa Tengah   @sevinadwialyani_)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bionarasi

 

     "We don't have to wait for the inspiration to come, we create it ourselves." Sevina Dwi Alyani kelahiran 2005. Selama aku mengangkat pena, aku telah menulis quotes, cerpen, dan puisi. Aku terlalu mencintai tulisan-tulisan, bagiku mereka saudara.

 

 

 

1 komentar untuk "Filantropi dan Antipati - Cerpen Oleh: Sevina Dwi Alyani "

ZindagiAice 21 Desember 2022 pukul 21.21 Hapus Komentar
Terima kasih
www.jaringanpenulis.com




Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia
SimpleWordPress