Semesta Berbicara Cerpen Karya - Atika R Diana

 


Terdengar samar-samar suara yang mencoba menyelinap masuk ke telinga, yang kemudian berakhir dengan sebuah kecupan tepat di keningnya. “Marchasella … maafkan bunda.” Ucapan ternikmat dari malaikat tak bersayap, ampuh menghantarkan gadis cantik ini nyaman di alam mimpi.

“Bundaaa, ayah jadi nganterin aku ke sekolah nggak?” Mata Marcha melirik ke arah Tante Lisa. “Iya, nanti Ayah juga sekalian antar pesanan selai ini ke rumah Bu Farida,” jawab Tante Lisa. “Oke, Bun. Itu Ayah udah siap, hehe ….“ Marcha Menunjuk Ayah dan sedikit meringis.

Suasana kota Semarang di pagi hari memang sudah ramai, tapi tidak sepadat Jakarta. Jadi Om Teddy masih dapat melaju santai dengan vespanya.  Setibanya di depan gerbang SMA, Om Teddy mengusap rambut Marcha yang nampak lurus itu.. “Sekolah yang bener ya Nak.”  Hanya dibalas anggukan dan lambaian tangan oleh Marcha. Sesampainya di kelas, tak berselang lama seorang guru melangkah anggun masuk dan memulai mata pelajaran dengan sebuah   perkenalan. “Assalamu’alaikum, Selamat pagi anak-anak….” Suara siswa-siswi kelas 10A kompak menjawab,“wa’alaikumussalam, selamat pagi Bu ….”                                 

“Perkenalkan saya Rita Widia, yang akan menjadi wali kelas 10A. Karena kita belum saling mengenal, maka saya ingin kalian memperkenalkan diri masing-masing di depan,” tegas Bu Rita.

Satu demi satu, murid telah maju ke depan, kini giliran Marchasella. “Hallo teman-teman, namaku Marchasella, asal Semarang. Terlahir dari keluarga sederhana, Ayah bekerja sebagai seorang montir, sementara Bunda memiliki usaha Toko Ananda. Aku dari 2 bersaudara, Tapi adikku … eeehmm, adikku ….” Mata Marcha mulai memerah dan berkaca-kaca, sontak kalimatnya terhenti. Lalu ia berlari meninggalkan ruangan. “Kenapa si cantik itu Bu?” sahut salah seorang siswa dari pojok kelas. Bu Rita dan anak-anak lainnya nampak kebingungan dengan tingkahnya.

 “Biar saya kejar ya, Bu,“ pinta Vanya sambil bergegas pergi tanpa menunggu persetujuan bu Rita. Hampir keseluruhan sekolah telah ia telusuri, akhirnya langkah Vanya terhenti di depan sebuah kursi. Senyumnya terpancar, tanda ia berhasil menemukan teman barunya itu. “Marcha, kenapa kamu nangis?” Menyodorkan tisu. “Jangan membuat bu Rita dan teman-teman yang lain bingung dong … kalau kamu malu di depan mereka. Ya udah coba cerita aja ke aku,” bujuk Vanya. Sekejap saja, kini Marcha memeluk Vanya dan menangis sejadi-jadinya.

Setelah sedikit mereda, baru ia mulai mencurahkan isi hati. “Aku nggak sanggup kalau harus cerita tentang keluarga, karena itu hanya akan membuat pilu dan sakit,” ungkap Marcha dengan tatapan kosong. “Kamu tahu? Aku punya adik, tapi dia udah nggak ada,” rintih Marcha sambil meremas tisu yang digenggamnya. Vanya pun mencoba untuk menenangkan. “Maaf, berarti adikmu meninggal?” Tangisnya kembali pecah, seolah kenangan buruk sedang menghiasi ingatan Marcha. “Entahlah adikku masih hidup atau nggak. Karena waktu itu, Marchello diajak bunda liburan di Makassar. Beberapa hari kemudian, bunda pulang, tapi dia sendirian nggak sama adikku. Begitu kutanya, bunda hanya menangis dan meminta maaf karena telah menyebabkan Marchello hilang, begitu terus hingga sekarang dan usaha ayah mencari adikku pun belum mebuahkan hasil.” Kalimat itu mencabik batin Vanya, tak bisa terpungkiri betapa amat kehilangannya Marcha saat itu.

 “Ehm, makasih ya … aku udah curhat banyak tadi, padahal aku belum tahu nama kamu.” Lirik Marcha sembari melempar senyuman.

Memang Vanya belum sempat memperkenalkan diri, karena buru-buru menyusul Marcha tadi. “Aku Vanya. Oh ya, sepertinya aku nggak asing deh, sama tokomu, soalnya mama sering pesan selai di situ.” Sesekali mereka iringi percakapan dengan sedikit gurauan. Semenjak itu, mereka berdua semakin akrab, bahkan mereka bersahabat.

Senja di sudut Semarang, selalu menyuguhkan keharmonisan. Jingganya memang pandai menggoda tapi tak pernah membuat penikmatnya jera, meski ada sebuah celah kecewa. Lamunan Marcha membuat keheningan rumah semakin terasa. Kehilangan Marchello membuatnya kadang merasa amat tersiksa.

“Anak ayah yang mancung, lagi mikirin apa sih? kok murung?” Bersandarlah Marcha di pundak kekar ayahnya itu. “Aku cuma lagi kangen sama Marchello, Yah.” Lagi-lagi kalimat ini terucap dari bibir mungil anak perempuannya. Segala jurus dilancarkan demi putrinya agar tak sedih kembali. “Mungkin Tuhan menyiapkan takdir lain untuk Marchello, yang jelas itu sudah pasti baik. Kamu kan masih ada ayah sama bunda, senyum dong,” jelas Om Teddy pada putrinya. Meskipun Marcha cukup tenang, tapi rindu akan tetap menjadi bumbu yang berharap jadi temu.

**~~***~~**

Sabtu menjadi akhir perjuangan dari pembelajaran di sekolah selama seminggu, yang artinya mulai malam nanti hingga esok, akan jadi hari libur bagi jiwa-jiwa pelajar. Begitupula dengan Vanya, ia bersemangat mengajak Marcha untuk menginap di rumahnya.

Tetapi, Tante Lisa yang sejak awal tahu, belum bisa mengizinkan Marcha menginap di rumah sahabatnya. Karena pesanan selai yang sangat banyak tentu butuh ulur tangan dari putri kesayangannya itu. Jika Om Teddy selalu memanjakan Marcha, berbeda lagi dengan Tante Lisa yang menginginkan putrinya tumbuh menjadi wanita yang mandiri. Hasil dari kedisiplinan yang sejak dini diterapkan, kini berbuah manis. Sebab selain pandai memasak, Marcha juga sudah lumayan mahir dalam urusan membuat selai buah.

Menunggu pastilah jemu, putaran waktu akhirnya mampu menghantarkan mereka berdua di penghujung kenaikan kelas, tandanya hari libur sudah tampak jelas. Sesuai dengan kesepakatan, dimana mereka akan bergantian mengunjungi rumah satu sama lain masing-masing satu minggu. Yang menjadi giliran pertama adalah rumah Vanya.

Marcha segera mengambil beberapa pakaian ganti untuk persediaan selama ia tinggal di sana. Setelah berpamitan kepada ayah dan bundanya, ia mendengar suara klakson berulang kali dari sebuah mobil hitam yang telah menunggunya di tepi jalan.  “Yuk buruan, Cha!” teriak seorang gadis sambil menurunkan setengah kaca mobilnya dari dalam. “Iya Vanyaku yang manis, baik, tapi pesek. Hehe …” ledek Marcha sambil berjalan menghampiri Vanya.

Setelah sampai di ujung jalan dekat rumah Vanya, Marcha mulai heran. “Sepertinya aku pernah melewati jalan ini bareng Ayah,” batinnya. Dan, ternyata benar, tante Farida pelanggan setia bunda dan juga pemilik rumah termewah di komplek Graha Estetika adalah mama dari Vanya.

Baru saja bagian pintu rumah yang dibuka, sudah mampu membuat Marcha menganga terpana. Belum lagi saat Vanya mengarahkan sahabatnya menuju kamar. “Wow! mewahnya rumahmu.” Marcha berdecak kagum sambil melihat sekelilingnya.

“He..he..he … dari dulu setiap diajak ke rumahku, kamu selalu nolak sih,” ledek Vanya sedikit mengangkat alisnya. “Tahu gini sih nggak bakal nolak aku Van,” sahut Marcha sambil memamerkan giginya yang terbaris rapi.

Mentari membawa rona kebiruan semakin terlihat, ia juga bersanding manis bersama awan putih yang pekat. Suasana sepagi ini  memang di rumah Vanya masih terbilang sepi. Tapi, kebiasaan Marcha yang selalu bangun lebih awal, menjadi pemandangan yang berbeda.  Sebab setiap kali Vanya terbangun, sahabatnya sudah berhasil menyajikan berbagai menu di meja makan. Berbanding kebalik dengan Marcha yang dilatih untuk mandiri, Vanya tumbuh dengan sifat kekanak-kanakan. Jadi segala hal yang ia inginkan pasti harus dituruti. Apalagi soal urusan dapur, dia tidak ikut campur sama sekali. Melihat Marcha yang rajin, tante Farida tertegun. Sebagai seorang wanita karir yang super sibuk, ia merasa terbantu sekali dengan perlakuan sahabat anaknya tersebut.

Seminggu telah berlalu, kini giliran Vanya yang berkunjung ke rumah Marcha. “Assalamu’alaikum, Tante Lisa…,” sapa Vanya kepada Bundanya Marcha.  “Wa’alaikumussalam, eh Vanya, mau nginap di sini ya?” Tante Lisa tersenyum ramah. “Iya, Tante.”  Marcha menyusul dengan langkah tergopoh-gopoh karena membawa beberapa kantong plastik berisi belanjaan, pemberian dari tante Farida. “Bun, mau kemana kok rapi banget? Bawa koper gede lagi,” tanya Marcha penasaran.

“Bunda mau ke rumah nenek, Cha. Katanya beliau sakit, kamu di rumah aja ya sama Ayah,” jelas Bunda. “Yah Bunda, tapi janji jangan lama-lama ya, hati-hati Bunda.” Marcha memeluk dan mencium Tante Lisa.

Putaran detik ke menit begitu cepat hingga tak terasa liburan hanya tinggal tersisa beberapa hari. Anehnya, Vanya menjadi sedikit berubah. Sepertinya ia tidak betah tinggal di rumah Marcha dan sering murung dan melamun.

“Van, kamu kenapa?” tanya Marcha sedikit menyelidik. “Aku nggak apa-apa,” jawab Vanya singkat.

Hingga pada suatu malam, saat itu hujan cukup lebat. Sementara ayah sedang ronda kampung. Tepat pada pukul 02.00 WIB ada tangisan histeris dari seorang wanita yang sepertinya sedang kesakitan dan ketakutan. Sampai akhirnya Marcha terbangun dan melihat sahabatnya sudah tidak ada di kamar. Setelah mendekat ke sumber suara, betapa terkejutnya ia mendapati Vanya yang terbaring lemah di sudut kamar mandi, dengan pakaian yang telah koyak. Serta beberapa bekas luka di lengan dan wajahnya, ditambah lagi potongan-potongan rambut yang berserakan memenuhi lantai.

“Ya Tuhan, Vanya! Apa yang terjadi?” desak Marcha panik. Bukan jawaban yang dilontarkan oleh Vanya melainkan rintihan-rintihan yang membuat keadaan saat itu semakin miris. Tak lama kemudian Vanya pingsan di dalam dekapan Marcha.

Setelah kejadian tersebut, tidak ada kabar lagi dari Vanya bahkan di pesta ulang tahun Marcha yang ke-17 Vanya juga tak datang. Dan sampai waktu masuk sekolah tiba, Marcha tidak pernah melihat sahabatnya kembali. “Apa yang membuatmu seperti ini Vanya, aku takut barangkali itu adalah salahku,” tanya Marcha dalam hati sambil melangkah pulang membawa teka-teki misteri.

2 minggu kemudian, ketika Marcha pulang sekolah. Ia melihat tante Farida berada di teras rumahnya. Sementara ayah tidak ada. Tiba-tiba tante Farida menarik paksa tangan Marcha dengan kasar. “Ayo, ikut saya ke kantor polisi!”  Marcha mengelak kebingungan. “Loh kenapa Tante? Aku salah apa? Ja-ja-jangan!”  Meronta sekalipun pada akhirnya Marcha tetap dibawa ke kantor polisi. Ia dituduh menjadi pelaku penganiayaan atas sahabatnya sendiri. Karena menunggu hasil pemeriksaan yang akurat, ia tetap harus diamankan dahulu di sel tahanan.

“Ya Allah, apa yang terjadi bahkan menyakitinya saja aku tak mungkin.” Marcha hanya mampu meratapi kenyataan hidup yang tak semanis madu.

**~~***~~**

Sudah 5 hari Marcha berstatus sebagai tahanan. Tapi, tiba-tiba ia dikeluarkan, dan melihat ayahnya datang dengan tangan yang diborgol dan salah satu kaki yang pincang. “Ayahmu adalah penjahat! Ia yang telah memperkosa Vanya, kejadian malam itu adalah yang paling biadab, karena dia juga menganiaya Vanya hingga terluka. Dan perlu kamu tahu, Vanya hamil sekarang!” bentak tante Farida melangkah pergi sambil mendorong Marcha hingga jatuh tersungkur. Kalimat itu membuat Marcha seakan ingin mati, batinnya teriris-iris. “Apa itu benar, Ayah? Kenapa? Kenapa harus Vanya, Yah!”

“Hahahaha … iya sayang, Ayah memang pelakunya, kamu tahu kenapa Vanya? Karena dia itu cantik dan baik, tidak seperti bundamu yang berhati busuk!” jawab ayah seraya tertawa.

Teriak Marcha “Aaaarggghhhh … nggak, Yah! Ayah tegaaa!” Sebuah tamparan keras mendarat di pipi sang ayah. “Dasar kamu! anak nggak tahu diri! Berani menampar ayah? Lihat bundamu yang sudah menjual Marchello, adikkmu sendiri. Apa mungkin kau memarahinya? Hah!”

Ternyata rahasia terbesar dalam hidup Marcha terkuak sudah, hatinya semakin terombang-ambing. Sebab dahulu si adik tidaklah hilang melainkan dijual dengan sengaja oleh Tante Lisa. Dan baru ia ketahui pula jika orangtuanya telah bercerai sebulan yang lalu.

Setelah bebas dari tahanan, Marcha berniat untuk mengakhiri hidupnya. Tapi sebelum itu terjadi, kembali ia datangi rumah Vanya untuk menebus kesalahan. Dengan jelas ia melihat sebuah perdebatan. “Gugurin aja, Van! Mama nggak sudi kamu punya anak dari laki-laki keji itu!” Mama Vanya menunjukkan wajah geram hingga tatapannya penuh amarah.

“Nggak ma! Aku takut ma!” jawab Vanya seraya menangis. Entah petunjuk apa yang Marcha dapat. Ia memberanikan diri untuk menyela. “Biarkan saja anak itu di kandungnya, setelah anak itu lahir. Saya yang akan merawat.”

“Apa kamu bilang?! Semudah itu kah saya percaya?” ucap tante Farida dengan nada tinggi. “Sudah Ma! Marcha nggak salah, tapi om Teddy yang salah,” pinta Vanya sambil berlutut di kaki mamanya.

Tuhan Yang Maha Kuasa, mampu melunakkan hati setiap hamba-Nya. 9 Bulan telah berlalu, kini ruang operasi rumah sakit Harapan Indah – Semarang, menjadi saksi kelahiran bayi laki-laki. Yang kemudian diberi nama Rasya El-Fatih, di luar dugaan setelah melihat bayi itu, membuat Marcha mendapatkan semangat hidupnya kembali. “Mulai saat ini juga, tolong bawa anak ini pergi, dan jangan pernah kamu temui aku lagi, Cha!” ucapan Vanya membuat Marcha terbelalak, mana mungkin detik ini juga ia membawa Rasya pergi.

Tetapi takdir memang tergaris seperti ini, keloknya terkadang tak sesuai apa yang dipinta. Marcha berjalan bimbang dengan sejuta pengharapan, di dalam dekapannya kini ada tanggung jawab besar. Pengalaman pahit di usia yang baru menginjak 17 Tahun harus ia telan. Menjadi seorang tahanan di tempo lalu, juga membuat ia dikeluarkan dari sekolah. Pupuslah segala impian, hanya Rasya yang saat ini harus diperjuangkan.

Peluh yang menetes deras, tak mengurangi sebuah kerja keras. Layaknya seorang ibu, ia sangat mencintai Rasya, meski sekarang hingga kedepan, beribu kerumitan siap menghadang. Dari mulai tangisan Rasya di tengah malam, hingga pemenuhan gizinya di setiap hari, sudah ampuh membuat Marcha semakin terlihat malang. Belum lagi, hujatan orang-orang yang menganggap dirinya rendah menjadi musik pengiring di setiap kaki melangkah.

Lain hal dengan Marcha, tante Farida membawa putri kesayangannya pergi, mereka pindah ke luar negeri, untuk mengurangi traumatis yang diderita oleh Vanya. Selain itu, Vanya juga melanjutkan studinya yang telah lama tertunda.

           7 tahun kemudian, Rasya yang semula bayi kini sudah tumbuh menjadi anak yang tampan. Selain itu, ia juga cerdas dan bercita-cita ingin menjadi seorang pianis. Terkadang, Marcha sering dibuat kagum oleh adik tiri yang sekaligus merangkap menjadi anak angkatnya tersebut. Saat ini terlihat lebih mirip Marchello, karena kebetulan hobi mereka pun sama, apalagi ketika jemari tangan Rasya begitu piawai memainkan piano tua di rumahnya, peninggalan adik Marcha dulu. Semakin membuat ibu muda itu merindu.

 “Mami, kenapa liatin aku terus?” Tatap Rasya membulatkan matanya. “Sayang, mami bangga sama kamu. Kamu itu bikin hidup mami lebih berarti,” Mendekap Rasya dalam-dalam penuh kasih sayang.

Karena kegigihan Marcha, usaha yang dirintisnya sudah mulai berkembang dan memiliki beberapa cabang. Sudah cukup untuk menghidupi mereka berdua hingga saat ini. Suatu hari, Rasya merengek meminta agar diizinkan ikut lomba musik, mewakili sekolahnya. Marcha adalah sosok ibu yang penyayang meski Rasya bukan anak kandung, ia tetap saja memperlakukan dan memberikan yang terbaik.

Setelah pementasan berlangsung, Rasya yang meraih juara 1, mendapat sorak sorai yang meriah. Kemudian ia turun dari panggung dengan bangga, namun ada satu hal yang membuatnya sedih. “Mam, aku nggak punya papi ya?” Rasya tertunduk. “Siapa bilang nggak punya? Rasya punya papi kok, cuma udah meninggal sayang,” ucap Marcha meyakinkan meskipun itu hanya sebuah kebohongan.

Tepat di hari Sabtu, setelah Rasya berhasil mendapat kejuaran di bulan lalu, kini ia sering di undang ke berbagai acara sebagai pengiring musik Seperti kali ini, undangan itu berasal dari keluarga konglomerat yang akan membuat pesta pernikahan. Namun sayangnya, Marcha tidak bisa mendampingi Rasya lebih awal karena masih harus mengurus pesanan kue, jadi ia hanya berjanji akan menyusul putra kebanggannya itu setelah pekerjaan usai.

Denting piano menembus menelisik ke penikmat musik. Seisi ruangan diselimuti suka cita termasuk kedua mempelai. Hingga pada lagu ketiga yang diiringi, Rasya memberanikan diri, meminta sedikit kesediaan waktu kepada seluruh tamu untuk mendengarkan lagu persembahan untuk ayahnya yang telah tiada.

Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku

Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi

 Penggalan bait demi bait terasa sekali, hingga tak sedikit yang menangis haru. Tiba-tiba seorang laki-laki, yang merupakan mempelai putra di pernikahan itu, bergegas menghampiri Rasya dan memeluknya. Ia menangis tersedu-sedu sampai pada akhirnya ia berkata “Saya pernah merasakan pilu, tetapi lebih dari ini. Karena dipisahkan dari ayah dan kakak perempuan oleh bunda saya sendiri. Dan dengan tega membiarkan anaknya dirawat oleh keluarga lain. ”Sesekali pria itu menyeka air matanya.

“Mungkin ini pertama kali saya akan berbicara tentang masa lalu di depan umum, untuk ayah dan kak Marchasella di sini saya Marchello Nathan sangat merindukan kalian, semoga kelak kita bertemu dan bersama lagi.” ucap laki-laki tersebut dengan jelas.

“Tunggu! Apa kamu bilang Marchasella?” sela seorang wanita yang baru saja sampai di ruangan itu. “Mami!” panggil Rasya.

 Apakah ayah kamu bernama Teddy?” tanya Marcha yang kemudian diikuti oleh anggukan pria tadi. “Ya Tuhan, ini kakak, Dek. Kakakmu,” jelas Marcha seraya menangis dan memegang wajah pria tadi untuk memastikan.

“Sayang, aku turut bahagia kamu menemukan Marchasella kembali.” sahut mempelai putri yang ternyata adalah Vanya.

“Iya sayang, aku nggak nyangka Tuhan begitu amat baik.” Marchello memeluk Marcha dan Vanya.

Suatu kejadian di luar logika mereka, pengorbanan Marcha selama ini membuahkan titik terang. Tak hanya Rasya yang ia miliki sekarang, namun keinginan bertemu dengan Marchello Nathan juga terwujud. Begitupula dengan Vanya, ia sempat ikhlas mengandung Rasya, justru itu menghantarkan Vanya pada sosok lelaki yang tulus dan berhati baik yang tak lain adalah adik kandung Marcha. Kini mereka memulai semua dari awal. Meskipun begitu, menjaga rahasia tentang siapa orangtua kandung dari Rasya menjadi sebuah pilihan Marcha dan Vanya. Ini semua mereka lakukan agar kedua pria tercintanya, yaitu Marchello Nathan dan Rasya tidak tergores luka.

Sebuah alur kehidupan menjadi kuasa Tuhan, entah itu akan diselingi tawa ataupun lara. Suatu ketidakpastian akan menjadi pasti jika alam menghendaki. Sebuah ketidakmungkinan akan menjadi mungkin, apabila semesta telah berbicara. (Tegal - @atikars12)


 

Posting Komentar untuk "Semesta Berbicara Cerpen Karya - Atika R Diana"

www.jaringanpenulis.com