Pulang untuk Perempuan -- Cerpen - Rini Lestari

Pulang adalah kata kesekian yang akan aku pikirkan, untuk sebuah perayaan besar tahunan yang identik dengan ketupat dan opor ayam. Lebih sering aku memilih menghabiskan libur nasional itu sendiri di rumah kontrakan. Atau sesekali ikut pulang ke kampung teman. Mendatangi tempat baru, mengenal budaya baru, dan bertemu orang-orang baru yang tidak akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan konyol. Hal yang seolah menjadi fardu ain untuk diajukan oleh orang-orang di tempat aku lahir dan dibesarkan. Pertanyaan menyebalkan yang menjadi alasan paling besar aku enggan menghabiskan waktu liburan di sana. Diawali dengan basa-basi yang benar-benar sudah basi, dan ekspresi wajah naif yang benar-benar memuakkan. Tapi kali ini aku harus menyingkirkan semua keengganan itu, dan pulang ke kampung halaman yang sudah lama kulupakan. Nenek ku sedang sakit keras, dan aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Ia adalah seseorang yang berjasa besar dalam hidupku. Yang membuatku tetap bisa menggapai mimpi-mimpiku setelah perpisahan kedua orangtuaku. Setelah kepindahanku ke kota ini, nenek tinggal bersama adik perempuanku yang saat ini sudah memasuki bangku SMA. Mau tidak mau kali ini aku harus pulang.

Tanah basah, 15 menit sudah hujan deras mengguyur kota. Mungkin sebentar lagi akan muncul notif di media sosial, yang berisi berita banjir di beberapa sudut kota. Aku bersandar malas, memandangi kaca jendela kereta api yang buram karena air hujan. Sepanjang jalan pikiranku mengawang. Mencoba mengingat kali terakhir aku menaiki kereta yang sama untuk menuju satu kota. Mungkin 3 atau 4 tahun yang lalu, sudah cukup lama ternyata. Tanganku mulai gatal ingin menyulut sebatang rokok, mulutku pun mulai terasa pekat, dan tidak ada satu permen pun yang tertinggal di dalam saku. Jika tak ingin diturunkan sebelum sampai tujuan, aku harus menahannya sampai 5 jam ke depan.

“Mbak, sudah sampai di mana? Kalau sudah di stasiun bilang ya, biar nanti aku jemput naik motor.”

Suara adikku Ratna nyaring bersahutan dengan suara hujan dan mesin kereta di telepon genggam. Jika ia menjemputku menggunakan motor bebeknya, aku harus menunggu kurang lebih 20 menit di stasiun. Waktu itu bisa aku gunakan untuk menghisap rokok beberapa batang. Aku tidak ingin mendengar gosip-gosip murahan jika ada  tetangga yang melihatku ngudud di depan rumah.

“Eh, itu cucu perempuannya Mbah Sumini ngerokok lo, Bu. Tadi saya lihat di depan rumah.”

“Oalah, anak perempuan kok ngerokok, to. Pasti itu di kota kerjaannya nggak bener.”

“Atau jangan-jangan jadi perempuan panggilan, Bu.”

“Hiiihh, kok nyeremin ya. Padahal cantik, kok kerjanya nggak bener.”

“Iya, katanya sekolah tinggi, bukannya kerja di kantoran malah jadi perempuan nggak bener.”

Kalimat seperti ini pasti akan keluar dari mulut tetangga usil yang lebih suka mengurusi hidup orang ketimbang hidupnya sendiri. Mereka tidak tahu saja betapa asap rokok yang mereka cap sebagai barang haram untuk disentuh oleh mahluk hidup bernama perempuan itu, bisa membantuku merampungkan beberapa judul buku yang bisa mengisi saku dan perutku sebagai seorang editor. Aku memilih untuk menghindarinya, karena memang benar-benar malas.

Adikku tiba di stasiun setelah aku menunggu kurang lebih 30 menit. Selama itu, aku benar-benar memenuhi kerongkongan dan paru-paruku dengan asap rokok, berharap bisa bertahan selama beberapa jam ke depan, setidaknya sampai hari menjadi gelap. Malam sepertinya akan menjadi waktu paling aman untuk aku kebas-kebus di teras rumah, tanpa harus was-was lihat sana-sini untuk memastikan tidak ada tetangga yang lewat. Pukul 9 sudah menjadi jam tidur masal untuk seluruh warga di kampungku. Hidup teratur dengan tidur cepat dan bangun cepat, rasanya masih menjadi moto hidup yang dipegang teguh sampai hari ini. Dan hal ini memberi keuntungan tersendiri untuk aku yang biasa tidur di bawah jam 3 pagi.

“Bagaimana keadaan Mboke, Ndhuk?”

“Masih belum ada perubahan, Mbak. Kemarin itu ngeluh nafasnya sesak, tapi pas Ratna ajak ke puskesmas untuk periksa, Mboke malah ndak mau. Katanya di rumah saja.”

“Sudah manggil mantri?”

“Sudah, mbak. Tapi ya cuma di tensi terus dikasih obat atau disuntik gitu aja. Seperti biasanya. ”

Percakapan ini berlangsung selama perjalanan kami dari stasiun menuju rumah.    

“Assalamualaikum.”

Kubuat suaraku sehalus mungkin. Agar tidak membangunkan nenek ku yang Ratna bilang sedang tidur.

“Waalaikumussalam warah matullah.”

Ada jawaban, sepertinya nenek ku sudah bangun dari tidurnya, atau terbangun karena suraku. Kusambut ia yang sedang terbaring lemah di kamar. Hatiku seketika ngilu, sedih melihat nenek ku yang ringkih terbaring tak berdaya. Tubuhnya terasa hangat. Tubuhnya yang dulu padat berisi, kini tinggallah tulang diselimuti kulit yang juga mulai kendur dan bergelambir. Untuk beberapa saat aku merasa sangat menyesal. Bertahun-tahun sudah aku tidak mengunjunginya. Aku lupa, kalimat baik-baik saja yang selalu ia ucapkan lewat telepon, bisa jadi karena ia tidak ingin aku terlalu mengkhawatirkannya. Aku menyesal karena baru menyadari kebodohan dan keegoisanku.

“Oalah, putuku wedok wes teko. Piye kabarmu, Ndhuk? Kok yo lama sekali kamu baru pulang. Mboke kangen banget sama kamu.”

Tangisku seketika pecah dalam dekapannya. Perempuan hebat yang telah membesarkanku itu, memelukku dengan sangat erat. Makin kurasakan panas di tubuhnya. Oh Tuhan, sungguh berdosa diri ini.

“Saya sehat, Mbok. Alhamdulillah. Mboke bagaimana, kok bisa sakit begini?”

“Oalah, yo piye. Mboke yo memang sudah tua, sudah jadi tempatnya penyakit.”

“Mboke harus sehat, jangan sakit-sakit begini. Kita ke puskesmas ya? Biar mboke bisa dapat perawatan. Biar bisa tahu sakitnya apa.”

Ora usah, mboke di rumah aja. Ndak usah ke puskesmas. Nanti malah ngabis-ngabisin uang.”

“Ndak usah mikirin soal uang, biar Dewi yang urus masalah biaya. Yang penting sekarang mboke sehat, ya?”

Ora usah, Ndhuk. Mbokmu ini cuma kangen sama kamu. Sekarang sudah ketemu, sudah lihat cucu perempuannya mboke. Sudah, habis ini mboke pasti sehat, ndak usah khawatir.”

Aku sangat mengenalnya. Nenek ku adalah perempuan yang cukup keras kepala. Jika ia mengatakan tidak, maka sebanyak apapun cara yang digunakan untuk membujuk, ia akan tetap mengatakan tidak. Namun kali ini aku harus bisa membujuknya. Aku tidak ingin menjadi bodoh dengan begitu saja mengikuti kemauannya, saat aku tahu jika itu adalah sesuatu yang tidak benar.

“Gimana, Mbak. Mboke tetep ndak mau di bawa ke puskesmas.”

“Tenang saja, biar nanti mbak cari cara lain untuk bujuk Mboke.”

Perjalanan panjang yang terasa sangat melelahkan. Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali ke rumah ini. Seperti ada kenangan lama yang memanggil-manggil di setiap sudut ruangan. Ada kerinduan meletup-letup, berdesir dalam dadaku. Tidak ada yang berubah. Rumah ini masih sama seperti saat terakhir kali aku melihatnya. Setelah puas berputar di dalam rumah, aku keluar, duduk di kursi kayu tua di teras depan. Sangat nyaman. Udara terasa sejuk. Alangkah indah jika aku bisa ngudud sebatang.

“Loh, Dewi. Kapan kamu datang? Kok ya baru kelihatan.”

Suara dari seberang jalan terdengar, terasa mengganggu kenyamanan. Arah percakapan yang aku tahu akan kemana jika diteruskan. Karenanya aku hanya membalas dengan senyum dan anggukan kepala. Beruntung ia begitu saja melanjutkan perjalanannya. Aku bisa bernafas lega. Meskipun sekilas kudapati raut mukannya yang menyiratkan ketidak sukaan. Namanya Sri, tetangga jauh yang rumanya berselang 5 rumah dari sebelah kanan rumahku. Usianya 3 tahun lebih tua dariku, dan bisa dikatakan sebagai kembang desa saat usianya masih remaja. Aku tidak pernah akrab dengannya sejak kecil. selain karena kami tidak seusia, juga karena aku tidak pernah suka dengan cara bicaranya yang kasar dan terkesan congkak.

Tidak terasa tiga hari sudah aku di rumah. Nenekku masih tidak mau dibawa ke puskesmas, sementara keadaannya semakin memburuk. Hanya mantri yang aku minta datang setiap hari saja yang memantau kondisinya. Bahkan si mantri sudah berkali-kali menyarankan untuk membawanya ke puskesmas, karena keadaannya semakin payah. Tapi nenek ku tetap berkeras untuk tinggal di rumah, apapun yang aku katakan sama sekali tidak diindahkan olehnya. Aku tidak tahu lagi bagaimana harus membujuknya. Sampai di satu titik, aku merasa nenek ku mafhum jika usianya mungkin tidak lama lagi. Tapi setiap kali pikiran itu muncul, aku berusaha keras menepisnya, takut kalau-kalau pikiran itu benar terjadi. Aku belum bisa membahagiakannya Tuhan, masih banyak yang ingin aku lakukan dengannya, tolong jangan dulu Kau ambil dia dariku. Doa ini kupanjatkan setiap saat, dalam kebisuanku.

“Tadi mbak Eni nanyain kamu, Mbak. Katanya kok ndak pernah kelihatan.”

Ratna adikku, yang baru saja kembali dari warung membeli telur memberikan laporan. Pertanyaan yang selalu aku dengar setiap kali ia kembali setelah keluar membeli sesuatu. Tentu saja mereka tidak pernah bertemu denganku. Aku memang tidak pernah keluar rumah, kecuali saat malam, itupun hanya di teras depan rumah, untuk menghisap sebatang dua batang rokok. Jelas jika mereka tidak pernah melihatku keluyuran di luar. Lagipula apa yang akan mereka lakukan jika bertemu denganku? Paling-paling menghujaniku dengan pertanyaan seputar pekerjaan, pasangan, dan lain-lain, dan lain-lain.

Hari demi hari berlalu dan berganti. Hari ini panas terik, besok hujan gerimis, lusa hujan deras dan angin kencang. Tidak ada yang bisa memprediksi tangan Tuhan. Pun aku, yang sama sekali tidak pernah bisa meramalkan, siapa yang akan datang, dan siapa yang akan pergi dari hidupku. Setelah hampir dua minggu ia berjuang. Nenek ku akhirnya menyelesaikan perjanjiannya dengan Tuhan di dunia. Dan kembali menghadap-Nya, yang telah menjadikannya ada. Tidak dapat kugambarkan bagaiamana perasaanku saat itu. Sungguh, belum pernah aku merasa sekacau itu sebelumnya. Aku bahkan tidak dapat mengeluarkan air mata. Hanya duduk mematung, menatap tubuh yang telah terbujur kaku dengan kain jarik menyelimutinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Adikku Ratna duduk di dekat kepala, dan terus menangis. Aku ingin memeluknya, tapi tubuhku rasanya tidak memiliki tenaga, bahkan untuk sekadar mengatakan, “Sabar, Nduk. Sabar... Mboke sudah tenang sekarang.” Benar-benar tidak ada yang mampu aku lakukan selain duduk diam, seperti orang bodoh yang menunggu kematian.

“Oalah, liatin itu si Dewi. Mboknya meninggal tapi dia sama sekali nggak kelihatan sedih, nangis aja enggak. Padahal mboknya lo yang sudah ngebesarin dan nyekolahin.”

“Yaahh, orang kalau udah kenal kota ya begitu, Bu. Sombong, nggak peduli sama orang lain.”

“Dewi kan memang sebelumnya ndak pernah pulang to, Bu. Dia pulang inikan karena simboknya sakit. Kalau ndak ya ndak pulang. Padahal dia bisa sekolah sampai ke kota yo karena mboknya. Eh, dateng nengok aja endak.”

“Yaah, maklum to, Bu. Lihat to bagaimana kelakuan ibunya, main gila sama laki-laki lain sampai akhirnya diceraikan sama suaminya. Beruntung si Dewi dan adiknya itu dirawat sama mboknya. Kalau ndak ya ndak tahu jadi apa dirawat sama perempuan kayak ibunya itu. Eh, yang dirawat malah ndak tahu diri.”

“Iyo, kasian. Mbok Sumini itu pasti sakit-sakitan karena mikir, cucu perempuannya ndak pernah pulang, ndak pernah nengok dia.”

“Iya, Mbok Sumini juga pasti mikir, takut kalau cucu perempuannya jadi orang ndak bener di kota karena ndak pernah ada kabar.”

“Oalah, kasian yo.”

BRENGSEK!!!

Dalam keadaan seperti ini pun mereka masih bisa menggunjingkanku dan keluargaku. Terbuat dari apa sebenarnya mulut dan otak mereka? Jika memang ingin bergunjing setidaknya lakukanlah dengan suara yang lebih pelan, agar aku tidak perlu mendengarnya. Kubur nenekku bahkan belum digali, tapi mereka sudah membicarakan keluarganya kesana kemari, dengan embel-embel rasa kasihan, padahal sedang mengolok jenazah  yang menurut mereka tidak becus merawat anak perempuannya. Ingin sekali rasanya aku merobek mulut mereka satu persatu. Sungguh. Jika bukan karena Ratna yang melihat gelagatku memegangi tanganku, mungkin bekas tanganku sudah sampai di pipi mereka satu persatu. 

“Sabar mbak, sabar, sabar mbak.”

Suara adikku lirih, diiringi isak tangisnya. Dan aku benar-benar tidak bisa mengeluarkan air mata.

Tiga hari setelah kematian nenekku, aku mengajak Ratna untuk ikut bersamaku ke Jakarta. Aku tidak mungkin membiarkannya tinggal sendiri di rumah ini. Rasanya lebih baik jika aku membawanya, tinggal seadanya di rumah kontrakanku yang ada di sana.

“Besok kita berangkat ke Jakarta ya, Rat. Kamu ikut mbak saja kesana. Nanti sekolah sampai kuliah di sana, sama mbak.”

“Loh, ndak nunggu sampai tujuh harinya mboke to, Mbak?”

“Ndak usah, yang terpenting dan terbaik yang harus kita kasih buat mboke sekarang ini adalah doa, bukan selamatan atau kendurian. Kita bisa berdoa di mana saja, ndak harus duduk di samping makamnya. Lagian mbak ndak akan rela kalau kamu tinggal sama ibu dan laki-laki gendeng itu. Sampai hari ketiga mboke saja dia sama sekali ndak muncul. ”

“Terus urusan pindah sekolahku gimana, Mbak?”

“Sudah kamu tenang saja, biar mbak yang urus semua itu. Sekarang kamu beresin barang-barangmu yang mau dibawa ke Jakarta. Yang penting-penting saja. Baju ndak usah dibawa semua.”

Pagi telah menyambut di ambang jendela, memberikan satu kekuatan untuk melangkah keluar, meninggalkan kepengapan dari ruangan lembab yang dipenuhi kenangan. Telah mantap hatiku untuk benar-benar pergi dari tempat ini dan tidak akan pernah kembali. Tidak ada lagi alasanku untuk pulang. Satupun. Aku tidak memiliki satu alasanpun untuk kembali ke tempat ini.

Ratna mondar-mandir keluar masuk rumah untuk membawa barang yang akan kami bawa, sementara aku merapikan beberapa hal penting, sembari menunggu angkot yang akan membawa kami menuju stasiun kereta. Dalam kesibukan itu, Mbak Mus tetangga samping rumah keluar, entah mengapa mulai membuka percakapan dengan adikku, yang sudah pasti tidak bisa terlalu banyak memberi tanggapan.

“Loh, Rat. Kamu mau kemana? Kok bawa tas-tas besar gitu.”

“Oh, mau ikut Mbak Dewi ke Jakarta, Mbak. Ini lagi beresin barang-barang yang mau dibawa.”

“Ooowwhh, kamu mau ikut mbakmu ke Jakarta to?”

“Iya, Mbak. Mbak Dewi ndak ngizinin untuk tinggal sendiri.”

“Oowh, iya. Memang lebih bagusnya begitu sih. Tapi ya hati-hati selama di sana, jangan sampai kamu ikut-ikutan di pergaulan ndak bener.”

“Oalah, ndak perlu khawatir, Mbak. Kan saya juga di sana sama Mbak Dewi, jadi ada yang jagain.”

“Iyasih, tapi pergaulannya kakakmu kan juga ndak ada yang tahu.”

Aku benar-benar gerah menyaksikan hal itu. Setelah ibu, aku, dan nenekku, kini mereka bahkan mengincar adikku. Tidak akan aku biarkan ia mengusik ketenangan adikku juga.

“Oalah, Mbak Mus. Pagi-pagi kok udah ribut. Coba lihat dulu di dapur, jangan-jangan tempe yang lagi digoreng gosong karena ditinggal ngusilin orang.”

“Aku ndak ngusilin kok, Wi. Aku cuma mau kasih nasehat aja sama adekmu.”

“Maaf lo sebelumnya, Mbak Mus. Tapi saya dan adik saya sepertinya ndak perlu nasehat orang yang kerjanya setiap hari cuma ngomongin orang.”

“Loh, kamu jangan sembarangan ngomong lo, Wi. Siapa yang kerjanya ngomongin orang? jangan kurang ajar kamu. Baru tinggal di kota berapa tahun aja udah sombong.”

Tetangga menyebalkan itu akhirnya melengos masuk dengan wajah di tekuk, dan bibirnya yang komat-kamit ngedumel ngalur ngidul. Aku bernafas lega, karena tak lama setelahnya mobil yang akan mengangkutku dan adikku ke stasiun tiba. Setelah mengunci pintu dan memandangi sejenak rumah nenek, aku dan Ratna naik ke dalam mobil. Kami bersepakat untuk tidak menoleh lagi ke belakang, tanpa perlu memberi isyarat.

“Mbak....” Ratna memanggilku lirih.

“Pokoknya Ratna ndak mau pulang ke kampung ini lagi. Ratna mau ikut mbak Dewi terus aja. Kemanapun Mbak Dewi ajak, aku akan ikut. Asalkan ndak pulang ke kampung ini lagi. Aku capek, Mbak. Setiap hari denger orang-orang kampung bicarakan keluarga kita. Pokoknya aku ndak mau balik lagi.”

Tidak ada satupun kalimat yang keluar dari mulutku untuk menanggapi pernyataannya. Yang kulakukan hanya merangkulnya. Dan hanya itu yang kulakukan sepanjang perjalanan. Tenang saja, Ratna. Tanpa kamu minta. Ikrar itu sudah Mbak lakukan sejak kita melangkahkan kaki keluar dari rumah itu. (Sulawesi Tengah - @rhinny96 )


Posting Komentar untuk "Pulang untuk Perempuan -- Cerpen - Rini Lestari"

www.jaringanpenulis.com