Berkat Keras Kepalanya, Septian Sugara Sukses Raih Gelar S2 di McGill University Kanada

Penulis: Annisa Citra Kasih Ayu Savitri


Indramayu tak hanya dikenal sebagai kota mangga, tapi juga kota budaya dan pariwisata. Ada banyak keunggulan yang dihasilkan dari Indramayu, salah satunya SDM unggul yang akan menjadi penerus masa depan.

Generasi muda berbakat dengan segudang prestasi yang membanggakan ini bernama Septian Sugara.  Di tengah keterbatasan ekonomi, Gara mencoba melawan semua yang mustahil menjadi mungkin untuk diraih. Sadar bahwa apa yang diimpikan tak mudah tercapai, Suga berusaha keras untuk meraih mimpinya. 

Gara sempat tinggal di kosan yang jauh dari kata layak.

"Satu bangunan kosan ada 30 kamar, dan toiletnya cuma ada dua . Jadi ya kalo ada kelas pagi, dari subuh aku udah bangun karena di toilet antri," tutur Garayang terdengar penuh semangat. 

Sambil menyelam minum air, pepatah ini cukup untuk menggambarkan perjalanan hidup seorang Gara.

Usai menempuh pendidikan S1 di Bandung, Gara seringkali mengikuti berbagai kegiatan, seperti Duta Bahasa, Nok Nang Dermayu, dan masih banyak lagi kegiatan yang ia ikuti bahkan sampai keluar pulau. 
Tentunya selain bisa menikmati perjalanan, Gara juga bisa mendapat wawasan dan teman baru.

"Ya aku tuh orangnya gak bisa gitu diem aja. Jadi kaya pengen pergi kemana gitu dengan mengikuti berbagai organisasi atau kegiatan itu, aku bisa berpergian."

Septian Sugara (Gara) semasa kuliah di McGill University

Sepulang dari Kanada
Selepas menyelesaikan studi strata satu, Gara langsung diterima bekerja di sebuah sekolah Internasional. Namun, meski telah mengantongi gelar Sarjana dan memiliki pekerjaan, Gara masih berkeinginan untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Gara lalu mencoba untuk mengikuti serangkaian tes untuk melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu Universitas ternama di Kanada melalui program beasiswa pemerintah Indonesia, LPDP.

Dikutip dari blog pribadinya, Gara memaparkan alasanya mengapa memilih melanjutkan pendidikanya di McGill University Kanada. Gara menyatakan bahwa McGill University memegang peringkat kampus ke-32 di dunia, dan di America Utara khususnya Kanada adalah negara pertama di dunia yang memperkenalkan pentingnya Knowladge Management.

McGill juga merupakan kampus pertama di Kanada yang menawarkan program study information studies, yang sudah berdiri sejak tahun 1897. Selain itu information studies di McGill sudah terakreditasi American Library Association (ALA) sejak 1925.

Saat ditanya tentang bagaimana situasi belajar di Kanada, Gara berujar bahwa Universitas di Kanada khusunya McGill sangat memperhatikan kondisi mental mahasiswanya. 

"Jadi kalo di sini tuh dosen dilarang membebankan mahasiswa dengan tugas-tugas, pihak kampus juga menyediakan psikolog. Jadi mereka bisa berkonsultasi langsung, dan kalau di sana itu kita challenge-nya lebih ke sudut pandang, misal kita ada tugas kelompok dan dosen ngasih kita pilihan topik. Nah, untuk nentuin topiknya ini bisa lama banget karna perbedaan sudut pandang, sehingga kita adu argumen dulu untuk menentukan topik yang pas." Jelasnya.

Gara juga berujar ia tak terlalu mengalami banyak kendala saat beradaptasi di Kanada atau yang biasa di sebut dengan culture shock. Gara hanya perlu sedikit penyesuaian bahasa dan budaya saja. Gara juga tak merasakan kangen pulang kampung karena ia terbiasa merantau saat kuliah atau pun kerja, Selain itu Gara juga selalu menyempatkan waktunya untuk berkomunikasi dengan keluarga di tanah air.

Hal menarik lainnya yang sempat diperbincangkan saat sesi wawancara adalah tentang makanan. Hmm... Meski di Kanada banyak sekali menu makanan yang menggugah selera, ternyata Gara sering merindukan masakan khas Indonesia. Gara yang juga hobi memasak ini, sering membuat masakan Indonesia, mulai dari rendang sapi, nasi kuning, nasi lengko, bala-bala, dan banyak lagi.

Gara juga sering berbagi hasil masakannya pada teman-teman bulenya yang ternyata sangat menyukai makanan khas Indonesia, salah satunya bala-bala atau kue bawang. 

"Ya mereka tuh suka sama bala-bala, bahkan pas aku pulang pada nanyain resepnya." Ujarnya diiringi tawa saat menceritakan pengalamanya tersebut.

Selain menjadi seorang mahasiswa, Gara juga bisa dikatakan sebagai perwakilan anak muda Indonesia di Kanada. OLeh karena itu,Gara selalu menjaga perilaku dan ucapannya agar tidak memberikan kesan negatif tentang anak muda Indonesia.

Gara sendiri sering berpesan pada teman-temanya saat ia mengisi seminar personal branding, yaitu bahwa kita harus berhati-hati pada ucapan.

Melalui artikel ini Gara juga menyampaikan pesan yang penuh makna bagi muda-mudi Indonesia.

"Mulai hari ini, tanamkan dalam dirimu bahwa kamu berharga, kamu cerdas, kamu kuat, kamu tangguh, kamu mampu. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau dan tidak ada yang bisa menghalangimu meraih mimpimu. Kamu mungkin akan berdarah-darah, terjatuh, sakit hati, dan kecewa, tapi percayalah hanya orang-orang keras kepala yang bisa mewujudkan mimpi-mimpinya."

Nah, gimana guys? Ada yang tertarik mengikuti jejak Septian Sugara untuk melanjutkan study ke luar negeri dengan beasiswa LPDP? Atau mungkin ada yang udah merencanakan untuk mendaftarkan diri meraih kesempatan beasiswa dalam dan luar negeri?

Semangat ya jangan mudah menyerah. Inget kata Septian Sugara "Hanya orang-orang keras kepala yang bisa mewujudkan mimpinya."

Yuk, jadi orang keras kepala (teguh dna penuh keyakinan) untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. 

Posting Komentar untuk "Berkat Keras Kepalanya, Septian Sugara Sukses Raih Gelar S2 di McGill University Kanada"

www.jaringanpenulis.com