Sunyi dalam Bising : Cerpen oleh Ulpa Pitriani

Penulis: Ulpa Pitriani - Editor: Endik Koeswoyo
Ilustrasi foto ; Endik Koeswoyo

Sepertinya ia sudah bosan menjelajahi cinta yang muram, alurnya terus-menerus spontan memperlihatkan kebodohan, memangnya ada yang mampu bertahan dengan kisah cinta pelik seperti ini. Terasa jelas tak ada sedikitpun naluri hati menunjukkan ketulusan. Aku Lylana, sudah merasa lelah dengan kebodohan yang lelaki brengsek itu ciptakan. Cinta yang ku ukir secara sempurna, ia hancurkan dengan setitik noda. Dan kau lelaki yang sesungguhnya aku kasihi, yang ku anggap sebagai satu insan pelipur lara, namun pada kenyataannya kau tak jauh berbeda dengan sampah-sampah diluaran sana.

"Beberapa senja lalu kamu bilang, sifatmu yang jelalatan pada setiap wanita itu akan kamu hilangkan, sekarang purnama sudah terpancar, ucapanmu tak bisa ku pegang Vito!" ujarku lantang disebuah restoran tepat pada malam hari.

"Satu hari saja aku berharap laksanakan ucapanmu itu, tak usah berlutut jika aku sudah muak dengan semuanya, silahkan menyingkir dari hadapanku, dan kejar wanita yang membuatmu tergoda di luaran sana!" tak memaksakan untuk pria itu terus bersama dalam dekapanku , meski hati tak mampu mendustai, bahwa cinta ini masih terpaut dalam padanya.

Pria yang sedari awal aku kenali tak pernah bermain api, setelah hubungan berjalan cukup lama akhirnya busuk pada dirinya terkuak. Wanita yang ia tatapi satu persatu tak ada yang tereliminasi, matanya mampu menerka kesempurnaan dari masing-masing wanita yang sudah ia mainkan. Senja tadi, tak berlangsung lama, tatapan yang seakan-akan ingin menerkam mangsanya terpancar kepada seorang wanita dengan body yang sempurna. Gelagat sosok playboy itu tak dapat di sembunyikan. Dihadapan aku pun ia mampu bersikap seperti seorang pemabuk yang sudah tak sadar ada siapa dihadapannya sekarang. Meski aku tahu berkorban untuk pria itu sudah banyak aku berikan, bahkan tak pernah tanggung-tanggung.

Namun timbal balik dari pria bernama Vito Arkana sangat nihil. Kecewa yang mendera, sakit hati dan patah, semua seakan beriringan membuat ku sudah mati rasa.

Si brengsek itu, memusnahkan harga diri ku, seorang Lylana wanita yang tak pernah sedikitpun ayahandanya kecewakan. Lantas pria yang aku banggakan di depan ayahku sendiri, berani-beraninya menindas hati ini. 

Pengecut rasanya jika aku terus larut dalam patah hati yang di torehkan oleh pria berhidung belang itu. Hanya sebuah kenangan yang mampu terpatri rapi dalam hati ini, kenangan yang membuat hatiku enggan menerima semua kenyataan yang terlalu pahit.

Membatasi hati yang sudah tertutup rapi untuk Playboy kelas kakap seperti Vito, kiranya akan ku dapatkan ketenangan. Sepasang headphone dengan suguhan lagu -Jakarta Ramai, namun seramai-ramainya kota Jakarta jiwaku seakan lebih hampa, sunyi dan hening mengelabui pikiran. Ada apa dengan diri ini? seolah sunyi ini bergelut dengan jiwa.

Benar saja titik dimana aku sudah benar-benar trauma perihal masalah hati.

Lamunanku buyar seketika pria ber-skateboard menuju ke arahku dengan lagak nya.

"Ini Jakarta, kota metropolitan, dikit aja Lo ga fokus, nih--" pria ber skateboard itu membuka isi tasku yang didalamnya berisi uang ATM dan kartu kredit.

"Ini incaran penjahat, Lo justru malah mau kasih makan mereka secara instan, salut." lagaknya merasa ia menjadi seorang pahlawan hari ini untuk aku Lylana.

"Lo gak tahu, gue--" tangan yang menurutnya kokoh, tenyata terlalu lembek untuk aku patahkan.

"A-duh, sial!! lo cewe, tapi selera berantem lo udah kaya petinju ya." lirihnya yang sengaja tangannya kulipat kebelakang.

Perbincangan yang menurut ku tak begitu penting untuk diladeni. Lantas ku sumpal telingaku dengan headphone, supaya ocehan pria berlaga pahlawan itu tak ku dengar dengan jelas.

Aku Lylana, gadis yang mempunyai karisma, tidak angkuh, hanya watak yang cuek, tak terlalu suka yang ribet. Sudah tak ada lagi yang namanya lelaki dipikiran ku sekarang, aku lebih memfokuskan diri untuk mengejar apa yang menjadi tujuanku, rasanya itu lebih baik, dibandingkan membuang-buang waktu dengan perkencanan, atau perbucinan.

"Satu hal yang perlu diketahui, sebuah takdir itu menetapkan sebuah kenyataan bukan keinginan, tak ada alasan untukku sekarang menyalahi sebuah takdir." bait yang ku tulis pada satu lembar kertas lipat.

Meja kasir tempat seorang Lylana bekerja di salah satu cafe di Jakarta penuh dengan tempelan bait-bait sajak, menurutku menulis adalah satu hal melepaskan imajinasi, atau halusinasi, juga meluruhkan rasa yang tertimbun dalam dada, kata yang tak mampu ku Siratkan, kini tercurah dalam lembaran kertas.

"Tulisan mampu membangun sebuah sejarah dan dengan membaca mampu menghidupkan sebuah sejarah, kalau dengan membaca satu surat ini bisa menghidupkan cinta kamu gak?" pria itu tengah membaca salah satu suratku yang tengah menempel dekat meja kasir.

Pertemuan yang tak diharapkan dengan anak skateboard yang sedari kemarin mengganggu ketenangannya.

Mataku memicing kearahnya, namun sama hal dia yang terkejut melihatku dari balik meja kasir.

"Lo?!" bola mataku dan matanya saling tertuju, sahutanpun di detik yang sama terlontarkan.

Pria yang membuatku risih, sama halnya dengan pria-pria yang lain, gombalan adalah jurus paling jitu untuk menarik targetnya, untung saja diriku sudah berpengalaman, jadi untuk ucapan-ucapan sampai yang pria manapun berikan, sedikitpun aku tak akan terbuai.

"Oh jadi Lo kerja disini ya? Dari kapan? Kok gue baru liat perawakan Lo?" beberapa kalimat yang menurutku tak penting ia lontarkan, namun aku tak terlalu menganggapi pertanyaannya.

"Kenalin gue Raka Angga Kusuma." sudut senyumpun mampu ia ukir, sedikit manis, tapi tentu saja itu bukan senyuman ketulusan, melainkan taktiknya untuk membuat seorang wanita tergoda.

Style anak skateboard, celana agak longgar, dengan perpaduan T-shirt berwarna hitam, tatapannya tajam, alisnya tebal. Tipe-tipe playboy kelas satu nih, udah aku tebak dari gayanya, juga tingkahnya.

Tidak, tidak lagi, hati yang sudah berjanji untuk tidak akan menerima lelaki manapun, terutama dia yang sekarang tengah berada di hadapanku. Jual mahal adalah caraku melindungi diri dari para buaya jantan, dan ku pastikan pria itu tidak sedang bermain-main pada orang yang salah.

Dihari ini nampaknya suasana sangat ramai, namun tidak dengan pikiran ku, masih sunyi seperti hari-hari, kemarin, aku harap ini bukan suatu rasa penyesalan terhadap laki-laki itu, tak bisa menebak dengan jelas rasa yang tengah menepi pada hati dan pikiran, kesunyian kian datang di tengah keramaian. Yang aku takutkan, aku tidak bisa menerima hati yang ingin berlabuh, benar rasanya, satu kejadian seakan mendoktrin hatiku untuk lenyap pada sosok pria.

Hari-hari yang semula ceria kini berakhir tak bahagia.

Namun di hari selanjutnya pria itu datang lagi, dengan memberi sebuah harapan nyata, dia Raka.

"Satu buket bunga, untuk wanita cuek yang tengah bekerja, terima ya, bunga ini mampu menafsirkan keindahan diri Lo, cantik, berseri, indah dipandang, terlihat sempurna." beberapa kalimat yang dilontarkan membuat hatiku merasa senang, pasalnya ucapan lelaki itu mampu meluluhkan apalagi dengan parasnya yang tampan.

Mungkinkah aku akan mengingkari janji yang sudah ku ucapkan, tetapi bagaimanapun hati harus bisa menahan. Perihal rasa akan sulit sembuh jika patah untuk yang kesekian.

"Lo gak perlu beli yang ginian buat gue, gue gak butuh!" penolakan secara keras aku tampakkan, perihal luluh atau tidaknya rasa, kembali lagi pada takdir yang sudah di atur sedemikian rupa oleh tuhan. Namun untuk saat ini aku masih tetap pada prinsip yang sama.

"Lo mandang gue kaya apapun, yang penting gue ga seburuk apa yang ada dipikiran Lo, gue suka sama Lo, seenggaknya hargai pemberian orang, jangan Lo buang seenak jidat. Gue tau, dari rasa sakit hati yang lagi Lo alami , gak akan pernah sembuh kalau Lo gak mau buka hati buat insan yang baru, jangan terlalu di sesali, semuanya sudah ada jalan masing-masing, dan gak usah Lo larut dalam kekecewaan, hal yang berlebihan gak akan pernah baik."tegas pria itu dengan raut muka yang serius. Aku heran kenapa dia bisa nebak kalau ada masalah hati yang tengah aku geluti. Aku tak bisa berucap menyaksikan perkataannya, namun dari selintas percakapannya, mungkin ada benarnya juga.

Namun aku keliru perihal rasa yang ia tampakkan cukup singkat , tak sempat tahu tentang jalaninan kisah hidupku, namun ia berkata.

"Cinta tak tahu kemana ia akan berlabuh, dan kepada siapa hati ini akan tersemat, satu hal yang terpenting, ketulusan." pria itu menyakinkan.

"Setidaknya Lo tahu perasaan gue sekarang, meski singkat waktu untuk gue ungkapin perasaan ini, tapi gue harap semoga lo bisa ngehargain usaha gue buat bisa dapetin hati Lo." lanjut pria itu bercakap, aku sedikit luluh, mungkinkah dia benar-benar tulus, cukup aneh jika bermain dengan logika, perihal rasa yang tumbuh mengapa bisa secepatnya itu?. Atau mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.

Hari kesekian pertemuan, Aku Lylana, mencoba sedikit welcome pada Raka. Setiap hari dalam seminggu terakhir ini, ia tak pernah absen untuk mengunjungi tempat kerjaku. Rasanya kenyamanan selintas tumbuh, hasratku kembali hidup untuk menjalin cinta yang baru. Perhatiannya tak pernah aku dapatkan dari laki-laki manapun, bahkan untuk pertama kalinya saja ia dibuat se spesial ini oleh laki-laki.

"Nih aku bawain sandwich, bosen gak aku bawain ini Mulu?" tanya Raka sembari menggoda ku dengan senyuman khasnya.

"Engga sih, aku suka kok." percakapan ku dengannya mulai hangat, perhatiannya mampu membuat hatiku luluh, apa aku salah untuk membuka hati pada orang yang baru? , tapi sampai kapan juga aku akan menutup perasaan pada cinta yang ingin datang dan bersemayam. Hati harus coba menerima tuan lagi, semoga ia dapat merapikan, hati yang hancur berserak.

Waktu yang mampu menjawab perasaan pria itu sekarang, aku dan hatiku sudah yakin untuk menerima segala hal baik yang sudah ia penuhi selama ini, dan segala rasa yang sudah dengan sabar ia jaga , mampu kuterima dengan sepenuh hati, Raka Angga Kusuma, sekarang adalah lelakiku.

Tepat tiga bulan ini aku menerima pengakuan rasa yang dulu sempat ia utarakan. Hatiku kembali terang, tak ada sunyi yang menyelinap, tak ada hampa yang menyeruak, kini aku sudah memiliki lembaran baru dengan pria ini. Akan aku jaga, seperti ia juga menjaga hatiku, dan akan aku kasihi seperti ia mengasihi diriku.

"Dan aku sangat percaya padamu Tuhan, kau tidak akan menyita kebahagiaan hatiku untuk kedua kalinya." berdua dengan pria itu seakan menjadi dua kehidupan yang abadi, hari demi hari aku dan dia lewati dengan penuh canda tawa. Hingga pada akhirnya realita berkata lain.

Ekspetasiku mungkin terlalu dalam, ucapan Raka bersama lima orang temannya itu membuatku sontak tak bisa berkata-kata, aku menahan deraian air yang keluar dari kelopak mata, nyatanya akhir bahagia itu tak ada, ini adalah sebuah awal dimana aku harus susah payah menyembuhkan luka pada hati lagi.

Aku membekam mulutku dengan tangan supaya tak ada suara tangis yang terdengar, ditempat tongkrongan Raka sekarang semua kebohongan terjawab.

"Wih!! Keren bro selamat, Lo ternyata bisa dapetin taruhan ini juga ya, kalau gue sih ogah ngedeketin cewe jutek kaya dia." tawa jahat yang mereka lontarkan seakan menusuk hatiku beribu-ribu kali sakit yang tak bisa ku siratkan.

Ternyata semua perkataan manisnya dulu bohong, ternyata semua itu hanya tipu daya dan omong kosong. Deraian tangis semakin menghiasi hari-hari, aku salah karena tak bisa menahan diri atas semuanya, se brengsek ini laki-laki yang aku temui. Semenjak saat aku mengetahui fakta bahwa Raka hanya menjadikan diriku taruhan saja, ia tak pernah datang lagi kehadapanku, hilang bagai ditelan bumi, menelantarkan hati yang sudah terlecehkan, tak ada sedikit rasa sesal atau kasihan yang pria itu rasakan.

Nyatanya sunyi semakin menggeluti hati, aku merasakan lagi sunyi ditengah kebisingan. (@ulpapitriani_ Ciamis, Jawa Barat)

Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "Sunyi dalam Bising : Cerpen oleh Ulpa Pitriani"

www.jaringanpenulis.com