Seorang Perempuan Yang (Tak) Ingin Mati Muda

Penulis: Annisa Setya 


Siang terasa sangat terik. Perempuan muda itu menghembuskan nafasnya keras. Ia menoleh ke arah bus yang ia harapkan muncul namun belum juga terlihat hingga kini. Halte yang biasanya ramai hari ini sedikit sepi, orang-orang terlalu enggan keluar saat matahari tak bersahabat seperti siang ini. Dan ia terpaksa duduk di sini, pergantian shift kerja dan sekarang waktunya untuk pulang. Sebenarnya ia tidak terlalu terburu-buru karena tidak ada yang menunggunya di kontrakan yang ia tempati, ia tinggal sebatang kara di sini. Ia meninggalkan rumahnya setelah lulus SMA dan bekerja di sini. Ia belum pernah kembali lagi, tidak ada seorangpun yang mencari dan menanyakan kabarnya.

Kadang ia percaya ia hanyalah seorang anak yang tidak di inginkan dan keluarganya senang ia pergi. Ia merantau ke ibukota dan bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan yang selalu ramai. Pekerjaan itu membuatnya selalu berdiri dan kadang ia merasa sangat lelah, belum lagi teriakan dan makian sebagian pelanggan saat pesanan mereka terlalu lama datang. Ia ingin berhenti dan bekerja di tempat lain, puluhan lamaran kerja ia kirimkan namun belum ada panggilan hingga sekarang.

Ia ingin memastikan sekali lagi dan merogoh tas kecilnya, mengambil handphone dan membuka email, namun tak ada satupun email masuk. Jarinya berganti membuka instagram dan di feed pertamanya tampaklah seorang artis muda yang ia ikuti tengah merayakan ulang tahunnya di sebuah hotel mewah dengan kue bertabur emas di kelilingi teman dan keluarganya.

Ia menelan ludah, mereka di lahirkan di waktu yang sama tapi nasib sangat berbeda. Ya, hari ini ia juga berulang tahun, namun tidak seorangpun yang mengingatnya. Ia tidak punya banyak teman di sini. Ia menggeleng dan menutup matanya. Ia beralih melihat insta story dan saat itulah lukanya terbuka kembali. Lelaki yang ia pernah cintai sepenuh hati itu tengah merangkul mesra seorang wanita. Lelaki yang mengkhianatinya setelah ia berikan segalanya dengan harapan ia tidak akan pernah meninggalkanya.

Sekuat tenaga ia menahan air matanya yang hendak tumpah, tangannya gemetar dan berkeringat, hampir saja handphone yang ia pegang terjatuh. Segera ia menutup aplikasi itu dan menundukkan kepalanya, meredakan debar kuat di dadanya. Dunia seperti berputar dan ia menghela nafas panjang.

Tiba-tiba handphone di tangannya bergetar, sebuah notifikasi dari facebook, salah seorang temannya memposting sesuatu di group yang membuatnya segera membuka notifikasi itu. Sebuah berita duka, seorang gadis muda yang cantik dan selalu terlihat sempurna di temukan mati bunuh diri menenggak potassium sianida. Tubuhnya menghangat, pikiranya berkecamuk. Gadis secantik itu bunuh diri, terus terngiang di kepalanya. Ia gemetar, teringat betapa hancur hidupnya. Dengan cepat ia membuka sebuah aplikasi belanja online dan mengetikkan keyword yang tadi ia baca di kolom komentar, ia merasa sangat antusias melihat barang yang ia cari ada di situ. Ya, ia akan melakukan hal yang sama dengan gadis itu, tidak akan seorangpun yang akan kehilangan dan beban hidupnya hilang. Ia hendak menekan tombol ‘beli’ sesaat sebelum tiba-tiba ia mendengar sebuah teriakan dari belakangnya.

Teriakan di iringi rintihan kesakitan seorang anak kecil. Ia berbalik dan melihat dari sela-sela pembatas halte, dan pemandangan yang di lihatnya membuatnya membelalakkan matanya. Seorang anak perempuan kecil tampak di pukul dan di cubit oleh seorang perempuan setengah baya. Anak kecil itu mengaduh menahan sakit dan memohon ampun namun perempuan itu seperti kesetanan memukulinya. “Hei!!!” Spontan ia berteriak dan mengarahkan kamera handphone nya ke arah mereka berdua. Perempuan itu bersungut-sungut dan beranjak pergi saat ia berlari kecil ke arah mereka.

“Ya Tuhan... Sakitkah? Kenapa bisa sampai seperti ini?!” Dengan cepat ia meraih tangan anak perempuan kecil itu dan mengusapnya. Tangan anak itu memerah bekas cubitan dengan kuku yang terlihat jelas. Lengannya memar, dan sebagian kebiruan.

“Ga pa-pa Kak, aku agak kurang enak badan jadi hasil ngamen aku sedikit hari ini, Ibu marah-marah katanya ga cukup buat beli susu adik” Anak perempuan itu menunduk menahan sakit. Ia terbatuk sambil memegangi dadanya.

“Tunggu sebentar” Perempuan itu berjalan cepat menghampiri lelaki tua pedagang asongan, mengambil sebotol air mineral dan mengangsurkannya ke tangan gadis kecil di depannya. Gadis itu meminumnya hingga setengah, ia kehausan.

“Duduklah” Perempuan muda itu menarik bangku plastik kecil milik lelaki tua pedagang asongan dan menyuruh gadis kecil itu duduk.

“Tiap hari seperti itu, Neng. Ibunya galak. Kalau hasil ngamennya dikit dia di pukul” Lelaki tua pedagang asongan menatap gadis kecil di sebelahnya.

“Kenapa di biarin, Pak?”

“Apa yang bisa Bapak lakuin, Neng. Bapak di sini cuman cari rejeki ga mau ribut” Lelaki tua itu mengambil sesuatu dari kantong bajunya dan menelannya dengan sedikit air. Perempuan itu memperhatikan sesuatu yang telan tadi sebuah pil obat sakit maag. Saat itu juga ia mengerti lelaki tua itu menahan sakit perut karena mungkin ia belum makan seharian.

“Bapak, tolong belikan dua bungkus nasi dan lauk ya di warung depan sana, satu buat Bapak satu buat....”

“Wiwit...” Gadis kecil yang di tatapnya menjawab pelan.

“Iya buat Wiwit, ini Pak uangnya” Perempuan itu membuka dompetnya dan mengangsurkan selembar lima puluhan.

“Terima kasih Neng, Bapak memang belum sempet makan sdari pagi, belum ada yang laku daganganya” Dengan mata berbinar lelaki tua itu menerima uang yang ia angsurkan dan segera beranjak.

“Kamu makan ya habis ini. Kamu ngamen tiap hari? Ngga sekolah? Umur berapa?” Perempuan itu mengambil tisu dan menuangkan sedikit minyak kayu putih yang selalu tersedia di tasnya ke atas tisu lalu mengoleskan pelan ke tangan gadis kecil di sampingnya yang ternyata bernama Wiwit

“Iya Kak, 7 tahun, dulu waktu Bapak masih ada aku sempet sekolah, namun sejak Bapak meninggal karena TBC ngga ada biaya lagi dan ibu suruh aku ngamen buat makan” Wiwit meringis menahan perih saat perempuan itu menempelkan tisu ke memar di tangannya.

“Ibu ngga kerja?”

“Ngga Kak, tapi kalo malem-malem kadang Ibu dandan tebel trus baunya wangi lalu keluar, pulang-pulang pagi dan kami biasanya makan enak setelahnya. Kalo ibu ngga keluar ngga ada duit, aku yang ngamen cari duit” Mata bening di depannya menatapnya lugu.

“Ya Tuhan... Kakak post ya video yang Kakak simpen tadi biar semua tau dan ibu kamu ngga mukulin kamu lagi. Ya?” Perempuan itu mengeluarkan handphonenya.

“Jangan, Kak!” Wiwit menahan tangan perempuan muda itu cepat.

“Kamu takut? Nanti bakal ada yang membina ibu kamu, dan juga kamu bakal ada yang ngerawat”

“Ngga Kak, jangan. Aku sayang ibu, aku ngga mau kehilangan ibu, cuman ibu yang aku punya. Ibu baik,kak. Cuman kadang kasar karena aku salah aku ga bisa ngasi uang yang banyak. Aku ngga pa-pa, Kak. Aku ngamen lagi habis ini biar kita semua bisa makan dan ibu senang” Wiwit masih memegang tangan perempuan itu dan menatap dengan mata polosnya.

Perempuan itu memalingkan wajahnya. Ia merasa malu. Gadis sekecil itu memiliki semangat yang luar biasa dan tetap menyayangi ibunya bahkan dengan perlakuan kasar sang ibu. Mata perempuan itu berkaca, hatinya menghangat.

“Ini nasinya neng” Lelaki tua pedagang asongan datang dan menyodorkan sebungkus nasi ke tangan Wiwit. Wiwit menatapnya seperti meminta ijinya dan setelah ia mengangguk Wiwit membuka bungkus nasi itu dan memakanya dengan lahap. Juga lelaki tua di sampingnya.

“Enak sekali! Makasih ya Kak, Kakak baik banget” Sambil menyuapkan nasi ke mulutnya, gadis kecil itu menoleh dan matanya berbinar menatap perempuan muda di sampingnya penuh terima kasih.

“Iya neng, perut Bapak enakan kalo keisi nasi” Lelaki itu menimpali.

Ya Tuhan... sungguh kebahagiaan yang sangat sederhana. Perempuan muda itu mengangguk sambil menunduk, menyembunyikan air matanya yang hendak jatuh sekali lagi, namun kali ini ia merasa bahagia dan terharu, ternyata ia bisa menghadirkan sedikit kebahagiaan buat mereka. Ia membuka aplikasi belanja online nya dengan cepat, menghapus barang yang hendak ia pesan tadi. Potassium sianida. Ia sekarang menyadari bahwa tidak ada yang lahir sia-sia di dunia ini.

Semesta telah merancang takdirnya. Ia hanya perlu berusaha lebih keras lagi dan membantu menghadirkan senyum untuk siapapun yang ada di jalannya.

“Kak, aku ngamen lagi ya, udah kuat lagi nih sekarang” Setelah menenggak sisa air mineral di botolnya, gadis kecil itu berdiri dan tersenyum memamerkan gigi kuningnya.

“Oke, besok ketemu lagi di sini ya, Kakak tunggu, ada hadiah yang pengen Kakak kasih ke kamu” Perempuan itu berdiri dan mengusap lengan gadis kecil itu hangat.

“Asyikkkk! Oke! Makasih Kak!” Gadis itu tertawa lebar sambil berlari menjauh. Perempuan itu tersenyum, hatinya terasa lapang sekarang. Ia beranjak pergi.

“Neng, kembalianya nasi tadi...” Baru saja ia beranjak lelaki tua itu memanggilnya sambil mengangsurkan beberapa lembar ribuan.

“Simpan saja buat Bapak... “ Perempuan itu terus melangkahkan kakinya dan menjawab tanpa menoleh. Terik matahari terasa hangat jatuh di kulitnya, ia menengadah dan langit terlihat sangat biru hari ini. Lalu ia tersenyum. (AS)

Dita Faisal
Dita Faisal Saya mengawali karir sebagai jurnalis sejak 2008 di TVRI Nasional. Setahun kemudian saya bergabung menjadi jurnalis dan presenter berita di tvOne hingga 2021. Setelah 13 tahun menjadi jurnalis, pada pertengahan 2021 saya dan suami memutuskan pindah ke Blitar dan Wonosalam untuk lebih dekat dengan alam. Kami ingin menikmati waktu kami dengan berbagi dan bertani. It's time for "back to nature back to village."

Posting Komentar untuk "Seorang Perempuan Yang (Tak) Ingin Mati Muda"

www.jaringanpenulis.com