Rasa yang Tuhan Tetapkan - Cerpen oleh Andina Yuli

Penulis :  Andina Yuli - Editor: Endik Koeswoyo

Foto oleh : Bagus Darianto


Pagi datang dengan cerahnya, sepertinya matahari juga tau bagaimana perasaan Renjana. Gadis cantik, berkulit kuning langsat dan berambut panjang sedikit kemerahan. Ia duduk di teras rumah dengan secangkir kopi moccacino hangat yang ditaruh diatas meja bulat. Kakinya menyilang di atas kursi rotan dengan bantalan empuk berwarna hijau. Senada dengan warna meja dan ayunan bambu di ujung taman rumahnya.

"Hai," sapa Renjana, setelah melihat Ghazy lewat di depan rumah.

"Eh, ada yang cantik lagi nongkrong," ucap Ghazy memberhentikan langkahnya. Laki-laki dengan hoodie dan handsfree terpasang di telinga.

"Rajin bener pagi-pagi Jogging," ucap Renjana berjalan menghampiri laki-laki itu. Wajahnya memerah karena kalori yang ia bakar sedari pagi.

"Dari mata itu, kulihat cahaya bersinar terpancar. Sepertinya, hari ini kamu lagi senang?" Goda Ghazy sembari memperhatikan netra mata dan bibir yang selalu melengkung sempurna menghiasi wajah Renjana.

"Iya, aku lihat kamu soalnya." Senyum nya terpampang jelas di wajah cantiknya, membuat pipi Ghazy memerah malu.

"Bisa aja gombalnya. Yaudah aku lanjut ya," ujar Ghazy memasang ancang-ancang untuk berlari.

Sementara itu, Renjana hanya memandangi punggung laki-laki yang baru saja menjauh dari pagar rumahnya. Pria dengan rambut cepak, berbadan tinggi dan berkulit putih itu sudah lama mengisi hati Renjana. Tapi, lagi-lagi ia malu untuk mengakuinya. Hanya karena Ghazy menganggap gadis itu cuma sebatas teman, tapi kita tau dari kisah pria dan wanita jika berteman akan memendam rasa yang menyesakkan.

Renjana dan Ghazy adalah murid satu sekolah bedanya. Renjana adalah siswi IPS sedangkan Ghazy adalah siswa IPA. Iya, dia adalah salah satu siswa berprestasi di jurusannya. Meskipun wajahnya nggak cupu seperti pria genius lainnya. Tetapi banyak kaum hawa yang mengagumi sosoknya. Termasuk Renjana, gadis beruntung yang bisa menjadi teman dekatnya. 

                                                  °°°°°

"Bun, bunda…." Teriak Renjana berkeliling mencari sosok yang ingin ia temui. 

"Iya nak, Ibu di dapur," jawab perempuan lembut dari balik kompor yang menyala.

"Bunda, Renjana mau latihan biola dulu." Pamit gadis itu dengan tas biola yang ia bawa di punggungnya.

"Hati-hati ya." Senyumnya, setelah mencium punggung tangan Ibu. Dia pun pergi meninggalkannya di dapur, kembali mengerjakan hal yang sempat terhenti.

Dalam perjalanan. Renjana mengendarai sepeda dengan keranjang di depannya. Jarak antar rumah dan tempat les memang tak begitu jauh. Mungkin hanya berjarak 1.5km saja.

Dipersimpangan jalan, ia bertemu dengan Ardan dan Ghazy. Dua laki-laki dengan takdir berbeda, bagaimana tidak. Ketika Renjana jatuh hati dengan Ghazy, laki-laki populer di kalangan siswa sekolahnya. Sedangkan, Ardan. Ia laki-laki yang sudah berkali-kali menyatakan perasaannya kepada gadis cantik itu. Namun, tahu sendiri jawabannya kan? Iya, pasti ditolak karena satu alasan. Ghazy, pria yang tak bisa ia miliki.

"Hai," sapa Ardan, 

"Hai, Ghazy." Lagi-lagi sapaan nya tak di hiraukan. Sedangkan, Ghazy hanya tersenyum dingin ke arah Renjana.

"Iye, kacang.. cang.. kacang.," ujar Ardan kesal.

"Hai, laki-laki yang selalu ku tolak." Sarkas Renjana dengan wajah menggoda.

"Hai, perempuan yang menyia nyiakan laki-laki tulus sepertiku." Sindir Ardan terkekeh.

"Udah, pasangan yang tak ditakdirkan bersama! Mau jalan nggak?" Gerutu Ghazy dengan manik mata menatap jarum jam ditangannya.

"Hahahaa l," tawanya menggema, Renjana mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Tanpa tau rem belakangnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

"Gila lu, pelan-pelan. Nabrak ntar!" Seru Ardan terlihat khawatir dengan tingkah Renjana yang seperti kekanak-kanakan itu.

Dan "Brukk" sepedah Renjana menabrak Bak sampah komplek yang terletak di ujung. Dengan suara rintihan kesakitan dari bibir Renjana yang sudah tergeletak di aspal dengan lutut yang berdarah.

"Kan—kan, gue bilang apa Bocah!" Seru Ardan kesal Karena kata-katanya tak Renjana dengar.

"Gue jatuh, tolongin kek, ini malah ngomel!" Tatap Renjana dengan ujung mata menyipit dan bibir meringis kesakitan.

"Sini." Uluran tangan Ghazy menyentuh jemari Renjana. Wajah datar dan dinginnya tetap sama. Meskipun Renjana adalah satu-satunya teman perempuannya. Ia, tak sedikitpun peduli dengan gadis cantik itu. 

"Maacih Ghazy gantengs," ujar Renjana dengan suara manjanya. Sedangkan Ardan hanya berdiri dengan wajah kesal yang ia sembunyikan itu. 

Hari itu, ke 3 makhluk bumi yang Tuhan takdirkan untuk tidak datang ke tempat les, karena harus membopong gadis yang terluka itu pulang kerumahnya. Renjana berjalan dengan sanggahan kedua laki-laki yang sangat perhatiaan kepada nya. Ardan dengan kebaikan hatinya, meskipun di tolak berkali-kali ia tak pernah pergi dari sisi Renjana. Begitu juga dengan Ghazy, pria yang Renjana pilih untuk mengisi hatinya. Namun, rasa itu belum terbuka untuknya. Ghazy tetap dingin terhadap semua perempuan, termasuk Renjana sekalipun.

Bahkan, Tuhan juga menjadikan adil untuk pertemanan mereka. Tanpa ada rasa yang memenuhi hasratnya, berdamai dengan apa yang Tuhan sudah tetapkan. Begitupun kisah Renjana, Ghazy dan Ardan. 3 manusia Bumi yang Tuhan takdirkan untuk tidak menjalin ikatan apapun selain pertemanan. Adil bukan? (Subang, Jawa Barat - @andinayuli)

Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk " Rasa yang Tuhan Tetapkan - Cerpen oleh Andina Yuli"

www.jaringanpenulis.com