TASBIH CINTA - Cerpen oleh: Siti Nur Holipah

Penulis : Siti Nur Holipah - Editor : Endik Koeswoyo

Setiap malam Abidzar Al Ghazali, tak pernah sekalipun meninggalkan sholat tahajudnya. Sebetulnya Abidzar malu kepada Allah, karena dalam butiran tasbih, Abidzar tidak pernah absen menyebutkan Anisa Azzahro, anak tunggal pak Kiyai pemilik pesantren Al Hikmah. 

Walaupun Abidzar sadar ia tak pantas mendapatkan Anisa, ia hanya salah satu santri biasa anak dari tukang bubur keliling, Tetapi Abidzar percaya dengan yang Namanya jodoh, datangnya dari hati.

Setelah menyelesaikan Sholat malamnya, Abidzar Kembali tertidur. Ia memejamkan matanya, Abidzar melantukan beberapa ayat suci Alquran, karena bayangan kecantikan dan kebaikan hati Anisa terus menghantui pikirannya, sehingga Abidzar sulit untuk tertidur. Terkadang Abidzar juga bingung, membedakan mana rasa cinta dan hanya sekedar keinginan untuk memiliki.

Kebiasaan di pesantren Al Hikmah setelah Sholat subuh, diadakannya pengajian yang harus diikuti oleh seluruh santri dan santriwati. Mendengar Anisa melantunkan ayat suci Alquran, jantung Abidzar berdegup kencang, Abidzar menatap Anisa dari kejauhan karena diberi jarak antara Santri dan Santriwati.

Abidzar tersenyum menatap Anisa, suaranya sangatlah merdu, menambah kecantikan yang Anisa miliki.

“Astagfirullah,” ujarnya mengalihkan pandangan.

“Kenapa? takjub ya sama kecantikan Anisa?” tanya Haris, sahabatnya Abidzar sekaligus salah satu santri di pesantren Al hikmah ini.

Abidzar diam, karena ia sangat malu jika harus berkata jujur, kalau ia mengagumi Anisa.

“Bi, saya sudah memperhatikan kamu sudah sejak lama. Kamu menyukai Anisa bukan? segeralah melamarnya, sebelum ada orang yang mendahuluimu melamar Anisa,” lanjut Haris memberi saran.

“Aku tidak pantas mendapatkan Anisa yang sempurna, ilmu ku tidak seberapa, aku juga hanya seorang anak tukang bubur,” ujar Abidzar merendahkan diri.

Haris menepuk pundak Abidzar, “Bi, jangan menyerah kalau belum mencobanya. Aku  tau Anisa itu memang cantik, dia juga baik, lulusan Al azhar khairo mesir, jika niat kamu baik Insahaalah, Allah juga pasti merestuimu.”

Abidzar terdiam, mungkin apa yang dikatakan Haris ada benarnya.

Malam ini dengan senyum mengembang Abidzar Kembali melaksanan sholat malam, ia berdoa meminta restu kepada Tuhan, dalam butiran tasbihnya ia menyebutkan Kembali nama Anisa Azzahro, Abidzar yakin Anisa adalah jodohnya.

Ke esokan paginya, dengan membawa tasbih yang ia gengam Abidzar menemui pak Kiyai Abdullah Alatas.

“Assalamualaikum,” salam Abidzar kepada pa Kiyai Abdullah yang kebetulan sudah beres zikir di ruangannya.

“Waalaikumsalam, ada apa Abidzar?” jawab Kiyai Abdullah.

“Saya ingin melamar putri kiyai, Anisa Azzahro.” Kata Abidzar sangat yakin.

“Apa yang membuat anda yakin melamar putri saya?” tanya pak Kiyai Abdullah.

“Saya yakin karena akhlaknya,” jawab Abidzar.

“Terimakasih sebelumnya, tapi saya mohon maaf. Anisa sudah ada yang melamar,” ucap kiyai Abdullah.

Mendengar jawaban kiyai Abdullah membuat Abidzar terpukul, hatinya menjerit tidak terima, tetapi Abidzar harus merimanya, mungkin Allah tidak meridhoi Abidzar menikah dengan Anisa.

Malam berganti malam, Abidzar tidak pernah tidur Abidzar habiskan waktunya untuk berzikir, berusaha untuk melupakan Anisa, walaupun semakin Abidzar berusaha melupakannya, Rupa Anisa semakin menghantui pikirannya.

“Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.. Kenapa aku belum juga bisa melupakan Anisa? Apa rencanamu ya Allah… hapuskanlah perasaan aku untuk Anisa, aku mohon ya Allah…” pintanya dalam setiap butiran tasbih.

Hari pernikahan Anisa dan seorang ustadz lulusan Universitas Al Azhar Khairo mesir bernama Ustadz Fahri, dilaksanakan hari ini. Acaranya sederhana, tetapi dihadiri oleh banyak orang. Abidzar sebenarnya tidak ingin menyaksikan acara pernikahan Anisa dan Ustadz Fahri, tetapi sama saja Abidzar tidak percaya dengan takdir dan jodoh yang diberikan Tuhan.

Saat Ustadz Fahri menggenggam tangan pak Kiyai Abdullah, Ustadz Fahri tak sadarkan diri. Seluruh orang yang menyaksikan akad pernikahan ini pun menjadi panik, keluarganya membawa Ustadz Fahri ke rumah sakit, dan beliau dinyakatan meninggal dunia. Karena penyakit yang Ustadz Fahri derita sejak tiga tahun belakang ini, tidak dapat disembuhkan. Ustdaz Fahri mengidap kangker kelenjar getah bening stadium akhir.

Seminggu berlalu, pak Kiyai Abdullah meminta Abidzar untuk menemuinya. Masih dengan menggenggam tasbih di tangannya, Abidzar menemui pak Kiyai Abdullah.

“Apa kamu sudah memiliki jodoh Abidzar?” tanya Pak Kiyai Abdullah, disela percakapannya dengan Abidzar.

“Sudah Pak Kiyai,” jawab Abidzar.

“Kalau begitu kapan kamu akan menikah?” tanya pak Kiyai Abdullah lagi.

“Saya tidak tahu kapan saya akan menikah, tapi saya percaya Allah sudah memberikan saya jodoh, bahkan sejak saya diciptakan olehnya.”

Mendengar jawaban Abidzar, Kiyai Abdullah tersenyum.

“Baiklah, kalau begitu jodohmu sudah datang, setelah sholat magrib saya akan menikahkan mu dengan jodohmu.”

“Siapa yang pak Kiyai Abdullah maksud?” tanya Abidzar bingung.

“Saya akan menikahkan mu dengan anak saya, Anisa Azzahro.”

Mendengar perkataan Kiyai Abdullah, Abidzar bersujud. Rencana Allah memang tidak ada yang mengetahui, termasuk tentang jodoh dan takdir. Abidzar memberikan tasbihnya yang selalu ia pakai untuk berzikir dan menyebutkan nama Anisa sebagai mahar pernikahan mereka.

Butiran tasbih, yang menjadi saksi akan cinta tulus Abidzar, kegigihan Abidzar, dan keyakinan Abidzar terhadap rencana Allah yang begitu indah. Nama yang dulu selalu tak pernah absen dalam doanya, dalam butiran tasbih yang selalu Abidzar sebutkan, kini sudah menjadi istri sahnya.

Selesai akad pernikahan, Abidzar dan Anisa melaksanakan sholat isya berjamaah, untuk pertama kalinya dan akan seterusnya Abidzar menjadi imam untuk Anisa. Setelah selasai menjalankan ibdah sholat isya, Abidzar menceritakan kepada Anisa kalau Abidzar sudah menganggumi Anisa sejak lama.

Anisa menangis mendengarnya.

“Aku juga yakin kamu jodohku mas, aku melakukan hal yang sama. Aku bahkan tidak pernah malu meminta kepada Tuhan disetiap butiran tasbih yang ku genggam, aku tidak pernah berhenti menyebutkan namamu untuk menjadikanmu jodohku,” kata Anisa.

Abidzar tersenyum lebar, ia menghapus air mata anisa dan memeluknya degan erat. Ternyata tanpa mengetahui, sudah sejak lama mereka saling mendoakan. ( Bogor, Jawa barat - @holipehh)





Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "TASBIH CINTA - Cerpen oleh: Siti Nur Holipah"

www.jaringanpenulis.com