Hujan dan Kenangan - Cerpen oleh : Lovelyliy

Penulis : Lovelyliy  - Editor : Endik Koeswoyo

Foto oleh : Bagus Darianto

Aku diam di sudut jendela, memperhatikan air yang jatuh begitu banyak, rasanya seperti mewakili mataku yang tak bisa mengeluarkan segala macam kesedihan tentangmu lagi. Kamu yang kedatangannya sempat kusyukuri. Perkenalan yang sama sekali tak terencana itu mampu menyibukkan sampai rasanya tak pernah ingin terlewatkan.

“Hema Sendjaya.” Ku eja nama yang tertera pada sebuah paket yang baru saja aku terima.

Keningku mengkerut. Berkali-kali aku membolak-balik benda yang kupegangi dengan hati-hati itu sampai akhirnya pada sebuah kesimpulan bahwa kurir tadi ternyata salah memberikan paket. Jelas-jelas ini bukan punyaku, aku bisa melihatnya dari keterangan yang tertera pada secarik kertas yang menempel di atas kotak tersebut. Sungguh, aku sangat menunggu-nunggu saat di mana pesananku itu sampai. Namun, yang terjadi sekarang malah timbul masalah yang entah harus kuadukan pada siapa.

Aku merogoh ponselku, membuka aplikasi tempat di mana aku melakukan pemesanan. Haruskah kusalurkan kemarahanku dengan memberi rating rendah? Padahal aku sendiri tidak yakin siapa yang melakukan kesalalahan. Entah pihak toko atau mungkin pihak jasa pengiriman. Aku hanya kesal dan butuh pelampiasan walau akhirnya kuurungkan niat. Aku tidak bisa membalasnya begitu berlebihan hanya karena menjadi salah seorang korban, apalagi kalau kejadian ini merupakan sebuah ketidaksengajaan.

“Eh?” Aku menemukan perbedaan pada alamat penerima. Nama kantor memang sama, tapi yang ada padaku ini menyebutkan divisi Finance, sedangkan aku berada di divisi Engineering. Oke, kesalahan ada padaku. Kenapa pula aku bekerja di bagian yang banyak ditempati kaum lelaki? Bahkan tidak akan ada yang menyadari kesalahan yang terjadi selain hanya aku dan orang yang sedang menerima pesananku.

Tunggu! Aku harus segera mengambilnya.

Waktu normal yang biasanya menghabiskan waktu 10 menit untuk sampai ke 5 lantai di atasku, dengan menempuh tangga darurat aku hanya butuh waktu kurang dari 5 menit. Dengan susah payah aku menetralkan deru napasku yang tak beraturan, tapi setelah sampai di hadapanku kini malah mempertontonkan sesuatu yang berhasil membuatku naik pitam.

“Hahaha sweet banget sih, masa pacarnya dibeliin sampai ke dalem-dalem.”

Benar saja yang kutakutkan itu. Isi dari kotakku benar-benar diobrak-abrik. Dengan segera kurebut barang punyaku yang tengah cewek-cewek itu bongkar. “Gak sopan banget, sih, buka-buka barang punya orang!” sarkasku tanpa takut dengan perbedaan usia, kerena yang mereka lakukan memang benar-benar tidak bisa dimaklumi.

“Kamu ceweknya Hema?” ujar salah satu dari ketiga cewek didepanku, menyimpulkan sikap yang kuperlihatkan.

Aku menyodorkan bungkusan yang kubawa. “Punya temen kalian itu yang ini. Kurir tadi salah ngasih.”

“Maaf!” ucap seseorang yang lain--baru datang, “mereka emang suka usil.”

Aku memutar tubuhku, melihat pemilik suara yang secara tiba-tiba muncul dari arah belakang.

Deg!

Itu hari di mana aku pertama kali melihatmu. Hari yang benar-benar aneh saat mataku sama sekali tak bisa berpaling dari sosokmu. Entah apa alasannya, aku pun tak tahu. Hanya saja aku merasa kalau aku merasakan ksebuah ketertarikan, sesuatu yang hampir tak pernah kurasakan dalam 1 windu. Cukup mengejutkan, tetapi juga menjengkelkan perihal begitu mudahnya hatiku berdegup pada sosok yang bahkan baru pertama kali kulihat.

“Makasih, Lintang." Kamu berucap, menyadarkan lamunanku yang sedikit tak tahu diri. "Tadinya habis ini aku yang mau nganterin, tahunya kamu udah duluan.”

"Lintang Prameswari?"

Kamu dengan jelas menyebut namaku. Mungkin kamu sudah membacanya, sama seperti aku yang tadi merutukimu habis-habisan saat pertama kali menyadari insiden salah kirim ini terjadi.

"Ini. Aku balikin." Kamu menyodorkan kotak milikku. "Jangan marah-marah lagi, ya. Aku bener-bener gak lihat isinya, kok."

Baik, yang kamu berikan itu hanya sebuah paket. Namun, kenapa aku merasa kalau yang hendak kamu berikan adalah hatimu? Mungkin salah, hanya saja aku berpikiran bahwa ini jalan yang Tuhan berikan untuk kita.

Sebuah kesalahan yang awalnya ingin kurutuki nyatanya membuatku diam tak berkutik, bahkan setelah kejadian itu kita tidak hanya saling mengenal nama, tapi juga bertukar pikiran, hingga harapan dan berbagai angan untuk masa depan. Masa di mana aku dan kamu benar-benar menjadi kita dengan nama masing-masing yang bukan lagi tertulis di atas kertas penerima pesanan, tapi pada lembaran sebuah buku kecil yang akan aku dan kamu pegang satu-satu.

Bertahun-tahun bekerja di bagian yang mengharuskan aku berada di tengah-tengah banyaknya lelaki membuatku terbiasa, dan selama ini memang tidak pernah ada yang berbeda. Sampai akhirnya sesuatu yang asing aku rasakan setelah adanya kamu. Begitu mudahnya aku menyatakan kalau ini adalah cinta, tapi rupanya ... ini hanya tentang aku dan bukan kamu. Lagi dan lagi kamu perlu memastikan apa yang kamu rasakan sampai-sampai mengabaikan status apa yang sedang kita jalankan. 

“Kalau jodoh gak bakal ke mana,” katamu, setiap kali aku mengeluh tentang kejelasan status kita.

Perlu kamu tahu, aku hanya takut. Berjarak, menjauh, lalu menghilang. Sebuah susunan yang kemungkinan terjadi saat sebuah hubungan tidak memiliki sebutan pasti. Hatiku berhasil kamu atur sedemikian rupa sampai hal yang aku takutkan itu benar-benar kejadian. Kamu membuat jarak, perlahan menjauh, lalu menghilang. Bukan kamu yang menghilang, tapi aku yang kamu hilangkan dari hatimu, lalu menggantikannya dengan sosok yang baru.

Apa kali ini kamu akan kembali bilang, “kalau jodoh gak bakal ke mana?”

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Ya, aku tidak secantik dia. Ya, kamu tidak seharusnya denganku yang banyak kekurangan. Ya, aku terlalu mudah kamu perdaya. Ya, dia lebih pantas untuk kamu dibandingkan dengan aku yang bukan apa-apa. Kamu memilih untuk meninggalkanku, bukti nyata kalau aku hanyalah pecudang yang tidak pantas menang.

Setelah kehilanganmu, ternyata aku juga kehilangan diriku. Kesalahan yang kulemparkan hanya pada diriku sendiri sangat membuktikan kalau ternyata aku tidak pernah mencintai siapa pun, termasuk diri ini. Begitu rendahnya aku di mataku, begitu kurangnya aku bagiku, begitu tidak pantasnya aku selama ini hidup dalam diriku.

Aku memperhatikan penampilan hanya untuk membuat kamu terkesan. Sampai ketika aku kehilangan kamu, aku tidak memiliki alasan untuk sekadar memperhatikan penampilanku, atau segala hal tentangku lagi. Saat itu pula aku sadar, kalau aku tidak hanya lupa jalan pulang, tapi aku juga tidak tahu di mana aku berada sekarang.

Lalu perginya kamu, benarkah hanya salahku yang tidak seperti dia? Kalau memang begitu, mungkin kamu akan kembali meninggalkan dia yang suatu saat bisa kamu anggap kurang daripada sosok pendatang lain yang kamu anggap lebih. Seharusnya, bukan aku yang menderita karena kehilangan kamu yang tidak mencintaiku, tapi kamu yang harus kehilangan aku, seseorang yang mencintaimu lebih dari dirinya sendiri.

Harapan yang seharusnya hanya ada pada yang maha kuasa, aku menaruhnya pada manusia biasa. Kesalahan fatal yang menjadi penyebabku kecewa. Bagaimana bisa aku mengaku mencintai orang lain, sementara aku belum cukup mencintai diriku sendiri? Waktu yang kuhabiskan untuk mencari tahu tentang kamu, biar saja menjadi kerugian yang berharga untukku. Setidaknya aku tahu, aku tidak bisa melewatkan diriku demi orang lain karena pada akhirnya ketika aku terjatuh yang tersisa hanya aku, aku seorang.

“Lintang!” seseorang menyadarkan lamunan singkatku. “Hujannya udah reda, nih. Pulang, yuk?”

Aku mengangguk, lalu mendahului pergerakan seseorang yang mengajakku. Nyatanya hujan tidak lagi mengundang air mataku untuk jatuh, segala ingatan tentangmu kini kuiringi senyum paling tulus. Aku yang sekarang sudah jauh lebih baik dari aku yang dulu kamu tinggalkan. Bukan, aku sama sekali tidak berharap kamu akan menyesali perubahan terbaikku. Aku hanya merasa lega karena aku telah berhasil mengalahkan diriku yang pernah mencintaimu dengan begitu bodohnya. Tak ada lagi penyesalan atas perpisahan itu, selain hanya rasa syukur. Terima kasih untuk kamu karena telah datang sebagai pengalaman hidup, bukan pendamping hidup. (Cianjur, Jawa Barat - @lovelyliy_  )

Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk " Hujan dan Kenangan - Cerpen oleh : Lovelyliy "

www.jaringanpenulis.com