BAKTI CINTA - Cerpen Oleh : Oliphiana Cubbytaa

Penulis: Oliphiana Cubbytaa - Editor : Endik Koeswoyo

Foto Dokumentasi @nagarimbaindonesia


Jati melangkahkan kaki pulang menuju rumah, tempat seorang bidadari dan surganya tinggal membersamai—istri dan ibu kandungnya. Lengkungan senyum menghiasi wajah yang biasanya hanya menampilkan ekspresi datar. Tangan Jati erat mendekap tas yang tampak lusuh. Dia baru saja mengambil uang hadiah lomba kepenulisan yang diikutinya. Sudah terbayang dalam benaknya, akan digunakan untuk apa uang itu.

"Apa ini, Mas?" Wajah Melati terlihat bingung. Pasalnya, Jati tiba-tiba menyerahkan kantong kresek hitam ke tangannya.

"Buka saja, Mel!" perintah Jati.

Mata Melati membelalak seketika. "Mas, jujur! Kamu curi uang ini di mana? Akan aku kembalikan kepada pemiliknya. Aku enggak mau kau nafkahi dengan uang haram."

"Pemilik uang itu Aku, Mel. Mana mungkin aku memberi keluargaku uang haram. Itu uang halal." Jati memperlihatkan seberkas surel kepada Melati melalui gawainya. "Aku menang lomba, Mel. Hadiahnya berupa uang tunai yang saat ini sedang kamu pegang."

Cairan bening menggenang di pelupuk mata Melati. Dia bersujud menghadap kiblat, meluapkan rasa syukurnya. Sebentar lagi harapan mereka akan segera terwujud. Keesokan harinya Jati dan Melati mengunjungi rumah sakit untuk berkonsultasi.

"Kisaran biaya keseluruhannya sekitar 30-40 juta rupiah, Pak." Dengan saksama, Jati mendengarkan penjelasan yang diberikan pihak administrasi keuangan.

"Mas, kamu yakin? Biayanya sebesar itu."

Melati goyah saat mengetahui besaran nominal yang harus diberikannya demi mendapatkan keturunan melalui inseminasi. Padahal persentase keberhasilan program ini tidak sampai 50%.

Jati mengucapkan terima kasih kepada petugas yang telah memberikan informasi kepadanya, lalu membimbing Melati duduk di salah satu bangku taman rumah sakit. "Kamu ingin punya anak, 'kan?"

Melati mengangguk, karena memang itu keinginannya yang belum terwujud bahkan setelah tujuh tahun usia pernikahannya dengan Jati.

"Aku juga menginginkan hal yang sama, Mel. Mungkin ini cara Allah memberikan solusi agar keinginan kita bisa terwujud. Uang ini rezeki dari Allah untuk keberadaan buah cinta kita."

Melati memeluk Jati erat. Wanita berusia tiga puluh tahun itu bahkan tidak lagi peduli bahwa saat ini mereka berada di tempat umum. Dia terlalu bahagia merasakan besarnya cinta Jati untuknya. Jati yang selalu berusaha membahagiakannya di tengah keterbatasan yang dimiliki. Jati hanyalah seorang karyawan bengkel. Penghasilannya selama ini hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit tabungan untuk hal yang tidak terduga. Barulah setahun ini, Jati mulai mendalami dunia literasi. Beberapa kali dia mencoba peruntungan mengikuti event lomba kepenulisan, dan akhirnya kini bisa mengecap manisnya kemenangan.

Setelah puas berbagi cinta dan kehangatan dalam pelukan, mereka pulang ke rumah. Di rumah, Melati mendapati ibu mertuanya sedang fokus menatap ke arah poster bergambar ka'bah yang terdapat di ruang tamu. Mulutnya tampak berkomat-kamit melisankan sesuatu. "Labbaik Allahuma labbaik, Labbaik laa syarikka laka labbaik, Innal haamda wanni'mata laka wal mulk, Laa syariika laka."

Ini bukan pertama kali Melati melihat kegiatan sang ibu mertua. Sejak dulu Ibu Jati memang ingin bisa menjejakkan kaki di tanah kelahiran Rasulullah saw. dan beribadah di sana. Melati tahu, diam-diam ibu mertuanya rutin menabung untuk bisa mewujudkan keinginan itu. Yang pernah dia lihat, setiap hari selembar uang bergambar Gunung Bromo bersebelahan dengan Penari Gambyong dimasukkannya ke dalam kaleng bekas biskuit yang disimpan di kamar. Tidak ingin mengganggu, Melati langsung masuk menuju dapur untuk memasak ikan, tempe dan sayur asem yang dibelinya saat perjalanan pulang tadi.

* * *

Memasuki masa subur, besok rencananya Jati dan Melati akan kembali ke rumah sakit untuk mulai melakukan program inseminasi. Ibu mertuanya pun telah mengetahui rencana anak menantunya.

"Jat, Ibu ada sedikit rezeki. Ini untuk calon cucu Ibu."

Jati kaget, sang ibu tiba-tiba menyerahkan sebuah kaleng berisikan uang kepadanya. Melati juga terkejut, dia tahu itu kaleng apa.

"Ini uang tabungan Ibu, pakai saja untuk keperluan Ibu. InsyaAllah tabungan Jati masih cukup untuk membiayai inseminasi ini."

"Tidak apa-apa. Ini untuk cucu Ibu saja. Ibu ikhlas, Nak." Ibu lalu beralih kepada Melati sambil mengelus lembut perutnya. "Kalau sudah hamil, jaga baik-baik cucu Ibu di kandungan kamu ya, Nak."

Tidak kuasa menahan haru, Melati memeluk ibu mertuanya. Melati merasa beruntung memiliki mertua sebaik Ibu Jati.


* * *


"Kamu yakin, Mel?" tanya Jati memastikan keputusan istrinya.

"Yakin, Mas. Bahkan aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya."

"Baiklah, kalau itu keinginanmu, aku akan turuti. Aku sangat mencintaimu, Mel." Jati memeluk Melati dan mengecup kening wanita yang telah bersedia melengkapi separuh agamanya itu.


* * * 

"Bagaimana perkembangannya, Mel? Semoga Allah segera mengabulkan hajat kalian," doa ibunya tulus. 

"Alhamdulillah, Bu. Semua berjalan lancar. Ini kami ada sesuatu untuk ibu." Melati menyodorkan sebuah amplop.

"Amplop apa ini, Nak?"

"InsyaAllah tiga bulan lagi ibu bisa berangkat umroh. Jati sudah mengurus pendaftarannya ke biro, nanti tinggal melakukan vaksin dan mengurus pasport untuk keberangkatan," jawab Jati sambil menggenggam erat tangan keriput sang ibu.

Ibu Jati, terkejut. Cairan bening seketika menggenang di matanya. "Kenapa, Nak? Kenapa? Lalu bagaimana dengan inseminasi Melati?"

"Doakan kami di sana ya, Bu. Doakan agar Melati bisa hamil alami tanpa perlu melakukan inseminasi."

Ibu Jati, terisak. Cinta, kasih sayang dan ridho-nya mengembang seketika, tertuju untuk Jati dan Melati. Tidak menyangka hajatnya beribadah lebih didahulukan dari pada keinginan mereka sendiri untuk memiliki keturunan.

"Ibu selalu mendokan yang terbaik untuk kalian. Semoga Allah segera mengijabah hajat kalian untuk memiliki buah hati." Jati dan Melati mengamini doa itu sambil memeluk ibunya.


* * * 


"Ya Allah, Melati?!" 

Jati segera berlari saat mendapati tubuh istrinya tergeletak pingsan di lantai kamar. Setelah membaringkannya di ranjang, Jati segera memanggil seorang bidan.

“Sehabis ini beli tespek ya, Pak. Saya mengira Mbak Melati saat ini sedang hamil,” ucap sang bidan membuat Jati dan Melati yang telah sadar, terkejut. 

Bibit harapan segera tumbuh dalam hati mereka. Tidak membuang banyak waktu, Jati segera membeli tespek untuk memastikan kondisi istrinya. Melati menggunakan tespek itu lalu memberikan hasilnya kepada Jati. 

“Garis dua? Kamu hamil, Mel? Alhamdulillah. Makasih, Mel.” Jati mendekap erat sang istri lalu menyapukan bibirnya lembut di kening Melati. “Aku mencintaimu, Mel. Jaga buah cinta kita baik-baik, ya.”

Melati mengangguk, dia menangis terharu dalam dekapan penuh cinta suaminya. Jati lalu mengajak Melati menemui sang ibu untuk memberi kabar kehamilan sang istri. 

“Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Dia membalas kemuliaan hati kalian mengumrohkan Ibu dengan mengabulkan hajat kalian, bahkan sebelum Ibu berangkat Umroh. Alhamdulillah ya Allah." Ibu Jati lalu mengelus perut menantunya yang kini telah berisi janin, "Semoga Melati dan bayinya selalu sehat.”

Cinta dan bakti sepasang suami istri itu telah berbuah janin dalam rahim Melati. Kini keluarga itu merayakan cinta dan kasih sayang mereka bersama-sama. (Tegal, Jawa Tengah - @Oliphiana_lia )

Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "BAKTI CINTA - Cerpen Oleh : Oliphiana Cubbytaa"

www.jaringanpenulis.com