DI PRANK SEMESTA - Cerpen oleh : Annisa Setya

Penulis: Annisa Setya - Editor : Endik Koeswoyo

Foto oleh : Endik Koeswoyo


Baruna memandang sekeliling dengan nanar, kepalanya berdenyut, ada perban menempel di keningnya dan pandanganya berkunang-kunang. Ia mencoba mengangkat badannya dari papan tempatnya tergeletak namun sakit di kepalanya tak tertahankan, membuatnya ambruk kembali. Baruna memejamkan matanya menahan sakit, setelah berkurang sedikit ia membuka matanya pelan, pandanganya tertuju pada plafon di atasnya, plafon yang kusam dengan noda menguning dan berlubang. Ia menengok ke arah kiri, ada sebuah meja kecil di samping papan yang ia tiduri, tembok berwarna hijau yang catnya sudah memudar dan terkelupas. 

Di sebelah kanan ada pintu dari triplek yang tidak bisa tertutup sepenuhnya. Ruangan kecil tempatnya berbaring ini terasa pengap, sungguh ia ingin keluar dari sini dan kembali ke kamarnya yang besar dengan perabotan super mewah di dalamnya.

“Sial...ada di mana gue....” Baruna menggerutu kesal. Sekali lagi ia memaksa mengangkat badannya namun berakhir dengan erangan kesakitan keluar dari bibirnya. Kepalanya masih terasa sakit.

“Ehhh...kamu sudah sadar, Nak? Alhamdulilah....”

 Tiba-tiba seorang perempuan setengah tua membuka pintu dan duduk di sampingnya sambil mengusap keningnya lembut, matanya berkaca-kaca.

“Kang Parmin tadi bilang suruh bawa ke puskesmas kalo kamu belum sadar juga, Ibu bingung uang darimana nanti buat bayar. Syukurlah kamu sudah sadar sekarang...” Perempuan itu mengambil mangkuk plastik di atas meja berisi air dan kain hangat lalu membersihkan wajah Baruna pelan.

“Maaf... Ibu siapa ya? Kenapa saya ada di sini? Ini di mana?” Baruna menahan tangan perempuan itu dan memegangnya. Ia tidak ingin di sentuh oleh perempuan itu. Perempuan itu mematung, menatap Baruna dengan bingung.

“Ini Ibu, Nak... Kamu kenapa? Lupa sama Ibu??” Perempuan itu meletakkan kain yang ia pegang ke dalam mangkuk dan mengusap rambut Baruna. 

“Ibu?” Kening Baruna berkernyit. Terbayang sosok mamanya di rumah yang selalu tampil cantik dan glamour dan juga sibuk dengan bisnisnya sehingga jarang ada di rumah.

“Iya... Ibu yang melahirkanmu Aditya....” Perempuan itu menyentuh tangan Baruna dan menggengamnya.

“Aditya? Siapa Aditya??” Baruna menepis tangan perempuan itu dan melepaskan genggamanya.

“Ya Tuhan, Nak... rupanya kecelakaan kemarin membuat ingatanmu kabur, kamu Aditya, anak Ibu satu-satunya, kemarin Ibu nemuin kamu di parit dekat gang masuk, kamu pingsan waktu kamu lagi mulung, apa yang terjadi kemarin, Nak?” Perempuan itu menatap Baruna penuh kekhawatiran.

“Mulung?” Baruna semakin tidak mengerti. Ia memejamkan matanya berusaha mengingat kejadian kemarin. 

Lalu berbagai bayangan berkelebat dalam ingatanya. Ia ingat kejadian beberapa hari sebelumnya saat perjalanan pulang dari rooftop cafe di hotel terbaik di kota ini merayakan kesuksesan video terbarunya saat menjahili Pamela, kekasihnya dengan berpura-pura di culik mafia di depan Pamela dan membuat Pamela histeris, dan video itu mendapatkan lebih dari satu juta penonton dalam beberapa hari sehingga ia dan tim nya merayakanya di cafe tersebut.

 Ia ingat sepulang dari cafe saat ia mengendarai mobil mewahnya ia melihat seorang pemuda melintas di trotoar, ia memanggul sebuah karung dengan tongkat kecil yag ada pengait besi di tangannya memungut botol-botol yang ada di sela jalanan. Wajah pemuda itu terlihat tampan, hampir mirip dengannya. Saat itulah sebuah ide datang di kepalanya, dan ia akan membuat sebuah content dengan menyamar sebagai pemulung. Banyak content videonya yang berisi prank, ia sering melakukan prank ke teman, saudara, bahkan kadang orang-orang yang tidak ia kenal. Dan video-video itu mendapatkan view yang banyak, yang artinya pundi-pundi rupiah mengalir ke rekeningnya. 

Ya, Baruna adalah seorang artis terkenal yang sering membintangi film dan sinetron. Semenjak aplikasi YouTube menjadi trend, ia memutuskan untuk bergabung karena mudah sekali dan tidak memerlukan syuting yang lama dan melelahkan. Namun dengan banyaknya YouTuber dengan ide-ide menarik maka persaingan semakin tinggi dan ia harus kreatif agar channel YouTube nya tidak di tinggalkan penggemarnya. 

Besoknya setelah semua persiapan siap dan ia telah berdandan layaknya seorang pemulung dengan baju kotor dan dekil dan sebuah karung di punggungnya, Baruna melaksanakan aksinya. Salah seorang timnya telah siaga merekam aksinya dan ia berjalan di trotoar sebuah jalan yang ramai dengan lalu lintas padat dan banyak pedagang asongan di sepanjang jalan, kendaraan terparkir sembarangan, pengamen berlalu lalang dan tukang parkir yang tidak berhenti berteriak. Kawasan di tengah kota namun kotor dan tidak teratur, sudah sering di razia namun para pedagang asongan tidak pernah kapok dan selalu kembali. 


Baruna bersiap melancarkan aksi prank pada beberapa orang di sana, namun tiba-tiba terdengar suara gaduh, pedagang asongan berhamburan mendorong gerobaknya, pengamen dan pengemis juga pemulung berlarian ke segala arah dan terdengar teriakan “Razia! Razia!”. Baruna terpaku, namun ia santai melangkah ke arah sebaliknya karena ia merasa bukan bagian dari mereka, ia lupa bahwa sekarang ia menjadi salah satu dari yang di kejar para Satpol PP. Saat itulah sebuah pukulan mendarat di karung di punggungnya, Baruna terpelanting namun ia segera bangkit lagi, berusaha menjelaskan siapa dirinya kepada para satpol PP yang tampak beringas. Sia-sia saja, tidak ada yang mendengarnya bahkan salah seorang dari mereka berusaha menariknya, Baruna melawan, sekali lagi pentungan mendarat di lengannya. Ia meringis kesakitan dan saat satpol PP itu mengangkat pentunganya sekali lagi untuk meringkusnya, ia segera berlari cepat. Satpol PP itu mengejarnya, Baruna berbelok di sebuah gang namun laki-laki itu terus mengejarnya. Baruna memacu langkahnya dan berbelok lagi masuk ke sebuah perkampungan kumuh, sambil berlari ia menoleh ke belakang dan kecelakaan itu terjadi. Seseorang keluar dari gang berlari cepat dan mereka bertabrakan dengan sangat keras. Baruna limbung dan jatuh terguling masuk ke dalam sebuah parit kering, ia merasakan dunia berputar dan ia jatuh pingsan. Dan saat tersadar ia telah ada di ruangan kecil ini.

“Ohhh...iya kecelakaan! Saya ingat! Saya lagi prank jadi pemulung waktu itu!” Baruna berteriak. Ia senang telah mengingat segalanya, ia merogoh kantongnya dengan cepat mencari handphone yang ia simpan di sana, namun kantong itu kosong, mungkin terjatuh waktu ia pingsan.

“Handphone saya....” Baruna menghebuskan nafas keras, ia harus menghubungi timnya dan meminta mereka menjemput dan membawanya ke Rumah Sakit.

“Ya Allah Adit.... Kenapa jadi begini, Nak?” Perempuan itu menangis lirih memegang lengan Baruna. Ia merasa sedih meliha anak laki-lakinya yang sepertinya kehilangan akal.

“Saya Baruna, Bu! Saya Youtuber terkenal! Ibu ngga tau saya??” Baruna berteriak kesal, ia menepis tangan perempuan itu di lengannya kasar. Perempuan itu beranjak dari samping tempat tidur cepat, mengambil sesuatu dari dalam laci dan menunjukkan ke depan muka Baruna.

“Kamu Aditya, anak Ibu, sadarlah! Ibu tahu impian kamu menjadi seorang YouTuber dan kaya raya, tapi kamu Adit, sadar Nak!” Baruna melihat ke tangan perempuan itu, sebuah cermin. Lalu ia melihat bayangan wajahnya di dalam cermin dan ia membeku. Wajah di cermin itu bukan wajahnya. Ia teringat sekilas pernah melihat wajah itu saat berpapasan dengan pemuda dengan karung di punggungnya. Baruna gemetar. Ia mengambil cermin itu dan melihat wajahnya sekali lagi dengan tangan bergetar. Ya, itu bukan wajahnya. Ia terjebak di tubuh yang salah, tubuh pemuda pemulung anak perempuan itu. Tabrakan kemarin membuat jiwanya terjebak di tubuh ini.

“Ohhh damn this...”  Baruna menggeram lirih, ia merasa sangat marah dan bingung. Tangannya terkepal. Pelipisnya berdenyut. Perempuan di depannya itu menggeleng pelan menahan sedih, ia merasa jiwa anaknya masih terguncang setelah kecelakaan yang menimpanya, ia membuka pintu lebar dan melangkah keluar ruangan dengan menahan tangis, ia ingin membiarkan anaknya tenang untuk sekarang ini, saat itulah Baruna melihat di layar televisi kecil di ruangan depan kamarnya ada sebuah acara entertainment yang tengah mengulas kejadian lucu seorang YouTuber terkenal yang melakukan prank menjadi pemulung dan di ciduk Satpol PP saat pingsan setelah bertabrakan dengan seseorang dan di temukan timnya dalam keadaan linglung, namun YouTuber itu telah pulih dan akan kembali dengan aksi-aksinya yang memukau. Cermin terlepas dari genggaman tangan Baruna, kepalanya berputar, ia tergeletak lemas, teringat wajah kesal mereka-mereka yang telah ia jadikan bahan prank. Dan Tuhan membalas perbuatanya sekarang. 

Baruna memejamkan matanya, menyesali segalanya, namun terlambat. Ia telah terjebak di tubuh pemuda ini sekarang. (Bekasi -  @annisasetya25 )

Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "DI PRANK SEMESTA - Cerpen oleh : Annisa Setya"

www.jaringanpenulis.com