Mia Hasan, Si Petualang yang Senang Belajar

 Penulis: Jihan Suweleh

(Ket. Foto Mia Hasan/Dok. Pribadi Mia Hasan)

“Practice makes perfect! Writing is rewriting... no matter what you write, the magic is always in the second draft. Or the third, or fourth.”
 Begitulah, Mia Hasan menceritakan semangat berkarya dalam dirinya. Perempuan bermata indah ini, meyakini bahwa segala sesuatu adalah pembelajaran yang prosesnya tak hanya satu dua kali, tetapi berkali-kali. Ketika menulis pun, Mia menekankan, walaupun yang sempurna itu tidak ada, tetapi menulis, dalam praktiknya, sudah menjadi barang pasti untuk berdampingan dengan pembelajaran.
 “Belajar lagi, dan lagi, jadi hasil yang berikutnya semoga lebih baik lagi,” tulisnya dalam sesi wawancara penulisan profil ini.
 Mia yang tidak memiliki makanan kesukaan, karena hidup sebagai seorang omnivor alias tidak pilih-pilih makanan ini, menceritakan bahwa semasa kecilnya, ia adalah seorang anak yang lahap dalam bermimpi. Mulai dari astronot hingga menjadi tukang sayur keliling masuk dalam daftar mimpi.
 “Kelihatannya mereka tuh keren banget!” Begitu Mia menuliskan perasaan masa kanak-kanak yang masih tersimpan rapi di ruang penyimpanan kepalanya.
 Lulusan Psikologi Universitas Indonesia ini mengaku bahwa ia belum memiliki prestasi, bahkan menyamakan dirinya dengan kepingan tepung kremesan ayam. Namun, ia tetap optimis bahwa suatu saat nanti ia pasti memiliki karya yang baik dan banyak yang bisa mengantarkannya pada gerbang tujuan akhir pembelajaran. “Masih perlu terus belajar,” tulisnya.
Mia yang lebih menyukai warna-warna gelap karena mudah di-mix and match ini, merasa bahwa ia memiliki kebiasaan jelek yang perlu diperbaiki pelan-pelan. “Kebiasaan jelek aku yang suka menunda tuh kadang ya jadi hambatan,” cerita Mia pada pesan teks WhatsApp.
Namun, Mia tetap memiliki cara untuk mengatasi kebiasaan menundanya itu dengan belajar disiplin dan menentukan skala prioritas yang jelas serta memungkinkan untuk ia jalani.
Trainer lepas beberapa provider training ini, membuktikan bahwa ia memang manusia yang tumbuh dari berbagai pintu kelas. Ia bercerita mengenai kesibukannya yang membantu sekaligus bersenang-senang sambil belajar di @mondiblanc dan @talemaker.id.
Yayasan Mondiblanc adalah workshop beasiswa berbasis film di Jakarta Selatan. Mencakup semua aspek perfilman mulai dari penulisan, video, sinematografi, acting, directing, art, editing, coloring, dan audio. “Seringnya jadi Produser dan Penulis Skenario, tapi bantuin apa aja, hayuk!” tulis Mia dalam pesan singkatnya.
Perempuan kelahiran Jakarta, 3 Agustus 1988, yang hobi traveling ini mengaku, selain terlibat di Mondiblanc dan Talemaker.id, ia juga sangat bersyukur sejak kecil difasilitasi dengan banyak hal sampai akhirnya ia bisa menikmati baca tulis. “Nulis dari yang penting sampai nggak penting, dari yang memang aksesnya dibuka untuk orang lain sampai yang memang cuma untuk diri sendiri aja.
 Pas kuliah juga pernah kerja sambilan jadi Reporter buat majalah Fakultas yang ada di bawah Humas Dekanat Fakultas. Habis lulus kuliah penasaran pengen belajar gimana cara buat skenario. Soalnya aku juga seneng nonton dan pengen tahu gimana sih proses di balik film yang aku nikmatin.
Beberapa kali ikut pelatihan sampai akhirnya pernah ikut kelas dan ikut rekrutmen salah satu aliansi penulis skenario dan jadi salah satu tim development naskahnya untuk beberapa judul layar lebar,” cerita Mia panjang lebar.
Nampaknya, Mia memanglah pembelajar yang rendah hati, sebab dari sekian banyak hal yang sudah ia capai—yang rata-rata menjadi keinginan besar para penulis—baginya ia tetaplah kepingan yang datang dari kremesan ayam. Belajar, belajar, dan belajar, barangkali menjadi hal yang lebih penting saat ini ketimbang terburu-buru memburu prestasi. Begitu pula ketika ia ceritakan alasan mengapa bergabung dalam Jaringan Penulis Indonesia, ia hanya ingin melebarkan tangan untuk belajar banyak hal tentang kepenulisan.
Mia dan hobi jalan-jalannya adalah satu paket yang tak terpisahkan, sama halnya dengan Mia dan konsentrasinya dalam bidang kepenulisan. Ia bahagia jika bisa bertemu banyak orang dan melihat berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda sekaligus mendengar serta melihat berbagai cerita yang disajikan semesta dalam perjalanannya.
Entah itu perjalanannya dalam menulis, atau perjalanannya dalam traveling, Mia layak dan berhak meraih mimpinya yang masih ia dekap pelan-pelan karena merasa masih sangat perlu untuk belajar.
Tidak ada jalan pintas ke tempat yang layak dituju, mungkin begitulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan apa yang selama ini Mia lakukan. Semoga sesuatu yang ia tuju bisa ia dapatkan di waktu yang tepat. 


Posting Komentar untuk "Mia Hasan, Si Petualang yang Senang Belajar"

www.jaringanpenulis.com