IKLAN

[CERPEN] PEREMPUAN DENGAN JEMARI BIDADARI karya Hafidzah Fatma Gardilla

Sebuah Cerpen sangat menginspirasi

PEREMPUAN dengan JEMARI BIDADARI
oleh
HAFIDZAH FATMA GARDILLA


      Ribuan orang tumpah. Rela meminang payah dan susah hanya untuk berjumpa perempuan dengan jemari bidadari. Lapar di perut mereka sebisa mungkin ditahan. Jika mereka sudah melihat Mak Patonah, seorang wanita penjual pecel rengkek dan sepeda tuanya, betapa wajah mereka bertabur gembira aneka rupa. Mereka berebut untuk menghentikan Mak Patonah. Tentu saja Mak Patonah menghentikan laju sepedanya dengan sukacita. Doa-doanya di pucuk malam terkabul.
    ''Apakah kau datang kemari benar-benar ingin makan pecel rengkek?'' tanya Romlah kepada seseorang yang sepertinya bukan berasal dari Jombang.
    ''Aku ingin melihat jemari bidadari,'' ujarnya dengan mata berbinar.
   ''Jemari apa yang bisa kau saksikan di sini? Bukankah kau melihat bahwa di sini hanya ada antrean panjang seorang penjual pecel rengkek?'' tanya Romlah.
   ''Bukankah banyak orang di luar sana yang mengatakan bahwa jemari bidadari ada di kota ini? Tepatnya pada penjual pecel rengkek itu?'' timpal orang itu.
   ''Ah, kau ini. Di kota kami, jemari bidadari ialah jemari penjual yang sangat lihai membuat racikan pecel sedemikian rupa sehingga semua orang yang menikmati pecel rengkek Mak Patonah merasa segala kegelisahan yang mereka alami seolah lenyap tak tersisa.''
   ''Aku tak percaya perkataanmu, aku ingin melihatnya sendiri.'' Ia menuju ke dagangan Mak Patonah.
  Tibalah orang itu melihat dengan mata kepalanya sendiri. Laksana sambaran kilat, dia menyaksikan seorang wanita paruh baya dengan jemari cekatannya melayani pembeli yang mengantre. Masih penasaran, laki-laki itu turut serta membeli pecel rengkek Mak Patonah. Dia ingin mencicipi bagaimana sensasi dalam pecel rengkek tersebut. Bagai anak kecil yang mendapat sebuah hadiah, laki-laki itu seperti menemukan kunang-kunang dalam perasaannya. Rasa ketenangan dan ketentraman lambat laun menyelusup pada relung hatinya.


***
   
    Pagi berganti pagi, layaknya embun yang masih setia memeluk pucuk dedaunan. Semenjak senja kemarin berpamitan, Mak Patonah belum sekalipun kelihatan. Padahal di bibir jalan tempat ia berjualan telah ramai antrean pembeli. Mereka berantusias sedari pagi menanti Mak Patonah, namun yang dinanti tak sekalipun terlihat batang hidungnya. Beberapa pemuda yang tak sabar menanti Mak Patonah langsung berinisiatif mendatangi rumahnya. Mereka mengetuk pintu rumah dan memanggil-manggil Mak Patonah di balik pintu. Sayang, yang dipanggil tak sedikit pun menjawab. Karena lama sekali tak ada sahutan, salah seorang pemuda dari mereka memutuskan untuk mendobrak pintu rumah Mak Patonah.
     Mereka mencari Mak Patonah di ruang tamu, di kamar, di ruang makan, di dapur, sampai di ujung kamar mandi. Namun, yang dicari tak kunjung ditemukan. Sampai ada salah satu pemuda yang menemukan Mak Patonah terbujur kaku di bawah ranjang kamar, tergeletak tak bernyawa sembari tangan sebelah kiri menggenggam erat jemari kanan Mak Patonah. Ada yang bilang, Mak Patonah meninggal karena kelelahan melayani pembelinya. Ada juga yang mengatakan bahwa seorang bidadari telah turun ke bumi dan mengambil jemari Mak Patonah.
     Semenjak itu, orang-orang mulai bingung mencari pengganti Mak Patonah. Sudah berkali-kali mereka mencoba mencari makanan pengganti pecel Mak Patonah. Namun, tak ada satupun yang seperti mereka harapkan. Makanan-makanan itu tak pernah sekalipun menghilangkan kegelisahan dalam diri mereka.

***

       Beberapa tahun kemudian, kabar tentang jemari bidadari kembali menyeruak ke kota-kota. Berbondong-bondong para pelancong dari luar kota bersukacita dan kembali ke Jombang, mendatangi jemari bidadari yang tiba di kota tersebut. Diduga, kawasan di dekat bibir jalan yang dulu digunakan menjual pecel rengkek Mak Patonah disulap menjadi bangunan kedai super megah. Bangunan berbeton kokoh yang dipadu dengan cat putih gading dan biru muda, serupa jubah langit yang membalutnya.
     Di sebelah kanan bangunan terdapat sebuah nama besar kedai tersebut, ditelan kerlap-kerlip lampu yang menyala tiada jeda. Keindahan lampu-lampu semakin bergelora ketika senja menuju temaram malam. Di bangunan super megah itulah jemari bidadari berada. Jemari bidadari yang didapatkan dari pelayan-pelayan cantik berjari lentik pun bergincu tebal dengan taburan bedak yang menyelimuti wajah mereka. Mereka ke sana kemari melayani pengunjung yang mulai ingar-bingar berdatangan.
         ”Pelayannya cantik-cantik ya,” ucap salah seorang pembeli.
      ''Jemari bidadari. Apakah mereka benar-benar pemilik jemari bidadari?'' ujar salah seorang pembeli kepada kawannya hingga kedai megah itu disesaki oleh pembeli.
    Serupa mewujudkan keinginan, mereka sungguh berharap bagaimana jemari bidadari yang selama ini diketahui mampu meracik makanan yang dapat menghilangkan perasaan mereka dari segala kegelisahan. Ternyata, dugaan mereka meleset. Para pelancong baru menikmati makanan selepas satu jam lamanya menunggu. Para pelayan itu bukanlah jemari bidadari yang lihai dan cepat dalam meracik makanan. Lihatlah, bagaimana jemari keong itu bekerja sangat lambat dan tak seperti yang mereka harapkan.
         Selepas menghabiskan hidangan di kedai megah itu, rasa kegelisahan tak kunjung menghilang dari diri mereka. Sampai akhirnya lambat laun para pelancong pencari jemari bidadari mulai meninggalkan kota Jombang dan tak ada yang mengunjungi kedai megah tersebut. Pemilik kedai mengalami kerugian yang sangat besar dan mengalami frustasi berat. Sejak saat itu, pemilik kedai mulai memiliki kebiasaan baru. Dia selalu mengumpulkan jemari wanita paruh baya dikala malam bertamu.
SEKIAN


BIODATA PENULIS
NAMA PENULIS: HAFIDZAH FATMA GARDILLA
ASAL KOTA        : JOMBANG

MEDIA SOSIAL
INSTAGRAM       : @hafidzahfatmaaa
FACEBOOK          : Hafidzah Fatma

Posting Komentar

0 Komentar