Garis Marka Agidia Cerpen Syakky

Garis Marka Agidia

Oleh: Syakki

“Maaf, mbak. Saya pikir bukan karena directing sutradara di lapangan.” Agidia khusyuk menyimak. Wajahnya terlihat tegang, posisi duduknya tegak lurus.

“Saya pikir lebih kepada developement cerita yang mbak sajikan. Konfliknya masih kurang meruncing. Penonton kita butuh kejutan, butuh dihantam. Please, give us your best.” Produser yang meminta Agidia menulis sinetron drama kejar tayang di salah satu stasiun tv ternama itu berkomentar selepasnya sambil memegang lembaran naskah sebagai bahan koreksi.

“Mungkin akan lebih seru ceritanya kalau dimasukan pemeran tambahan,” katanya.

“Masukan satu pemeran playboy. Ganteng, sering buat onar dan kerjanya godain perempuan. Mulai dari episode 9 besok ya, mbak.” Perempuan di sebelah produser ikut bersuara, kali ini memberi saran.

“Baik, pak, Bu,” kata Agidia. “Saya tampung semua saran dan masukannya. Saya coba kuatkan, peruncing lagi di konfliknya. Tapi saya agak terganggu dengan improvisasi para pemain di lapangan. Improvisasi dari para pemain itu, kalau tidak tepat, bisa jadi miss-interpretasi atas naskah saya. Saya harap pak Doni berkenan menyampaikan keluhan saya ini terhadap pak sutradara.”

“Akan saya sampaikan.”

“Terimakasih.”

Agidia keluar dari ruang rapat manajemen ph tersebut. 2 jam yang menegangkan. Agidia tidak pernah siap menerima kritik, dari siapa pun. Semangatnya kerap redup saat berhadapan dengan kritik, namun semua itu ia lenyapkan dengan mengingat kembali cita-citanya, wajah ibunya, dan harapan masa depan. Saat mengingat-ingat kehidupannya di masa lalu dan menengok kembali ke hari ini, saat ini, Agidia merasa sudah melompat betul-betul jauh. Kadang dia heran dengan jalan hidupnya. Dengan mengingat kembali masa lalunya, semangatnya kembali menyala.

“Apa lagi yang lo cari, Agidia?” tanya Lira menyela di tengah percakapan keduanya yang melulu menyoal seputar trend yang tak ada juntrungnya. Agidia tercenung sejenak, dia aduk-aduk Banana Smoothie dengan sedotannya sambil terpekur. Butuh nyali besar sebenarnya untuk menanyakan hal itu pada Agidia. Lira pun menyemburatkan napas lega selepas melesatkan pertanyaan itu; sejenis pertanyaan dengan bobot tidak terkira beratnya yang betul-betul dihindari Agidia.

“Tahu nggak, Ra? Pisang itu bagus deh buat diet.”

“Jangan ngalihin pembicaraan. Muka lo nggak bisa bohong. Gue tau. Cerita, Agidia! Apa artinya 5 tahun persahabatan kita?” Lira menekan.

“Belum waktunya, Ra. Sementara aku lebih nyaman menyimpanya sendiri.” Agidia menanggapi dingin.

Bicara tentang masa depan dengan Agidia, cukup singgung saja soal karir, beragam macam peluang bisnis dan prospeknya serta hal-hal yang bersifat pencapaian materil. Jangan bawa-bawa jodoh, itu sudah lain soal. Pencapaian materil satu hal, jodoh sudah satu hal lain; jelas garis markanya. Namun prinsip Agidia itu tidak berarti apa-apa di hadapan kedua orangtuanya yang jauh-jauh hari—selepas Agidia menyelesaikan pendidikannya di suatu perguruan tinggi—sangat berharap bisa menimang cucu dari Agidia. Ditambah dengan kehadiran Diaz, kondisi itu jadi kian keruh walau bagi Agidia, sudah betul-betul dia tegaskan: mana yang harus diabaikan dan mana yang agaknya perlu diperhatikan.

Agidia lekas menutup laptop ketika seorang lelaki berhidung mancung dan berambut cepak membosankan mendatanginya. Suasana café tampak tenang, hening dan sepi—tempat yang selalu ia idam-idamkan agar bisa maksimal menulis draft skenario.

Agidia merunduk, enggan memandang lelaki yang dulu pernah mengisi hari-harinya itu.

“Mau ke mana?”

“Maaf, aku ada meeting dadakan.” Agidia tetap enggan menatap Diaz. Ia rapikan kacamatanya.

“Permisi…” Agidia undur diri, Diaz menahan langkah Agidia dengan menggenggam erat lengannya.

“Aku minta maaf.” Agidia mematung. Keduanya saling bersipunggung.

“Tak ada yang salah, tidak ada yang benar. Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Enough?” Agidia meninggikan suara. Diaz melepas genggamannya. Agidia berlalu dengan derap langkah terburu-buru. Dia merasa menang. Telak. Diaz patut mendapatkan itu, batinnya.
***

Tak selamanya harus patuh pada ketetapan garis marka, Agidia mungkin lebih lentur dari karet soal pemahaman itu. Namun, sudah ia tegaskan: tak ada ruang di hatinya bagi lelaki mana pun—minimal untuk saat ini, di saat ia betul-betul mensyukuri kesendiriannya sebagai anugerah karena pencapaian-pencapaiannya selama ini, tidak diraih dengan seseorang yang berarti di sisinya selain sang ibu. Semua dilalui sendiri. Ibu mengirim malaikat melalui doa-doanya.

Selain jodoh, satu hal yang cukup mengganggu dan kerap memecah konsentrasi Agidia ketika menulis adalah ayahnya. Ayahnya, seorang politikus dan sosok yang otoriter. Mungkin, pikirnya nakal, kalau ayahnya kelak membuat partai, partai itu akan mengusung ideologi komunisme. Politik adalah panggung para penjahat elit. Agidia paling enggan membahasnya, apalagi ketika sang ayah harus jadi salah satu bagian dari panggung penjahat elit itu. Agidia kecewa.

Ayahnya tipikal serba otoriter dan mudah khawatir. Apalagi saat tahu profesi Agidia sekarang. Ayahnya khawatir Agidia dekat dengan seorang artis yang pergaulannya tidak sehat dan menjerumuskan Agidia pada hal-hal negatif. Orangtua memang terkadang begitu, pikir Agidia. Membosankan. Tapi ia hanya bisa memaklumi tanpa upaya ingin membelot secara verbal atau meluruskannya. Toh, itu tanda sayang.

Padahal, apa saja yang Agidia minta pasti akan dikabulkan ayahnya, dengan satu catatan: patuh. Tanpa syarat. Sikap otoriter ayahnya itu berimbas pada hubungan Agidia dengan Diaz. Karena ayahnya, Diaz jadi bersikap bodoh—mungkin itu sebutan paling layak dan paling halus untuk kasusnya. Diaz pernah diminta oleh ayahnya untuk membuntuti Agidia ke mana pun ia pergi dan memberi laporan pada ayahnya tentang apa saja yang Agidia lakukan. Itu adalah hal terbodoh yang Agidia tahu tentang Diaz. Sejak itu, Agidia makin benci pada ayahnya dan berharap agar ayahnya stroke saja.

“Anak perempuan itu harusnya nurut, manut sama ayahnya,” kata sang ayah, suatu waktu. “Kalau ndak nurut, mending pulang saja ke rahim ibumu!” dengan nada keras ayahnya mengingatkan.

Agidia berpikir, mungkin akan sangat mengasyikan jika bisa pulang ke rahim ibu. Seperti Lisa, seorang nihilis muda di lagu Jason Ranti, yang berharap bisa kembali pulang ke rahim ibunya. Tapi Agidia bukan Lisa. Lisa kalah. Dalam banyak hal. Lisa ingat tuhan, ketika masa depan di matanya mulai terlihat suram dan hari-hari yang dijalani adalah gumpalan kemuraman-demi-kemuraman. Tapi tidak dengan Agidia. Baginya, dia jelas seorang pemenang. Rumah, mobil, segala yang berbau kekinian, bisa diraihnya dengan mudah. Apalagi alasan paling kuat untuk pulang ke rahim ibunya? Agidia mungkin punya ketentuan soal garis marka, tapi dia abai akan rambu-rambu dan lalu lintas yang riuh rendah di kepala sang ayah. Setidaknya, belakangan ia mulai memikirkan poin penting itu dan beranjak dari egonya; ruang tunggu yang selalu menanti nyala api di tungku.

“Sudah terlambat untuk sebuah maaf?” desak Diaz.

“Belum sebenarnya,” kata Agidia. “Jika tanpa kebodohan itu yang membuat semuanya jadi terlambat!”

Agidia pergi, masuk ke mobilnya, meninggalkan Diaz yang diam mematung.

Mobil itu baru 3 bulan lalu Agidia beli dari hasil menulis skenario untuk sebuah film layar lebar. Tentu tanpa sepengetahuan sang ayah yang pasti bakal lebih khawatir kalau tahu Agidia sudah lancar menyetir mobil dan sudah paham juga khatam bagaimana caranya membuat mobil bergoyang-goyang di sebuah sudut gang, atau di hutan pinggir jalan.
***

Malamnya, tak terlalu larut, Agidia hendak pergi clubbing. Di jalan, karena menerobos lampu merah, Nissan juke hitam Agidia diberhentikan oleh polisi. Selain itu, ia tak mematuhi garis marka jalan. Agidia ditilang. Semua kelengkapan suratnya diperiksa. Dan, seperti biasanya, terjadi negosiasi. Aneh juga, pikir Agidia. Sudah mau larut begini masih ada polisi berkeliaran. Agidia mengeluarkan uang 700 ribu untuk membuat si polisi lekas angkat kaki. Pelanggaran marka jalan dendanya cukup tinggi ternyata. Tak selamanya harus patuh pada ketetapan garis marka, Agidia mungkin lebih lentur dari karet soal pemahaman itu, tapi pada rambu-rambu yang ada, dia jelas sering abai.

“Mungkin ayah lebih cocok jadi polisi saja,” pikir Agidia. “Dan Diaz, si tampan berotak udang itu, jangan lagi jadi model majalah kebugaran pria dewasa, masa depanmu mungkin bakal lebih cerah kalau kamu mau jadi intel,” selorohnya beberapa jam sebelum pulang dalam keadaan mabuk berat.
***

Pandeglang-Bekasi
Februari-oktober 2018

Ilustrasi: pixabay.com


Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.