Kehidupan Petani Tembakau di Lombok Tengah, Pasca Gempa Melanda

Oleh: Niya Kaniya & Dita Faisal

Salah satu hasil alam yang bernilai tinggi pada sektor pertanian di Lombok adalah tembakau. Ada dua jenis tembakau yang dihasilkan dari pulau seribu masjid ini, yaitu tembaku rakyat dan tembakau virginia. Berdasarkan data yang dirilis BPS NTB dalam Angka 2018 dijelaskan bahwa Lombok Tengah dan Lombok Timur, merupakan daerah penghasil tembakau terbesar dan pemasok utama rokok di tingkat nasional. Jika ingin melihat perkebunan tembakau di Lombok, cobalah mengitari Lombok Timur dan Lombok Tengah, karena disana akan tampak hamparan ladang tanaman tembakau yang menghijau dan membentang di sepanjang jalan sebelum menuju kawasan pariwisata.

Bisnis tembakau yang menjanjikan membuat para petani lebih memilih menanam tembakau ketimbang hasil alam lainnya. Iklim yang tropis di Lombok dengan curah hujan yang minim membuat tembakau tumbh dengan baik di Lombok Tengah dan Lombok Timur. Terbukti, dalam setahun terakhir, produksi tembakau virginia di Lombok Tengah bisa mencapai 10.911 ton dan 14.743 ton untuk Lombok Timur. Angka ini menunjukkan bahwa Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur merupakan daerah yang paling subur untuk ditanami tembakau virginia.

Pak Mardan, Petani Tembakau Asal Kecamatan Kopang Lombok Tengah
Tak banyak yang tahu tentang seluk beluk kehidupan petani tembakau di Lombok Tengah. Namun, lewat sosok pria berkulit hitam bernama Mardan ini, kita bisa tahu apa saja aktivitas petani tembakau pasca gempa mengguncang Lombok sejak 29 Juli hingga akhir Agustus 2018. Pria yang akrab disapa Pak Dan ini adalah petani dari Dusun Nyanggi, Desa Montong Gamang, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah.

Meski gempa yang mengguncang Lombok cukup hebat dengan kekuatan 7 Skala Richter, tapi aktivitas Pak Mardan ke sawah untuk memantau tembakau tetap berjalan seperti biasanya. Tak ada rasa khawatir akan tertimpa bangunan, karena sesungguhnya sawah tempat pak Dan bertani aman dari bangunan berbahan semen dan batu.

"Ya kan di sawah lapang,  jadi kalau gempa ya tinggal diam di tempat. Toh bangunan kan tidak ada di sana,  hanya tanaman tembakau," ungkap pak Dan sambil memperhatikan tanaman tembakaunya.

Sektor pertanian menjadi penopang kehidupan sebagian besar masyarakat di Lombok. Itulah sebabnya, di setiap sudut kabupaten, akan hadir petani-petani yang siap menggemburkan tanah di bumi Nusa Tenggara Barat ini.
Kepada tim JPI, lelaki yang gemar memakai topi ini mengungkapkan meski gempa sudah berlalu, namun dirinya dan keluarga tetap selalu waspada. Pak Dan mengenang, bahwa gempa yang mengguncang Lombok selama sebulan sempat membuat pikirannya terganggu. Saat pak Dan berada di sawah untuk melihat tembakau yang dimasak, pak Dan kerap merasa resah dengan kondisi keluarganya yang tengah tidur di bawah tenda pengungsian yang didirikannya. Beruntung, jarak antara oven (tempat memasak tembakau) dengan tenda sederhana yang dia bangun tidak terlalu jauh, yakni berjarak 100 meter saja. Setidaknya hal ini bisa meringankan beban pikirannya ketika berada di pengovenan.
Ladang tembakau di Desa Montong Gamang, Kec. Kopang, Lombok Tengah
Menjaga Oven untuk Memasak Tembakau
Pak Dan bertani di atas lahan seluas 1 hektar milik pengusaha di Lombok Tengah. Walaupun lahan tersebut milik orang lain, tapi pak Dan merawat tanaman tembakau layaknya mengurus diri sendiri. Mulai dari tanam hingga panen Pak Dan lakukan dengan sepenuh hati. Jika panen tiba, Pak Dan harus mondar-mandir ke ladang hingga 2 hari untuk memetik daun yang sudah tua. Jarak yang cukup jauh antar ladang dengan lokasi pengovenan membuat pak Dan lebih memilih menggunakan sepeda motornya untuk membawa tembakaunya ke tempat pengovenan.
Salah satu open milik warga Desa Montong Gamang
Bangunan berbentuk persegi berukuran 4,5x5 meter ini menjadi harapan bagi keluarga pak Mardan. Sebagai petani tembakau, pak Dan berkewajiban untuk menunggu tembakaunya yang sedang dimasak dalam open. Ibarat menanak nasi, pak Dan terus mengontrol kondisi api agar tembakau yang dimasak tidak kematangan atau hangus. Untuk memasak tembakau, pak Dan membutuhkan waktu 4-5 hari, dimana open harus menyala sepanjang hari selama 24 jam penuh dengan kondisi api yang stabil. Selama pengopenan, pak Dan akan menghabiskan satu truk kayu yang dipesan dari pengusaha kayu di daerahnya.
Pak Dan mempersiapkan kayu untuk pengopenan tembakau
Pak Dan berkisah, dalam dua minggu awal terjadinya gempa, pak Dan harus memastikan agar api tidak menyala terlalu besar selama proses pengovenan. Guncangan hebat berkali-kali bisa membuat nyala api tidak stabil dan membuat gagal produksi.

"Takut saja kalau apinya besar, nanti kayak oven punya Pak Muhur yang kebakaran karena gempa 7 SR," ungkap Pak Dan mengingat peristiwa saat gempa terus mengguncang Lombok selama satu bulan lamanya.

Gempa Usai, Pak Dan Kembali Berladang Sambil Mencari Pakan Sapi
Kini, gempa telah berlalu. Meski gempa susulan masih terjadi dengan kekuatan di bawah 5SR, namun aktivitas pertanian dan pengolahan tembakau sudah bisa dikatakan normal. Selain berladang, Pak Dan bahkan sudah bisa memulai kegiatan lainnya, yaitu mencari rumput untuk memberi pakan sapi yang diternaknya di dekat rumahnya. Menurut Pak Dan, tembakau yang sudah di petik daunnya dan sudah dalam tahap pemasakan bisa aman ditinggal dan titipkan kepada anak dan isterinya. Selama pengovenan, Pak Dan bisa leluasa pergi hingga dua jam untuk mencari rumput yang hijau dan bagus (dalam bahasa Sasak, melak) untuk pakan seekor sapi peliharaannya.
Anak ke-2 Pak Dan memasukkan kayu di pengopenan
Penghasilan Petani Tembakau 
Penghasilan para petani tembakau tidaklah menentu. Besar kecilnya pendapatan bergantung pada bagus tidaknya hasil pengopenannya. Selain itu, faktor cuaca juga menjadi penopang mulusnya roda perekonomian para petani tembakau di Lombok. Jika kemarau tiba, maka tembakau yang dihasilkan akan bagus menguntungkan,  tapi jika hujan mengguyur, maka sedikit harapan untuk petani tembakau meraup keuntungan berlebih. Berbisnis tembakau butuh modal tak sedikit. Pak Dan mengisahkan tentang pengalamannya merugi pada tahun 2010, tapi hal itu tak lantas membuat pak Dan kapok untuk menanam tembakau. Baginya, tembakaulah mata pencarian utamanya yang mampu menghidupi ia dan keluarga selama ini.

Itulah kisah tentang Pak Dan, seorang petani tembakau di Dusun Nyanggi,  Desa Montong gamang, kecamatan Kopang, kabupaten lombok tengah. Pak Dan berharap, bahwa gempa tak lagi kembali, sehingga aktivitas perekonomian di Lombok dapat pulih seperti hari-hari sebelumnya. (NKY/DF)

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.