Karang Taruna Urip Rahayu Desa Montong Gamang & JPI Peduli Salurkan Bantuan Kepada Korban Gempa di Lombok

Oleh: Niya Kaniya & Dita Faisal

Jiwa sosial yang tinggi dan rasa empati yang begitu besar membuat Karang Taruna Urip Rahayu Desa Montong Gamang, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah tergerak untuk melakukan penggalangan dana guna membantu para korban gempa Lombok 6,4 SR yang terjadi pada 29 Juli 2018 lalu. Rasa kepedulian tersebut diwujudkan dengan cara menggalang dana di perempatan jalan Desa Montong Gamang. Selama proses penggalangan dana itu, anggota karang Taruna Urip Rahayu melantunkan shalawat sambil diiringi hadrah.
Program penggalangan dana yang dinamai "Peduli Gempa Lombok, bershalawat untuk Lombok" pada waktu itu membuat orang yang berlalu lalang terhibur ketika mendengar riuh gendang yang ditabuh. Cara yang dilakukan dalam berdonasi mampu menyedot perhatian masyarakat Lombok Tengah untuk turut menyumbang. Menurut anggota Karang Taruna Urip Rahayu, jiwa sosial perlu ditanamkan di hati setiap orang. Karang Taruna Urip Rahayu adalah organisasi kepemudaan tingkat Desa di Lombok Tengah yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial di bawah naungan Kementrian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI).
Salah satu anggota Karang Taruna mengungkapkan bahwa penggalangan dana Peduli Gempa Lombok tidak hanya bertujuan untuk membangkitkan rasa kepedulian saja, tapi juga mengajak para pemuda untuk lebih kreatif dan inovatif lagi dalam mengemas sebuah program sosial.

"Banyak kegiatan karang taruna lainnya, salah satunya mencetak generasi yang sehat jasmani dan rohani. Jasmani kegiatannya yaitu dengan mengadakan event-event olahraga, sedangkan rohani dengan melakukan kajian-kajian keislaman (serakalan dan diskusi tentang Islam bersama ulama)," ungkap Jaya Mundra anggota karang taruna.
Penggalangan dana dalam waktu satu hari ini diharapkan dapat mewujudkan secercah harapan bagi para korban gempa di Lombok Timur yang kini memerlukan banyak bantuan. Meski pengumpulan dana dilakukan hanya sehari, namun seluruh anggota bersyukur karena kegiatan sosial telah berlangsung dengan lancar.

"Alhamdulillah tidak ada kendala selama penggalangan dana, meski waktu yang diperlukan hanya sehari," ungkap Samsul Bahri, Ketua Tim Karang Taruna yang hobi bersilaturrahmi, berdiskusi dan berpetualang ini.
Penggalangan dana oleh Karang Taruna Urip Rahayu Desa Montong Gamang dilakukan bersama dengan komunitas menulis Jaringan Penulis Indonesia (JPI Peduli), Mahasiswa KKN IKIP Mataram, serta para pelajar di Lombok Tengah. Penggalangan dana Peduli Gempa Lombok berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp7.810.000. Uang tunai yang terkumpul tersebut langsung dibelikan barang kebutuhan korban bencana gempa sembako, roti, air mineral, pakaian layak pakai dan popok bayi.

JPI Peduli memutuskan untuk bergabung bersama Karang Taruna Urip Rahayu karena rasa peduli kebersamaan yang tinggi untuk bisa berbagi bersama.

"Karena awalnya hanya sekedar membantu tanpa ada niatan langsung ke lokasi, tapi kebetulan dari grup kader juga diajak dan karang taruna juga supaya dapet disaksikan, ya udah ikut," ungkap Niya Kaniya anggota Jaringan Penulis Indonesia yang bemukim di Lombok Tengah.

Niya menambahkan perasaan bangganya sekaligus terharu karena bisa mewakili sahabat JPI untuk memberikan secara langsung donasi yang telah di sumbangkan kepada para korban yang sangat membutuhkan.

Donasi ke Dusun Manempo, Desa Obel-obel, Lombok Timur
Usai penggalangan dana digelar, Karang Taruna Urip Rahayu beserta anggota lainnya mulai mencari lokasi-lokasi yang sulit di jangkau. Dusun Manempo, Desa Obel-obel, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur menjadi pilihan tim Karang Taruna Urip Rahayu untuk memberikan bantuan. Distribusi dilakukan menggunakan 4 mobil bak terbuka yang disewa dari warga pada 4 Agustus 2018, sehari sebelum gempa berikutnya terjadi dengan kekuatan yang lebih besar 7 SR.
Salah satu anggota tim pemberi bantuan sempat mewawancarai korban yang tengah bermukim di tenda pengungsian. Dalam wawancara tersebut, perempuan berdaster yang mengenakan jilbab berwarna coklat itu menceritakan detik-detik saat terjadinya gempa Lombok 6,4 Skala Richter (SR) 29 Juli 2018 lalu. Saat itu ia mengaku sedang berada di luar rumah untuk bersih-bersih, namun tiba-tiba terjadi getaran hebat yang membuatnya panik dan menjerit memanggil suaminya yang pada saat itu juga berada di luar bersiap untuk berangkat kerja. Dalam kondisi panik, ia langsung melihat ke arah laut dan berpikir akan terjadi tsunami. Ia pun bergegas dan berlari ke arah bukit, namun ternyata bukit yang ia tuju juga mengalami kelongsoran yang mengakibatkan dia dan anggota keluarganya yang lain segera pergi menyelamatkan diri. Dalam bencana tersebut, anak dari saudara suaminya yang kira-kira berumur 30 dan 35 tahun menjadi korban patah tulang. Kondisi yang parah membuat tim medis membawanya ke rumah sakit.

"Yang satunya masih di rumah sakit, nah kalau yang ini dia yang patah pinggang," ujar ibu setengah baya sambil menunjuk saudaranya yang menjadi korban patah pinggang.

Wajah pilu nan tua cukup membuat hati siapapun tersentuh dan ikut menjerit mendengar deritanya. Karang Taruna Urip Rahayu, tim JPI Peduli berharap bahwa bencana yang mengguncang lombok segera berakhir.

"Semoga para korban bencana tetap waspada dan bersabar menghadapi ujian ini. Mengharap dengan do'a semoga semua korban tetap dalam lindungannya dan sehat selalu. Terkhusus untuk yang meninggal semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan tentunya diterima amal ibadahnya dan kuburnya dijadikan sebagai taman syurga," ungkap Samsul Bahri.

Harapan dari laki-laki yang kesehariannya sebagai guru honorer ini  juga merupakan harapan semua orang, bahwa  bencana gempa Lombok segera berakhir dan Lombok kembali menjadi pulau seribu masjid yang menenangkan dan juga mendamaikan.

Baca juga: Kehidupan Malam di Bawah Tenda Pengungsian Pasca Gempa Lombok 7SR
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.