Meski Jadi Guru PAUD, Niya Kaniya Tetap Bisa Menulis Kok!



Oleh: Ria M.

Ketertarikanya di dunia literasi berawal ketika menjadi pembaca novel saat duduk di bangku SMP. Selain menjadi pembaca, Niya pun ingin menjadi seorang penulis yang akan banyak dikenal dan mengenal banyak orang. Ingin seperti teman-teman lain yang sudah eksis lebih dulu dengan unggahan cerbung dalam grup, Niya pun tak mau kalah. Sulung dari dua bersaudara ini pun membuktikannya dengan mulai menulis cerbung pertamanya di grup dengan judul "Kata Cinta". Niya gencar dan bersemangat meski tampilan layar sentuh pada ponselnya retak dan LCD memantulkan cahaya pelangi.

"Gak ada yang bisa pake itu hape selain yang punya yaitu, aku. Hahaha," begitulah gelaknya menuturkan percikan kisah lalu, mengingat kesulitan-kesulitan yang pernah dialami.

Ketika ia mulai mengajar di PAUD pada awal tahun 2016, Niya mulai jarang menulis. Aktivitasnya mengajar cukup menyita konsentrasinya dalam membagi waktu antara pekerjaan dan hobi. Inspirasi menulispun berantakan terbentur lelah.
Menjadi Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) membuatnya harus fokus untuk benar-benar memperhatikan psikis anak-anak agar selalu ceria. Sama dengan kebanyakan para pengajar anak usia dini, tantangan menjadi guru PAUD tentu susah-susah gampang. Butuh motivasi tersendiri untuk bisa konsisten mengontrol emosi dan ego agar bisa selalu bahagia menghadapi para peserta didik, dan selalu memberikan contoh dengan bahasa yang mudah dicerna untuk mengajarkan sikap dan tindakan yang baik.

Meski tak ringan, namun semua tantangan tak menjadi penghalang. Penikmat film romantis ini menerangkan, bahwa saat berbaur dengan anak-anak, seluruh masalah pribadi lenyap seketika menyatu padu dengan tawa dan canda yang tulus terpancar dari hati. Itulah salah satu kegembiraan menjadi guru PAUD.

"Kebetulan juga aku suka anak kecil jadi ya bisa menikmati kebahagiaan," pungkasnya.

Selain wawasan pengalaman, Niya juga memberi tips sederhana dalam membimbing anak. "Boleh tegas tapi tidak boleh kasar, yang pasti kita juga bisa menjadi temannya anak-anak untuk mengalihkan perhatianya agar mau dibimbing."

Kendati seorang pembimbing anak, ia juga merupakan seorang anak yang ingin membahagiakan orang tua. Impian besar yang tak muluk-muluk kini sedikit demi sedikit ia rangkai, melakukan yang terbaik agar kedua orang tuanya bahagia dan menjadi anak kebanggaan.
Awal Menulis, Keluarga Sempat Sinis
Di masa awal menulis, respon dari keluarga dan karib kerabat tak menggembirakan mata dan telinga. Tak ada dukungan, apalagi pujian. Ekspresi pun tak manis, tapi cenderung sinis. Tapi, itulah tantangan bagi seorang penulis yang belum berbuah hasil.

"Melakukan sesuatu harus optimis, meskipun tanggapan awalnya mereka tidak menerima. Ketika itu hanya Ayahlah yang mendukungku sampai dia tambahin uang buat beli laptop agar aku bisa nulis. Dan lama-lama keluarga yang lain dukung hingga sekarang," curhat pecinta doraeman ini saat diwawancara tim JPI.

Begitulah pungkas Niya mengakhiri perbincangan kami. Semoga sepenggal kisah dari salah satu sahabat JPI asal Dusun Nyanggi, Desa Montong Gamang, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah ini bisa diambil hikmahnya. Karena apapun yang terjadi di dunia ini, tidak ada yang mucul secara kebetulan dan sia-sia. Tentu ada hal baik di balik itu semua.

Semoga bermanfaat. Salam sukses sahabat JPI. Semangat menulis dari Ria Sahabat JPI, di desa kecil nan bahagia di Jati Datar, Lampung Tengah. (RM)

Profil
Nama: Niya Zulniyati
Nama Komersil: Niya Kaniya
TTL: Nyanggi, Lombok, 11-11-1994

Riwayat Pendidikan:
- SDN 5 Karang Tengak, Kopang, Kab. Lombok Tengah
- SMPN 3 Kopang, Kab. Lombok Tengah
- SMAN 1 Kopang, Kab. Lombok Tengah

Riwayat Pekerjaan:
Guru PAUD Habibu At-Tholabah, Dusun Nyanggi, Desa Montong Gamang, Kec. Kopang, Kab. Lombok Tengah

Karya: Novel Secret Diary

Medsos
Fb: Niya Kaniya
Ig : @niya_kaniya
wattpad: @niyakaniya
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.