Hanya Sesaat


Aroma tanah yang tercium karena baru di guyur hujan, Sintya menatap ke luar jendela, memperhatikan sekawanan itik berenang di genangan air depan rumah. Diantara sekawanan itik, mata Sintya terpaku pada dua pasang itik yang saling memadu kasih.

"Coba kalau suamiku romantis, pasti bahagia hidupku!" gumamnya.

Rendi, pria jangkung dengan warna kulit sawo matang yang kini menjadi suaminya hanyalah suami kebetulan saja.  Pernikahan yang hampir melewati enam purnama itu telah dikaruniai dua orang putri kembar dan seorang putra tampan. Sebenarnya Sintya tak pernah berharap akan dinikahi oleh Rendi, sebab Sintya menaruh hati pada salah seorang pria, teman sekelasnya dulu, Deni. Namun, karena Deni tak pernah berkabar sejak merantau ke Malaysia, akhirnya Sintya menerima pinangan Rendi, meskipun dengan berat hati.

"Ma, Ica ambil mainan Ici. Huuu...!" seru salah seorang anak kembarnya.

Buru-buru Sintya menghampiri dan melerai dengan lembut.

"Kak Ica sayang, mainnya sama-sama ya dengan adek Ici. Nggak boleh berantem!"

"Ici pelit, Ma! Masa Ica nggak boleh pinjam!"

"Mainannya direbut, Ma, bukannya nggak mau pinjamin!"

"Ya sudah, mana mainan yang jadi rebutan? Mama pinjam boleh?"

Ica dan Ici berpandangan, "Mama mau main bareng kmi, Ma?"

Sintya mengangguk dengan senyum khasnya. Kedua putrinya sangat senang dan merasa menjadi anak paling beruntung di dunia.

Meskipun hari-hari Sintya dipenuhi dengan suara gaduh kedua putrinya, namun ia senang dikaruniai anak yang lucu dan penurut.

"Oiya, Abang Ipo mana ya? Udah jam empat belum pulang juga!"

Ipo, anak pertama yang berumur empat tahun itu belum juga pulang ke rumah. Meskipun anaknya tidak akan ke luar dari lingkungan asrama yang dijaga ketat, namun Sintya tetap khawatir jika putranya itu pulang terlalu sore.

"Siapa yang mau ikut mama jemput Abang Ipo?"

Serentak kedua putri kembarnya itu berteriak "Mau".

****

Sore yang sepoi, belaian lembut sang angin menyentuh Sintya, membuat ibu ketiga anak itu terlena, mengamati butiran air yang turun dari langit. Membuat pikirannya berlari ke masa lalu.

"Dek Sintya, nanti kalau kita sudah lulus, kamu rencananya mau kuliah kemana?" tanya pria tampan sekelas Indra L. Brukman.

"Belum tahu kemana, Bang! Masih galau.

"Bagaimana kalau kita menikah aja!" goda Deni.

Sintya yang memang naksir berat dengan Deni, tiba-tiba merasakan detak jantungnya menjadi cepat. Begitu bahagia. Wanita mana yang takkan bahagia mendengar kata rayuan dari pria yang dikasihinya, apalagi kata-kata itu tentang "Pernikahan".

"Sintya sih terserah sama Abang!"

"Doakan aja ya, Dek. Abang tu naksir kamu sejak pertama kenal di kelas. Tapi Abang masih takut untuk ungkapkan, khawatir dapat penolakan"

"Mana ada gadis yang bakalan menolak, Bang, jika pria itu setampan kamu!" gumam Sintya dengan muka merah semu.


Hening sejenak, sebelum akhirnya Deni kembali membuka percakapan.

"Lulus, Abang mau berangkat ke Malaysia, Dek. Mencari pekerjaan di sana."

Wajah semu gadis berambut ikal itu tiba-tiba mengerucut, saat mendengar apa yang dikatakan pria dambaan hatinya.

"Kenapa harus pergi sejauh itu, Bang? Di sini juga banyak pekerjaan yang bisa dilamar!"

"Di sana, gaji pekerjanya tinggi"

"Mau kerja apa, Bang?"

"Menyadap karet!"

"Haruskah sejauh itu?"

Deni tak menjawab. Kembali keduanya dalam keheningan, hanya suara laju kendaraan yang terdengar.

Setahun, dua tahun hingga lima tahun lamanya. Sintya tak pernah mendapat kabar dari Deni, sama sekali. Sintya merasakan keputus asaan yang dalam. Hingga suatu ketika sahabat dari sang Papa datang, lalu melihat anak gadis sahabatnya itu, dan tertarik ingin menjodohkan anak lelakinya.

Meskipun bukan zaman Siti Nurbaya lagi, namun pada kenyataannya masih ada orangtua yang memaksakan kehendaknya, terhadap pria mana yang akan disandingkan dengan anak gadisnya, sebagaimana yang dialami Sintya. Hingga pada akhirnya pernikahan itu berlangsung.

"Kamu lagi mikirin apa, Ma?"

"Astagfirullah! Mengapa tiba-tiba aku kepikiran Deni?" gumam Sintya yang terperanjat dengan kehadiran suaminya yang tiba-tiba.

"A... aku, nggak mikirin apa-apa, Pa!" Sintya berbohong.

"Nggak mikirin apa-apa kok kagetnya minta ampun? Dari tadi loh Papa panggil Mama. Saat Paa masuk, eh ... nggak tahunya Mama melamun di sini!"

"Ih, Papa. Mama hanya perhatikan butiran air hujan. Aroma hujan begitu nikmat!"

"Oiya, Ma. Tadi Papa ketemu Retno. Dia titip salam untuk kamu. Katanya mengundang kamu datang ke acara reuni SMA bulan depan."

"Retno? Retno siapa, Pa?"

Sintya memijit kepalanya, mengingat sesuatu.

"Oh, Retno Gemintang yang pernah Mama kenalin ke Papa saat di Pasar Rebo itu, Pa?"

Rendi mengangguk. Dan memberikan secarik kertas berisi nomor handphone.

****

Satu bulan kemudian.

Sintya sudah tak sabar menunggu hari esok. Terlebih saat Retno memberi tahukan jika Deni ikut hadir ke acara reuni. Deni yang sudah bertahun-tahun tidak ditemuinya itu, seketika menjelma menjadi pangeran berkuda putih dalam pikirannya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba membuncah dalam hatinya. Campur aduk. Membuat wanita semampai itu lupa bahwa kini ia telah memiliki keluarga.

"Pa, Mama mau izin datang ke acara reuni. Mama titip anak-anak ya! Besok Papa kan libur, jadi anak-anak Mama tinggal aja. Kasian mereka kalau harus jauh-jauh ikut ke acara itu. Lagipula, kayanya nggak ada yang bawa anak."

"Iya, boleh!"

Itulah yang membuat Sintya terkadang merasa bosan dengan pernikahannya, selalu menuruti apa maunya, menuruti apa permintaannya. Pria seperti itu baginya terlihat seperti pria lemah. Padahal jika Sintya menelusuri lebih dalam, ia akan tahu jika suaminya itu tak setuju, khawatir, dan ingin melarang. Namun karena rasa sayangnya, ia pun mengizinkan asal wanita bisa menjaga dirinya.

"Kemungkinan, Mama pulang sore dan bareng Retno."

Rendi mengiyakan!

****

Taman Mini Indonesia Indah
Beberapa wanita dan pria paruh baya mulai padat memenuhi kursi yang tertata rapi. Mata seorang wanita berpakaian gaun pink seperti mencari sesuatu, perasaannya mulai tak menentu. Ia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan pria yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Masih setampan dulu kah, sudah beristri kah, atau mungkin masih sama seperti yang dulu.

"Hai, Sintya. Apa kabar?"

Seorang pria berkulit hitam menghampirinya dengan celana lebar yang hampir tak sanggup menahan perut si pria, persis wanita yang tengah hamil tua.

"Hai juga, apa kabarmu, Den? Sudah lama kita nggak ketemu!"

"Baik. Cantikmu masih sama seperti yang dulu. Beruntungnya pria yang mendapatkan cintamu!"

"Kamu nggak pernah kasih kabar, kelihatannya sudah maju di negeri orang!"

"Nggak seperti yang kamu katakan, Sintya, dan tak seindah yang kuharapkan. Justru berbanding terbalik!"

Saat berbincang, tiba-tiba ada seorang wanita bertubuh besar menghampiri. Menatap sinis ke arah Sintya.

"Di cariin dari tadi, ternyata kamu nongkrong di sini! Hayo, pulang!"

"Kenalin, ini istriku. Kami bertemu di Malaysia dan menikah seminggu kemudian. Dia anak pemilik kos tempat tinggalku."

Sintya tak menyangka, jika penantiannya dulu dihianati. Pria yang dikasihinya menikah dengan wanita lain tanpa memberi kabar yang pasti.

Sintya mengulurkan tangan, namun uluran itu tak dibalas.

"Ayo, pulang! Atau aku laporkan ke bapak!" ancam wanita yang mendadak datang itu.

Mata Sintya terus membuntuti punggung Deni dan istrinya, hingga hilang ditelan keramaian.

"Astagfirullah. Harusnya aku bersyukur memiliki suami yang penyayang seperti Rendi. Anak yang cantik dan tampan. Bukannya memikirkan masa lalu yang ternyata sudah berlalu dan telah memutuskan jalan hidupnya lebih dulu."

Sintya memencet tuts handphone, menghubungi seseorang.

"Pa, ajak anak-anak ke sini. Sepulang acara kita makan bersama di Resto yang biasa menjadi langganan kita!"


TAMAT! 

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.