CERPEN TERGOMBAL, "HADIAH TERINDAH DARI TUHAN; Roisatul Mahmudah"

HADIAH TERINDAN DARI TUHAN
Karya Roisatul Mahmudah



Hati...
Mengapa engkau hanya bisa pasrah?
Ketika apa yang datang
tak sejalan dengan apa yang kumau
Mengapa engkau begitu bodoh?
Tak mau menepis sesuatu,
yang kuanggap
tak layak untuk memasukimu.
Dan cinta...
Mengapa engkau begitu lancang,
memasuki, menghuni,
dan menjajah hatiku tanpa permisi
Tuhan, apa arti semua ini?
Yang aku tahu...
Hidup adalah pilihan
Tapi...
Mengapa engkau tak memberiku
kesempatan untuk memilih?

Jam tangan telah menunjuk pukul 07.00 waktu setempat. Kuayunkan langkah menuju ruang penyiksaan yang setiap hari harus aku kunjungi. Iya, ruang kelasku sendiri yang suasananya lebih mengerikan dari sarang drakula. Begitukah? Tentu saja. Betapa tidak, setiap hari mataku harus menatap makhluk angkuh yang selalu bertengger di bangku paling depan dekat pintu itu. Mungkin semuanya tidak akan menjadi masalah, jika hatiku tidak digerogoti oleh virus yang dianggap indah oleh semua orang, tetapi begitu mengerikan bagiku.
Entahlah, energi apa yang telah lancang menggetarkan seluruh hatiku. Ketika nama pria angkuh itu disebut. Entah, kekuatan apa yang menggerakkan jantungku untuk berdetak sekencang ini, aku tak tahu! Itupun terjadi ketika mata kami saling beradu pandang. Rindu yang tak tertahankan selalu menghajarku. Ternyata, baru terasa ketika tiada kulihat wajah angkuhnya.
Tempat dudukku yang di belakang, cukup strategis bagi hatiku untuk mengomando sang mata agar memandang punggung jangkung makhluk angkuh itu. Kadang tangannya sibuk membenahi  letak kacamata  jadulnya, kadang senyum yang terlontar tak pasti sebulan sekali itu membuat jantungku seakan meloncat. Sekuat apapun aku mengalihkan pandangan mataku, hati ini tetap saja bandel, bersikukuh meminta sang mata untuk tetap menatap punggung makhluk angkuh itu, bahkan konyolnya aku tersenyum saat memandangnya. Sungguh konyol sekali ini!
Glek! Gawat!! Aku segera menundukkan kepala. Ketika makhluk angkuh itu menoleh, bahkan mata kami kembali beradu pandang. Seluruh tulangku seakan luruh ke tanah saat dia bangkit dan baru aku ketahui ia menghampiriku.
“Heh, pandangan matamu mengganggu kenyamananku. Aku tak suka di pandang seperti itu!” Suara tinggi menggelegar itu menyulapku menjadi sebuah patung yang berperasaan dan cengeng.
SRENG! Dalam kebengonganku, dia telah lenyap dan kembali kehabitatnya. Tak perduli bahwa kata-katanya bagaikan petir yang berhasil menyambar seluruh hatiku, jiwaku, nuraniku, dan naluriku. Sejenak aku terdiam dan tak mampu berkutik. Aku tak henti mengutuki diriku sendiri, “Mengapa  kata-kata yang biasanya secara lancar meluncur dari mulutku, kali ini sembunyi dan seakan membeku?” Kali ini aku hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat agar air mataku tak luruh.

****

Aku hanya makhluk lemah yang tak bisa apa-apa, bahkan mengatur hatiku sendiripun aku tak becus. Apa yang bisa diperbuat oleh gadis bodoh sepertiku? Ketika Tuhan telah memasukkan satu nama ke dalam hatiku. Satu nama yang bahkan aku sangat tidak inginkan. Haruskah kuakui, bahwa makhluk angkuh itu telah memenangkan hatiku, berhasil memasuki ruang hatiku, menghuninya dan bahkan menguasainya?
ARGGHRG!!! Betapa bodohnya hatiku ini. Aku terus mempertanyakan dalam batinku, “Mengapa ia tak bisa memilih dengan benar? Mengapa harus makhluk yang angkuh, sombong, dan tak bisa menghargai orang lain seperti dia yang dipilih sih?”
Tuhan,  jika Engkau memang menghendaki aku punya cinta, mengapa cintaku harus untuk dia, yang sama sekali tak punya hati dan perasaan? Seandainya saja, cinta bisa dikuasakan, pasti aku akan segera menulis surat kuasa, dan menguasakan rasa cintaku ini untuk gadis bodoh lain yang siap terluka oleh mulut tajamnya.
BRAAAAK! Seketika aku tersentak bersamaan dengan jatuhnya tumpukan buku ke bangku yang ada dihadapanku. Ada seseorang yang sengaja membanting buku-buku itu sepertinya aku tahu, siapa makhluk tak sopan itu. Kudongakkan kepala, sepasang mata bulat yang sebenarnya indah itu, menatapku dengan geram. Ternyata, aku tidak salah lagi, makhluk angkuh itu tepat ada dihadapanku.
“Pergi!” katanya  dengan suara keras.
Matanya merah, penuh emosi. Ya Tuhan, aku baru menyadari bahwa aku sedang duduk di bangkunya. Darahku seakan mendidih mendengar kata-kata bak sambaran petir. Kata-kata itu memang singkat hanya satu kata tapi  berhasil membuat gigiku gemerutuk, serasa diterkam makhluk angkuh itu hidup-hidup. Tanpa pikir panjang, aku mengangkat buku-buku itu dan melemparkan ke wajahnya.
Buku-buku itu melayang, dan kacamata yang bertengger itu lepas dari peraduannya.
BRAAAAK! Kaca mata itu menyentuh lantai. Mataku terpaku melihat benda itu, kakiku segera beraksi mendekati kaca mata jadul yang siap di musiumkan.
PRAKKK! Kaca mata itu sekarang berubah menjadi serpihan-serpihan kaca kecil dan hancur lebur. Aku sangat puas karena berhasil menginjak kaca mata jadul si angkuh itu.
PLAKK! Aku langsung mendongakkan kepala, kupandang mata si angkuh itu lekat-lekat dengan air mata yang telah berada di ujung. Kurasakan sakit yang luar biasa, seribu kali lebih sakit dari itu. Bagaimana tidak, orang yang selama ini selalu berada di pikiranku, orang yang selama ini tak mau kuusir dari hatiku, tega mengejutkanku tanpa memakai perasaan. Ia memandangku dengan muka merah, tak pernah aku melihatnya semarah ini. Begitu sakit melihatnya yang sangat egois pada diriku ini. Aku tak kuasa lagi untuk menahan air mata yang sejak tadi sudah berada di ujung. Aku tak kuasa lagi untuk mengeluarkan kata-kata. Aku segera berlari dengan air mata yang terus mengalir dan meninggalkannya yang masih penuh emosi. Aku berlari menuju taman belakang.
“Ya Allah. Aku mohon, hilangkanlah dia dari hatiku. Tempatkanlah orang yang punya hati?!? Jangan biarkan aku lebih tersiksa lagi karena memendam cinta kepada orang yang tak punya perasaan!? Aku sudah tak kuat lagi,” ucapku lirih di sela tangis yang tak bisa lagi aku hentikan.
“Jangan pernah menilai orang lain dengan kacamatamu sendiri!” Suara itu hadir digendang telingaku, berhasil membuat aku tercekat. Suara cempreng yang aneh bisa membuat hatiku bergetar. Ternyata, aku kenal betul suara itu.
Glek! Ya Tuhan pasti dia mendengar semuanya. Aku terus terdiam dan berharap akan mendengar suara langkah kaki menjauh tapi hal itu tak juga terjadi. Pikiran kumelayang, dalam hati aku mengeluh, “Cobaan apa lagi yang kau berikan kepada hamba? Hari ini, sesuatu yang aku jaga rapat-rapat akhirnya terbongkar begitu saja karena kebodohanku sendiri.”
Sejenak aku menambah volume suara tangisku. Aku tak perduli lagi apa komentarnya kepadaku.
“Dewi, kamu tahu? Orang yang paling angkuh di dunia ini adalah orang yang mengingkari datangnya cinta ke dalam hatinya. Seolah dia bisa menciptakan cinta yang lebih indah dari yang Tuhan berikan. Jujur, aku sangat kaget sekaligus merasa besar kepala. Tak pernah kusangka, bahwa gadis yang selama ini kuanggap bodohini ternyata, bisa memilih pria yang patut dicintai dengan baik dan aku tak pernah menyangka, bahwa orang yang selalu menganggap aku angkuh itu ternyata mencintaiku. Sungguh konyol banget!” katanya panjang lebar.
Aku hanya terdiam dan tak berucap sepatah katapun.
“Kenapa diam saja? Malu karena ketahuan ternyata orang yang selalu kamu bilang angkuh ini ternyata hebat, bisa mencuri hatimu dengan mudah.”
“Kamu mengikutiku?” kataku bermaksud mengalihkan pembicaraan. 
“Jika tak begitu, aku tak akan tahu kalau ada gadis bodoh yang mencintaiku,” katanya tanpa ada nada kasar sedikitpun.
Sejenak mataku mencari kemana perginya suara angkuh itu.
“Kamu benar, aku memang bodoh, bahkan sangat bodoh. Apalagi aku tak bisa mengontrol hatiku sendiri. Oleh karena itu, aku bodoh telah mencintaimu.”
“Siapa yang kamu salahakan? Kamu mau menyalahkan Tuhan? Dia yang telah menganugerahkan cinta kepadamu. Dia lebih tahu segalanya dan Dia lebih tahu semua tentang diriku dan dirimu.”
 “Setidaknya bukan lelaki angkuh seperti kamu yang Dia berikan untukku.”
“Apa yang kamu tahu tentang diriku? Kamu tak tahu apa-apa Dewi. Yang jelas aku punya alasan untuk semua itu.”
Dia beranjak dari tempat duduknya sambil berpamitan, “Aku harus pergi, nanti malam aku tunggu di acara pensi sekolah.” 
Sebelum ia pergi, aku menatap wajahnya dan ia menyuguhkan senyum termanis sepanjang sejarah. Lalu ia pergi.
Sementara itu, aku masih diliputi pertanyaan besar, “Apa arti senyumannya itu? Mengapa ia mengundangku ke acara pensi yang sudah pasti aku kunjungi?”

****

“Penampilan selanjutnya dari siswa kelas XII IPS 2. Marilah kita sambut, Yudish Firmansyah!”
“Yudish Firmasyah?! Apakah aku tak salah dengar? Dia naik ke atas panggung mau ngapain?” tanyaku menyeledik.
Sejenak aku berpikir, ternyata dia mengundangku hanya untuk melihatnya naik ke atas panggung. Huft! Sesaat kemudian, Yudish maju menuju panggung. Aku tercekat melihat penampilannya yang sangat berbeda dengan seragam kusutnya. Dia memakai cardigan abu-abu yang lengannya di sing-singkan sedikit. Mata bulat itu, kini terlihat lebih berbinar tanpa kaca mata jadul. Dia tampak lebih manis dengan memegang gitar.
“Gawat! Jangan sampai detak jantungku yang begitu keras ini terdengar olehnya,” dialog ku dalam hati.
“Aku tak punya suara indah untuk di persembahkan. Aku tak bisa merancang kata seindah pujangga. Aku juga tak punya seikat mawar untuk merebut hatimu. Mungkin hanya dengan sebuah lagu sebagai ungkapan dari hatiku yang telah berhasil kamu raih. Untukmu gadis bodoh yang tak pernah tahu apa arti cinta. Semoga lagu ini bisa menjelaskanmu, apa arti cinta sesungguhnya.”
Kulihat dirinya mengambil mikrofon dan mulai menyanyikan sebuah lagu.

I will always love you
kasihku hanya dirimu Satu,
I will always need you
cintaku selamanya takkan pernah terganti
Ku mau menjadi yang terakhir untukmu
Ku mau menjadi mimipi indahmu
Cintai aku dengan hatimu
Seperti aku mencintaimu
Sayangi aku dengan kasihmu
Seperti aku menyayangimu
I will be the last for you
You will be the last for me. 

“Untuk dia, mengertilah. I will be the last for you,” ucap lelaki angkuh itu sambil tersenyum ke arahku.
Ya, ke arahku!
“Ya Tuhan, apakah benar ia menyanyikan lagu yang sweet itu untukku?” hebohnya ketidakpercayaanku.
Sesaat kemudian, terdengar suara tepuk tangan riuh dari teman-teman. Aku masih tercengang, bertanya-tanya, “Bagaimana bisa makhluk angkuh itu bisa menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan seperti itu? Bagaimana bisa seorang; Yudish yang biasanya lebih galak dari penagih hutang itu tersenyum dua kali dalam sehari ini? Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam?”
Rasa tak percaya, kaget, bahagia dan sekaligus terharu. Entah, bagian mana yang membuat aku terharu. Aku masih terpaku pada sosok makhluk angkuh pujaan hatiku itu. Bagaikan keajaiban, ketidak simpatiknya aku ke sikap angkuhnya tiba-tiba luruh dalam sekejap.
Setelah selesai mengalunkan lagunya, dia keluar dari samping panggung, lalu dia menatapku, bahkan dia tersenyum. Senyumannya yang ketiga hari ini. Ia menuju ke arahku. Aku begitu gugup dan salah tingkah. Tak tahu harus berbuat apa sembari bertanya, “Apa yang harus aku lakukan? Mengucapakan terima kasih sambil tersenyum atau harus bagaimana aku?”
“Cengeng, ikut yuk!” ajaknya.
Dia menggandeng tanganku dan aku pun persis seperti bodyguard-nya dan dia bosnya. Dia membawaku keluar aula dan membawaku ke taman sekolah.
 “Dewi, kamu mendengar laguku?”
Aku hanya menjawab dengan anggukan.
 “Lagu itu selalu aku nyanyikan setiap aku merindukan kamu. Aku selalu berharap  bahwa kamu akan melihat sedikit saja hal yang akan membuatmu mengerti bahwa inilah aku.” 
“Kamu pernah merindukanku?” tanyaku antusias.
“Aku selalu merindukanmu tapi aku selalu terpukul. Ternyata kamu sama dengan mereka yang selalu tak menyukaiku dan anehnya kamu yang paling parah. Itu sebabnya, mengapa aku tak suka jika kamu sering memandangiku. Aku selalu gugup dan salah tingkah jika kamu memandangku,” katanya dengan kalem.
“Serius? Jadi….” Ucapanku terpotong olehnya.
“Jadi, kita merasakan hal yang sama Dewi. Cuma kamu saja yang terlalu munafik,” katanya datar.
Kemudian dia memutar posisi duduknya, memandangku dengan tatapan yang serius. Dia memandang mataku lekat-lekat.
“Dewi, kamu harus bertanggung jawab atas kegelisahan hatiku! Hatiku telah berhasil kamu bawa. Terima dan rawatlah hatiku dengan baik karena hanya kamu yang berhasil meraihnya.”
“Mana mungkin gadis bodoh sepertiku bisa meraih hatimu?”
“Justru kebodohanmu itu yang berhasil memenangkan hatiku, Dewi! Bisakah kamu mengizinkan aku untuk tinggal di hatimu dan mengizinkanku untuk membawamu ke dalam hatiku?” pintanya dengan sangat serius.
Ya allah, mana mungkin makhluk angkuh itu bisa berubah drastis begini, bisa berubah lembut dan romantis. Mungkinkah ini hadiah yang Engkau persiapkan untukku?
“Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan? Menempatkanku di hatimu tidak akan mendatangkan keuntungan,” kataku.
Aku masih trauma. Takut kalau keangkuhannya akan kumat lagi. Eh, dia malah tertawa kecil.
“Dewi....” Dia memanggilku dengan lembut, lalu meraih tanganku, dia menggenggamku erat.
“Aku akan beruntung jika bisa memilikimu,” katanya sambil tersenyum.
Aku begitu gemetar, baru kali ini tanganku di genggam oleh orang yang aku sayang.
“Yudish, begitu bodoh jika aku tak mengizinkanmu karena telah lama aku menunggu moment ini,” kataku sambil mengeluarkan air mata.
Hari ini aku sangat bahagia. 
“Terima kasih ya? Cengeng, aku janji... You will be the first and the last,” katanya sambil mengacak-acak rambutku.

****

Malam itu adalah malam terindah sepanjang hidupku.  Thanks God! Untuk keindahan tak terduga ini. Terima kasih atas hadiah terindah yang Engkau berikan.
“Yudish, I love you too!” tutupku.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH.


BIODATA PENULIS
Nama : Roisatul Mahmudah
Instagram : @mahmudahroisatul
Surat Email : embunpagi097@gmail.com 
FIRDA SHIEWA
FIRDA SHIEWA Gadis sederhana yang menyukai dunia literasi dan dunia musik, yang gak doyan selfie.

Posting Komentar untuk "CERPEN TERGOMBAL, "HADIAH TERINDAH DARI TUHAN; Roisatul Mahmudah""

www.jaringanpenulis.com




Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia
SimpleWordPress