IKLAN

[Cerpen] SI MANIS PENJUAL MANGGIS karya Dewie S

SI MANIS PENJUAL MANGGIS
Oleh : Dewie S

Sumber Gambar : jadiberita (dot)com

Hujan sore itu turun sangat deras, siapa saja pasti malas untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Biasanya, jika hujan deras begini, beberapa jalanan sering ada yang banjir seperti yang di lakukan Arya waktu itu, dia asyik main game online di kamarnya. Di tengah keseruannya bermain game online, tiba-tiba saja kakaknya yang lagi hamil menggagunya.
“Arya, keluar dong! Tolong belikan kakak manggis!” kata kakaknya sembari mengelus perutnya.
Sementara itu, suaminya sedang bekerja di luar kota untuk beberapa hari dan beberapa hari itu pula kakaknya menginap di rumah orang tuanya. Alhasil Arya lah yang harus menuruti segala permintaan aneh kakaknya.
“Aduh Kak! Kakak tuh, gak lihat apa di luar hujan deras banget nantilah kalau sudah reda.”
“Gak bisa Arya, ini keponakan kamu mintanya sekarang,” rengek kakaknya.
“Ya ampun, jangan dibiasakan bilang sama adiknya di luar hujan dong!”
“Gak bisa Arya. Ayo dong, kakak kasih lebih buat jajan deh!” kata kakaknya kembali membujuk.
“Aduh, iya... iya... Tapi pakai mobilnya Kakak ya, kalau pakai motor hujan Kak,” kata Arya.
“Iya, jangan lama ya!”
“Iya cari dulu kali kak, lagian ini kan lagi musim durian. Kenapa juga Kakak mau manggis, kan susah carinya.”
Arya bergegas keluar rumah untuk membelikan buah manggis untuk kakaknya. Di dalam mobilnya Arya menggerutu sendiri. 
“Di mana harus beli manggis ya? Pasar buah pasti banjir nih! Ada-ada aja, orang hamil ini.” Arya menggerutu sendiri di dalam mobilnya sembari melihat ke arah jalan yang biasanya ada jualan buah pakai gerobak.
Benar saja, tidak jauh dari sekitar perumahannya, ada penjual buah pakai gerobak. Arya segera menepi dan menghampiri penjual buah. Arya seketika bengong melihat penjual buahnya cantik.
“Buah, Mas?” tanya penjual buah yang bermata sayu itu.
“Eh, iya, Mbak. Buah manggis ada?” tanya Arya yang masih kagum dengan kecantikan gadis manis yang mungkin masih seumuran dengannya.
“Waduh, Mas. Maaf, manggisnya habis.”
“Yah, gak ada sama sekali Mbak?”
“Ada sih, ini Mas, tapi tinggal 2 buah aja gimana? Atau mau buah yang lain?”
“Gak, Mbak! Soalnya ini buat kakak saya lagi ngidam.”
“Oh, kalau gitu ini saja kasih sama kakaknya, Mas!”
“Berapa ini, Mbak?
“Gak usah Mas, lagi pula tinggal dua. Kasihan kakaknya, Mas kalau gak kesampaian nanti.”
“Gitu ya, jadi gak enak. Kalau gitu saya beli salaknya saja, Mbak. Sekilo ya!” kata Arya karena merasa tidak enak di beri secara cuma-cuma buah manggisnya.
Mbak yang cantik itu tersenyum, dia sangat ramah. Arya sebenarnya ingin berkenalan tapi apa yang dipikirkan kalau tiba-tiba langsung kenalan. Arya segera pulang ke rumah dan memberikan buah manggis pada kakaknya.
“Ya ampun Arya! Kok, cuma dua sih?!?”
“Kakak, keponakan aku tuh, satu aja sebenarnya sudah cukup. Kalau mau lebih dari satu bukan keponakan aku yang ingin tapi ibunya. Nih, dapat bonus buah salak!” kata Arya sembari masuk ke kamar lagi.
Keesokan harinya, Arya mencari kakaknya sambil dalam hati menanyakan, “Apakah kakaknya ngidam buah lagi atau tidak? Karena sejak kemarin Arya penasaran dengan penjual manggis yang manis itu.”
“Kak, hari ini mau buah apa?”
“Hari ini kakak gak mau makan buah. Kakak mau pecel.”
“Astaga, sudah bagus ngidamnya buah! Sehat. Sudah buah saja ya!”
“Kamu ini, kenapa sih? Jangan bilang mau uang jajan lagi!”
Arya tertawa nyengir, dia juga tidak mau kakaknya tahu kalau dia naksir penjual buah manggis. Untungnya, si kakaknya tidak curiga apa-apa. Kakak Arya justru memberikan uang Arya untuk membeli buah. Tentu saja, Arya tidak sabar untuk segera pergi menemuinya. Arya menyusuri jalanan yang kemarin dia lewati, akan tetapi tidak tampak orang berjualan sama sekali disana, bahkan di sepanjang jalan itu telah tertulis pengumuman untuk tidak boleh berjualan di situ. Hati Arya menjadi kecewa, dia kembali menyusuri jalan dan mencari-cari penjual buah yang tidak jauh dari situ tetapi dia tidak menemukan penjual buah yang berwajah manis seperti hari kemarin. Arya akhirnya pulang dengan tangan kosong. Seharusnya dia kenalan saja kemarin dan meminta nomor HP-nya. Kalau sudah begini kan, dia tidak akan kehilangan jejak gadis manis yang mampu membuatnya jatuh hati di pandangan pertama.
Sesaat kemudian, Arya memasuki kompleks perumahannya. Sejenak Arya tidak konsentrasi, dia menabrak gerobak penjual buah.
“Pak, maaf. Pak, saya tidak sengaja.”
“Iya, Mas tidak apa-apa.”
“Saya ganti nanti buah yang rusak ya, Pak. Maaf ya, Pak sekali lagi, maaf.”
“Iya, Mas,” kata bapak tua paruh baya itu.
Berhubung Arya merasa bersalah, Arya mengantar penjual buah yang dia tabrak akibat ulahnya yang tidak fokus. Yang namanya jodoh memang tidak akan ke mana. Gadis manis penjual manggis itu ternyata adalah anak penjual buah yang di tabrak oleh Arya. Disanalah mereka berkenalan dan berbicara panjang lebar.
“Kamu sekolah di mana?”
“Di SMA Bina Bakti.”
“Oh ya, aku juga sekolah disana lho!” kata Arya yang tidak menyangka kalau gadis manis itu juga sekolah disana.
“Iya, Mas. Saya mendapat beasiswa sekolah disana,” kata Arini, dia tahu Arya.
Mungkin Arya tidak yakin, jika Arini yang hanya anak penjual buah bisa sekolah disana.
“Hebat lho, kamu!”
“Hebat apanya, Mas? Saya bisa sekolah disana, meskipun ayah saya hanya penjual buah.”
“Oh, tidak! Bukan itu maksud saya. Hebat kamu bisa mendapatkan beasiswa dan masih mau membantu orang tua kamu,” puji Arya sedangkan Arini makin tersipu.
Sejak saat itu Arya dan Arini menjadi lebih dekat. Arini yang ternyata adik kelas di sekolahnya itu menjadi penyemangat Arya di sekolah. Beberapa bulan kemudian Arya dan Arini resmi berpacaran. 
“Hari ini, aku sudah jadi Om, lho!” kata Arya pada Arini saat pulang sekolah bersama.
“Oh ya, selamat ya, Mas!”
“Kamu ingat gak, berkat kamu, keponakan aku ingin makan buah manggis, akhirnya aku bisa ketemu sama kamu.”
“Iya, kalau dipikir lucu juga, kita satu sekolah tapi malah ketemunya bukan di sekolah.” 
“Itu namanya jodoh. Hahaha. Jodohku gadis manis seperti manggis.”
“Emm mulai deh! Ayo, kita lihat keponakannya, Mas Arya!”
“Siap, pegangan dong!” kata Arya pada Arini yang sudah bergegas duduk di jok motor.

Siapa yang menyangka kalau pertemuannya dengan Arini lewat dua buah manggis, Arya sangat beruntung mendapatkan cinta dari gadis manis penjual manggis yang membuat hari-harinya menjadi romantis.

TAMAT


BIODATA PENULIS
Nama Lengkap : Sri Dewi Sudarsih
Lahir di : Malang, 18 Desember 1989  
Asal Kota : Surabaya

Posting Komentar

0 Komentar