Titis Ayu Winarni, Pecinta Dunia Jurnalistik dan Usaha Pie “Baper”

Oleh: Servita Ramadhianti

“Memulai dunia menulis dari hobi, kemudian beralih menjadi profesi,” begitulah ujar perempuan asal Pati bernama Titis Ayu Winarni. Perempuan kelahiran Pati 28 Februari 1988 yang akrab dipanggil Ayu ini aktif di dunia kepenulisan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Tidak seperti teman-teman seusianya yang kerap bermain kelereng dan bola kasti, ia justru memilih membaca karya sastra untuk mengisi hari-harinya. “Dari kecil sudah suka baca buku cerita, dari dulu sejak SD aku sudah suka karya sastra,” ungkapnya.

Masa-masa sekolah Ayu tidak terlepas dari menulis. Sejak SD hingga SMP Ayu selalu menulis cerpen dikala senggangnya. Ayu tergelitik ketika mengingat tulisan cerpennya semasa SD. “Karena pernah bikin cerpen, aku bacanya sendiri geli dan ceritanya bored banget,” ucapnya tertawa menelik tulisan lampau itu. Tidak puas hanya menulis cerpen, memasuki masa SMP hingga SMA ia meningkatkan kemampuannya dengan mencoba menulis puisi. Menulis puisi mengantarkan hobinya hingga ke bangku kuliah. Pada saat itu, puisi-puisinya tidak pernah dipublikasikan dan dinikmatinya sendiri kala suntuk menyerbu. Begitulah cara ia menghibur diri. Saat ini, puisi yang Ayu kumpulkan sudah tiga buku tulis. Perempuan berhijab ini mengaku kalau isi puisinya didapatkan dari hasil curhatan temannya, buku bacaan, atau dari lirik lagu.


Menulis cerpen dan puisi sudah ia lakukan sembari mengisi waktu luangnya. Ketika di bangku kuliah, ia tertarik dengan dunia jurnalistik, “Masa kuliah senang banget sama dunia jurnalistik dan bikin naskah feature,” katanya. Kesenangannya akan dunia penyiaan memutuskannya untuk mengambil jurusan Broadcasting di Akademi Komunikasi Indonesia Yogyakarta. Sekolah lanjutan tersebut membuatnya kian mendalami dunia jurnalistik. Setelah lulus kuliah, Ayu menjalani profesi seputar dunia yang ia impikan, jurnalistik. Ayu mulai berkecimpung pada dunia reportase dengan menulis naskah berita sebagai reporter infotaiment dan tergabung sebagai penulis naskah sebagai tim kreatif di MNC Lifestyle Jakarta.

Sebelum mencoba bekerja di industri pertelevisian, Ayu memulai karirnya dengan menjadi Event Organizer (EO) selama tiga bulan. Sesudah itu Ayu melanjutkan pekerjaannya di dunia  penyiaran (broadcasting) di media radio RAMA FM sebagai reporter, lalu lanjut ke media online bisnisukm.com sebagai reporter dan content creative selama setahun. Perjalanan karir Ayu masih panjang, ia mencoba lagi bekerja di Production House (PH) selama empat bulan dan berakhir di MNC Lifestyle sebagai reporter dan creative program.

Perjalanan Hingga Bekerja di MNC Lifestyle
Demi cita-citanya bekerja di stasiun tv, Ayu memutuskan hijrah dari Yogyakarta ke Jakarta dengan modal ijazah lulusan D3 Broadcasting. Namun ternyata, berbekal ijazah D3 saja tak cukup untuk melalmar pekerjaan di Ibukota, Jakarta. Ayu berkata jika bekerja di PH sebagai sekretaris redaksi dan reporter harus lulusan S1. Sikap pantang menyerah yang Ayu miliki, membuat ia terus maju. Terkadang Ayu membantu teman-teman wartawan membuat naskah berita, mencari isu dan tema liputan. Dari situ Ayu sering diminta untuk menggantikan liputan dan menulis draft ide program acara. Ayu pun mengurungkan dirinya untuk berhenti di PH karena jika ia berhenti bekerja maka ia tak bisa bertahan hidup di kota metropolitan tersebut. Meski gaji yang didapatnya kecil, Ayu tetap bertahan di PH tempat ia bekerja, sampai ada pekerjaan baru. Kesabaran berbuah hasil. Melihat kinerja Ayu yang baik, Ayu diberi info oleh kawannya mengenai lowongan kerja di MNC.

Bekerja di MNC Lifestyle menjadi reporter dan creative team membuat Ayu senang menjalani profesi itu. “Hampir dua tahun di MNC Lifestyle, sebenarnya betah-betah aja dan asik tempat kerjanya, seru juga rekan-rekannya,” imbuhnya. Mengulik awal karirnya di MNC Lifestyle, Ayu antusias bercerita awal kali ia bekerja di MNC Lifestyle. Tiga bulan berjalan, produser program suka dengan kinerja Ayu karena ia bisa menulis berita secara langsung dan tidak perlu adanya editor. Tulisan Ayu yang dianggap redaksi begitu menarik menaikan jabatannya ke creative program dan memegang tiga program tv. Namun, rasa rindu pada orang tuanya, memaksa Ayu mengundurkan diri dari perusahaan impiannya, MNC Lifestyle dan pulang ke kampungnya di Kudus.



Pulang Ke Kudus, Mulai dari Titik Nol
Setibanya di kampung halaman, Ayu berencana melamar di stasiun tv lokal. Namun, lamaran yang diajukannya untuk posisi sebagai produser atau asisten produser ditolak. Ia malah ditawari sebagai reporter lapangan dengan upah 500rb/bulan. Sebagai reporter, ia harus rela keluar kota, naik motor sambil membawa laptop, dan handycam pribadi. Semua ia kerjakan sendiri. “Mulai dari nyari berita, liputan, edit video, sampai siap tayang. Gilaaaaaaaak, iya emang gilakkkk,” seringai Ayu. Ayu pun merasa kalau ia jatuh di titik nol dan harus memulai kembali sampai berhasil. Tak ada pilihan lagi bagi Ayu pada saat itu. Ia harus rela merintis karir, mulai jadi jurnalis lokal yang kerjanya rodi dengan honor sangat kecil.

Satu bulan beberjalan sebagai reporter di kampungnya, Ayu ditawari teman sejawatnya sebagai wartawan. Mendengar kesempatan itu, Ayu langsung melamar pekerjaan di dua media lokal, yakni Radar Kudus dan Koran Muria. Layaknya rejeki nomplok, Ayu diterima di kedua media lokal itu. “Di Radar Kudus aku diterima sebagai reporter yang harus siap rolling (tukar lokasi kerja) tiap daerah, lalu di Koran Muria aku ditawari sebagai redaktur,” jelasnya. Akhirnya Ayu memutuskan untuk memilih sebagai redaktur dan berjalan selama satu setengah tahun. Tahun 2016 tepatnya bulan Juli, Ayu menikah, dan iapun pindah ke Yogyakarta mengikuti suaminya.

Di Yogyakarta, Memulai Usaha dengan Suami
Awalnya, suami Ayu tidak ingin Ayu bekerja di luar rumah. Padahal, seusai menikah ia masih sering menjadi reporter freelance dan kadang-kadang mengirim artikel berita untuk Jaringan Penulis Indonesia (JPI). Liputan profil para pengusaha dan dinas terkait adalah tugas Ayu sebagai reporter freelance di media online bisnisukm.com. Motivasi dari para pengusaha yang ia liput menggugahnya untuk menjadi pelaku usaha. Di luar jadwal peliputan, Ayu membantu bapak mertuanya membuat roti sesekali bertanya tentang resep rahasia. Menurut Ayu, ia kesulitan saat membuat roti yang telah diajarkan bapak mertuanya, “Bikin roti itu ribet (menurutku) dan aku nggak pernah sukses bikin itu. Akhirnya bapak nyariin resep yang gampang buat aku belajar,” kata Ayu. Resep paling termudah sudah diketahui oleh Ayu, lalu ia tetap belajar dan liputannya tetap berjalan.

Tak disangka, musibah menimpa bapak mertua Ayu. Di penghujung tahun 2016, bapak mertua Ayu mengalami kecelakaan. Akibatnya, tempurung dengkul bapak mertuanya retak dan tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Akhirnya, Ayu diminta untuk melanjutkan usaha pie susu. Ayu bersyukur karena pie susu yang ia jual laku keras dipasaran. “Alhamdulillah, laris dipasaran dan banyak yang pesan. Khusus pie susu ini aku diminta bapak untuk handle (ambil alih) dan memberi brand (merk) sendiri,” tuturnya senang atas keberhasilan itu. Jadilah pie susu Ayu dengan merk “Baper” yang merupakan singkatan dari Bapak Mertua. Keyakinan Ayu membuatnya percaya diri membuka stand makanan kecil-kecilan di acara kota. Ayu pun membuka stand di Transmart, Lippo Mall Jogja, dan Jogja Halal Festival.



Januari 2017 Ayu dan suami mantap membuka usaha sendiri. Banyak ide konsep untuk lebih mengembangkan usaha walau keterbatasan modal. Ayu pernah berada pada titik akhir kepasrahannya, yang membuatnya lelah mengatur kebutuhan usaha dan mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Ayu merasa otaknya semakin tumpul. Tetapi, Ayu memiliki jiwa baja yang selalu ingin berinovasi. Perlahan, Ayu meminta izin pada suaminya untuk berkarir lagi, dan beruntung suami merestuinya.

Menjadi Public Relation di Penerbitan Buku
Sekitar bulan Oktober 2018, Ayu kembali berkarir menjadi public relation (PR) di penerbitan buku bernama, “Deepublish Publisher,” Sleman, Yogyakarta. Meskipun begitu, Ayu tetap menjalani usaha pienya di akhir pekan atau sepulang dari kantor. Ayu bermaksud hati ingin semuanya berjalan seimbang, karena setiap profesi memiliki kelebihan dan kesempatan untuk lebih mengembangkan diri. Ayu memutuskan menjadi public relation karena perusahaan tempat ia melamar pekerjaan mengharuskannya paham dunia jurnalistik. “Masuk di pekan ke dua kerja, Alhamdulillah enjoy (senang) dan masih explore (mengembangkan) ide gagasan konsep untuk program kerja PR perusahaan.”

Saat ini Ayu ingin fokus dengan karirnya sebagai public relation. Di usia yang sudah kepala tiga ternyata tidak menyurutkan semangat Ayu untuk terus berkarir. Ayu harus pandai membagi waktu antara mengurus rumah tangga, bekerja hingga mengurusi usaha pie warisan mertuanya. Bisnis pie dilakukan saat akhir pekan dan jika ada pemesanan di hari aktif. Ayu tidak akan meninggalkan dunia tulis-menulis. Ia terus mengasah kemampuannya di bidang jurnalistik. Ayu ingin lebih memperdalam ilmu tentang public relation dan komunikasi agar lebih ahli. “Selama masih bisa berkontribusi dan dibutuhkan perusahaan ini aku bakal total,” ucapnya penuh semangat. Keinginan Ayu tidak muluk-muluk, yaitu harus bermanfaat buat orang lain dan punya karya. (SR)

Profil:
Nama Lengkap: Titis Ayu Winarni
TTL.: Pati, 28 Februari 1988
Hobi: Dengerin musik, baca, nulis, dan jalan-jalan

Pendidikan Formal :
- SDN Srengseng 05 Pagi Jak-Bar Kelas 1-4SD (1994-1998)
- SDN Nalumsari Jepara Kelas 5-6SD (1998-2000)
- SMPN 2 Mayong Jepara lulus tahun 2003
- SMAN 2 Bae Kudus lulus tahun 2006
- D3 Akademi Komunikasi Indonesia Yogyakarta lulus tahun 2009

Prestasi: Antologi Puisi dalam Buku, “Ketika Senja Mulai Redup,”
Motto: Keep Possitive and Nothing Is Impossible

Media Sosial:
IG: @titisayuw dan @piebaper

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.