Taufan Hariyadi, Sang Produser, Reporter, dan Cameraman Berita


Penulis: Niya Kaniya
Editor: Dita Faisal

Pramoedya Ananta Toer adalah penulis yang mampu menginspirasi seorang Taufan Hariyadi. Inspirasi yang didapat dari sastrawan tersebut membuat Taufan tak pernah meninggalkan hobinya menulis, padahal pekerjaannya sebagai produser tv berita di satasiun televisi nasional sudah pasti menyita kesehariannya. Bagi Taufan menulis sangatlah menyenangkan, karena dengan menulis dirinya telah menyimpan penggalan sejarah hidup yang bisa ia bagikan untuk banyak orang. Menulis membuatnya selalu berinteraksi dengan buku, membaca buku membuatnya makin tahu tentang banyak hal.

Jurnalis TV yang Suka Menulis untuk Surat Kabar
Sejak SMA Taufan sudah menyukai dunia lietrasi, menulis beberapa kalimat yang menggambarkan apa yang ia lihat adalah caranya untuk mengasah kemampuan menulisnya. Namun minimnya teknologi pada zaman itu membuat Taufan seringkali menjadikan bagian belakang bukunya sebagai  saksi penggalan sejarah yang pernah ia tuliskan. Keterbatasan tak lantas menyurutkan niat Taufan untuk tetap menekuni dunia tulis-menulis. Kegemarannya menulis semakin terasah saat ia mulai terjun sebagai jurnalis. Menjadi jurnalis adalah impiannya. Sebagai jurnalis, tentu ia banyak belajar menulis naskah dari berbagai peristiwa. Kemampuannya menulis naskah ia asah dengan mencoba mengirimkannya ke koran-koran nasional. Taufan ingin analisa kritisnya bisa termuat di surat kabar, namun ia harus melewati sejumlah proses yang tidak gampang. Proses yang maksimal akan menghasilkan karya yang fenomenal. Oleh karena itulah Taufan tak pernah menyerah, ia tetap sabar untuk terus mengirimkan tulisannya ke media cetak favoritnya.

Usaha tidak akan ada hasilnya jika tidak disertai dengan perjuangan. Dalam curhatnya, Taufan mengirimkan 5 artikel ke koran nasional, tapi tak satupun yang berhasil lolos. Penolakan demi penolakan yang ia terima justru menjadi penyemangat untuk Taufan lebih giat menulis dan menciptakan karya yang lebih baik lagi. Taufan masih semangat menulis artikel keenamnya. Luar biasanya, pada tulisan ke-6  berjudul Dampak Internet berhasil menembus koran nasional, dan diterbitkan oleh koran Republika, Rabu 18 April 2018. Bahkan artikel yang sama juga diminta Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI) untuk dimuat di halaman website-nya.

"Jadi intinya, aku sudah bikin tulisan hingga 5 artikel dan Alhamdulillah artikel tersebut ditolak (tidak dimuat semuanya) di koran-koran nasional. Barulah pada artikelku yang ke-6, Republika memuatnya," ungkap Ayah satu anak ini.

Artikel keenam membuatnya bangga. Perjuangan dan mimpinya rasanya terbayar dengan penghargaan yang diraihnya melalui penerbitan artikel yang ditulisnya. Atas dasar itulah hingga sekarang, Taufan masih aktif menulis artikel/opini dan mengirimkannya ke beberapa website atau media online. Pria penyuka warna merah ini mengatakan bahwa dirinya masih berupaya agar tulisannya bisa menembus koran kompas dan dimuat di sana.

"Jangan menyerah dengan menulis, ditolak itu biasa. Justru kalau aku nulis terus tulisanku ditolak, aku malah semangat bikin tulisan yang baru lagi. Ada semangat untuk bisa menembus itu, sekaligus ada motivasi untuk kita terus belajar, terus membaca, dan terus menulis," ungkap Taufan.

Jadi Sopir Angkot Selepas SMA
Semasa kuliah sarjana, Taufan selalu berangan-angan menjadi seorang wartawan. Selama empat tahun mengenyam pendidikan sarjana di Universitas Bung Karno Jakarta, Taufan sudah giat menulis. Ketertarikannya pada dunia pemberitaan membuat Taufan memilih program studi FISIP, jurusan jurnalistik. Ilmu yang diterimanya semasa kuliah dulu pada akhirnya membawa Taufan Hariyadi menjadi jurnalis televisi, meski segala tantangan harus ia lalui di depan.

Taufan bercerita, sebelum terjun ke dunia jurnalistik, Taufan pernah menjadi sopir angkot. Pekerjaan itu ia lakoni setelah ia lulus SMA. Di besarkan oleh orang tua yang berjiwa swasta membuat Taufan tumbuh menjadi anak yang mandiri alias tidak manja. Keisengannya menjadi sopir angkot, memaksanya untuk belajar menyetir untuk menarik angkot milik bapaknya.

"Nah, waktu itu ada salah satu sopir bapak yang angkotnya aku ikutin, meminta aku menyetir mobil angkot pulang dari terminal ke rumah. Eh, ternyata bawa mobil dari terminal ke rumah rasanya mengasyikkan (padahal aku belum punya SIM, jangan di tiru ya) dan aku ingin terus mengulangnya lagi," ujar Taufan bersemangat.

Kebiasaan-kebiasaan itulah yang membuat Taufan akhirnya dipercaya bapaknya untuk menyetir. Menyetir angkot hanya dilakukan sementara oleh Taufan sambil menunggu jadwal masuk kdi UBK. Biasanya hari sabtu Taufan selalu ke terminal Tanjung Priok untuk ikut narik sopir angkot milik bapaknya. Bahkan salah satu sopir bapaknya meminta Taufan yang membawa angkotnya selama 2 rit karena alasan ingin istirahat. Jadilah Taufan pada saat itu menjadi sopir angkot yang berteriak memanggil-manggil penumpangnya.

"Karena aku sudah paham cara naik angkot dan bagaimana dapat penumpang, aku mulai berani nyopir angkot sendiri. Biasanya hanya hari minggu atau tanggal merah dan aku panggil satu atau dua orang temanku untuk nemenin aku nyopir angkot. Selesai nyopir angkot, uangnya aku beliin bensin buat angkot yang aku bawa, sisa uangnya buat aku makan dan jajan sama teman-teman. Ini aku lakukan sekitar 3 bulan antara lulus SMA sampai kuliah pertama dimulai," kenangnya.


Sempat Jualan Asuransi, Taufan Mantapkan Hati Jadi Jurnalis TV
Selain menarik angkot, Taufan juga sempat bekerja di beberapa perusahaan. Namun, karena belum menemukan jiwanya, Taufan memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempa ia bekerja. Taufan menambahkan, di akhir kuliahnya, sekitar semester 7-8 ia pernah bekerja di agency periklanan sebagai marketing. Agency tersebut khusus untuk penampilan iklan di koran, majalah, dan radio. Sebagai marketing, tugas Taufan saat itu hanya menghubungi klien untuk memasang iklan lewat agencynya. Lagi-lagi Taufan belum menemukan dunianya.  Rasa bosan dan belum menyatu dengan pekerjaan yang dilakukannya membuat Tufan memilih untuk berhenti. Lagipula saat itu juga dia harus mempersiapkan skripsi sebagai langkah akhir menjadi sarjana.

Gelar S.Sos. telah disandangnya. Setelah lulus kuliah, Taufan bekerja di perusahaan asuransi AIG Lippo (asuransi yang masih satu grup dengan Lippo Bank). Taufan ditempatkan di beberapa bank Lippo di Jakarta. Tugasnya hanya jualan asuransi, menawarkan produk-produk asuransi kepada nasabahnya. Akan tetapi tidak semua orang nyaman dengan tawaran asuransi waktu itu. Bahkan laki-laki penggemar film action ini harus berlapang dada ketika dia tidak dipedulikan saat menawarakn produk-produk asuransinya. Bekerja sebagai marketing asuransi di Bank, menurut Taufan bukanlah hasratnya. Terkadang ada rasa menolak atau tidak ingin datang ke bank untuk menjalankan tugasnya. Meski kesibukannya  makin menjadi, tapi kecintaannya pada menulistak pernah luntur. Untuk menghilangkan rasa bosan, saat di meja dalam keadaan sepi, iseng-iseng Taufan menulis beberapa paragraf tentang situasi yang dia hadapi. Misalnya, dicueki nasabah sepanjang hari, ban motor kempes saat ke kantor, sampai peristiwa turunnya hujan di luar bank yang membuat nasabah tidak datang sehingga bank menjadi sepi. Taufan menumpahkan isi hatinya ke dalam tulisannya.

"Nah suatu kali supervisorku lihat tulisan-tulisan itu dan membacanya, lalu dia malah bilang, 'tulisanmu kayak wartawan aja, kamu cocok nih jadi wartawan.' Dari sinilah aku merasa semacam ada energi atau dorongan untuk menjadi wartawan. Aku merasa senang dengan menulis, aku merasa sepertinya aku punya bakat nih jadi wartawan, heheh..," gelaknya. Sejak saat itu, Taufan pun mebulatkan tekadanya dan memutuskan untuk berhenti dari kerjaan yang sudah dijalaninya selama satu tahun 2 bulan itu.

Dari Cameraman Jadi Reporter, Kok Bisa?
Suatu hari Taufan mendapat info jika beberapa teman-teman seangkatan kuliahnya sudah ada yang bekerja di media tv. Taufan sempat bertanya-tanya bagaimana caranya bisa menjadi wartawan di tv. Kemudian sebagian temannya menyarankan agar dirinya mengikuti kursus penyiaran (broadcasting) sebelum melamar kerja di tv. Kursus tersebut diyakini dapat memudahkan jalannya untuk bisa dengan mudah diterima menjadi karyawan. Saat mendaftar kursus broadcasting ternyata tidak ada kelas pelatihan untuk calon reporter. Saat itu, program yang ada hanyalah pelatihan untuk cameraman televisi. Berhubung keinginan Taufan sangat besar untuk menjadi seoarng jurnalis, alhasil Taufan tetap saja mengikuti kelas tersebut. Usai mengikuti kursus broadcasting selama 6 bulan di Citra Widya Triputra (CWT) Studio Jakarta, Taufan langsung menyebar lamaran di beberapa stasiun televisi sebagai kameramen, seperti di TV7, SCTV, INDOSIAR, RCTI, dan TPI. Akan tetapi hingga sekarang jawaban dari HRD tak kunjung ia terima.

"Akhirnya aku berpikir, aku mau coba lewat tv lokal daerah deh. Jadilah aku kirim lamaran ke Jtv Surabaya (tv lokal milik Jawa Pos grup). Alhamdulillah lagi, sampai sekarang belum pernah dipanggil," ungkap laki-laki yang gemar fotografi ini.

Sepulangnya dari Surabaya ke Jakarta, Taufan kembali mengirim lamaran ke Lativi (tv nasional yang sebelumnya tak pernah ia lirik). Tak disangka, dari sinilah secercah harapan Taufan temui. Sekitar satu bulan kemudian Lativi memanggilnya dan meyuruhnya mengikuti serangkaian tes masuk sebagai karyawan baru. Tapi, kesabaran Taufan kembali diuji ketika dia hanya ditawari sebagai karyawan magang. Niat dan mimpi yang sangat besar menjadi seorang jurnalis, membuat Taufan tak mampu menolak tawaran itu. Taufan akhirnya menerima dengan senang hati.

"Setelah 3 bulan, Lativi mulai mengangkatku sebagai karyawan kontrak untuk 1 tahun sebagai kameramen. Selama jadi kameramen itu aku sering banget liputan sendiri (tanpa reporter), waktu itu stok reporter memang sedikit. Pulang liputan aku masih harus menulis naskah berita yang aku liput, kira-kira setahunlah aku diposisi itu," ceritanya.

Tahun 2007 perusahaan Lativi berganti kepemilikan hingga berganti nama menjadi tvOne. Saat itulah Taufan diangkat menjadi karyawan tetap dan ditugaskan sebagai reporter. Kepiawaian Taufan menulis menjadi pertimbangan manajemen perusahaaan untuk menariknya menjadi reporter berita di tvOne.

Meliput Kapal Levina, Cameraman Taufan Meninggal Dunia
Diawalnya mulai menapaki karir sebagai jurnalis, tantangan besar datang menghampiri. Taufan yang saat itu masih terbilang jurnalis baru memilih untuk berpikir ulang tentang masa depannya di dunia jurnalis. Hampir saja ia kehilangan nyawa saat kapal yang dinaikinya tenggelam. Naas, kameramennya meninggal dalam peristiwa itu.

"Minggu 25 Februari 2007, aku daan kameraman Suherman mendapat tugas meliput kondisi penumpang korban kapal Levina yg terbakar di laut jawa. Aku meliput kondisi mereka di pelabuhan Tanjung Priok. Aku mewawancarai beberapa orang korban dan menanyakan bagaiman kapal Levina bisa terbakar.  Setelah itu aku menuju markas polair yg tak jauh dari pelabuhan Tanjung Priok. Disana sudah siap 3 buah speedboat polisi yg berisi tim reskrim mabes polri, tim KNKT, sejumlah wartawan. Melihat mereka akan segera berangkat ke bangkai kapal Levina, aku dan kameramanku pun memutuskan untuk ikut rombongan. Kami berangkat menuju perairan muara gembong dimana bangkai kapal levina berada."

Saat berada di atas kapal, Taufan menceritakan bagaimana kapal Levina berubah poisi hingga kemiringannya membuat orang-orang yang berada di atasnya terancam dan nyaris ikut tenggelam.

"Aku lupa ada berapa orang yang naik ke kapal itu, kalo gak salah sekitar 20 orang (jurnalisnya aja lebih dari 10 org). Polisi & KNKT memeriksa kondisi kapal yang terbakar, sementara jurnalis mengambil gambar kondisi terkini dari kapal itu, hingga kami berada di dek paling atas. Ketika itu kami bahkan sempat wawancara polisi di dek paling atas itu. Saat itulah kapal Levina mulai bergerak miring. Semua orang menjadi panik berusaha bergerak ke sisi kapal yg berada diatas permukaan laut. Setelah posisi kapal miring, dengan bagian kiri lambung kapal berada di atas, kapal perlahan tenggelam. Situasi ini membuat panik semua orang, sebagian memilih loncat ke laut meskipun beberapa di antara mereka tidak bisa berenang, termasuk kameramanku Suherman," kenang Taufan kepada tim JPI.

Terjebak dalam keadaan genting, saat itu Taufan ingat betul bagaimana ia berupaya menyelampatkan diri dengan melompat, namun karena tak bisa berenang ia pun mengandalkan sampai bantuan datang.

"Ditengaj kondisi kapal yang kian tenggelam, aku hanya bertahan di permukaan kapal, aku tidak bisa apa-apa, aku pun tak berani melompat ke laut, karena aku tak bisa berenang. Saat itu kondisi kian panik, semua org berusaha menyelamatkan diri. Speedboat yang mengantarkan kami pun bergera menjauh agar tidak tersedot pusaran air saat kapal Levina tenggelam. Saat levina tenggelam ternyata ada sedikit bagian kapal yg mengapung di permukaan laut, klo gak salah aku berada di bagian buritan, di tempat baling-baling kapal. Badanku sudah masuk ke dalam laut hingga dada, tetapi kakiku masih menginjak baling-baling kapal, jadi posisi kepalaku masih di atas permukaan laut. Aku bersama 3 orang bertahan di bagian itu, sesekali ombak laut datang menyapu kepalaku, aku tetap berpegangan pada besi kapal yang menjuntai di atas permukaan air. Jika aku tidak berpegangan, aku pasti tersapu ombak laut dan tenggelam," pungkasnya berupaya menyelamatkan diri dari maut kala meliput.

Hari itu, setiap orang yang berada di atas kapal berupaya menyelamatkan diri. Teriakan meminta tolong pun saling bersahut, karena kapal di tengah laut itu semakin karam.

"Aku dan beberapa org lain yang mencoba bertahan dengan memegang bagian kap itu berteriak-teriak minta tolong, sementara sebagian orang lainnya berusaha berenang dan mengapungkan badannya hingga speedboat polisi mendekatiku dalam jarak 5 meter. Mereka melemparkan jaket pelampung ke arah ku. Dengan satu tangan yang masih berpegangan pada bagian kapal, aku menyobek plastik pembungkus jaket pelampung yang dilemparkan polisi ke aku. Aku berusaha membukanya dan memakainya. Akhirnya jaket pelampung itu bisa aku pakai dan menahan kepalaku tetap di atas air saat gelombang laut datang."

Taufan tak seberuntung temannya. Juru kamera yang mendampinginya saat meliput akhirnya harus meregang nyawa setelah melewati masa kritis saat mengambang di tengah lautan. Taufan pasrah pada keputusan Tuhan, karena dirinya berada dalam kondisi antara hidup atau mati.

"Sekitar setengah jam berada dalam kondisi antara hidup dan mati, polisi berani mendekatiku dan meraih tangan lalu mengangkatku ke atas speedboat. Saat itulah aku melihat kameramanku Suherman, sudah mengapung di permukaan laut, jaraknya sekitar 20 meter dari titik aku bertahan. Aku dan polisi di speedboat-ku berusaha meraih tubuh kameramanku yang mengapung, dan berhasil. Polisi pun mengangkat 1 org reporter RCTI dan petugas KNKT yang juga sudah mengapung. Bersama 2 orang polisi di speedboat, aku membawa kamramenku, reporter RCTI, dan petugas KNKT menuju RS yang berada di sekitar pelabuhan."

Setelah berada di RS, Taufan beserta anggota kepolisian dan tim penyelamat terus berdoa agar seluruh korban yang di bawa ke rumah sakit bisa diselamatkan. Tak berselang lama, pihak rumah sakit memberi kabar baik bahwa kondisi reporter RCTI dan petugas KNKT semakin membaik. Namun, ketika Taudan menanyakan kabar kameramennya, sang dokter tak bisa menyembunyikan kenyataan dan kehendak Tuhan. Nyawa juru kameramennya tak bisa diselamatkan. Suherman akhirnya harus memenuhi panggilan Tuhannya dengan cara yang mulia, yaitu saat ia tengah meliput sebuah peristiwa tenggelamnya kapal Levina di tengah lautan.

"Aku melihat sendiri bagaimana dokter di sana menyelematkan nyawa 3 orang itu. Petugas KNKT dan reporter RCTI merespon usaha tim dokter, seketika itu mereka muntah dan mengeluarkan air laut yang sudah tertelan saat tenggelam tadi, sementara kameramanku tidak merespon sama sekali, dan dinyatakan meninggal. Mendengar kabar ini, redaksi kantor ku langsung riuh dan panik. Beberapa orang mendatangiku di RS dan mendapati kameramanku meninggal. Dalam kondisi itu aku hanya bisa diam dan menunduk," ungkap Taufan yang menuliskan kisahnya sembari merinding saat mengenang kembali kisah 11 tahun silam.

Taufan tak bisa terima apa yang dilihatnya saat itu. Satu nyawa melayang di hadapannya, setelah berjatuhan dan berjuang melawan ombak di lautan agar tidak ikut tenggelam bersamaan dengan kapal yang karam. Di saat memorinya tengah beruputar pada kejadiaan beberapa jam lalu itu, Taufan justru diminta untuk menceritakan kembali apa yang dialaminya di layar televisi secara langsung.

"Salah satu pimpinanku memintaku segera ke kantor, untuk wawancara live di program berita petang terkait peristiwa tenggelamnya kapal Levina. Malam itu, aku memilih menginap di kantor. Aku merasa ada temannya kalau di kantor. Atas kejadian ini, pimpinanku memberikanku cuti 1 bulan untuk menenangkan diri. Aku memilih libur 1 minggu saja dan memilih untuk liputan kembali."

Satu minggu Taufan manfaatkan untuk menenangkan diri. Saat situasi mulai tenang, tiba-tiba beberapa hari setelah itu, pasukan katak marinir memberikan kabar bahwa kamera yang digunakan oleh almarhum Suherman telah ditemukan. Sontak ia terkejut. Saat itu yang ada dibenaknya adalah menyelamatkan kaset yang ada dalam kamera tersebut.

"Alhamdulillah kaset liputan yg ada di dalamnya berhasil diselamatkan. Aku menyaksikan lagi hasil gambar terakhir kameramanku, sekaligus pengingat bahwa Allah SWT masih melindungiku dan memberikanku kesempatan untuk hidup. Setidaknya 2 orang junalis meninggal dari tenggelamnya kapal Levina (Suherman kameraman lativi & Muhammad Guntur Syaifullah kamreman SCTV), dan dua org polisi yang jasad ditemukan terjebak di bagian dek bawah saat kapal tenggelam."

Mengenang peristiwa menengangkan kala itu, sebagai jurnalis junior, Taufan pasti mengalami trauma hebat. Namun, peristiwa ini memberikannya pelajaran agar ia lebih waspada dalam setiap kesempatan liputan, meski Tuhan paling tahu dimana dan kapan waktu yang tepat untuk menjemput hamba-Nya.

"Saat itu hidup dan mati tipis sekali bedanya," tutupnya.

Target Menulis Buku Konvergensi Media Usai Lulus S2
Selain menjadi jurnalis tentu ada keinginan lain dari seorang Taufan Hariyadi. Taufan ingin sekali menerbitkan buku. Rencana ini muncul seiring Taufan mulai kuliah S2 sejak tahun lalu. Mahasiswa semester 3 jurusan Corporate Communication di Universitas Paramadina Jakarta ini sangat ingin menerbitkan buku tentang konvergensi media. Menurutnya, di Indonesia sendiri sangat sulit ia temui tentang buku konvergensi media (penggabungan berbagai platform media radio, tv, cetak, online, dll.). Beberapa buku dan teori konvergensi media justru dia dapatkan dari luar negeri setelah mencarinya hampir di semua perpustakaan universitas-universitas di Amerika. Itupun pun secara online.

"Nah, melihat ada kekosongan literasi di bidang konvergensi media di Indonesia, saya berencana untuk membuat buku itu. Rencananya tesis saya (soal konvergensi di tvOne) menjadi bagian dari buku itu. Tentunya bikin buku itu setelah saya selesai S2, InshaAllah pertengahan tahun depan," ungkap Taufan.

Sejak dulu juga Taufan ingin sekali memiliki perpustakaan di rumah yang menyimpan banyak koleksi buku. Dengan punya perpustakaan di rumah, maka setiap hari Taufan (termotivasi) untuk terus membuka buku, meskipun tidak langsung berjam-jam membacanya. Memiliki perpustakaan di rumah, secara tidak langsung memunculkan kebiasaan bahwa tiada hari tanpa membaca buku. Kegiatan inilah yg sesungguhnya ingin Taufan tanamkan kepada anggota keluarga yang lain di rumah.

"Untuk bisa memiliki perpustakaan di rumah, aku rajin membeli dan mengumpulkan buku. Semoga setelah bukunya banyak, aku bisa menyulap sebuah ruangan di rumah menjadi perpustakaan mini. Nanti di perpustakaan miniku itu, siapa pun yang membaca buku di dalamnya akan merasa melihat dunia," ucapnya.

Pesan Khusus Taufan Pada Generasi Milenial 
Taufan sangat berharap agar anak-anak muda generasi penerus yang saat ini duduk di bangku SMP, SMA, dan Kuliah agar terus waspada dan jangan sampai hidup di bawah kendali teknologi.

Dalam artikel yang sering ia tulis, Taufan merasa bahwa generasi remaja sekarang adalah generasi yang hidup dengan internet, dimana semua sendi kehidupan menjadi mudah.Taufan mengatakan bahwa di media sosial orang bisa menjadi siapapun, tapi tak ada yang jamin bahwa orang itu ada memang asli seperti itu.

"Perbanyaklah literasi/membaca, kurangilah digitalisasi (main medsos). Perbanyaklah diskusi dan menulis, minimal anda akan menemukan setengah isi dunia dalam bentuk asli, ketimbang mendapati seluruh dunia di medsos tapi palsu," pesan Taufan.

Menurut Taufan, Teknologi internet dan media sosial mampu menghubungkan sekaligus mengasingkan, memberdayakan di satu bagian, melemahkan di bagian lain. Sadar atau tidak, teknogi internet (media sosial) membuat kita teralienasi (dari kata dasar alien).

Di akhir perbincangan Taufan memberikan pertanyaan yang menohok, tentang apa yang kita pegang pertama kali saat kita bangun tidur di pagi hari? Dalam jawabnya, jika handphone, maka hidup kita sudah dikendalikan oleh teknologi. Sadar atau tidak sadar sesungguhnya saat itu kita merasa sendirian jika kita tidak sesegera mungkin membuka handphone.

"So... pesan saya jangan jadi anak muda yang hidupnya dibawah kendali teknologi. Perbanyaklah lietrasi dan diskusi, asah kemampuan menulis dan kurangi digitalisasi (media sosial), maka anda akan merasa kaya dengan ilmu," ungkap Taufan mengakhiri perbincangan dengan sahabat JPI. (NYK)

Profil
Nama lengkap: Taufan Hariyadi, S. Sos
TTL.: Jakarta, 31 Juli 1981
Status: menikah
Pekerjaan: Produser program investigasi TELUSUR di tvOne.

Pendidikan Formal:
1987 - 1993: SDN 05 Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara
1993 - 1996: SMPN 231, Jakarta Utara
1996 - 1999: SMAN 73, Cilincing, Jakarta Utara
1999 - 2004: Universitas Bung Karno, Jakarta, Jurusan Komunikasi Advertising FISIP
2017 - Saat ini: Mahasiswa Semester III PascaSarjana S-2 Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Jakarta Jalur Bea Siswa Jurnalis

Pendidikan Non Formal:
- Pelatihan Jurnalistik Broadcasting Televison, jurusan News Cameraman di Pusat Penyiaran Radio & Televisi, Citra Widya Triputra (CWT) Studio Jakarta. (2005)
- Pelatihan Desain Grafis Photoshop & Pagemaker Di Politehnik Negeri Jakarta (2002)
- Sekolah Pedoman Perilaku Penyiaran & Standar Program Siaran (P3SPS) di Komisi Penyiaran Indonesia. (Lulus sebagai peserta terbaik, 2007)

Hobi dan Kegiatan:
Fotografi, membaca, menulis artikel, traveling, dan menggemari semua tentang kereta api.

Karya Tulis/ Artikel:
Artikel Dampak Internet, terbit di kolom Opini Koran REPLUBIKA (18 April 2018, hal 6.)
Artikel “Teror”isme di Televisi, dimuat di kolom Opini website IJTI
Artikel Internet Dalam Paradoks Komunikasi, dimuat di kolom Opini website IJTI.
Artikel “Emas Hijau” dari Temanggung, dimuat www.jaringanpenulis.com

Medsos:
Instagram: @taufan_hariyadi 
e-mail: taufan.hariyadi@gmail.com

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.