Arniyati Shaleh, Produktif Berkarya di Tengah Kehangatan Keluarga


Oleh: Ria M.

Perempuan berdarah Makasar bernama Arniyati Shaleh ini lahir di Makassar, 20 Mei 1969. Bersama suami tercinta, Alm. Shaleh Sahabbudin, Arniyaty memiliki 3 orang buah hati, yakni Dzikrul Iqra, Dzikri Fajriah, dan Dzikri Amaliah. Meski suami telah dipanggil sang Khaliq setahun lalu, namun wanita pecinta kopi ini tetap semangat mengurus ketiga anaknya dengan penuh rasa bangga dan bahagia.

Kesibukan di dunia literasi membuatnya selalu merasa muda, meski kini usianya telah memasuki usia 49 tahun. Arni mengungkapkan bahwa dulu dirinya pernah bercita-cita ingin menjadi jurnalis, tetapi sayang harapan itu kandas oleh pilihan penting dalam hidupnya, yaitu menikah sebelum lulus menjadi sarjana. Keputusan untuk menikah dan menjadi ibu rumah tangga ia pilih karena hatinya terketuk dan luluh ketika ada seorang pria yang berani meminangnya dengan gagah berani di hadapan orang tuanya.

"Karena suka sama Alm. ngajinya bagus. Padahal pakai buntut (rambut gondrong), tidak tampang ustadz. Alm. juga gentle lamar bunda sendirian pakai jeans dengan oblong (kaos) sendal jepit. Salut. Ortu juga salut," ungkapnya seraya menarik kembali kenangan indah yang terjadi pada 24 November 1995 lalu.


Mengasah Ilmu Menulis di Universal Nikko Mayoko Aiko
Hobi Arniyati menulis telah diasah sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Ketika memasuki SMA, Arniyati juga melatih kepiawaiannya dalam menulis dengan aktif mengarang bebas, terutama menulis puisi. Tak berhenti disitu saja, usai Arniyati  melepaskan seragam putih abu-abunya, Arniyati  tetap suka menulis. Wanita ceria yang kerap dipanggil Bunda Arni ini sering memilih topik berita politik untuk dibaca oleh teman-teman di dinding kampusnya.

Tak ada kemampuan yang muncul tanpa diasah. Arniyati  mempertajam tulisannya dengan bergabung ke dalam komunitas Cendol, Universal Nikko Mayoko Aiko, sebuah komunitas penulis online dengan jumlah anggota di atas 5000 orang. Dengan bergabung di komunitas Cendol, penyuka warna hitam ini mendapatkan jaringan pertemanan yang lebih luas, dengan anggota yang merambah hingga ke mancanegara. Hubungan pertemanan antar anggota komunitas menulis Cendol mampu membangun sinergi positif, hingga pada akhirnya Ibu tiga anak ini pun mulai terpacu untuk bertitah di dunia kepenulisan dan aktif mengikuti lomba-lomba kepenulisan. Tak dipungkiri, Komunitas Cendol, yang didirikan oleh pria berdarah Jawa Jepang Mayoko Aiko ini menjadi cikal bakal Arniyati Amin melejit menjadi penulis.

Meski kurang aktif di komunitas Cendol, namun silahturahmi antar anggota tetap terjalin hangat lewat percakapan pribadi maupun grup whatsapp. Selain komunitas Cendol, penyuka Anggrek ini juga berujar tentang keaktivannya dalam berorganisasi dan bersilaturahmi di komunitas menulis lainnya. Arni tak hanya akrab dengan tetangga dekatnya saja. Ia juga menjalin keakraban dengan sahabat maya dan nyata dalam komunitas online IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis) wilayah Makassar. Mereka kerap mengadakan pertemuan untuk memperkuat jalinan kekeluargaan yang awalnya hanya sebatas teman di komunitas saja.
Temu Kangen Alumni Linguistik, Univ. Hassanudin, Makassar
Kegiatan literasi bersama komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis, Makassar 
Kegiatan literasi bersama komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis, Makassar
Dukungan Suami Datang Tiga Hari Sebelum Kepergian
Ketekunannya membagi waktu antara mengurus rumah tangga dengan hobi akhirnya membuahkan hasil. Siapa sangka perempuan yang sehari-harinya hanya di rumah bersama anak-anaknya ini sudah melahirkan lebih kurang 15 buku antologi bersama komunitas dan hasil lomba yang ia ikuti. Karyanya berupa cerpen dan puisi juga sempat menghiasi surat kabar lokal, diantaranya harian lokal Makassar Cakrawala, Radar Bekasi, dan Radar Sulawesi Barat.

Meski mengaku berkarya itu nikmat, akan tetapi jalan yang ditempuh tak senikmat menulisnya. Anak ke-5 dari 7 bersaudara ini mengaku pernah ditentang oleh Alm. suaminya. Sang suami yang merasa mampu memberi nafkah kepada Arni bahkan sempat bertanya berulang-ulang pada dirinya tentang kecukupan nafkah yang diberikan setiap bulan kepadanya. Arniyati dan suami memang berbeda pandangan soal dunia literasi.

"Katanya apa bunda tidak puas dengan yang ada. Bunda bilang bukan materinya, tapi kepuasan batin."

Meski restu suami penting baginya, namun Arni tidak mau menyerah dan pasrah pada keadaan. Ia pun terus memberikan pemahaman kepada Alm. suaminya bahwa menulis adalah kesenangan yang tak bisa tergantikan dengan materi. Kepada tim JPI, Arniy mengungkapkan bahwa suaminya baru memberikan restu penuh untuk menulis menjelang suaminya meninggal dunia.

"Nah, Rabu Alm. ke kantor. Terus sebelum ke kantor, Bunda izin nulis dia bilang, iya bu silahkan. Sabtunya meninggal," kata Arniy mengenang suaminya yang wafat pada 25 Maret 2017 lalu.

Kepergian suaminya kepangkuan Illahi tak menjadikannya berdiam diri dan murung sepanjang waktu. Ketangguhan membuatnya masih terus menulis. ”Berkarya itu nikmat," jelasnya. Jika penat mulai mengganggu, maka menulis menjadi pengusir lamunan yang hendak datang mengganggu. Tak jarang Arni juga akan memilih untuk jalan-jalan berwisata ke berbagai objek wisata lokal, maupun luar daerah.
Karya Arniyati Shaleh bersama teman-teman penulis
Karya Arniyati Shaleh bersama teman-teman penulis
Puisi Setengah Cinta
Kesuksesan tak lantas ia gapai seorang diri. Wanita yang kini menyibukkan diri dengan bisnis property itupun menyampaikan sederet nama sahabat yang berperan serta dalam mendukung dan berengaruh besar dalam perjalanan karirnya. Mereka adalah Nimas Aksan, Eva Sri Rahayu, Donatus A. Nugroho, Cahya Damayanti, Almh. Suci Indratni, Ati Alis, Ellyyana Said, Sri Musdikawati, Nur Hira, Unis Sagena, Yurens, A. Suriadi, Almh, Alwy Rahman.

Dari berbagai pengalaman di dunia kepenulisan, penyuka lagu nuansa barat, When YouTell Me That You Love Me ini menceritakan soal pengalaman tak mengenakkan di dunia penerbitan, misalnya saja ketika membeberkan perihal beberapa karyanya yang telat mendapat royalti. Meski royaltinya tak seberapa, tapi Arniy tetap tak jera dan terus berkarya.

"Royalti tidak semua penerbit telat membayar. Lagian menulis bagi saya bukan hanya karena rupiah, tapi ada kebahagiaan jika bisa menulis," tutur pecinta surah Ar-Rahman tersebut.

Wanita hampir setengah abad ini bercerita tentang kebahagiananya menulis di tengah mengurus ketiga anaknya yang kini tumbuh dewasa. Anaknya yang kini berusia 21 tahun, 20 tahun, dan 16 tahun, ia didik sesuai dengan zamannya dengan mengedepankan kedisiplinan, penuh keharmonisan dan keakraban layaknya sahabat. Itulah mengapa kedekatan bersama anak-anak terjalin erat kehangatannya. Kenyamanan itulah yang membuat anak-anaknya terbuka satu sama lain.
Arniyati saat wisuda D3 Sulungnya, Dzikrul Iqra Shaleh
Arniyati saat wisuda SMP bungsunya, Dzikri Amaliah Shaleh
Kini, Arniyati tengah mempersiapkan peluncuran karya teranyarnya, yaitu buku berisi puisi tunggal dengan judul "Setengah Cinta" yang diproduksi oleh Bintang Kecil. Puisi-puisi yang ia tulis tersebut berisikan tentang penggalan kisah dan pengalaman yang ia tuangkan di berbagai keadaan. Suka duka di tengah kehangatan bercengkrama bersama keluarga tak urung membuatnya puas menikmati rutinitas mengurus rumah dan keluarga. Namun, baginya menulis adalah hidupnya, menulis membuatnya kaya dan dapat memberi hasil tulisannya kepada anak cucu dalam bab-bab ilmu. Sukses terus Bunda Arni untuk karya terbaru dan bisnis propertinya. (RM)
Arniyati dalam kesempatan wawancara program Tirai Budaya TVRI
Arniyati juga tengah fokus berbisnis di bidang property (2018)

Profil
Nama: Arniyaty Shaleh
Nama Populer: Arniyati Shaleh
TTL.: Makassar, 20 Mei 1969

Pendidikan:
- TK Idhata, Polewali Mandar, Sulawesi Barat
- SDN 019 Manding, Polewali Mandar, Sulawesi Barat
- SDN 001 Polewali Mandar, Sulawesi Barat
- SMPN 1 Bulukumba, Sulawesi Selatan
- SMP 2 Majene, Sulawesi Barat (1985-1986)
- SMAN 1 Polewali Polewali Mandar, Sulawesi Barat (1988-1989)
- Universitas Hasanuddin Makassar (S1), Jurusan Linguistik Terapan (1997)

Tokoh Inspiratif Favorit: Mahatma Gandhi, Rendra, Marah Rusli, Buya Hamka, RA. Kartini, Cut Nyak Dien.

Karya:
- Antologi "Boneka Kuntilanak tahun 2014
- Antologi 19 Jurus Mabuk Penulis Sukstress (Sukses Tanpa Stres ), 2015.
- Antologi puisi bersama 100 penyair perempuan di Indonesia (2012)
- Antologi Quote, Sang Jejak, Analekta Beru-Beru, Perempuan itu sesuatu, Kuliner Nusantara

Media Sosial:
Fb: Arniyati Shaleh 
Ig: Arniyati Shaleh

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.