Setahun KOKOPI, Bincang Bersama Peraih Mimpi dan Pejuang Kopi

Dari Sumatera sampai Papua, kopi Indonesia patut dicoba. Aromanya selalu membuat rindu penikmatnya, apalagi rasa kopi yang tumbuh di satu lahan akan berbeda dengan rasa kopi yang di tanam di lahan berbeda. Sistem tanam tumpang sari menjadi salah satu faktor yang membuat rasa kopi beraroma jeruk, cengkeh, dan lain-lain. Sebagai negara penghasil kopi terbesar ke-4 di Dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, maka wajarlah jika kedai-kedai kopi bertebaran di banyak tempat, mulai dari warung kopi pinggir jalan hingga ke pusat perbelanjaan. 
Dari kiri ke kanan: Louise, Rini Hasanah, Dita Faisal, Louise Leny, 
Endik Koeswoyo, Ronald FRS, Andanu Prasetyo, dan Agus Radianto
Foto: Harris Andoko (@harris_t_
Menjamurnya kedai kopi di Indonesia, menjadikan peluang tersendiri bagi para pecinta dan pelaku usaha kopi untuk membentuk sebuah komunitas bernama KOKOPI atau Koperasi Komunitas Kopi Indonesia. Didirikan sejak 7 Juni 2017, kini KOKOPI beranggotakan 200 orang yang tersebar di 20 provinsi, dimana 70% diantaranya merupakan pegiat kopi, mulai dari petani kopi, pendamping petani, pedagang, eksportir, pengusaha kedai, penjual mesin, dan barista, sementara 30% sisanya berasal dari kalangan para penikmat kopi lintas profesi. Tujuan dibentuknya KOKOPI sangat mulia, yaitu menjadikan kopi Indonesia sebagai komoditas nomor satu di dunia.

Setahun sudah KOKOPI berdiri, anggotanya tentu tak mau membiarkan momen bersejarah ini berlalu begitu saja. Pada Kamis, 7 Juni 2018, Kokopi pun merayakannya dengan berkumpul bersama perwakilan anggota KOKOPI di Brouven Koffie di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan dengan mengangkat tema "Kopi Experience", Kopi dalam perspektif wisata, perfiman, dan cerita. 
Dita Faisal (moderator) sambil berbincang dengan pemilik Brouven Koffie, Adi Ginting
Foto: Doc. Endik & Dita 
Dari kiri ke kanan: Endik Koeswoyo, Rini Hasanah, Dita Faisal, Adi Ginting, Ronald FRS
Foto: Doc. Kokopi 
Sambil menunggu waktu berbuka puasa, empat orang pecinta kopi hadir sebagai pemantik obrolan, berbicara tentang kisahnya menyelami dunia perkopian. Para pembicara tersebut adalah Louis selaku pendiri & roaster Monomania Coffe Roastery, Endik Koeswoyo sebagai penulis novel, skenario film, dan penulis naskah VivaBarista, Louise Leny yang merupakan Barista dan pemilik Louie Coffee, serta Andanu Prasetyo seorang pendiri dan pemilik Kedai Kopi Tuku. 
Louis, founder & roaster Monomania Coffee Roastery (@monomaniacoffeeroastery)
Foto: Doc. Endik & Dita 
Dalam perbincangan sore itu, Louis bercerita tentang kisahnya merantau 8 tahun di Sydney, Australia untuk mewujudkan keinginannya menjadi barista. Banyak mencicipi kopi di negeri orang, membuat wanita asal Pontianak Kalimantan Barat ini merubah haluan dengan kembali ke Indonesia. Tak kenal siapa-siapa, tak tau banyak tentang Jakarta dan sekitarnya, tapi perempuan berambut pirang ini nekat membuka kedai kopi di Serpong yang diberi nama Monomania Coffee Roastery. Tak sekedar melayani pelanggan kopi yang mampir di kedainya, Louis juga ikut mengurusi dapur kedainya. Meskipun kedai kopi Monomania Coffee Roastery adalah miliknya, tapi Louis selalu meluangkan waktu untuk melayani pelanggannya sepenuh hati, dan rela cuci gelas habis pakai pelanggannya sendiri. Segala sesuatu tentang Monomania Coffee Roastery bisa ditemukan lewat media sosialnya @monomaniacoffeeroastery.
Endik Koeswoyo, Penulis novel, skenario film, dan penulis naskah Viva Barista (@endikkoeswoyo)
Foto: Doc. Endik & Dita 
Pembicara kedua, Endik Koeswoyo ikut berbagi cerita tentang perjalanannya keliling Indonesia, bercengkrama dengan para petani dan pelaku usaha kopi. Dari Aceh, Pagar Alam, Lampung, Lombok, hingga Flores ia telusuri demi Kopi Indonesia dalam Viva Barista. Penulis novel, skenario film, dan penulis naskah Viva Barista tersebut mengatakan soal pengalaman tak terlupakan saat ke Flores, NTT dan menemukan kopi langka bernama Yellow Katura. Sepanjang obrolan, Endik memutarkan video di balik layar perjalannya selama berkeliling perkebunan kopi Indonesia.
Louise Leny, Barista & Owner Louie Coffee (@louiecoffee)
Foto: Doc. Endik & Dita
Pengalaman serupa juga dialami oleh pemilik Louie Coffee, Louise Leny. Di hadapan peserta acara setahun KOKOPI, Leny menceritakan kisah hidupnya saat melanjutkan studi magister ke Italia untuk bidang Brand Development. Kultur orang Italia yang setiap pagi minum kopi, membuatnya jatuh cinta pada kopi. Padahal awalnya, Leny bukanlah penikmat kopi. Sepulangnya ke Indonesia, Leny yang mengaku belum punya pengalaman kerja, rela melamar menjadi kasir di sebuah kedai kopi di Jakarta. Perempuan berkulit putih itupun mencoba kursus barista. Tak lama kemudian, Leny meyakinkan diri membuka kedai kopi Louie Coffee di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Hal menarik tentang Louie Coffee bisa ditemukan di @louiecoffee.
Andanu Prasetyo, founder & owner Kedai Kopi Tuku (@tokokopituku)
Foto: Doc. Endik & Dita 
Perjuangan bisnis kopi berikutnya datang dari pengusaha muda Andanu Prasetyo, seorang pendiri dan pemilik Kedai Kopi Tuku. Andanu mengisahkan soal perjuangannya selama tiga tahun membangun kedai kopi yang pada mulanya hanya mampu menjual 10 gelas saja per-hari. Namun, seiring berjalannya waktu, pelanggan setia mulai muncul dan praktis menambah pundi-pundi penghasilan. Kedai Kopi Tuku yang dipimpinnya semakin lama semakin ramai dan digandrungi anak muda, terlebih setelah Presiden Jokowi mampir ke kedainya. Tak kurang dari 2.000 gelas kopi berhasil terjual di tiga cabang kedainya yang terletak di Cipete Raya, Pasar Santa, dan Bintaro Sektor 1. Dalam akun instagramnya @tokokopituku, ada kisah hangat yang terangkai dalam #ceritatetanggatuku.
Keseruan panitia peringatan HUT ke-1 KOKOPI bersama peserta, dan pembicara
Foto: Harris Andoko (@harris_t_
Peringatan satu tahun KOKOPI juga dihadiri oleh pembicara lainnya, yakni Erbe sebuah perusahaan asuransi perlindungan aset berbasis aplikasi untuk mengamankan pengusaha dari risiko kebakaran kedai, kerusakan alat, ataupun kerugian yang lain. Selanjutnya Hellobill, platform point of sales kasir berbasis aplikasi yang memudahkan pelaku usaha untuk mengelola transaksi dan memonitor stok barang di kedai. Berikutnya Bukalapak sebagai platform yang memperlancar pegiat dan pengusaha kopi Indonesia melapak secara online tanpa batasan ruang dan waktu. Terakhir, ada pula perusahaan pembiayaan berbasis teknologi (fintech) dengan sistem syariah bernama syarfi.id, dan pembiayaan konvensional dari Kredivo.
Dari kiri ke kanan: Irnanda Laksanawan, Fitri Ayu, Dita Faisal, Endik Koeswoyo
Foto: Harris Andoko (@harris_t_
Direktur Pengembangan Bisnis KOKOPI, Nickolai mengungkapkan komitmennya bersama anggota KOKOPI untuk mewujudkan KOKOPI sebagai organisasi yang profesional. Sesuai dengan tujuan utamanya, KOKOPI serius meningkatkan kesejahteraan petaninya, sekaligus mendorong industri kopi di Indonesia dengan meningkatkan jumlah ekspor hingga mancanegara.
Nickolai (Direktur Pengembangan Bisnis KOKOPI)
Foto: Doc. Endik & Dita
Dalam acara ini, panitia pelaksana menyisipkan kegiatan penggalangan dana dari seluruh anggota yang hadir untuk memberikan bingkisan Lebaran kepada petani kopi di lereng Gunung Slamet Purwokerto dan lereng Gunung Merapi Magelang, Jawa Tengah. Sukses selalu untuk KOKOPI yang terus bekerja untuk kopi Indonesia. (DF)

Sumber:
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.