Lupakan motivasi (true story)

Saya punya teman, sebut saja Rama. Dia tunanetra. Dari dia cerita ini terinspirasi.

Siang itu tak biasanya si Bleki, kucing liar hitam yang biasa datang dan pergi dari rumahku terlihat tertidur di bawah pohon mangga. Saya tergoda untuk membelainya karena kucing betina itu sangat lelap meringkuk. Namun urung, seketika ku dengar lamat bunyi ketukan berkali-kali yang kian mendekat. "Mmh...Rama." aku membatin.

"Assalamualaikum, Pak Amat." Rama menghentikan langkahnya di depan rumahku.

Aku menjawab : "Waalaikum salam, darimana bang?"
"Biasa, show up and get to work," jawabnya.

Seperti biasa, wajah Rama selalu menghadap ke orang yang berbicara kepadanya. Wajahnya menoleh ke arahku seolah dia menatapku sewajarnya orang yang dapat melihat.

" Ah, gaya ente gak berubah bang."
Aku mendekati Rama yang langsung memindahkan genggaman tongkatnya ke tangan kirinya. Kepalanya bergerak perlahan mengikuti langkahku yang sedang mendekatinya.

"Mampir dulu sini," ajakku sambil meraih tangan kanan Rama.

" Kedengarannya lagi badmood nih, Pak?" Kata Rama. Tangan kirinya sigap mengangkat tongkat penuntun. Dia memindahkan genggamannya ke bagian tengah tongkat dan meletakkan ujung bawah tongkat ke pahanya lalu bergerak menekan tongkat itu hingga ketika masuk teras rumah, ku lihat tongkat itu panjangnya hanya tinggal seukuran dua jengkal saja.

" Sok tau ente kagak kurang-kurang, bro," kataku cuek.

" Aku kan mencium aroma bapak, kalo baunya sih gak tahan aku, Pak!" Selorohnya dengan tawanya yang khas, lepas tanpa beban.

" Aku memang lagi gak ada motivasi nih, sepertinya belum ada tantangan dan peluang yang perlu ane kejar." Jawabku datar.

Ku lihat wajah Rama, sepertinya dia sedang menatap Bleki yang sesekali tampak bergerak merubah posisi tidurnya.

"Masa saya harus kasih nasehat ke bapak sih, malu dong saya, Pak?" Kata Rama sambil memainkan jari telunjuknya ke telapak tanganku.

" Asem! Sering banget kalo ketemu ente tuh ada aja hal yang konyol yang ane alami." Aku menanggapi perkataan Rama dengan sedikit menghentakkan genggaman tangannya.

Rama kembali terkekeh.

Kami duduk berjajar menghadap ke arah yang sama, dari samping kanannya, ku lihat kelopak mata Rama berkedip tak teratur. Bolamatanya yang putih berputar dan melirik ke kanan dan ke kiri hampir tak pernah berhenti.

Rama melanjutkan perkataannya,"Saya sih cuma ngingetin Bapak aja tentang yang dulu Bapak pernah bilang ke..."

"Apa lagi ini? Oh ya! ma'af, kopi apa es teh manis nih?" Aku memotong ucapan Rama.

"Gak, gak usah. Nanti aku kembung, tadi sudah ada yang kasih aku jus jambu."

Si Bleki terjaga, setelah menguap lebar dan mengulet dua kali, dia bangkit dan berjalan santai masuk ke rumahku. "Dasar kucing!" Hardikku pelan

Rama tersenyum kecil, lalu dia berkata "Dulu Pak Amat bilang motivasi itu kan perasaan. Sementara perasaan kan fluktuatif, jadi kalo mengandalkan perasaan kayanya perlu di pertimbangkan lagi tuh, bang!"

Aku melihat rona wajah Rama puas dengan perkataan yang barusan dia ucapkan. Dagunya mendongak agak lama baru kemudian kepalanya kembali lurus menatap ke arah pohon mangga.

"Masa sih, ane pernah ngomong gitu?". Aku mencoba mengingat-ingat, " benarkah ungkapan itu? Apa iya itu keluar dari mulutku?"

Rama sedikit bergerak merubah posisi duduknya. Dia kini duduk miring.

Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, tanpa sadar dudukku sudah miring juga. Kini kami saling bertatap muka.
Mataku berusaha menembus kacamata hitam itu untuk mengetahui apa yang ada dibaliknya, lebih dalam lagi, aku ingin tahu apa yang tersimpan di bola mata yang tidak ada warna hitamnya itu.

"Ente jangan maksa begitu,bang!" Tiba tiba Rama memecah hening.

Dia berkata, "Kan Bapak sendiri yang bilang kalo berkarya itu jangan mengandalkan inspirasi dan motivasi," Rama berkata dengan mantap, disusul senyum kecilnya yang serasa sebuah cibiran bagiku saat itu.

"Astaghfirullah, bener-bener ente bro, ane nyesel ngajak ente mampir." Sahutku sambil melempar pandanganku ke lantai.

Rama melanjutkan perkataannya,suara agak datar "Terus, Pak Amat juga bilang waktu itu bahwa itu cuman berlaku bagi amatir, semboyan show up and get to work berlaku tanpa didorong oleh rasa termotivasi,"

"Iya, iya, ane inget. Asem! Ente bisa banget ngaduk-ngaduk hati ane bro!" Kataku memotong," Ngomong-ngomong, ente tar malem kemana?"

Rama mungkin tidak melihat
mataku berkaca-kaca, tapi aku tahu pasti dia mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya, sehalus apapun itu.

Rama meluruskan tubuhnya, tangan kanannya meraih telapak tangan kirinya yang sedari tadi memegang tongkat. Perlahan tongkat itu di ulur hingga terdengar bunyi "klik".

"Gak ada rencana pasti sih, tapi biasa lah, aku akan melanjutkan ngetik novelku yang ke lima." Jawabnya.

Malam itu angin enggan mengusik dedaunan yang sedang terlelap, sementara nyamuk sangat senang bernyanyi di daun telinga. Amat masih duduk menatap smartphone nya, sesekali jempol kanannya menggeser layar hp.

Tak berapa lama Amat menerima sebuah panggilan telepon.
"Ya, benar. Ok! saya merapat."

Dari jauh sudah tampak beberapa orang sedang berkumpul. Rupanya beberapa tetangga Amat sedang membahas tentang kenakalan anak-anak mereka yang sedang menginjak usia remaja.

"Saya dengar kemarin malam Pak Amat membubarkan sekumpulan anak-anak remaja,ya?" Kata Pak Surya, seorang pensiunan Polisi.

"Lha kok bapak tahu! Seingat saya kemarin gak ada diantara kita yang melihat aksi saya?" Jawabku cepat.

"Cia, disini sih tembok aja bisa ngomong,Pak!" Sergah Pak Halim, tetangga Amat yang dikenal sering buat obrolan sesama kami lebih hidup. Gak rame jika dia tak ada.

Kemudian Amat berkata, "Saya gak tau harus mulai dari mana nih ceritanya, intinya sih saya spontan mendekati anak-anak remaja yang lagi kumpul karena mereka berisik, bercanda dengan suara keras pake menyebut nama binatang segala untuk memanggil sesama mereka."

"Iya, itu yang kita bicarakan dari tadi, Pak. Bahwa anak-anak kita disini nih yang mulai beranjak remaja sudah mulai susah di atur
." Ujar Pak Surya. Dia mengambil nafas dalam.

Pak Hadi, seorang karyawan swasta yang sering kerja lembur berkata, "Saya juga mendapat keluhan dari istri saya tentang Rudi yang sering main selepas magrib dan pulang kerumah tengah malam. Saya sih kalo belum kebangetan banget masih belum mau memberi pelajaran ke anak saya itu, tapi sepertinya kita perlu bahas terlebih dahulu agar saya gak salah langkah. Tahu sendiri kalo kita sedang lelah terus kita emosi, iya kan, Pak Halim?"

"Ah, kalo saya sih kalo lihat anak saya merokok, pasti saya langsung emosi, langsung saya tanpar. Tapi gak sampai kelenger juga sih." Sahut Pak Halim, disambut tawa semua yang hadir di ujung gang itu.

Obrolan terus berlanjut. Kami ber-enam bercengkrama, silih berganti mengemukakan pendapat dan sesekali kelakar canda, saling sindir diantara kami menambah semangat obrolan serius-santai itu hingga tak terasa telah berlangsung cukup lama. Satu persatu yang hadir undur diri ke rumah masing masing hingga menyisakan hanya Pak Surya dan Amat.

"Jadi kalau begitu memang perlu aksi yang terus menerus sebagai wujud usaha kita ya, Pak Amat?"

"Saya rasa gitu, sih. Bener kata Pak Guru Fahri tadi, jangan nunggu momen tertentu baru ada tindakan."

Bekasi, 24 Juni 2018
Penulis, Rahmat Setiadi.
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.